Selasa, 06 Mei 2014

(Cerita Penjuru Dunia) - Memamerkan Negeri Jajahan


Pameran Kolonial, Paris, 1931.















Segala rupa keindahan negeri jajahan dipamerkan. Dikecam karena wujud unjuk keangkuhan.
 
OLEH: FAJAR RIADI

 
 
 
DI taman Bois de Vincennes, Paris, diselenggarakan Exposition Coloniale International (Pameran Kolonial Internasional). Di atas taman seluas 110 hektar itu, negara-negara penjajah mempertontonkan semua rupa bangunan yang menjadi wajah masyarakat dan kebudayaan negeri-negeri jajahan. Sejak dibuka pada 6 Mei 1931, jutaan orang berkunjung. Pameran ini mendulang sanjungan, namun juga banjir kecaman.

Belanda mempertontonkan wajah molek Hindia Belanda. Di atas lahan seluas tiga hektar, sebuah anjungan megah seluas 600 meter persegi dibangun. Arsitektur anjungan beratap gonjong Minang berpadu dengan ukiran Jawa. Pintu masuknya berbentuk gapura setinggi 50 meter yang konon meniru pura Camenggon di Sukawati, Bali Selatan, lengkap dengan ukiran batu pualam. Dinding anjungan dibuat dari keping-keping kayu Kalimantan.

Di dalam stan dipajang segala rupa benda-benda peninggalan arca kuno, perhiasan dan pusaka emas perak, kain-kain nan indah, serta lukisan-lukisan berharga. Makanan cuma-cuma disajikan oleh Waroeng Djawa dari Den Haag. Manusia-manusia bumiputera dipertontonkan. Gadis-gadis Bali menari legong menghibur pengunjung. Tak ayal, setelah menghabiskan biaya satu setengah juta gulden, stan milik Belanda mengundang sanjungan dan puja-puji.

“Ditata sedemikian apik dan elegan… sehingga menjadi salah satu bangunan terbaik,” tulis suratkabar Paris, Le Petit Journal. Suratkabar Amsterdam Algemene Hendelsblad menyebutnya “primadona pameran”. Bahkan keindahannya dianggap melampaui tiruan Angkor Wat yang disuguhkan tuan rumah Prancis sendiri.

Ada yang menyanjung, ada yang mengecam. Kalangan progresif menganggap pameran itu tidak lebih dari pertunjukan keangkuhan penjajah. Unjuk gigi di antara negeri-negeri kolonial, siapa yang punya negeri jajahan paling rupawan. Bahkan di saat yang bersamaan, orang-orang yang mengecam ini menggelar pameran tandingan: Pameran Anti-Kolonial bertajuk Truth on the Colonies (Kebenaran di Koloni-koloni).

Kelompok seniman surealis di Prancis mengecam acara itu dan menyebar manifesto Ne visitez pas I’Exposition Coloniale (Jangan kunjungi Pameran Kolonial). L’Humanite, suratkabar resmi Partai Komunis Prancis, menghimbau kepada kelas pekerja dan anggota partainya dengan mengatakan “pendewaan kolonialisme di Bois de Vincennes merupakan pendewaan terhadap kejahatan.”

Di Hindia Belanda, Timboel, majalah terbitan The Indonesian Study Club dan pernah diasuh Sanusi Pane di Solo, turut melontarkan kecaman. “… kampung tiruan yang bagus tetapi menyedihkan,” tulis Timboel, 10 Juni 1931, tentang bangunan yang dipamerakan Belanda itu. “Siapa yang peduli? Kaum bourgeois Paris terkesan karena tidak tahu!”

Di Surabaya, seorang penulis anonim –hanya menyebut dirinya sebagai pengamat– menulis di suratkabar Het Soerabajasch Handelsblad: “Orang hanya berharap dari sebagian besar publik yang pergi berpesta ini bahwa mereka saling menertawai dan menepuk bahu bergembira dengan sorak sorai yang lucu. Kerumunan orang-orang yang tertawa terkekeh itu akan pulang dengan pikiran bahwa tontonan Belanda yang berbudaya tinggi dari Jawa ini, yang tingkat peradabannya bagaimanapun juga lebih rendah dari rata-rata pengunjung Pameran Kolonial ini, hendaknya dipandang dengan cara yang sama seperti penduduk primitif dari Senegambia, atau Somalia…”

Sebuah kejadian yang tak disangka-sangka terjadi. Pada 28 Juni 1931, anjungan megah milik Belanda dilalap api tanpa diketahui sebabnya. Dalam beberapa jam seluruh bangunan itu habis. Kabarnya, belasan lukisan karya Raden Saleh ikut musnah. Total kerugiannya jutaan gulden, dan koran-koran Belanda segera melaporkan peristiwa itu sebagai sebuah “malapetaka nasional”.

Banyak spekulasi apakah kebakaran tersebut murni sebuah kebakaran atau kesengajaan dari beberapa pihak. Namun tak ada yang bisa memastikan. Toh karena kebakaran itu, segala macam kecaman tak berhenti.

Henk Sneevliet, salah seorang tokoh pergerakan komunis, tak mau ketinggalan momentum. Dalam De Arbeid, suratkabar Partai Buruh, dia berharap kebakaran pada anjungan milik Belanda akan turut melumat penjajahan dan menampakkan kolonialisme dalam sisinya yang paling gelap.

Pemerintah Belanda tak mau dipermalukan. Dalam waktu tak berapa lama mereka segera membangun kembali stan miliknya. Pada awal Agustus, sekira tujuh minggu setelah kebakaran, anjungan milik Belanda dibuka sampai berakhirnya pameran.

Pameran Kolonial memang tak hanya diselenggarakan pada 1931. Secara berkala, negeri-negeri jajahan sudah menggelarnya. Kecaman juga bukan baru muncul pada 1931. Sebelumnya pada 1914, ketika Belanda hendak memperingati seabad lepasnya negeri itu dari Prancis, diselenggarakan sebuah pameran kolonial –dikenal pula Koloniale Tentoonstelling– dalam skala yang lebih kecil di Semarang.

Sungguh aneh Belanda merayakan lepasnya penjajahan negerinya di negara jajahannya. Ki Hadjar Dewantara pun mengkritik dengan tulisannya yang termasyhur: Als Iks Nederlander Was (Andai Saya Orang Belanda).

Anjungan stan milik Belanda terus kokoh berdiri sampai usainya pameran di Prancis pada November 1931. Kritik memang tak digubris. Namun setidaknya, segala kecaman atas keangkuhan yang mewujud dalam “pameran-pameran” itu turut menyumbang andil perlawanan atas kolonialisme.




____________________


Sumber : http://historia.co.id/artikel/modern/1210/Majalah-Historia/Memamerkan_Negeri_Jajahan

Sabtu, 03 Mei 2014

(Puisi) - Senyum Laila






seulas senyum membuatku bahagia
betapa tidak
melihat wajahmu yang semakin manis
dengan lesung pipit dan pipimerah merona
terlihat gugusan gigi yang putih menawan
dan matamu yang bersinar

mendekatlah Laila
sesungguhnya
engkau telah meruntuhkan
sebuah gunung yang menjulang kokoh




Jaga Blengko, 3 Mei 2014
Jack Phenomenon


Jumat, 02 Mei 2014

(Cerita Hidup) - Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan ?







27 April 2010 pukul 23:23

BAGAIMANA KITA MENEMUKAN KEBAHAGIAAN?



Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, "Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia.
Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan.

Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih".

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya?

Malaikat pertama mengusulkan, "Letakkan dipuncak gunung yang tinggi". Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat kedua berkata, "Latakkan di dasar samudera". Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan. Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya? Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai.

Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll. Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belu bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati. Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita.
Sering kali kita berkata, ach... gue mah belum jadi orang. Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI dll.
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan. Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapainya semua itu? Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke-7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting disini adalah hikmat.

Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini. Oh ya...., dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH





_____________________


[Sumber : Milis RDI - 27/04/10 by clarissa pratiwi]

(Puisi) - Engkaukah Yang Memanggiku






tiada yang rahasia di hati ini
seperti engkau melihat wajahku
tiada yang kumiliki yang paling berharga
semua sudah kugadaikan
aku bukan pemilik tubuh
hasratku hanya satu
itupun milik Laila
dialah yang memilikiku



jika aku bertanya tentang sesuatu
akan kuhampiri Laila
dan bertanya padanya yang kuinginkan
bukankan Laila adalah hatiku ?


itulah sebabnya aku tak sudi kehilangannya
sebab itu berarti kekelaman


Laila seperti oase di padang pasir
aku sanggup berjalan berhari-hari
di tengah gurun hanya memikirkannya
ia pelepas dahaga dalam tubuhku


orang-orang berteriak memanggil namaku
Majnun, Majnun, Majnun
aku selalu menjawab: 'Iya Laila, engkaukah yang memanggilku!'
oh keindahan, bunga mawarku


tiada aku sanggup bersoal jawab
sesungguhnya aku berteriak dalam tubuhku sendiri
Laila dan aku adalah satu tubuh, satu jiwa


akulah lelaki yang memiliki tulang rusuk genap






JB, 1-5-14
Jack Phenomenon

Kamis, 01 Mei 2014

(Cerita Penjuru Dunia) - May Day—Apa Maknanya bagi Anda?






OLEH PENULIS SEDARLAH! DI INGGRIS


Apa yang tebersit di benak Anda tatkala mendengar istilah May Day atau tanggal satu Mei? Parade dan demonstrasi? Tarian mengelilingi tiang berhiaskan untaian bunga? Hari bebas kerja?


BERGANTUNG di mana Anda tinggal, May Day bisa memiliki makna yang sangat berbeda. Tetapi, semuanya saling berkaitan. Mari kita tinjau sekilas asal usul May Day untuk mengetahui makna di balik perayaannya dewasa ini.

Asal Usulnya

Di zaman Roma kuno, hari pertama bulan Mei jatuh pada festival Floralia, dinamai demikian untuk menghormati Flora, dewi musim semi dan bunga. Itulah waktu untuk bernyanyi, menari, dan mengadakan parade bunga. Para pelacur Romawi khususnya menikmati festival ini, karena mereka menganggap Flora sebagai dewi pelindung mereka.

Pada waktu orang Romawi menaklukkan negeri-negeri lain, mereka memperkenalkan kebiasaan mereka ini. Akan tetapi, di negeri-negeri Keltika, orang Romawi mendapati bahwa hari pertama bulan Mei telah dirayakan sebagai festival Beltane. Pada malam sebelum tanggal satu Mei, semua api dipadamkan, dan ketika matahari terbit, orang-orang menyalakan api unggun di puncak bukit-bukit atau di bawah pohon-pohon keramat untuk menyambut kehidupan yang diperbarui. Mereka membawa ternak ke padang rumput, dan memohon kepada dewa-dewi untuk melindungi ternak itu. Tidak lama kemudian, Floralia menyatu dengan Beltane dan menjadi festival May Day.

Bagi orang yang berbahasa Jerman dan orang Skandinavia, Walpurga adalah festival yang mirip dengan Beltane. Pesta pada Malam Walpurga dimulai dengan menyalakan api-api unggun untuk mengusir tukang sihir dan roh jahat. Orang Eropa lainnya mengembangkan variasi kebiasaan May Day mereka sendiri, banyak di antaranya masih dipraktekkan.

Gereja Susunan Kristen tidak berdaya menghadapi pesta kafir semacam itu. ”May Day—atau Beltane—adalah hari paling serbaboleh dalam setahun, suatu festival yang tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan oleh gereja Kristen dan kalangan berwenang lainnya,” kata surat kabar Guardian dari Inggris.

Kebiasaan dalam May Day

Pada Abad Pertengahan, kebiasaan-kebiasaan baru telah ditambahkan ke dalam festival yang kemudian menjadi hari libur favorit di Inggris. Kaum pria dan wanita bermalam di hutan-hutan setempat guna mengumpulkan bunga dan tangkai pohon yang berbunga untuk ’menyambut bulan Mei’ pada saat matahari terbit.* Amoralitas merebak, menurut selebaran The Anatomy of Abuses karya Philip Stubbes, seorang kaum Puritan. Para partisipan mendirikan Maypole (tiang berhiaskan untaian bunga) di tengah desa, dan hal ini menjadi pusat acara tari dan permainan sepanjang hari itu. Stubbes menyebut tiang itu sebagai ”berhala bau busuk ini”. Orang-orang memilih seorang ratu Mei dan sering kali seorang raja Mei untuk memimpin pesta. Kebiasaan ini juga umum di tempat-tempat lain di Eropa.

Apa makna penting dari kebiasaan May Day ini? Encyclopædia Britannica menjelaskan, ”Pada mulanya, ritus semacam itu dilakukan untuk memastikan kesuburan tanaman, lalu diperluas untuk kesuburan ternak dan manusia, tetapi makna penting ini dalam kebanyakan kasus lambat laun menghilang, dan praktek-praktek ini tetap dilakukan sekadar sebagai perayaan populer.”

Pasang Surut

Para Reformis Protestan mencoba memberantas perayaan yang dianggap kafir ini. Pengikut Calvin di Skotlandia melarangkan May Day pada tahun 1555. Kemudian, Parlemen Inggris yang dikuasai kaum Puritan melarangkan Maypole pada tahun 1644. Pada waktu Inggris tidak memiliki seorang raja selama periode Negara Persemakmuran, ”praktek-praktek ketidaksenonohan” May Day dibatasi. Akan tetapi, monarki memulihkan Maypole pada tahun 1660.

Pesta-pesta Maypole lambat laut merosot selama abad ke-18 dan awal abad ke-19 tetapi dihidupkan kembali pada masa-masa belakangan dengan semangat yang lebih bermoral. Banyak kebiasaan yang dianggap sebagai kebiasaan May Day tradisional, seperti anak-anak menari mengitari Maypole sambil melilitkan pita-pita berwarna semarak, berasal dari masa-masa belakangan ini. Akan tetapi, para pakar cerita rakyat yang meneliti sejarah May Day kuno menemukan banyak asal usul kafir dalam perayaan itu.

Para imigran Eropa memperkenalkan kebiasaan May Day mereka ke negeri-negeri baru, dan sebagian keturunan mereka masih merayakan May Day dengan cara tradisional. Akan tetapi, di banyak negeri, May Day, atau hari Senin pertama setelah tanggal 1 Mei, dianggap hanya sebagai hari libur buruh.

May Day Menjadi Hari Buruh

Parade dan demonstrasi May Day modern dimulai di Amerika Utara. Mengapa di sana? Revolusi industri telah menghasilkan mesin-mesin baru yang dapat beroperasi terus-menerus sehingga para pemilik pabrik sering meminta pegawai mereka untuk bekerja sampai 16 jam setiap hari kecuali hari Minggu. Dalam upaya meningkatkan kehidupan para pekerja, sebuah federasi perdagangan dan serikat buruh di Amerika Serikat dan Kanada mengajukan tuntutan untuk bekerja delapan jam yang dimulai pada tanggal 1 Mei 1886. Pada umumnya, para majikan tidak mengabulkan hal ini sehingga pada hari pertama bulan Mei itu, ribuan pekerja mengadakan aksi mogok.

Martir-martir pertama dari gerakan buruh di Amerika Serikat gugur dalam peristiwa Kerusuhan Haymarket di Chicago, Illinois, dan para pekerja di Belanda, Inggris, Italia, Prancis, Rusia, dan Spanyol ikut mogok.* Pada tahun 1889, sebuah rapat kongres partai-partai Sosialis dunia di Paris menyatakan bahwa tanggal 1 Mei 1890 akan menjadi hari demonstrasi internasional untuk mendukung hari kerja delapan jam. Sejak itu, tanggal 1 Mei menjadi peristiwa tahunan bagi para pekerja untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik.

Di republik-republik Uni Soviet, May Day secara tradisional dirayakan dengan parade militer dan pameran pencapaian teknologi. Dewasa ini, banyak negeri memberlakukan hari libur yang disebut Hari Buruh atau Hari Pekerja Internasional pada hari pertama bulan Mei. Akan tetapi, Amerika Serikat dan Kanada merayakan Hari Buruh pada hari Senin pertama bulan September.

Benang Merah Perayaan Kuno dan Modern

Sejak dahulu, May Day adalah pesta rakyat. Para pekerja mengambil waktu bebas kerja dengan atau tanpa izin majikan mereka. Peran-peran sosial diputar balik. Raja dan ratu pada hari itu dipilih dari rakyat biasa, dan golongan penguasa sering menjadi sasaran ejekan. Oleh sebab itu, May Day segera dikaitkan dengan gerakan buruh, dan pada abad ke-20, May Day menjadi hari libur dalam kalender Sosialis.

Seperti May Day kuno, Hari Pekerja Internasional menjadi hari parade melintasi jalan-jalan. Namun, kekerasan telah menjadi hal umum selama perayaan May Day pada tahun-tahun belakangan ini. Dalam May Day tahun 2000, contohnya, berlangsung unjuk rasa sedunia menentang kapitalisme global. Protes-protes pada saat itu dinodai oleh perkelahian, cedera, dan kerusakan properti.

Memenuhi Kebutuhan akan Perubahan

Secara realistis, dapatkah kita mengharapkan manusia mendatangkan perubahan global yang dibutuhkan demi manfaat semua orang yang berhati jujur? Sama sekali tidak. Kebenaran peribahasa kuno dalam Alkitab berulang kali terbukti, bunyinya, ”Manusia, yang berjalan, tidak mempunyai kuasa untuk mengarahkan langkahnya.”—Yeremia 10:23.

Kuasa yang lebih unggul—melebihi kuasa manusia—dibutuhkan untuk mewujudkan keadaan dunia yang penuh damai. Sumber kuasa itu adalah Pencipta bumi, Allah Yehuwa. Firman-Nya, Alkitab, menyebut Dia sebagai pribadi yang ”membuka tangan[-Nya] dan memuaskan keinginan segala yang hidup”. (Mazmur 145:16) Kami mengundang Anda untuk menyelidiki lebih jauh janji-janji Allah yang mulia ini.

Sebagai penggenapan contoh doa yang diajarkan Putra Allah, Yesus Kristus, kepada murid-muridnya, Kerajaan Allah akan datang, dan kehendak Allah pasti akan diwujudkan di bumi. Alkitab berjanji bahwa Penguasa yang Allah lantik ini, Yesus Kristus, ”akan membebaskan orang miskin yang berseru meminta tolong, juga orang yang menderita dan siapa pun yang tidak mempunyai penolong. Ia akan merasa kasihan terhadap orang kecil dan orang miskin, dan jiwa orang-orang miskin akan ia selamatkan. Ia akan menebus jiwa mereka dari penindasan dan tindak kekerasan”.—Mazmur 72:12-14.

[Catatan Kaki]

Sebelum kalender Gregorius diperkenalkan sekitar 400 tahun yang silam, awal bulan Mei tiba 11 hari lebih lambat dibanding sekarang, sehingga udaranya lebih hangat dan ada banyak bunga.

Kekacauan ini meletus sehari setelah perkelahian antara kelompok yang mogok dan pasukan antihuru-hara sehingga menewaskan beberapa pekerja.

[Gambar di hlm. 12]

”Maypole” abad ke-16 didirikan setiap ”May Day” di luar sebuah gereja di London

[Keterangan]

From the book Observations on Popular Antiquities

[Gambar di hlm. 14]

Unjuk rasa Antikapitalisme, ”May Day” tahun 2000, London, Inggris

[Keterangan]

© Philip Wolmuth/Panos Pictures




____________________


Sumber : Watchtower Library, Majalah Sedarlah! 2005