Tampilkan postingan dengan label Seluk Beluk Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seluk Beluk Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

(Seluk Beluk Sastra) - Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa Lewat Syair Iklan Abad Ke-19



Ting Sam Sien, pedagang buku di Semarang, barangkali tak pernah menyangka bahwa syair gubahannya berisi harta karun pendahulu kesusastraan modern di Indonesia.

 

Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa Lewat Syair Iklan Abad Ke-19 
 
 
Perayaan Cap Go Meh pada 1880-an yang menggambarkan keceriaan dua budaya. Litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard sekitar 1883-1889. (Tropenmuseum/Wikimedia)

Banjak lah tabe hormat besrenta,
Pada pembatja sekalian rata,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Njang ada terdjoewal di toko kita.

Ting Sam Sien, seorang pedagang buku di Semarang, mewartakan dagangannya dengan syair berbahasa Melayu pasar pada 1886. Ketika itu dia menjual sebanyak 41 roman terjemahan dari Tiongkok di tokonya, yang tampaknya sangat disuka oleh warga Tionghoa di Hindia Belanda. Judul syair pariwaranya, “Sair dari adanja Boekoe Tjerita Tjina njang soeda disalin bahasa Melajoe”.
Semuanya dikemas dan dipariwarakan lewat syair 36 bait. Syair merupakan puisi lama yang tiap-tiap baitnya terdiri atas empat larik atau baris dengan akhiran bunyi yang sama. Jadi bisa dibayangkan, Ting Sam memariwarakan dagangannya dalam 144 baris!

Syair gubahan Ting Sam berisikan judul buku, harga yang tak bisa ditawar lagi, isi cerita terjemahan, siapa penulisnya, tokoh dalam roman, hingga penilaian tentang kualitas terjemahan. Cukup menjadi senjata pemasaran yang ampuh pada akhir abad ke-19. Bentuk syair yang digunakan dalam pariwara terus berlanjut hingga awal abad ke-20.

Die bawah ini saja menbrita,
Pada sekalian pembatja kita,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Harganja djoega poen ada besrenta.

Claudine Lombard-Salmon mengungkapkan hal tersebut pertama kali dalam jurnal Archipel Volume 8 yang terbit pada 1974, yang bersumber dari buku usang yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. “Hampir tidak ada karya Melayu-Tionghoa yang diterbitkan sebelum 1883—karya yang disebut dalam syair iklan ini.”

Tulisan tersebut bersama tulisan Salmon lainnya, diterbitkan juga dalam Sastra Indonesia Awal : Kontribusi Orang Tionghoa pada 2010. Salmon, seorang guru besar dan peneliti asal Prancis yang sekaligus anggota Yayasan Archipel, mulai meneliti sejarah dan budaya Tionghoa sejak akhir 1960-an.
Salmon mengungkapkan betapa syair gubahan Ting Sam sungguh penting bagi cikal bakal sastra modern Indonesia. “Teks itu memiliki daya tarik ganda,” ungkapnya. Berkat teks itu kita dapat menelusuri asal-mula kesusastraan Melayu-Tionghoa yang berbentuk cetakan.” Banyaknya terjemahan roman Tiongkok yang diterbitkan di Hindia Belanda, Salmon melihat fenomena itu sebagai “pendahulu kesusastraan modern”.

Kesusastraan modern di Indonesia berawal dari penerjemahan buku-buku roman Tiongkok, demikian hemat Salmon. Fenomena ini telah memberikan energi baru yang menggairahkan penulisan prosa berupa roman Melayu klasik. Kemudian para penulis Tionghoa mengembangkan roman lokal dalam bahasa Melayu. “Hal itu terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum penerbitan roman berbahasa Indonesia karangan Marah Rusli: Sitti Nurbaya (1922),” ungkap Salmon.


Sebuah lukisan dari Dinasti ... 
 
 
Sebuah lukisan dari Dinasti Ming yang menggambarkan adegan dalam kisah Sam Kok, Roman Tiga Kerajaan. (Wikimedia/Palace Museum)

Agni Malagina, seorang pengamat studi Cina dari Universitas Indonesia, menanggapi tentang peran orang-orang Tionghoa dalam lintasan perkembangan sastra Indonesia. Menurutnya, para penulis Tionghoa sama pentingnya dengan penulis lain yang berkontribusi pada perkembangan sastra Indonesia.

Orang Tionghoa menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca untuk karya mereka, namun dengan susunan gramatikal yang masih terpengaruh tata bahasa Tiongkok. “Mereka memang tampak seperti pionir, soalnya punya akses ke penerbit dan kapital,” ujarnya. “Dan, mereka pandai karena banyak yang mengenyam pendidikan ala Eropa.”

Kemudian Agni melanjutkan, “Mereka juga masih fasih berbahasa Cina karena masih terhitung totok, sehingga bisa menerjemahkan karya-karya Cina ke dalam bahasa Indonesia yang pada akhirnya kisah-kisah itu digemari di Hindia Belanda.”

Menurut syair gubahan Ting Sam, roman yang diterjemahkan dari Tiongkok antara lain: Samkok (Roman Tiga Kerajaan), Hong Kiauw Lie Tan (Ratu Wu Zetian menggulingkan Dinasti Tang), Lek Bo Tan (Bunga Punia Hijau), Tjhit Liap Sing (ketujuh bintang), See Ijoe (perjalanaan ke barat), Tan sha-Go nio (cerita jenaka), Tjerita Khong Hoe Tjoe (buku cerita untuk anak-anak), hingga Sam Pik — Ing Taij (roman percintaan Tiongkok ala Romeo dan Juliet) yang kerap dipentaskan di gedung pertunjukan mutakhir.


Boekoe Sam Pik Ing Taij soedah lah njata,
Tjerita lakie prampoewan menaroeh tjinta,
Tetapi apa maoe die kata,
Menoeroet boekoe Tjina poenja tjerita.



Journalist | Text Editor National Geographic Indonesia

Minggu, 08 Maret 2015

(Seluk Beluk Sastra) - Haiku: Menyampaikan Emosi Lewat 17 Silabel










Tugu Haiku Issa di Kawasan Kuroda-ku, Tokyo Hasil Jepretan Seorang Kawan 

Tugu Haiku Issa
di Kawasan Kuroda-ku, Tokyo
Hasil Jepretan Seorang Kawan



Saat mendengar kata haiku, apa yang terlintas di benak anda? Atau bisa jadi anda tidak pernah mendengar kata ini. Haiku menjadi salah satu kosa kata Jepang yang populer di seluruh dunia, seperti halnya ninja, manga, samurai dan karaoke. Haiku tidak hanya menjadi milik sastra Jepang, namun juga menjadi milik sastra dunia. Jadi apa sebenarnya haiku?

Haiku adalah salah satu jenis puisi Jepang yang dianggap sebagai puisi pendek dan berasal dari permainan haikai no renga yaitu permainan puisi berantai, semacam berbalas pantun di Indonesia yang populer pada abad ke-14. Sebelum dan saat zaman Edo (sekitar abad ke-17), istilah haikai maupun hokku, yang berarti bait pertama, lebih banyak digunakan. Baru pada zaman Meiji (sekitar abad ke-19), istilah haiku (berarti bait dari haikai) menjadi populer setelah dilakukan pembaharuan oleh Masaoka Shiki. Haiku memiliki aturan yang mengikatnya yaitu aturan teikei yang mengharuskan setiap haiku terdiri atas 17 silabel (5,7,5) disertai dengan penggunaan kigo. Kigo adalah kata yang menunjukkan musim kapan haiku tersebut dibuat.



Buku Kumpulan Haiku Issa yang Sering Saya Baca  

Buku Kumpulan Haiku Issa yang
Sering Saya Baca




Berikut adalah contoh haiku yang dikutip dari 'Issa Haikushuu' (Maruyama, 2010 : 202) :

「雪とけて村いっぱいの子どもかな」(小林一茶1763-1827)

Yu-ki-to-ke-te / mu-ra-i-p-pa-i-no / ko-do-mo-ka-na (Kobayashi Issa 1763-1827)

(5 silabel / 7 silabel / 5 silabel)

'Salju mencair/ desa pun penuh dengan/ anak-anak'

Kigo dalam haiku di atas terdapat pada kata 雪とけて(yuki tokete) yang berarti 'salju mencair'. Salju yang mencair menunjukkan suasana awal musim semi. Issa menggambarkan keceriaan awal musim semi di desa yang penuh dengan keramaian anak-anak menyambut musim semi setelah berakhirnya musim dingin yang beku.

Masyarakat Jepang sangat terbuka terhadap pengaruh dari luar, tetapi juga selalu berpegang erat pada tradisi bangsanya sendiri sehingga di Jepang bentuk puisi Barat menjadi populer, namun bentuk-bentuk puisi Jepang lama seperti haiku tetap digemari dan ditulis orang. Menurut Mandah (1992: 19) bentuk kesusastraan tradisional Jepang tetap hidup karena jenis kesusastraan tradisional semacam haiku dianggap sebagai bentuk yang paling cocok mengekspresikan emosi dan gerak hati orang Jepang.



Haiku Karya Basho yang Saya Temukan di Bungkus Senbei 

Haiku Karya Basho yang Saya Temukan
di Bungkus Senbei




Saat pertama kali mengenal dan mempelajari haiku, saya terkagum-kagum karena hanya dengan 17 silabel (suku kata), orang Jepang bisa mengekspresikan emosi yang dirasakannya. Sejak saat itu saya semakin jatuh cinta dengan Jepang dan berusaha mempelajari haiku. Penyair haiku favorit saya adalah Kobayashi Issa, karena haiku karyanya sangat naif dan penuh semangat. Saya sering membaca haiku Issa di kala senggang untuk membangkitkan semangat dalam diri saya. Jika ada kesempatan, saya ingin sekali berkunjung ke Shinano, Pref. Nagano untuk mengunjungi musium Issa (Issa Kinenkan).

Sebagai penutup saya akan melampirkan haiku yang saya buat:

「十月やデンパサールにも雨が降り」

'Bulan Oktober, hujan mulai membasahi Denpasar'





____________________

Sumber : http://www.denpasar.id.emb-japan.go.jp/indonesia/konnichiwa%2012/konnichiwa12_44.html



Jumat, 16 Januari 2015

(Seluk Beluk Sastra) - Menulis Resensi? 6 Hal Tentangnya dan 11 Jurus Menulisnya


Maman S. Mahayana dikenal sebagai dosen dan kritikus sastra Indonesia. Ia rajin menulis esai dan resensi di media massa. Kebiasaan menulis di media sudah dilakukannya sejak masih kuliah di Universitas Indonesia. Kepada Spoila, ia pernah mengungkapkan bahwa setiap kali membeli sebuah buku, ia harus menghasilkan uang dari buku itu. Caranya? Dengan menulis resensi buku tersebut dan mengirimkannya ke media massa. Ia akan mendapat honor ketika resensinya dimuat di media massa dan mendapat buku-buku dari penerbit.


Iustrasi Resensi Buku. Sumber: lacesandlattes.com


Iustrasi Resensi Buku. Sumber: lacesandlattes.com


Saat Spoila meminta tips mengenai penulisan resensi, penulis yang pernah menjadi dosen tamu di Universitas Hankuk, Korea Selatan itu, langsung membagikannya. Spoila ingin membagikannya untuk pembaca setia.

Maman S. Mahayana mengungkapkan 6 hal yang harus kamu tahu tentang resensi.

  1. Resensi buku adalah apresiasi penulis resensi terhadap buku yang dibacanya.
  2. Bentuk resensi boleh seperti ringkasan, ikhtisar, sinopsis, atau resume.
  3. Cakupan resensi, boleh mengungkapkan keseluruhan isi karangan, boleh juga hanya sebagian saja.
  4. Di dalam resensi, perlu ada penilaian yang menyangkut berbagai hal mengenai isi karangan.
  5. Boleh juga membandingkan buku yang diresensi dengan buku lain yang sejenis atau yang temanya sama.
  6. Jika mungkin, buku yang diresensi boleh juga ditempatkan dalam konteks sejarah ilmu atau bidang yang bersangkutan.
  7.  
Kamu sudah mulai mengenal makhluk bernama resensi ini, kan? Sekarang, saatnya kamu mengikuti jurus-jurus sakti yang bisa kamu praktikan saat menulis resensi. Maman S. Mahayana memberikan 10 jurus strategis dan 1 jurus pamungkas yang harus kamu lakukan saat meresensi sebuah buku.


Jurus #1:

Sebelum membaca isi buku, cermati daftar isi (jika kamu meresensi buku nonfiksi).

Jurus #2:

Baca dan cermati Kata Pengantar yang ditulis pengarangnya atau yang ditulis orang lain.

Jurus #3:

Cermati sungguh-sungguh bagian Pendahuluan buku itu.

Jurus #4:

Baca isi buku atau karangan itu secara kritis, lalu tandai bagian-bagian yang dianggap penting yang menyangkut kelebihan atau kekurangan buku itu.

Jurus #5:

Cermati sungguh-sungguh bagian Simpulan atau Penutup.

Jurus #6:

Pelajari seperlunya bagian lampiran (jika ada).

Jurus #7:

Pahami wacana buku yang bersangkutan, berikut pesan yang hendak disampaikan pengarang.

Jurus #8:

Simpan buku aslinya lalu ungkapkan berdasarkan pemahaman sendiri.

Jurus #9:

Kutip bagian-bagian yang penting untuk mendukung pernyataan atau uraian yang disampaikan.

Jurus #10:

Jika pembicaraannya melebar dan menambahkan bahan-bahan lain yang lebih komprehensif, itulah yang disebut artikel ilmiah populer.

Jurus Pamungkas: SELAMAT MENCOBA! Sebab tanpa kamu mencoba, jurus ini akan sia-sia. [Spoila]




_____________________

Sumber : https://spoilaaa.wordpress.com/2015/01/15/menulis-resensi-6-hal-tentangnya-dan-11-jurus-menulisnya/


Kamis, 08 Januari 2015

(Seluk Beluk Sastra) - Sudah Sejak Lama, Puisi Sunda Jadi Bagian dari Khazanah Sastra Dunia



[Unpad.ac.id, 7/11/2013] Puisi Sunda bukanlah kategori sastra yang terkucil, namun merupakan bagian dari sastra Nusantara bahkan dunia. Ia pun punya pertautan dengan sastra yang lain sehingga tautan inilah yang menjadikan puisi Sunda bersifat khusus, unik, taktergantikan, dan tidak identik dengan puisi yang lain.




Tedi Muhtadin, MHum (kiri) usai menerima cindera mata dari
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum
(Foto: Arief Maulana)*


“Hal itulah yang membuat puisi Sunda punya identitas. Identitas itu tidaklah terberi sekali untuk selamanya, ia dibangun dan berubah sepanjang kurun hayat,” ujar Dosen Sastra Sunda FIB Unpad, Tedi Muhtadin, M.Hum., saat membacakan orasi ilmiah berjudul “Eksistensi Puisi Sunda dalam Hubungannya dengan Identitas dan Generasi Pascasunda” di hadapan civitas akademika FIB Unpad, Kamis (07/11) di Aula PSBJ FIB Unpad.

Tedi mengungkapkan, puisi Sunda sudah lama menjadi bagian dari khazanah sastra lisan Nusantara. Hal ini terlihat dari ragam puisi yang ditulis dalam naskah Sunda Kuno. Naskah tersebut ditulis pada abad ke-16, misalnya Putra Rama dan Rawana, Pendakian Sri Ajnyana, dan Kisah Bujangga mAnisk: Jejak Langkah Peziarah.

“Jika kita cermati puisi Sunda seperti yang tersurat di naskah Sunda Kuno, maka kita akan melihat pertautan puisi tersebut dengan bentuk sastra yang berasal dari India,” ungkap Tedi.

Tautan tersebut terlihat dari struktur puisi. Selain menyadur cerita dari khazanah sastra India, bentuk puisi Sunda pun menggunakan pola delapan suku kata pada setiap lariknya. Adapun bentuk lain dari puisi tersebut adalah sisindiran, sa’ir, pupuh, hingga yang lebih modern disebut sajak.

Untuk Sajak Sunda—Tedi mengutip pernyataan dari budayawan Sunda, Ajip Rosidi—mulai ditulis sesudah perang dunia kedua dan banyak terpengaruh oleh sastra Indonesia. Namun, terjadi polemik yang mempertanyakan apakah sajak Sunda masih memiliki identitasnya sebagai produk Kesundaan. Apalagi, polemik ini mencuat bersamaan dengan wacana kesundaan dalam keindonesiaan yang menyeruak pada media berbahasa Sunda tahun 1950-an.

Lebih lanjut Tedi mengungkapkan, meskipun sajak Sunda lahir dari pengaruh sastra Indonesia, salah seorang penyair Sunda, Sayudi justru mengukuhkan kembali puisi Sunda “lama”. “Sayudi pada waktu itu berpendapat tradisi Sunda tidak akan berkurang sehingga ia pun tetap teguh membumi Sunda,” jelas Tedi.

Pasca Sayudi, beberapa penyair Sunda pun tetap membumikan kesundaannya sehingga menjadikan tradisi puisi Sunda menjadi tetap hidup dan memungkinkan penyair pun menjadi penyair dwibahasa, yakni menulis sajak dalam bahasa Sunda maupun Indonesia. Buah karya tersebut kemudian dimuat oleh media-media Sunda, seperti Mangle, Galura, Cupumanik, dan media lainnya.

Menginjak generasi Pascasunda, puisi Sunda pun kembali mengalami pertautan dengan budaya global. Puisi Sunda tidak lagi ditulis dari daerah di Jawa Barat, tetapi juga dapat ditulis dari mancanegara. Maraknya jejaring sosial saat ini juga turut berpengaruh pada perkembangan puisi Sunda.
“Situasi ini seringkali menimbulkan pencarian identitas kembali. Namun, di sisi lain ini juga salah satu cara untuk mempertahankan khazanah sastra Sunda,” ujar Tedi.

Orasi ilmiah tersebut dibacakan dalam rangka Dies Natalis ke-54 FIB Unpad. Tedi pun berharap, mahasiswa sastra, khususnya Sastra Sunda untuk mempertahankan tradisi kesundaan dalam karya sastranya. “Sudah saatnya mahasiswa sastra, khususnya Sastra Sunda, tetap membumikan kesundaannya,” pungkasnya.*



Laporan oleh: Arief Maulana / eh*




______________________

Sumber : http://www.unpad.ac.id/2013/11/sudah-sejak-lama-puisi-sunda-jadi-bagian-dari-khazanah-sastra-dunia/

Rabu, 12 November 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Hafez Dipuja Karena Mengecam Kemunafikan Agama



hafez

Makam Hafez di Shiraz selalu ramai dikunjungi masyarakat Iran.



Sastra Dunia | Berita – Hasil karya penyair abad ke-14 Hafez ternyatra masih bisa ditemukan di hampir semua rumah orang Iran.

Lebih dari 600 tahun setelah kematiannya, penulis ini masih terus memberikan pencerahan mengenai identitas negara tersebut.

Di Iran orang mengatakan ada dua buku yang selalu ada di setiap rumah, yaitu Alquran dan Hafez. Yang satu dibaca, yang satunya lagi tidak. Coba Anda tebak yang mana yang dibaca?

Untuk memahami gurauan tadi, orang harus bergabung dengan jutaan orang yang secara teratur mengunjungi makam Hafez, penyair abad 14 dari kota Shiraz dan sekaligus pahlawan Iran.

Siang dan malam makam Hafez -yang dibangun di atas podium yang didekorasi dengan indah dan dikelilingi taman bunga mawar, saluran air dan pohon jeruk- disesaki oleh para pemujanya yang mengelus-elus makam pualamnya, sambil mendeklamasikan syair-syair puisinya dan menikmati kepandaian Hafez memainkan kata-kata.

Hafez mewakili semua kekompleksan identitas Iran dan keahliannya menggunakan metafora dalam bahasa Farsi menyatukan mereka semua.

Namun ada satu alasan lain yang membuat makamnya begitu populer.


Shiraz kota paling liberal


Dewasa ini di Republik Islam Iran sulit bagi orang untuk menentang kekuasaan yang ada.

Kaum ulama yang berkuasa telah mengkonsolidasikan cengkraman mereka atas kekuasaan dan menggunakan retorika revolusi ketika membasmi oposisi.

Walau wajah Presiden Hassan Rouhani yang penuh senyum memproteksikan citra baru di luar negeri, namun di dalam negeri semua orang mengatakan keadaan makin buruk, makin banyak penekanan dan makin banyak hukuman mati dibandingkan sebelumnya.

Namun, penentangan bisa ditunjukkan dengan cara yang lebih halus. Berkat Hafez, Shiraz kini merupakan kota paling liberal di Iran.

Pakaian kaum wanita di sana menjadi tanda kebebasan, yang memberikan pengaruh pada suasana di sana.

Ketika kaum perempuan diwajibkan oleh hukum menutupi diri dari kepala sampai ujung jari kaki, di Shiraz perempuan berdandan secara ‘berlebihan’ -kalau menurut standar Iran.

Kemunafikan agama

Selendang penutup kepala yang dipakai di Shiraz sangat berwarna-warni dan dipakai asal-asalan di belakang kepala sehingga hampir tidak menutupi rambut sama sekali.

Para perempuan muda juga tak jarang mengenakan legging ketat dengan jaket ketat sehingga setiap orang seolah-olah menantang orang lainnya untuk mengenakan pakaian yang lebih pendek.

Di sinilah ada Iran yang paling ‘membangkang’, yang jauh berbeda dari konservatisme agama yang ingin dipaksakan para ulama pemimpin kepada penduduk di negara itu.

Di sinilah pula ‘penentangan’ dengan keras digemakan oleh puisi-puisi Hafez, yang selain memuja kebahagiaan karena cinta dan minuman anggur, juga mengecam kemunafikan agama.

“Pengkotbah yang memamerkan kesalehan mereka saat bersembahyang dan berkotbah,” tulis Hafez 600 tahun lalu, “bertingkah laku sangat berbeda ketika mereka sendirian.”

“Mengapa mereka yang menuntut orang untuk bertobat malah paling tidak bertobat?”
sumber: bbc.co.uk



____________________

Smber : http://indonesiasastra.org/2014/11/hafez-dipuja-karena-mengecam-kemunafikan-agama/

(Seluk Beluk Sastra) - Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa lewat Syair Iklan Abad Ke-19


Ting Sam Sien, pedagang buku di Semarang, barangkali tak pernah menyangka bahwa syair gubahannya berisi harta karun pendahulu kesusastraan modern di Indonesia.

 

 

Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa Lewat Syair Iklan Abad Ke-19 

Perayaan Cap Go Meh pada 1880-an yang menggambarkan keceriaan dua 
budaya. Litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard 
sekitar 1883-1889. (Tropenmuseum/Wikimedia)



Banjak lah tabe hormat besrenta,
Pada pembatja sekalian rata,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Njang ada terdjoewal di toko kita.



Ting Sam Sien, seorang pedagang buku di Semarang, mewartakan dagangannya dengan syair berbahasa Melayu pasar pada 1886. Ketika itu dia menjual sebanyak 41 roman terjemahan dari Tiongkok di tokonya, yang tampaknya sangat disuka oleh warga Tionghoa di Hindia Belanda. Judul syair pariwaranya, “Sair dari adanja Boekoe Tjerita Tjina njang soeda disalin bahasa Melajoe”.

Semuanya dikemas dan dipariwarakan lewat syair 36 bait. Syair merupakan puisi lama yang tiap-tiap baitnya terdiri atas empat larik atau baris dengan akhiran bunyi yang sama. Jadi bisa dibayangkan, Ting Sam memariwarakan dagangannya dalam 144 baris!

Syair gubahan Ting Sam berisikan judul buku, harga yang tak bisa ditawar lagi, isi cerita terjemahan, siapa penulisnya, tokoh dalam roman, hingga penilaian tentang kualitas terjemahan. Cukup menjadi senjata pemasaran yang ampuh pada akhir abad ke-19. Bentuk syair yang digunakan dalam pariwara terus berlanjut hingga awal abad ke-20.


Die bawah ini saja menbrita,
Pada sekalian pembatja kita,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Harganja djoega poen ada besrenta.



Claudine Lombard-Salmon mengungkapkan hal tersebut pertama kali dalam jurnal Archipel Volume 8 yang terbit pada 1974, yang bersumber dari buku usang yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. “Hampir tidak ada karya Melayu-Tionghoa yang diterbitkan sebelum 1883—karya yang disebut dalam syair iklan ini.”

Tulisan tersebut bersama tulisan Salmon lainnya, diterbitkan juga dalam Sastra Indonesia Awal : Kontribusi Orang Tionghoa pada 2010. Salmon, seorang guru besar dan peneliti asal Prancis yang sekaligus anggota Yayasan Archipel, mulai meneliti sejarah dan budaya Tionghoa sejak akhir 1960-an.

Salmon mengungkapkan betapa syair gubahan Ting Sam sungguh penting bagi cikal bakal sastra modern Indonesia. “Teks itu memiliki daya tarik ganda,” ungkapnya. Berkat teks itu kita dapat menelusuri asal-mula kesusastraan Melayu-Tionghoa yang berbentuk cetakan.” Banyaknya terjemahan roman Tiongkok yang diterbitkan di Hindia Belanda, Salmon melihat fenomena itu sebagai “pendahulu kesusastraan modern”.

Kesusastraan modern di Indonesia berawal dari penerjemahan buku-buku roman Tiongkok, demikian hemat Salmon. Fenomena ini telah memberikan energi baru yang menggairahkan penulisan prosa berupa roman Melayu klasik. Kemudian para penulis Tionghoa mengembangkan roman lokal dalam bahasa Melayu. “Hal itu terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum penerbitan roman berbahasa Indonesia karangan Marah Rusli: Sitti Nurbaya (1922),” ungkap Salmon.


Sebuah lukisan dari Dinasti ... 

Sebuah lukisan dari Dinasti Ming yang menggambarkan adegan dalam 
kisah Sam Kok, Roman Tiga Kerajaan. (Wikimedia/Palace Museum)



Agni Malagina, seorang pengamat studi Cina dari Universitas Indonesia, menanggapi tentang peran orang-orang Tionghoa dalam lintasan perkembangan sastra Indonesia. Menurutnya, para penulis Tionghoa sama pentingnya dengan penulis lain yang berkontribusi pada perkembangan sastra Indonesia.

Orang Tionghoa menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca untuk karya mereka, namun dengan susunan gramatikal yang masih terpengaruh tata bahasa Tiongkok. “Mereka memang tampak seperti pionir, soalnya punya akses ke penerbit dan kapital,” ujarnya. “Dan, mereka pandai karena banyak yang mengenyam pendidikan ala Eropa.”

Kemudian Agni melanjutkan, “Mereka juga masih fasih berbahasa Cina karena masih terhitung totok, sehingga bisa menerjemahkan karya-karya Cina ke dalam bahasa Indonesia yang pada akhirnya kisah-kisah itu digemari di Hindia Belanda.”

Menurut syair gubahan Ting Sam, roman yang diterjemahkan dari Tiongkok antara lain: Samkok (Roman Tiga Kerajaan), Hong Kiauw Lie Tan (Ratu Wu Zetian menggulingkan Dinasti Tang), Lek Bo Tan (Bunga Punia Hijau), Tjhit Liap Sing (ketujuh bintang), See Ijoe (perjalanaan ke barat), Tan sha-Go nio (cerita jenaka), Tjerita Khong Hoe Tjoe (buku cerita untuk anak-anak), hingga Sam Pik — Ing Taij (roman percintaan Tiongkok ala Romeo dan Juliet) yang kerap dipentaskan di gedung pertunjukan mutakhir.

Boekoe Sam Pik Ing Taij soedah lah njata,
Tjerita lakie prampoewan menaroeh tjinta,
Tetapi apa maoe die kata,
Menoeroet boekoe Tjina poenja tjerita.






Journalist | Text Editor National Geographic Indonesia




____________________

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/11/telusuri-awal-sastra-melayu-tionghoa-lewat-syair-iklan-abad-ke-19

Rabu, 05 November 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Kritik Sastra Indonesia Tereropakan vs Reflektif







Muh Arif Rokhman – Forum Sastra Banding FIB UGM


Kritik sastra adalah tindak dari salah satu, dua atau tiga dari tiga kemungkinan: menghakimi, menjelaskan dan membacanya secara paradigmatik. Sedangkan kritik sastra Indonesia adalah praktik kritik yang dilakukan bisa di Indonesia, terhadap karya yang ditulis orang Indonesia, atau karya berbahasa Indonesia.

Fakta yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa kritik sastranya tereropakan . Artinya, semua karya sastra dilihat dengan teori sastra yang berasal dari Eropa.  Bagaimana dengan kritik sastra Indonesia yang reflektif?

Nah, apa arti reflektif? reflektif adalah pemikiran yang muncul dalam rangka evaluasi diri ketika berhadapan dengan suatu objek di luar kita. apakah kritik sastra Indonesia bisa melakukan hal tersebut? Saya kira tergantung para kritikusnya. Kalau kritikus hanya menggunakan teori-teori dari negara lain saja tanpa ada sikap mengevaluasi diri sendiri, sikap semacam itu kurang reflektif. Reflektif membuat kita selalu bertanya, setelah berhadapan dengan teori sastra dari negara lain, lalu bagaimana dengan teori negeri kita sendiri? 

Reflektif adalah cara kita melihat diri kita melalui komparasi dengan orang lain, kemudian mempertanyakan apa yang kurang pada kita sehingga kita bisa memperbaiki dan meningkatkan diri kita sendiri. Dalam sosiologi dikenal teori glass-looking yang kira-kira bermakna sama dengan refleksi. Bandingkan juga misalnya dengan mirror stage menurut Jacques Lacan.

Teori-teori sastra Eropa berkembang dengan pesat sementara jika kita melihat teori-teori sastra Indonesia, barangkali kita perlu bertanya. Teori-teori sastra Indonesia mana yang bisa bersaing dengan teori-teori sastra Eropa? Dengan model komparatif, kita bisa mulai melihat bahwa teori-teori sastra Eropa tidak bisa dilepaskan dari konteks kultur, ideologi yang ada, dsb yang sifatnya lokal dan kemudian dipromosikan melalui media massa dan buku ke seluruh dunia dengan bahasa Inggris sehingga seolah-olah teori-teori sastra Eropa adalah satu-satunya teori yang jitu untuk melihat karya sastra dibelahan dunia manapun.

Karena teori-teori sastra dan kritik sastra tidak dapat lepas dari konteks budaya, mungkinkah kita merumuskan teori-teori sastra nasional berdasar konteks budaya masing-masing negara? Eropa telah memulainya, dan kita selalu menjadi beo yang baik dengan selalu menirunya sehingga kritik sastra Indonesia menjadi terbaratkan yang merupakan lawan dari kritik sastra Indonesia yang reflektif (kasus semacam ini bisa juga menjadi pola dalam semua bidang kebudayaan, seperti teori sosiologi, politik, ekonomi, hukum, psikologi dsb). Kapan kita bisa buat sendiri? Bagaimana caranya?

Cara yang barangkali bisa dilakukan adalah dengan menghubungkan kritik sastra (dan aspek budaya) dengan konteks budaya, ideologi negara, nilai-nilai budaya lokal. Pernahkah terpikir oleh para pemikir sastra Indonesia bahwa dimungkinkan melahirkan sebuah teori sastra Indonesia? Setidaknya usaha Forum Sastra Banding FIB UGM untuk melakukan refleksi teori tersebut akan dilakukan dengan event tanggal 20-22 November 2014




http://forumsanding.wordpress.com/2014/06/11/call-for-participants-kritik-sastra-non-eropa-20-22-november-2014-forum-sastra-banding-fakultas-ilmu-budaya-ugm/




____________________

Sumber : http://forumsanding.wordpress.com/2014/10/31/kritik-sastra-tereropakan-vs-reflektif/

Selasa, 04 November 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Bumi Manusia



 

Bumimanusia big.gif




Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.

Buku ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu telah diceritakan ulang kepada teman-temannya.

Setelah diterbitkan, Bumi Manusia kemudian dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung. Sebelum dilarang, buku ini sukses dengan 10 kali cetak ulang dalam setahun pada 1980-1981.[1] Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Pada September 2005, buku ini diterbitkan kembali di Indonesia oleh Lentera Dipantara.

Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.


Sinopsis

 
Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang "Nyai" yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Minke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.

Melalui buku ini, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti di dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.


Menerbitkan Karya Eks-Tapol


Bulan April 1980 selepas dari tahanan, Hasjim Rachman, mantan pemimpin redaksi Bintang Timur, dan Pramoedya menemui Joesoef Isak, mantan wartawan Merdeka yang belasan tahun mendekam di Rutan Salemba. Diskusi berkembang, dan kesepakatan dicapai untuk menerbitkan karya eks-tapol yang selama ini tidak mendapat sambutan dari penerbit lain.

Naskah pertama terpilih untuk diterbitkan adalah Bumi Manusia. Pramoedya kembali bekerja keras memilah tumpukan kertas doorslag yang berhasil diselamatkannya dari Pulau Buru. Hampir semua naskah aslinya ditahan oleh petugas penjara dan sampai tidak pernah dikembalikan. Dalam waktu tiga bulan ia berhasil menyalin kembali dan merajut tumpukan kertas lusuh yang dimakan cuaca menjadi naskah buku. Sementara itu, Hasjim dan Joesoef berkeliling menemui beberapa pejabat pemerintah, termasuk wakil presiden Adam Malik, yang ternyata memberikan sambutan baik.

Awal Juli 1980 naskah Bumi Manusia dikirim ke percetakan Aga Press dengan harapan terbit menjelang peringatan Proklamasi. Cetakan pertama keluar tanggal 25 Agustus, meleset dari rencana semula. Sampul cetakan pertama ini masih sangat sederhana, hanya berupa tulisan saja. Bagi Pramoedya penerbitan Bumi Manusia, seperti yang dicatatnya, berarti "suatu kebulatan tekad, keikhlasan, dan sekaligus ketabahan untuk memberikan saham pada perkembangan demokrasi di Indonesia – dan bukan demokrasi warisan sah kolonial, demokrasi hasil keringat sendiri".

Dalam waktu 12 hari sekitar 5.000 eksemplar habis terjual. Hanya beberapa bulan setelah Bumi Manusia keluar, sejumlah penerbit di Hongkong, Malaysia, Belanda dan Australia mendekati Hasta Mitra untuk mendapat hak terjemahan. Pramoedya sebagai penulis tetap mendapat royalti sementara Hasta Mitra hanya bertindak sebagai perantara. Penerbit Wira Karya di Malaysia membayar royalti sebesar 12% langsung kepada Pramoedya.

Dalam bulan November Hasta Mitra sudah membuat cetakan ketiga, dan berhasil menjual sekurangnya 10.000 eksemplar. Dan sambutan pun semakin ramai, mulai dari kritikus Jakob Soemardjo dan Parakitri Simbolon sampai artis remaja Yessy Gusman yang menyebutnya "karya sastra yang terbagus saat ini." Harian Angkatan Bersenjata yang dikelola Markas besar ABRI pun sempat menyebutnya sebagai "sumbangan baru untuk khasanah sastra Indonesia".


Pelarangan


Buku ini dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1981, dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme, walaupun dalam buku ini tidak disebut-sebut sedikit pun tentang ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme atau komunisme, yang disebut hanya Nasionalisme.[1]

Awalnya Percetakan Ampat Lima yang memproduksi Bumi Manusia diminta agar tidak mencetak terbitan Hasta Mitra. Redaktur media massa ditelepon agar tidak memuat resensi apalagi pujian bagi karya Pramoedya ini.

Pada April 1981 beberapa organisasi pemuda bentukan Orde Baru menggelar diskusi yang isinya mengecam karya Pramoedya. Hasil diskusi ini kemudian disiarkan melalui media massa sebagai bukti keresahan masyarakat, modal penting bagi Kejaksaan Agung untuk menetapkan larangan. Suratkabar pendukung Orde Baru seperti Suara Karya, Pelita dan Karya Dharma mulai menerbitkan kecaman terhadap Bumi Manusia dan pengarangnya.

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang akan menyelenggarakan pameran buku tahunan, tiba-tiba mengirim surat pembatalan ke alamat Hasta Mitra. Padahal sebelumnya panitia kelihatan sangat bergairah mengajak penerbit itu menjadi anggota dan turut serta dalam kegiatan-kegiatannya. Suratkabar yang semula simpati semakin jarang memberi tempat dan bahkan beberapa tulisan yang siap naik cetak tiba-tiba dibatalkan, hanya karena penulisnya memuji kedua karya Pramoedya.

Akhirnya, 29 Mei 1981, Jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 tentang pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dalam surat itu antara lain disebutkan sepucuk surat dari Kopkamtib yang keluar seminggu sebelumnya, dan Rapat koordinasi Polkam tanggal 18 Mei 1981. Pelarangan itu sepenuhnya adalah keputusan politik dan tidak ada kaitannya dengan nilai sastra, argumentasi ilmiah serta alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya.

Semua agen dan toko buku didatangi oleh Kejaksaan Agung yang menyita semua eksemplar Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Beberapa di antaranya malah mengambil inisiatif menyerahkannya secara sukarela. Tapi sampai Agustus 1981, hanya ada 972 eksemplar yang diterima oleh Kejaksaan Agung, dari sekitar 20.000 eksemplar yang beredar.

Bulan September 1981, penerjemah Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris, Maxwell Lane, yang juga staf kedutaan besar Australia di Jakarta, dipulangkan oleh pemerintahnya. Perusahaan Ampat Lima yang mencetak kedua karya pertama juga akhirnya mundur karena tekanan dari Kejaksaan dan aparat keamanan.


This Earth of Mankind




Terbitan Dalam Berbagai Bahasa

  • Bumi Manusia, Hasta Mitra, 1980 (edisi Indonesia)
  • Aarde Der Mensen, Manus Amici, 1981 (edisi Amsterdam)
  • Ren Shi Jian, Beijing Da Xue, 1982 (edisi Beijing, bahasa Tionghoa)
  • Ren Shi Jian, Dou Shi Chu Ban Selangor, 1983 (edisi Malaysia, bahasa Tionghoa)
  • Bumi Manusia, Wira Karya, 1983, (edisi Kuala Lumpur)
  • This Earth of Mankind, Penguin Book, 1983 (edisi Australia)
  • Garten Der Menschheit, Express Editio, 1984 (edisi Berlin)
  • Im Gartender Menschheit, Albert Klutsch-Verlags-Vertrag, 1984 (edisi Belanda)
  • Människans Jord, Fölaget Hjulet, 1986 (edisi Stockholm, Swedia)
  • Ningen No Datchi, Shinkuwara Mekong Published, 1986 (edisi Jepang)
  • Мир человеческий, Radooga Moskwo 1986 (edisi Rusia)
  • CBIT ЛЮДCbKЙ , In Ukrainain, 1986 (edisi Ukraina)
  • Garten Der Menschheit, Rowohlt Taschenbuch Verlag, 1987 (edisi Jerman)
  • Aarde Der Mensen, Unieboek, 1987 (edisi Amsterdam)
  • Questa Terra Dell'Uomo, Il Saggiatore, 1990 (edisi Milan)
  •  ?, O Neul Publishing, 1990 (edisi Korea)
  • This Earth of Mankind, Penguin Book, 1990 (edisi New York)
  • This Earth of Mankind, William Morrow & Co., Inc, 1991 (edisi New York)
  • Människans Jord, Norstedts Förlag AB, 1992 (edisi Stockholm, Swedia)
  • Tierra Humana, Txalaparta, 1995 (edisi Nafarroa, Spanyol)
  • Erbe Einer Versunkenen Welt, Verlag Volt und Welt, 1996 (edisi Jerman)
  • Aarde Der Mensen, Uit Geverij De Geus, 1999 (edisi Breda)
  • This Earth of Mankind, Penguin Book, 2000 (edisi Italia)
  • Le Monde des Hommes, Payot & Rivages, 2001 (edisi Paris)
  • Menneskenes Jord, Pax Forlag A/S, 2001 (edisi Oslo)
  • Tiera Humana, Edisiones Destino, S.A., 2001 (edisi Barcelona)
  •  ?, Livros Quetzal, 2002 (edisi Portugal)
  • This Earth of Mankind, Bertrand Editorial, 2002 (edisi Portugal)
  • This Earth of Mankind, Leopard Förlag, 2002 (edisi Swedia)
  • Bumi Manusia, Radio 68H, 2002 (cerita bersambung di radio)
  • Människornas Jord, Leopard Förlag, 2003 (edisi Stockholm)
  •  ?, Alfa-Narodna Knjiga, 2003 (edisi Serbian)
  • แผ่นดินของชีวิต (Phaen Din Khong Chiwit), Kobfai Publishing, 2003 (edisi Thai)
  • S.A. Qudsi, 2009 (edisi Malayalam-Indian)
  • Bumi Manusia, Lentera Dipantara, 2005 (edisi Indonesia)

Pementasan Teater


Bumi Manusia dengan tokoh utamanya Nyai Ontosoroh dipentaskan dalam bentuk teater pada bulan Desember 2006 di 12 kota secara serentak (Padang, Lampung, Bandung, Semarang, Solo, Jogja, Surabaya, Denpasar, Mataram, Makassar, Kendari, Pontianak). Naskah adaptasi ditulis oleh Faiza Mardzoeki dan disesuaikan dengan budaya setempat di kota-kota tersebut. Khusus untuk pementasan di Jakarta dilakukan pada bulan Agustus 2007 dengan sutradara Wawan Sofwan. Pementasan Nyai Ontosoroh ini sekaligus merupakan satu ajang berkesenian untuk memperingati perayaan Hari Hak Asasi Manusia dan Hari Perempuan Indonesia yang kedua-duanya jatuh pada bulan Desember.

Nyai Ontosoroh adalah figur yang mempunyai pendirian kuat, ulet dan pantang menyerah dalam berjuang, rasional dan mempunyai visi kebangsaan. Nyai Ontosoroh adalah simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan, terhadap harga diri sebuah bangsa. Yang cukup menonjol pada naskah Nyai Ontosoroh adalah proses pembangunan karakter berdaulat yang mampu menghadapi dan melawan kekuasaan dengan tanpa mencabik-cabik integritas perorangan maupun kelas. Apalagi proses pembangunan karakter tersebut dikenakan pada konteks sejarah penjajahan, yang masih relevan dalam kajian sosial-budaya masa kini sekalipun.

Pementasan ini merupakan hasil produksi dari Perguruan Rakyat Merdeka bekerjasama dengan banyak lembaga ataupun individu yaitu Elsam, Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, JARI, Kalyanamitra, Komunitas Ciliwung, Pramoedya Institute, Pantau, Perkumpulan Praxis, Perkumpulan Seni Indonesia dan Solidaritas Perempuan.

Sutradara: Wawan Sofwan Naskah: Faiza Mardzoeki Eksekutif Produser: Myra Diarsi, Warsito Ellwein, Ayi Bunyamin, Agung Yudha, Yeni Rosa Damayanti Produser: Faiza Mardzoeki dan Andi K. Yuwono Pemain: Ine Febriyanti, David Chalid, Maryam Supraba, Happy Salma, Zainal Abidin Domba, Jajang C. Noer, dll.


Film


Bumi Manusia ini juga akan difilmkan. Sejak pertengahan tahun 2004 proses pembuatannya sudah mulai dilakukan. Hatoek Soebroto, seorang produser film, bersama PT. Elang Perkasa telah menandatangani kontrak pembuatan film itu bersama dengan pihak keluarga Pramoedya, pada 3 September 2004. PT. Elang Perkasa bekerja sama dengan perusahaan film milik Deddy Mizwar Citra Sinema dalam proses pembuatannya. [2]

Pencarian lokasi sudah dimulai sejak akhir 2005. Awal 2006 proses produksi dimulai dengan penulisan skenario oleh Jujur Prananto, penulis skenario Ada Apa dengan Cinta?. Garin Nugroho akan menyutradarai film ini.




____________________

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia

Jumat, 31 Oktober 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Karya Sastra sebagai Media Pelestari Budaya







Sastra Indonesia | Esai - Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur sistem mulai dari sistem agama, politik, adatistiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Salah satu hasil dari kebudayaan adalah karya sastra, tetapi secara garis besar sastra merupakan hasil karya dari individu hanya saja objek yang disampaikan tidak akan terlepas dari kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Kejelasan lain tentang karya sastra ialah sastra itu tidak pernah tercipta dari kekosongan. Sastra selalu memiliki latar belakang untuk menjadi ada. Hasil dari pengolahan kejadian yang melatarbelakangi terciptanya sebuah karya sastra adalah cerita ataupun kejadian-kejadian dalam masyarakat. Inilah alasan karya sastra tidak pernah hadir dari kehampaan.

Hubungan yang erat antara sastra dan budaya akhirnya dapat menghasilkan karya sastra yang memiliki fungsi sebagai pelestari kebudayaan. Sebuah kebudayaan yang kompleks dapat tercermin dalam sebuah karya sastra. Jika ditelusuki dengan seksama, maka akan kita ketahui beberapa pengarang yang telah memasukkan sebuah tradisi dan budaya suatu daerah dalam karya sastra mereka. Pada khususnya para sastrawan yang memasukkan adat budaya Jawa didalamnya. Mereka merangkum beberapa kesenian atau pun tradisi-tradisi kejawen dalam karya-karya sastra yang mereka tulis.
“Saya lahir di atas amben bertikar
dengan ari-ari menyertai pula
Oleh mbah dukun dipotong dengan welat
tajamnya tujuh kali pisau cukur
Bersama tlor ayam mentah, beras, uang logam
bawang merah dan bawang putih, gula, garam,
jahe dan kencur, adik ari-ari jadi satu
Sehabis dibersihkan dibungkus periuk tanah
kemudian ditanam di depan rumah”
Kutipan di atas adalah kutipan dari novel Pengakuan Pariyemkarya Linus Suryadi AG. Kutipan ini memberikan sebuah gambaran tentang sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat jawa ketika seorang anak baru dilahirkan.
“—Sepasaran, bahasa populernya
Maka tersedialah di tikar di lantai, di tanah:
Jenang abang: lambang kesucian si jabang bayi
Jenang putih: lambang cahaya yang menerangi alam
Ingkung ayam: lambang keutuhan badan
wadhag telanjang
Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang
pergaulan hidup…”
Kutipan ini juga dari novel Pengakuan Pariyem,tetapi pembahasannya pada acara selamatan pemberian nama pada anak umur 5 hari atau sepasaran oleh masyarakat Jawa. Dari sini dapat diketahui bahwa dalam tradisi masyarakat Jawa ada juga selamatan untuk bayi yang baru lahir.

Dua buah kutipan di atas sudah sedikit menggambarkan tradisi masyarakat Jawa yang masih sering dilakukan. Ini membuktikan suatu tradisi dapat masuk ke dalam sebuah karya sastra. Hal inilah yang mampu menjadi sebuah media dalam mengenalkan dan melestarikan suatu tradisi kebudayaan kepada seluruh kalangan masyarakat.

Ada juga sebuah judul dari kumpulan cerpen “Perempuan Terakhir” karya Shoim Anwar yang telah menjadi dokumentasi dari kesenian ludruk. Judul dari cerpen yang mendokumentasikan kesenian ludruk itu adalah “Awak Ludruk”. Dalam cerpen ini, penulis memberikan gambaran tentang pementasan ludruk dengan sejarah-sejarahnya. Siapa saja yang membacanya pasti akan mendapatkan sebuah gambaran mengenai ludruk.
“Kidung jula-juli usai dilantunkan. Irama dan tempo gamelan menaik dan semakin cepat. Suara gendang pun menghentak-hentak sebagai pertanda tari ngremo akan berakhir. Sang penari mulai menutup tariannya dengan gerakan yang amat gesit dan tangkas. Lidah sampur pun mulai dipermainkan ke kiri dan ke kanan, diikuti oleh tatapan mata yang kelewat tajam. Penari itu tak lain adalah Cak Codet. Sementara kaki kanannya digedhruk-gedhrukkan sehingga klintingan yang dikalungkan di pergelangan kaki itu terdengar ramai gemerincing. Dengan cepat, lelaki itu berjalan mengitari panggung, lalu berdiri kembali menghadang penonton. Matanya berkilat-kilat desetubuhi cahaya blencong.”
Beberapa kutipan di atas merupakan sebuah gambaran umum tentang suatu budaya dalam masyarakat Jawa. Secara khusus, untuk Jawa telah masuk beberapa kesenian tradisional, misalnya kuda lumping, ludruk, tayub, wayang kulit, dan sebagainya. Ini akan menjadi sebuah dokumentasi budaya Jawa yang beragam. Apabila telah terdokumentasikan dalam sebuah karya sastra, pasti tidak akan pernah hilang suatu kebudayaan itu oleh waktu.

Pengenalan dan pelestarian budaya Jawa dengan menggunakan karya sastra merupakan suatu inovasi yang sangat berharga. Tidak hanya untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada pembaca, tetapi hal ini juga akan memberikan dampak positif untuk budaya Jawa itu sendiri. Ketika seorang pengarang telah memasukkan sebuah budaya Jawa di dalam karya sastranya, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa budaya Jawa itu akan selamanya ada. Inilah yang membuat sebuah karya sastra juga dapat mengenalkan dan meleastarikan budaya Jawa pada zaman ini.Banyak sekali manfaat yang akan diperoleh dari memasukkan suatu budaya Jawa ke dalam sebuah karya sastra. Budaya Jawa tersebut tidak akan pernah hilang oleh waktu karena budaya itu telah terdokumentasikan dalam sebuah karya sastra. Ketika kepedulian masyarakat kepada budaya Jawa semakin pudar, karya sastra inilah yang akan menjadi sebuah pelestari budaya Jawa.Media inilah yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat modern saat ini agar budaya-budaya yang dimiliki Jawa tidak menghilang beriringan dengan zaman yang terus berkembang.




Daftar Rujukan

Agustinus, L. S. 2002. Pengakuan Pariyem: Dunia batin seorang Wanita Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Anwar, S. 2004. Perempuan Terakhir. Jakarta: Grasindo

Sadili, Hasan. 2010. Pengertian Sastra Secara Umum dan Menurut Para Ahli. Online (http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/), diakses pada 2 Mei 2012

Hadi, M. 2011. Definisi Budaya dan Pengertian Kebudayaan. Online (http://duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-kebudayaan.html), diakses pada 2 Mei 2012

Ipung, S. 2009. Penertian Karya Sastra. Online (http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2168299-pengertian-karya-sastra/#ixzz1u8qKx74G), diakses pada 2 Mei 2012

Reza, M. A. 2011. 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara. Jakarta Selatan: Visimedia

Wawan, H. 2009. Pengertian Kebudayaan. Online (http://kojingtechnolog.wordpress.com/2011/09/04/pengertian-kebudayaan/), diakses pada 2 Mei 2012

Oleh: Renda Yuriananta
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya




___________________

Sumber : http://indonesiasastra.org/2013/08/sastra-indonesia-karya-sastra-sebagai-media-pelestari-budaya/

(Seluk Beluk Sastra) - Manusia Purba dan Modern: Antara Jejak Tulisan, Mengapa?


BG Buku




Manusia lahir dan hidup, tentu dengan tujuan. Baik atau buruknya tujuan itu, hanyalah soal pilihan. Pilihan-pilihan itu pun sudah barang pasti memiliki konsekuensi tertentu dari masing-masingnya. Hematnya, tak ada hidup tanpa tujuan, tak ada tujuan tanpa pilihan , dan tak ada pilihan tanpa konsekuensi atasnya.

Berbicara tentang tujuan, seorang manusia sudah dari sono-nya tercipta untuk menjadi khalifah fil ardh (pengurus dunia). Bedanya dengan mahluk dunia yang lain, hanya manusia yang memiliki “akal sehat”. Dan dengan karunia akal itulah, manusia bisa berlaku, bertindak, sebagai wujud tanggungjawabnya sebagai “pengurus” beragam urusan kehidupan di mana ia berpijak. Bahwa segala hal yang terjadi di dunia, aktornya hanya ada pada satu: manusia.

Berucap bahwa satu-satunya tugas manusia hidup tak lain untuk membangun peradaban “seindah” mungkin bagi kehidupannya adalah ungkapan yang absah. Malahan, peradaban adalah sebuah hal yang wajib dicapai dalam kehidupan manusia. Kehidupan tanpa peradaban, ibarat “binatang tak berbaju”. Istilah peradaban dapatlah kiranya diklaim sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana peradaban itu dapat diwujudkan? Dengan cara apa manusia dapat mewujudkan peradabannya?

Pernah ada ungkapan yang berkata bahwa peradaban manusia hanya akan dicapai melalui kerja-kerja intelektual. Pelakunya? Jelas manusia itu sendiri. Manusia memiliki akal, dan dengan akal itulah si manusia dapat mengatur hidup dan kehidupannya.

Apa saja yang termasuk kerja-kerja intelektual itu? Bahwa semua hal yang secara langsung atau tidak langsung mengembangkan potensi dan kemampuan si manusia, dengan tujuan utama memakmur-sejahterahkan hidup dan kehidupannya, demikian itulah kerja-kerja intelektual. Di antaranya itu, yakni melalui pembangunan wilayah teoritis dalam diri, seperti membaca dan menulis. Hal ini bukan berarti meniadakan kerja-kerja praktisnya. Praktek itu penting sebagai akhir dari upaya pencapaian tujuan si manusia. Namun perlu diperhatikan bahwa kuat-lemahnya suatu teori dalam diri si manusia, tak lain adalah penentu ke mana arah penentu perealisasian tujuan nantinya, dalam hal ini pembangunan peradaban manusia. Paling tidak, berpikir dulu sebelum bertindak, bukan bertindak dulu baru berpikir; bahwa penyesalan selalu berada di akhir cerita si manusia.

Mengapa manusia harus membaca dan menulis? Bagaimana manusia memulainya? Untuk apa ia melakukannya? Pertanyaan pertama, kurang lebih sudah dijelaskan di paragraf sebelumnya. Untuk membaca dan menulis, paling tidak dimulai dengan keyakinan bahwa membaca ataupun menulis adalah perihal utama bagaimana manusia menjalani pola dan tujuan kehidupannya di dunia ini. Dengan keyakinan itu, maka manusia akan senantiasa menyerukan hidupnya untuk kedua kerja-kerja di atas.

Setelah keyakinan itu mulai tertanam kokoh dalam diri masing-masing manusia, barulah kemudian menerapkannya dalam pola kebiasaan sehari-hari. Dengan kata lain, membaca dan menulis mesti menjadi tradisi hidup. Mengapa? Karena tradisi itu sendiri tak lain adalah cikal-bakal suatu peradaban manusia. Jelas, bahwa membaca dan menulis adalah dua di antaranya yang terpenting bagi hidup. Malahan (bagi saya), keduanya adalah suatu hal utama yang harus diupayakan setiap manusia, di mana dan kapanpun ia berada selagi akal masih mampu menjadi alat dalam pekerjaan tersebut. Tak ada alasan untuk mengabaikan kerja-kerja yang demikian ini.

Sebab manusia yang mati tanpa karya tulis hanya memiliki nama di nisan kapan lahir dan mati. Sedangkan anak cucu dan keturunannya tidak mengenal sama sekali bahwa ia pernah ada. Berbeda mereka yang dengan kesungguhan meninggalkan jejak karya lewat membaca kemudian menuliskannya. Matinya pun menjadi sebuah karya bagi orang lain. Jejak-jejaknya masih hidup seperti Ibrahim Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Prof. Dr. HAMKA, Bung Hatta, Bung Karno dan Bung Pram yang menulis roman Rumah Kaca.

Apakah kita tidak bisa menyusul mereka dan malampauinya, atau mungkin kita akan lebih jelek dari manusia purba yang hanya menulis simbol-simbol sederhana?



Oleh: Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta




___________________

Sumber : http://indonesiasastra.org/2013/09/manusia-purba-dan-modern-antara-jejak-tulisan-mengapa/

(Seluk Beluk Sastra) - Kuasa di Balik Bahasa


bahasa
ilustrasi/indonesiasastra.org




Dalam studi antropologi, disebutkan bahwa untuk menampung kebutuhannya yang beragam, kehendak-kehendak manusia harus diwadahi dalam bentuk institusi. Salah satu kehendak manusia adalah ingin menguasai orang lain; demi mewadahi hasrat itu maka dibentuklah politik. Manusia juga cenderung untuk melampiaskan kehendak seksualnya, oleh karenanya dibuat lembaga pernikahan. Sama halnya dengan kehendak manusia untuk mengetahui segala hal, manusia butuh suatu sekolah untuk memenuhinya. Dengan logika yang sama, karena adanya kebutuhan manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya sebagai mahluk sosial, manusia menciptakan simbol-simbol yang bersifat konvensional yang kemudian kita sebut bahasa.

Bahasa adalah kesepakatan (convention). Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain di sekitar karena kita bersepakat dengan mereka akan suatu konsep yang sama. Seekor binatang merah kecil penyuka gula yang bila merasa terusik maka akan menggigit kita bersepakat dengan orang lain untuk menyebutnya semut. Konsep hujan di kepala kita sama konsep hujan di kepala orang lain. Mau tak mau, hasrat manusia untuk mengungkapkan apa saja yang mereka indrai mereka salurkan dalam bentuk bahasa.

Konon, dahulu bahasa hanya berupa bunyi-bunyi yang mereka dengar dari alam. Dalam perkembangannya, simbol-simbol itu mengalami evolusi sesuai dengan peradaban yang manusia ciptakan. simbol-simbol tersebut tidak bisa terus-menerus menjadi dirinya sendiri karena penggunanya ( language users) cenderung untuk mengeksploitasi bahasa menurut kepentingan masing-masing. Itulah mengapa dalam ilmu bahasa (linguistics) dikenal kajian pragmatik (pragmatic). Pragmatik merupakan salah satu unsur trikotomi semiotika.

Trikotomi Semiotika

Trikotomi semiotika memuat tiga isltilah yang tentu saja masih merupakan studi tanda (science of sign). Yang pertama adalah sintaktik semiotik (syntactic semiotic). Kalau Anda mempelajari bahasa sebagai ilmu murni, istilah syntax memahamkan Anda bahwa setiap kelas kata punya aturan-aturan tersendiri perihal bagaimana mereka berhubungan membentuk pola-pola frasa-klausa-kalimat yang bermakna. Misalnya, Kata sifat berpasangan dengan kata benda, kata kerja berpasangan dengan kata keterangan, dan seterusnya.

Ketika sebuah konsep yang kita serap dari dunia sekitar melalui panca indera disimbolkan dengan bentuk kata, disanalah apa yang kita lihat, dengar, raba, cium, kecap itu memeroleh makna. Tempat duduk yang entah itu terbuat dari kayu atau selain kayu kalau melihatnya pasti selalu kita sebut kursi; disinilah peran semantik semiotik (semantic semiotic). Jadi secara sederhana semantik adalah kajian tentang makna kata.

Yang menarik adalah tidak melulu kursi berarti properti yang digunakan untuk duduk. Dalam konteks politik, kursi bisa berarti kekuasaan. Ilmu bahasa yang mengaji makna kontekstual dari suatu simbol ini disebut pragmatik. Kalau semantik mengaji makna tekstual, pragmatik mengaji makna kontekstual. Simbol atau bahasa tak hanya bunyi, tapi bisa juga dalam wujud gerak, warna, dan apasaja yang bisa menjadi media bagi manusia untuk berfikir.

Selain berdasarkan akalnya, manusia berbeda dari hewan berdasarkan tingkat kebutuhan. Sejak lahir, seekor ayam sampai meregang nyawa memiliki kebutuhan yang konstan. Tidak berubah dari waktu ke waktu. Tak jauh-jauh dari persoalan pemenuhan kebutuhan biologis. Sedangkan manusia kebutuhannya kian tua kian abstrak. Pada waktu bayi, kita akan mengangis bila keharusan seputar mulut seperti susu terlambat disanggupi ibu. Menginjak usia sekolah, manusia butuh bukan sekedar makanan dan minuman semata, namun juga teman untuk bersosialisasi, sepeda, mainan robot, dan banyak lagi.

Setelah beranjak remaja, kebutuhan semakin banyak hingga mencapai suatu level tertentu dimana kita selalu merasa butuh untuk dihormati, dimengerti, suaranya selalu didengarkan, dan berbagai keabstrakan lainnya. Jadi kebutuhan manusia semakin abstrak seiring usia hidupnya.

Setidaknya dilingkaran kita orang indonesia, penghormatan adalah sesuatu yang sangat penting. Sedapat mungkin orang lain mengatakan sesuatu yang dapat memuaskan hati kita pendengarnya. Sejarah kelam indonesia sebagai bangsa yang pernah dijajah bangsa lain dan penguasa feodal ini terasa sangat kental. Relasi tuan dan hamba terasa menyatu dalam kehidupan sosial di manapun.

Taruhlah di tataran masyarakat Bugis. Kita mengenal istilah puang dan ata. Namun mari ambil istilah umum saja; bos dan bawahan. Bawahan selalu terposisikan sebagai pihak yang setiap waktu harus menaruh hormat bila bertemu bosnya.

“Bos” adalah sebuah kata biasa yang kemudian dilekatkan nilai-nilai kekuasaan padanya sedemikian rupa sehingga kata itu bisa mengatur sekian banyak bawahan yang kalau tidak menghormatinya atau menyenangkannya maka bisa semena-mena menindak mereka yang melanggar aturan.Faktor kekuasaan itu ditentukan oleh kepemilikan uang, darah biru, dan tingginya jabatan. Suka tak suka, faktor tersebut menentukan seberapa berkuasanya simbol bos. Kekuatan simbolik (symbolic power) nyatanya adalah sesuatu, boleh jadi sengaja dimapankan, yang banyak menciptakan jarak di antara kita umat manusia. Jarak yang semestinya samar dengan adanya status sosial justru kian lebar.

Di lingkungan perguruan tinggi, pola-pola atasan-bawahan juga sering ditemukan. Senior merupakan simbol yang mesti berkuasa atas dan bisa melakukan kekerasan pada junior dalam, beberapa kasus. Dalam beberapa pemberitaan banyak kasus perpeloncoan mengorbankan mereka yang berada pada status pendatang baru di institusi pendidikan itu. Atau dalam skala yang lebih luas banyak sekali tenaga kerja yang teraniaya “tangan besi” tuannya di negeri orang.

Kata-kata yang menempati posisi atasan, umpama bos, secara semantik berarti majikan, kepala, atau ketua. Namun dalam situasi tertentu, bos begitupula simbol-simbol atasan lainnya memainkan peran yang ekstrim sebagai penindas dan penganiaya mereka yang berposisi sebagai bawahan tergantung siapa terlibat, di mana terjadi, dan pola-pola hubungan seperti apa yang bermain di konteksnya.

Syukurlah dalam banyak kesempatan, kita melihat banyak rakyat di negeri ini yang semakin memiliki kepekaan semiotik. Rakyat tak lagi mau jadi boneka penguasa yang semena-mena. Banyak mahasiswa telah mencoba melakukan itu meski dalam beberapa kasus berujung anarki. Hampir semua protes yang terjadi kalangan akar rumput mencerminkan ketidak-puasan atas ketidak-pekaan penguasa di negeri ini dalam turut membaca penderitaan mereka. Pemegang kendali negeri ini besar kemungkinan belum memiliki kepekaan semiotik itu.

Berabad-abad silam, ada sosok pemimpin yang telah mengajari kita bagaimana menyikapi perbedaan status dengan amat memukau. Seorang jenderal perang yang pengaruhnya lintas negara di suatu kesempatan menjadi orang yang paling mengerti keadaan orang yang secara status jauh berada di bawahnya.

Suatu hari, seorang laki-laki menghampiri suatu majelis ilmu hendak bergabung. Barisan telah dipenuhi umat yang tengah mendengarkan sang jenderal berdakwah. Ketika mencoba merapatkan diri di barisan, dia tidak menemukan sedikitpun celah untuk duduk. Majelis hanya saling tatap satu sama lain menyadari kedatangannya dan enggan merenggangkan tempat duduk. Rasululah, sang pemimpin dunia itu, tiba-tiba membuka sorban dan menghamparkannya di sebelahnya lalu menawari si laki-laki itu untuk duduk bersebelahan. Si laki-laki ini pun tak kuasa menahan keharuan menyadari betapa rendah hati sosok di sampingnya itu. Rasulullah menyikapi kesenjangan itu dengan kepekaan konteks yang tinggi. Seperti itulah kira-kira penguasa negeri ini harus menyikapi kekuasaannya dan bersikap terhadap rakyat yang dikuasainya.



sumber: kompasiana
Oleh: Andi Syurganda
Penggiat kajian Humaniora. Tinggal di Makassar




___________________

Sumber : http://indonesiasastra.org/2013/06/sastra-indonesia-kuasa-di-balik-bahasa/