Tampilkan postingan dengan label Apakah Ini Dirancang ?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apakah Ini Dirancang ?. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

(Apakah Ini Dirancang) - Si Penabur Bersayap Di Hutan Hujan Tropis



Kelelawar pemakan buah makan buah dari pohon


Si Penabur Bersayap di Hutan Hujan Tropis




SEMUA ahli berkebun tahu bahwa tanaman akan tumbuh subur jika benihnya ditabur di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat. Namun anehnya, penabur yang paling terampil di hutan hujan melakukannya pada malam hari, dan sambil terbang! Si penabur bersayap ini adalah kelelawar pemakan buah, yang juga dikenal sebagai kalong.*

Menyebarkan Benih

Kebanyakan kelelawar pemakan buah terbang menjelajahi hutan pada malam hari untuk mencari pohon yang buahnya enak atau yang bunganya kaya dengan nektar. Sambil terbang berkeliling mencari makan, kelelawar itu mencerna buah yang dimakan dan membuang serat dan biji yang tidak dicerna. Selain menabur benih, mereka juga membantu penyerbukan bunga sewaktu mengisap nektar kesukaan mereka.

Karena di malam hari mereka terbang jauh, mereka bisa menyebarkan benih ke mana-mana. Dan karena kelelawar membuang benih bersama kotorannya, mereka menyediakan ”pupuk” yang membantu pertumbuhan benih. Tidak heran, beragam tanaman di hutan hujan mengandalkan kelelawar untuk menyebarkan serbuk bunga atau menyebarkan benih.

Karena harus terbang ke sana kemari, kelelawar pemakan buah terampil dalam menentukan arah dan memiliki penglihatan yang luar biasa tajam. Saat gelap, mereka bisa melihat dengan lebih jelas daripada manusia. Mereka bahkan bisa membedakan sebagian warna. Mereka pun bisa terbang pada siang hari maupun malam hari.
 
Kehidupan Keluarga

Kalong Samoa (Pteropus samoensis) hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Seperti beberapa jenis kalong lain, kalong Samoa betina mengurus anaknya dengan baik, yaitu dengan membawanya selama beberapa minggu dan menyusuinya sampai hampir dewasa. Bahkan, ada dua jenis kalong yang sewaktu melahirkan dibantu ”bidan”, maksudnya kalong betina lain.

Sayangnya, banyak kelelawar pemakan buah terancam punah, salah satunya karena tempat tinggal mereka hancur. Di pulau-pulau di Pasifik Selatan, kepunahan kelelawar pemakan buah akan mengakibatkan bencana karena beberapa jenis tanaman di sana sepertinya hanya bisa mendapat serbuk dari kelelawar. Jelaslah, pekerjaan si penabur bersayap ini tidak boleh dianggap remeh.


 
Kelelawar pemakan buah
TAHUKAH ANDA? Tidak seperti kebanyakan kelelawar lain, kelelawar pemakan buah tidak menggunakan gelombang suara untuk menentukan letak makanan. Mereka menggunakan penglihatan dan penciuman. Mata mereka yang besar sangat cocok untuk kegiatan mereka pada malam hari

MENYELAMATKAN HUTAN
Ketika pohon-pohon di suatu lahan hutan tropis ditebang, kelelawar berperan penting dalam membantu pohon-pohon bertumbuh lagi di sana. Mereka menabur benih-benih yang nantinya akan bertumbuh menjadi pohon-pohon baru. ”Mutu kehidupan manusia berkaitan erat dengan lingkungan dunia yang sehat, dan untuk menjaga lingkungan itu tetap sehat, kelelawar harus ada,” kata buku Bats of the World, karya Gary L. Graham.

Pohon baobab
Pohon baobab, atau asem buto, hanya berbunga selama paling lama 24 jam. Tapi, kelelawar pemakan buah punya cukup waktu untuk menemukan bunga besar yang penuh nektar di pohon itu dan menyebarkan serbuknya ke pohon-pohon baobab lainnya
_____



[Catatan Kaki]

Kelelawar pemakan buah terdapat di Afrika, Asia, Australia, dan beberapa pulau di Kepulauan Pasifik.

[Gambar di hlm. 12, 13]
Kelelawar pemakan buah membantu penyerbukan sekitar 300 jenis tanaman penghasil buah-buahan tropis

[Keterangan]

Bat eating fig: © Merlin D. Tuttle, Bat Conservation International, www.batcon.org

[Gambar di hlm. 13]

TAHUKAH ANDA? Tidak seperti kebanyakan kelelawar lain, kelelawar pemakan buah tidak menggunakan gelombang suara untuk menentukan letak makanan. Mereka menggunakan penglihatan dan penciuman. Mata mereka yang besar sangat cocok untuk kegiatan mereka pada malam hari

[Keterangan]

Small bat: Flickr RF/Getty Images

[Gambar di hlm. 13]

Pohon baobab, atau asem buto, hanya berbunga selama paling lama 24 jam. Tapi, kelelawar pemakan buah punya cukup waktu untuk menemukan bunga besar yang penuh nektar di pohon itu dan menyebarkan serbuknya ke pohon-pohon baobab lainnya




___________________

Sumber Wathtower Library

http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102014366




Rabu, 05 November 2014

(Apakah Ini Dirancang ?) - Mantel Bulu Penguin Kaisar [Aptenodytes forsteri]





SEEKOR penguin kaisar dapat melesat dalam air dan melejit ke permukaan es. Bagaimana caranya?



 Bulu penguin kaisar
 
 

Pikirkan: Bulu penguin mampu memerangkap udara. Selain melindungi tubuhnya dari suhu yang dingin, itu juga bisa membuatnya bergerak dua hingga tiga kali lebih cepat. Bagaimana prosesnya? Menurut para ahli kelautan, penguin akan melepaskan udara dari balik bulu-bulunya dalam bentuk buih-buih kecil. Saat dilepaskan, buih-buih itu akan mengurangi gaya gesek di permukaan bulu sehingga dia bisa bergerak lebih cepat.

Yang menarik, para pakar teknik sudah mulai meneliti caranya menggunakan buih-buih semacam itu untuk mengurangi gaya gesek pada badan kapal agar kapal bisa melaju lebih cepat. Namun, para peneliti mengakui bahwa tidak mudah untuk melakukan penelitian lebih lanjut karena ”bulu penguin begitu rumit sehingga akan sulit untuk membuat lapisan berpori yang menyerupainya”.

Bagaimana menurut Anda? Apakah mantel bulu penguin kaisar terjadi karena evolusi? Atau, apakah ada perancangnya?


[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

Penguin: Paul Nicklen/National Geographic Stock

[Gambar di hlm. 16]

Bulu penguin kaisar

[Keterangan]

Feather: Division of Vertebrate Zoology, courtesy of the Peabody Museum of Natural History, Yale University, New Haven, Connecticut, USA




______________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013328







(APAKAH INI DIRANCANG ?) Penerbangan Hemat Energi Albatros Pengelana [Diomedea exulans]





BURUNG yang membubung tidak butuh banyak energi untuk bisa tetap berada di udara. Albatros pengelana adalah contoh yang menonjol. Dengan rentang sayap 3,4 meter dan berat sekitar 8,5 kilogram, burung ini bisa terbang ribuan kilometer dengan sangat sedikit energi! Rahasianya terletak pada anatomi tubuh dan teknik membubungnya.

Pikirkan: Selama terbang, albatros menggunakan tendon-tendon khusus yang mengunci sayapnya saat terentang penuh, sehingga otot-ototnya bisa beristirahat. Rahasia lainnya mengapa albatros bisa membubung berjam-jam adalah ia jago memanfaatkan angin laut.

Di laut, albatros naik, berbelok, dan turun berulang kali membentuk lintasan lengkung. Dengan melakukan manuver seperti itu, albatros bisa mempertahankan kecepatannya meskipun ada hambatan dari angin. Baru belakangan ini saja para ilmuwan mengetahui bagaimana burung ini bisa melakukannya. Mereka meneliti hal ini dengan menggunakan alat pelacak beresolusi tinggi dan perangkat lunak khusus. Mereka mendapati bahwa ketika albatros berada di posisi paling tinggi pada lintasan terbangnya, tepatnya ketika ia beralih dari melawan angin menjadi mengikuti angin, albatros mendapatkan energi yang dibutuhkan untuk tetap di udara. ”Proses mendapatkan energi ini . . . berlangsung mulus dan berulang-ulang,” kata para ilmuwan itu. Hasilnya? Albatros bisa membubung berjam-jam tanpa sekali pun mengepakkan sayapnya!

Pemahaman ini bisa membantu para insinyur merancang kendaraan terbang yang lebih hemat energi, bila perlu yang menggunakan daya dorong non-mesin.

Bagaimana menurut Anda? Apakah penerbangan albatros yang hemat energi, juga anatomi khususnya, muncul karena evolusi? Atau, apakah ada perancangnya?


[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

© Minden Pictures/SuperStock




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013290

(Apakah Ini Dirancang ?) - Ekor Kadal Agama






KADAL agama melompat dari permukaan horizontal ke dinding vertikal dengan mudahnya. Tetapi, kalau permukaannya licin, si kadal tidak bisa berpijak dengan baik, namun ia tetap berhasil mendarat di dinding. Bagaimana mungkin? Rahasianya ada pada ekornya.

Pikirkan: Sewaktu melompat dari permukaan yang kasar—yang memberikan pijakan yang stabil—kadal agama pertama-tama menyeimbangkan tubuhnya, dan ekornya tetap mengarah ke bawah. Ini membantu mereka melompat pada sudut yang tepat. Namun, di permukaan yang licin, mereka cenderung tergelincir dan melompat pada sudut yang salah. Tetapi, sewaktu di udara, mereka memperbaiki sudut tubuh mereka dengan mengayunkan ekor ke atas. Proses ini rumit. ”Kadal harus secara tangkas menyesuaikan sudut ekornya dengan benar supaya tubuhnya tetap tegak,” kata sebuah laporan yang dirilis University of California, Berkeley. Semakin licin permukaannya, semakin tinggi kadal ini mesti menaikkan ekornya agar bisa mendarat dengan aman.

Ekor kadal agama bisa membantu para insinyur merancang kendaraan robotik yang gesit yang bisa digunakan untuk mencari korban selamat dari gempa bumi atau bencana lainnya. ”Robot tidak segesit binatang,” kata periset Thomas Libby, ”jadi kalau robot bisa dibuat lebih stabil, itu suatu kemajuan.”

Bagaimana menurut Anda? Apakah ekor kadal agama muncul karena evolusi? Atau, apakah ini dirancang?



[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

© Ariadne Van Zandbergen




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013050


(Apakah Ini Dirancang ?) - Sistim Navigasi Biru-Laut Ekor-Blorok






BURUNG biru-laut ekor-blorok melakukan salah satu migrasi paling mengagumkan yang diketahui manusia. Migrasi burung ini yang jauhnya 11.000 kilometer bisa memakan waktu lebih dari delapan hari.

Pikirkan: Para periset berspekulasi bahwa beberapa jenis burung menggunakan medan magnet bumi untuk navigasi, seolah-olah mereka punya kompas bawaan di otak mereka. Boleh jadi, ekor-blorok juga menentukan arah dengan bantuan matahari pada siang hari dan bintang pada malam hari. Selain itu, ekor-blorok tampaknya bisa mendeteksi sistem badai yang mendekat yang memungkinkannya memanfaatkan angin buritan. Namun, bagaimana persisnya burung ini melakukan migrasi yang luar biasa masih membuat para pakar terpukau. ”Sudah 20 tahun saya meneliti mereka,” kata biolog Bob Gill, ”dan saya masih tercengang-cengang.”

Bagaimana menurut Anda? Apakah sistem navigasi biru-laut ekor-blorok muncul karena evolusi? Atau, apakah ini dirancang?


[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

Photo: Courtesy Grandpa@50




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013007










Selasa, 04 November 2014

(Apakah Ini Dirancang ?) - Organ Cahaya Kunang-Kunang Photuris


Kunang-kunang Photuris



ORGAN CAHAYA dari sejenis kunang-kunang Photuris dilapisi sisik yang tumpang-tindih. Dan, ini membuat cahaya yang dihasilkan serangga itu bertambah terang.*



Sisik yang tumpang-tindih
Sisik yang tumpang-tindih



Pikirkan: Para peneliti mendapati bahwa beberapa kunang-kunang memiliki organ cahaya yang dilapisi sisik yang tumpang-tindih, mirip sisik ikan. Jarak sudut pada ujung sisik-sisik itu hanya 3 mikrometer, atau kurang dari seperdua puluh tebal rambut manusia. Tapi, dengan adanya sudut kecil ini, organ cahaya itu bisa bersinar hampir 50 persen lebih terang dibanding jika sisik-sisiknya rata, atau tidak bersudut!

Apakah rancangan ini bisa digunakan untuk meningkatkan efisiensi lampu LED pada alat-alat elektronik? Untuk mengetahuinya, para ilmuwan menutupi permukaan lampu LED dengan lapisan yang mirip sisik kunang-kunang. Ternyata, cahaya lampu LED bertambah terang 55 persen! Fisikawan Annick Bay mengatakan, ”Yang terpenting dari penelitian ini adalah bahwa kita bisa belajar banyak dengan mengamati alam sekitar kita.”

Bagaimana menurut Anda? Apakah organ cahaya kunang-kunang Photuris itu muncul karena evolusi? Atau, apakah ada perancangnya?



[Catatan Kaki]
Para ilmuwan belum mempelajari semua spesies kunang-kunang ini.

[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]
Firefly: Gail Shumway/Photographer’s Choice/Getty Images

[Gambar di hlm. 16]
Sisik yang tumpang-tindih

[Keterangan]
Scales: Optics Express




_____________________

Simber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102014048

(Apakah Ini Dirancang ?) - Rahasia Daya Rekat Laba-Laba Rumah


Laba-laba rumah membuat jaring
Laba-laba rumah


LABA-LABA RUMAH (Parasteatoda tepidariorum) membuat jaring yang daya rekatnya bisa cukup kuat untuk menempel di dinding atau tidak terlalu kuat sehingga bisa terlepas dari tanah dan berfungsi sebagai perangkap bagi mangsa yang melintas. Bagaimana dengan lem yang sama, laba-laba bisa membuat jaring yang menempel kuat dan yang mudah lepas?


Jaring yang menempel kuat
Jaring yang menempel kuat


Pikirkan: Untuk jaring yang menempel pada dinding atau plafon, laba-laba membuat jaring yang punya banyak titik rekat sehingga bisa menempel kuat pada permukaan. Jaring ini cukup kuat untuk menahan benturan mangsa yang terbang menabraknya. Tapi, para peneliti di University of Akron, Ohio, AS, mendapati bahwa jaring yang ditempelkan ke tanah memiliki struktur yang sangat berbeda. Jaring ini titik rekatnya jauh lebih sedikit sehingga bisa dengan mudah terlepas dari tanah dan menarik mangsa yang terjerat di situ.


Jaring yang mudah lepas
Gumfoot silk


Menurut sebuah laporan dari University of Akron, para peneliti yang mengungkap rahasia keajaiban alam ini ”sedang mengembangkan suatu perekat buatan dengan meniru rancangan cerdas yang digunakan laba-laba rumah ini”. Para ilmuwan berharap bisa menciptakan suatu perekat yang bisa digunakan untuk perban sekaligus untuk mengobati tulang yang patah atau retak.

Bagaimana menurut Anda? Apakah kesanggupan laba-laba rumah untuk menghasilkan jaring dengan daya rekat yang kuat dan lemah itu muncul karena evolusi? Atau, apakah ada perancangnya?

[Gambar di hlm. 16]
Laba-laba rumah

[Keterangan]
Spider: © Premaphotos/Alamy

[Gambar di hlm. 16]
Jaring yang menempel kuat

[Gambar di hlm. 16]
Gumfoot silk

[Keterangan]
Discs: Adapted by permission from Macmillan Publishers Ltd: NATURE COMMUNICATIONS, Cobweb-weaving spiders produce different attachment discs for locomotion and prey capture, 2012




____________________

Sumber : Watchtower Library - Bahasa Indonesia Edisi

(Apakah Ini Dirancang ?) - Kumbang yang Ahli Navigasi


Dua kumbang kotoran menggulingkan kotoran







BAGI kumbang kotoran, tinja sangat bermanfaat. Serangga ini memakannya dan bertelur di sana. Kumbang jantan akan memberikan sebongkah besar kotoran kepada kumbang betina untuk menarik perhatiannya. Ada persaingan yang ketat untuk mendapatkan kotoran yang baru. Para peneliti pernah melihat bahwa ada kira-kira 16.000 kumbang yang mengerumuni setumpuk kotoran gajah dan hanya dalam waktu dua jam kotoran itu lenyap.

Beberapa jenis kumbang kotoran memisahkan diri dari kerumunan dengan membentuk kotoran menjadi bola, kemudian membawanya pergi dengan menggulingkannya lalu menguburnya di tanah yang lunak. Mereka menggulingkan bola kotoran itu lurus ke depan, karena inilah cara yang paling cepat untuk menjauh dari kerumunan dan agar bola itu tidak dicuri kumbang lain.

Tapi, bagaimana kumbang kotoran bisa tahu arah, khususnya pada malam hari?

Pikirkan: Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kumbang kotoran bisa mengetahui arah dengan bantuan cahaya matahari atau bulan. Tapi, mereka juga bisa tetap berjalan lurus ke depan sekalipun tidak ada cahaya bulan. Menurut para peneliti di Afrika Selatan, kumbang ini ternyata tidak memanfaatkan cahaya satu bintang tertentu, tapi cahaya dari galaksi Bima Sakti. Jurnal Current Biology melaporkan bahwa kumbang ini adalah ”binatang pertama yang tercatat bisa menggunakan Bima Sakti sebagai penunjuk arah”.

Seorang peneliti bernama Marcus Byrne menyatakan bahwa kumbang kotoran memiliki ”sistem navigasi visual yang efektif yang bisa bekerja sekalipun cahaya bintang hampir tak terlihat, dengan menggunakan kemampuan otaknya yang terbatas”. Ia juga menambahkan, ”Dari kumbang ini, manusia mungkin bisa belajar caranya mengatasi berbagai masalah pemrosesan visual yang pelik.” Misalnya, dengan meniru sistem navigasi kumbang kotoran, kita bisa memprogram robot untuk mencari sesuatu dalam bangunan yang runtuh.

Bagaimana Menurut Anda? Apakah kemampuan navigasi kumbang kotoran itu hasil evolusi? Atau, apakah ada perancangnya?

Tahukah Anda?

Kumbang kotoran menggemburkan dan menyuburkan tanah, menyebarkan benih, dan mengendalikan populasi lalat.

[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

Galaxy: NASA, ESA, and the Hubble Heritage (STScl/AURA)-ESA/Hubble Collaboration; beetles: © Rolf Nussbaumer/age fotostock




___________________

Sumber : Watchtower Library Edisi Bahasa Indonesia

Minggu, 02 November 2014

(Apakah Ini Dirancang ?) - Kaki Kuda


Kuda-kuda berderap




KUDA (Equus caballus) bisa berderap dengan kecepatan sampai 50 kilometer per jam. Meski ini membutuhkan aktivitas mekanis yang cukup berat, relatif sedikit energi yang digunakan. Bagaimana mungkin? Rahasianya ada pada kakinya.

Perhatikan apa yang terjadi sewaktu kuda berderap. Ketika kaki kuda menapak tanah, unit-unit otot tendon yang lentur menyerap energi, dan seperti pegas, melepaskannya kembali dan kuda pun terdorong ke depan.

Selain itu, sewaktu berderap, kaki kuda bergetar sangat cepat dan ini bisa mencederai tendonnya. Tapi, otot-otot pada kakinya berfungsi sebagai peredam. Peneliti menyebutnya ”rancangan otot-tendon supercanggih” yang menghasilkan kegesitan dan kekuatan.

Para insinyur berupaya meniru rancangan kaki kuda untuk digunakan pada robot berkaki empat. Tapi, menurut Laboratorium Robotik Biomimetika di Massachusetts Institute of Technology, rancangan yang rumit ini sulit dijiplak karena material dan pengetahuan teknis saat ini masih terbatas.

Bagaimana menurut Anda? Apakah struktur kaki kuda adalah hasil evolusi? Atau, apakah ini dirancang?


[Gambar di hlm. 16]

[Keterangan]

© Lisa Dearing/Alamy




____________________

Sumber Majalah Sedarlah! Oktober 2014, h. 16 (Watchtower Library Edisi Bahasa Indonesia)