Tampilkan postingan dengan label Artikel Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Ringan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

(Artikel Ringan) - Serupa 'Alif', Engkaulah Sang Segala Rasa


Sumber Gambar : Google Images






ENGKAULAH SANG SEGALA RASA
: Sonny H. Sayangbati


Membaca hatimu serupa alif
Diam-diam meyemai Rindu



Frieska, bdg 2014






Membaca puisi-puisi Frieska Rara Berlian (FRB) memang terasa sekali nuansa religinya, seringkali penyair FRB ini menulis puisi dengan tema ini, nampak sekali sisi dalam hidupnya yang religius. Dan seperti saya ungkapkan bahwa tema-tema puisi religi dan cinta (romantik) ini menguasai perpuisian dari zaman dahulu hingga sekarang. Kedua tema tersebut memang yang paling dicari dalam diri manusia, walaupun tema-tema lain juga seringkali menghias perpuisian seperti tema : kritik sosial, alam semesta, bahkan ada yang dinamakan dengan sastra hijau itu.

Yang dimaksud dengan 'religi; adalah: "kepercayaan kepada Tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia ..." (Kamus KBBI Online), sedangkan arti religius itu: "bersifat religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut-paut dengan religi ..." (KBBI Online). Kenapa saya mengatakan puisi FRB bernuansa religi, nuansa sendiri berarti: "tentang makna, perasaan, atau nilai". (KBBI Online). Mudah sekali menebaknya dari beberapa kata yang dia pilih seperti dari judulnya (ENGKAULAH SANG SEGALA RASA), pemakaian kata: "(Alif) dan (RINDU).




KATA ALIF



Kata Alif ini diambil dari bahasa Arab, dan inilah salah satu penanda yang kuat kalau puisi FRB ini puisi 'religi'. Kata Alif merupakan huruf awal atau yang pertama dalam aksara bahasa Arab. Huruf 'Alif' mengandung beberapa makna jika ditarik nilai sebuah filosofinya, misalnya saya kutip dari (http://jiwa2kegelapan.wordpress.com/2012/01/18/rahasia-huruf-bismi-alif/):





Alif terbentuk dari Ulfah (kedekatan) dan ta’lif ( pembentukan). Dengan huruf inilah ALLAH menta’lif (menyatukan) seluruh ciptaanNya dalam landasan tauhid dan ma’rifah dengan kecintaan penghayatan iman dan tauhid.

Sehingga Alif ini membuka makna dan pengertian tertentu dengan banyak bentuk rupa dan warna yang ada pada huruf-huruf yang lain.  Maka jadilah Alif sebagai “Kiswah” (pakaian) bagi huruf lainnya.



Di antara kata dalam puisi FRB memang saya tertarik dengan kata Alif tersebut, sebab menurut hemat saya kata ini memiliki kekuatan arti atau arti filosofi yang mendalam. Makna 'alif' seperti halnya dalam pengertian (perspektif) Alkitabiyah, sama artinya dengan 'Alpha' yang diartikan sebagai 'awal' atau 'permulaan'. Jika ada 'awal' pasti juga ada istilah 'terakhir' (Omega).

'Alif'/ ا  sebagai 'pakaian' memang tepat sekali arti filosofi ini, sebagai jati diri sehingga bisa dikenali, bisa diidentifikasikan, sebagai permulaan atau yang awal sebelum huruf-huruf yang lain terlahir atau terkemudian, atau disambung lagi dengan arti/huruf selanjutnya sampai pada huruf yang terakhir 'ya'




“Ketahuilah, barangsiapa di berikan pengetahuan tentang Alif dan mengamalkannya, maka telah diberi pengetahuan tentang rahasia tauhid Wahdaniyah (keesaan) dan naik menuju rahasia Ahadiah (kewujudan)”



Membaca Hatimu Serupa Alif



Siapa yang bisa mengetahui hati orang atau mengerti arti hati/keinginan hati seorang wanita ataupun pria, siapa ? Sanggupkan manusia membaca pikiran atau hati seseorang itu secara benar dan akurat ? Secara teori tidak akan mungkin manusia membaca pikiran atau mengerti sebuah keingainan hati seseorang, namun dalam pengertian apa seseorang bisa paham hati orang lain ?



“tak ada semesta tempat rinduku berlari selain hatimu, ning
rentang cintamu seluas cakrawala, di manapun aku berada, rinduku menjejak di bawahnya”


― firman nofeki (Goodreads)



Ada suatu sudut pandang lain yang bisa membaca hati seseorang, yaitu apabila dia memiliki 'cinta', hanya ini yang bisa Anda lakukan untuk membaca sebuah hati. Seorang dokter bedah profesional mungkin dia paling tahu mengenai hati manusia, bahkan dia bisa tahu fungsi setiap jaringan di dalam hati yang kemungkinan besar si dokter sering membedahnya. Namun apa mungkin seorang ahli bedah profesional bisa membaca keinginan hati, seperti dia membaca sebuah 'kotak hitam' (blackbox) sebuah pesawat terbang yang jatuh karena kecelakaan ?



“Lalu seakan semuanya lapang, kosong, tak ada siapa pun di sana, kecuali aku dan Dia. Dalam jarak yang tak terkatakan dekatnya, sedemikian dekat. Perlahan kehangatan, kekuatan hati, dan jiwa kudekap.”



― Dian Nafi, Miss Backpacker Naik Haji [Goodreads]


Disamping kekuatan cinta, seseorang bisa membaca hati atau maksud, kehendak ilahi, apabila dirinya memang sengaja datang mendekat padaNya, biarkan hatimu mencarinya dan Dia akan mendekatkan hatiNya dan hatimu kepada sebuah keinginan (Alif).





Diam-Diam Menyemai RINDU



"Diam-diam menyemai RINDU, sebenarnya saya mengusulkan diksi yang menurut saya lebih tepat daripada memakai kata pengulangan 'diam-diam'. Saya mengusulkan seperti ini: "Diam menetap menyemai RINDU". Menurut hemat saya lebih memiliki kata yang cocok dengan istilah 'hati' tersebut, sebab cinta dalam hati itu telah menemukan rumahnya dan menetap dalam hati, sehingga menyemai RINDU. Bukankah kata menetap itu bisa berarti telah menemukan yang sejati, sehingga tidak beralih tempat atau hati yang lain.



Engkaulah Sang Segala Rasa



Pada akhirnya tema juga yang menentukan ke mana sebuah puisi itu diarahkan, walaupun kita tahu bahwa dalam puisi religi, seringkali memiliki makna ganda, misalnya kata kekasih dalam puisi-puisi Rumi bisa diartikan kekasih dalam pengertian sepasang manusia yang saling jatuh cinta, dan kekasih yang diartikan sebagai Maha Pencipta.

Penyair FRB membuat judul yang tidak multi tafsir, judulnya sudah dikunci kepada arti yang paling hakiki, yaitu Sang Khalik atau Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki segala rasa. Penggunaan kata 'Sang' itu saja sudah berarti yang 'Maha', identik dengan Tuhan.




“Letakan hati, simpan, lantas terbang tinggi.”



― Ivan Vanalsa [Goodreads]



Sumber Foto : Album Foto Facebook Frieska Rara Berlian





Jaga Blengko, 16-11-14
Jack Phenomenon

Sabtu, 27 September 2014

(Artikel Ringan) - The Murmur House : Ajak Kaum Muda Menulis




Shutterstock/Djem



Kemajuan teknologi yang kian pesat, ternyata tanpa sadar telah menjauhkan kita sebagai manusia dari kehidupan nyata.

Teknologi memudahkan semua pekerjaan, bersosialisasi yang seakan membuat dunia seperti dalam genggaman, “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” sangat cocok untuk menggambarkan perkembangan teknologi saat ini.

Kecanggihan teknologi telah membuat kita terisolasi atau mengisolasi diri ke dalam dunia yang kita buat menjadi baik-baik saja. Kita membentengi diri dari realita di sekitar kita bahkan dari hal yang paling remeh temeh dan sederhana.

Pengalaman sulit ditemukan di dalam ruangan, dengan menggenggam sebuah pensil dan kertas atau bahkan kini telepon genggam, atau pula duduk berlama-lama di depan laptop.

Meski menulis sering dikenal sebagai suatu proses kesendirian,  kita sering melupakan bahwa untuk sampai pada proses menulis kita melewati proses pencarian ide dan setelah menulis kita membutuhkan kritik dan proses perbaikan. Sehingga, alasan inilah yang membuat kita sebagai manusia mulai tertarik kepada teknologi.

Guna mendidik dan mengajak para penulis muda untuk kembali tertarik pada dunia tulis menulis, Syarafina Vidyadhana dan Rain Chudori pada 2013 yang lalu membuat sebuah organisasi atau lembaga yang diberi nama The Murmur House.

The Murmur House dijadikan sebagai sarana, tempat para penulis muda dapat memperluas pemikiran, pengalaman dan ide-idenya. The Murmur House hadir dan berharap menjadi tempat penulis muda terhubung kembali dengan realita dan dunia sesungguhnya, dengan orang-orang baru, dengan emosi dan diri sendiri. 

Dalam waktu dekat The Murmur House memiliki dua proyek utama yakni Murmuration dan Murmur journal. Murmuration merupakan apresiasi karya sastra berupa readers’ gathering yang diisi pembacaan puisi atau beberapa paragraf novel. 

Murmur journal adalah jurnal sastra berbahasa Inggris yang berisi puisi, cerpen dan esai yang setiap karyanya diiringi dengan foto atau ilustrasi.

Dengan adanya The Murmur House, pihaknya berharap dapat mengajak anak muda di Indonesia untuk tetap mencintai dunia tulis-menulis agar tidak selalu bergantung dengan teknologi terus-menerus.[*]




___________________

Sumber : http://geotimes.co.id/seni-budaya/seni-budaya-news/seni-rupa/9745-the-murmur-house-ajak-kaum-muda-untuk-menulis.html

(Artikel Ringan) - Panduan bagi Redaktur









LPDS, 2 Mar 2009. T.D. Asmadi, pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo.



Redaktur – bahasa Belanda/Prancis – redacteur: Orang yang menangani bidang redaksi (KBBI). Editor – bahasa Latin edere (e = keluar + dare = memberi). Edere berarti menjulang, menyembul, memberitahukan, atau menerbitkan. Penyunting – ‘sunting’ = hiasan rambut, seperti bunga, kembang goyang (bunga tiruan, umumnya dari logam, yang bergoyang-goyang), tusuk konde, dan lain-lain. Suntingan membuat rambut menjadi mahkota bagi wanita. Penyunting bertugas memperindah naskah.

Bedakan dengan istilah editor pada bahasa Inggris. Media Barat memiliki copy-editor, selain editor/redaktur. Di Inggris/AS yang menjadi editor biasanya tidak memeriksa dan menurunkan naskah. Yang melakukan tugas pemeriksaan/ penurunan adalah copy editor. Jabatan copy editor ini merupakan jenjang tersendiri dan paling mempunyai peluang untuk menduduki posisi tertinggi di struktur organisasi rekdaksi.

Floyd K. Baskette mengibaratkan redaktur sebagai pengasah intan yang menghaluskan, menggosok, menghilangkan cacat, dan membentuk batu menjadi permata. Warren K. Agee, penulis buku dan profesor bidang jurnalisme, lebih tinggi lagi menilainya. Redaktur itu hati nurani surat kabar, katanya. (KBBI: hati nurani adalah hati yang telah mendapat cahaya Tuhan atau perasaan hati yang murni dan yang sedalam-dalamnya). Marjorie Paxson, seorang penerbit di Amerika Serikat, menggambarkan redaktur sebagai orang yang tahu tata bahasa, ejaan, punya perhatian kepada hal yang detail, dan perfeksionis. Seorang yang dapat mengerjakan tugas rutin tanpa bosan, yang menggunakan kreativitas dan imajinasinya untuk mengimbangi kerutinan. Orang yang berpengetahuan luas dan berpikir cepat. Dia juga kaya inisiatif, hati-hati, cerdas, dan memahami tugasnya.

Redaktur itu memang jantung yang menentukan hidup dan mati media massa. Jantung pada manusia letaknya tersembunyi dan besarnya hanya sekepal. Memompa darah 70–80 kali setiap menit. Mengubah darah kotor menjadi darah bersih. Menyalurkan makanan, oksigen, dan zat lainnya bagi miliaran sel yang tersebar di seluruh tubuh.

Nama seorang redaktur tidak pernah muncul dalam sebuah tulisan seorang wartawan. Betapapun banyaknya perbaikan dan penambahan yang dilakukan seorang redaktur, tetap nama orang lain yang muncul. Seorang redaktur, perlu memiliki keterampilan teknis dan kecendekiawanan. Seorang redaktur harus menjadi spesialis dalam bidang yang ditanganinya. Seorang redaktur juga harus menjadi manajer. Seorang redkatur juga harus menjadi guru/pendidik.

Tiga bidang tugas redaktur:
  1. Manajemen, meliputi:
    • keuangan
    • kekompakan tim
    • penilaian/rekomendasi kerja reporter
    • promosi
    • penempatan/mutasi
  2. Pendidikan, meliputi:
    • pelaksanaan etika profesi
    • manajemen organisasi
    • keterampilan jurnalistik, riset,
    • dengan memberi contoh yang baik
  3. Editorial, meliputi a.l.:
    • perencanaan isi
    • pembagian tugas
    • penetapan tugas lapangan
    • penetapan tugas riset
    • pembuatan tulisan
    • editing
Yang tak tidak kalah penting: bersinergi dengan bidang lain (iklan, promosi, sirkulasi/distribusi). Semuanya untuk kemajuan media agar diperoleh keuangan yang mandiri.

Redaktur sebagai pendidik:
  • Membimbing saat mencari bahan
  • Membimbing saat menulis berita
  • Mengembangkan kepercayaan diri reporter
  • Mengembangkan kekuatan dan menghilangkan kekurangan reporter
  • Membimbing agar reporter independen
  • Membimbing agar berani mengambil risiko
Pembimbingan dilakukan dengan tanya jawab dan dengan lebih banyak mendengar
Berbagai pertanyaan yang perlu diajukan kepada reporter:
  • Apa sih yang ingin diketahui pembaca?
  • Bagaimana sih caranya agar pembaca jelas?
  • Tulisan Anda ini tentang apa sih?
  • Sudahkan menemukan fokus tulisan?
  • Kutipan langsung mana yang paling bagus?
  • Siapa tokoh yang paling menarik dalam tulisan Anda?
  • Sudah memikirkan bagaimana akhir tulisan?
  • Bagaimana sih Anda mengetahui hal itu?
  • Seperti apa sih kisahnya?
  • Apa yang terjadi?
Seorang redaktur perlu memahami:
  • Perilaku pembaca/audiens
    • hubungan dengan berita televisi
    • soal kebiasaan pembaca yang selalu berubah
    • yang mereka inginkan dari media kita
    • dll
  • Konsep tentang berita:
    • jika semua media elektronik sudah memberitakan, apa yang akan kita sampaikan kepada pembaca esok harinya?
    • bagaimana menyusun berita?
      • piramida terbalik tunggal sudah tidak memadai lagi, karena sudah “dimakan” media elektronik.
      • kini: sebuah tulisan terdiri dari banyak piramida terbalik yang saling mengait.
Masalah yang paling penting bagi seorang redaktur adalah bukan kapan dia harus mengubah sebuah tulisan, tetapi mengapa dia harus melakukan itu.

Pekerjaan seorang redaktur separuh bersifat keilmuan, setengahnya lagi bersifat seni.

Akurasi dan beberapa bagian bahasa merupakan ilmu, karena ada ukuran benar atau salahnya.

Tetapi pilihan kata untuk sebuah pernyataan, atau peristiwa serta kapan untuk membuang atau menambah sebuah tulisan adalah sebuah pekerjaan seni.

Dalam tugas keredaksian, posisi seorang redaktur ada di tengah pintu. Di dalam ada segerombolan reporter yang menjadi tanggung jawabnya dan di luar ada beribu-ribu pembaca. Semuanya ingin dipuaskan oleh kerja redaktur.

Redaktur bukan hanya mengerjakan tugas keredaksian, tetapi juga manajeman: membagi reporter ke mana bertugas, kapan memuji dan kapan menghardik, mengamati rajin-tidaknya anak buah, mengusulkan kenaikan gaji dll.

Redaktur juga seorang teman bagi reporter. Dia tahu setiap saat kondisi reporter. Dia paham keluarganya dan gaya hidupnya. Dia perlu memahami kelakuan reporter.

Redaktur juga seorang guru. Dia membimbing reporter agar mencari fakta lebih banyak, mencari narasumber yang tepat, membuka literatur yang sepadan. Dia juga memberi saran dan pedoman bagaimana menulis lebih baik.

Dalam menyunting sebuah tulisan, dia melakukannya dengan membaca sedikitnya tiga kali:
  1. Membaca keseluruhan sebagai seorang pembaca biasa.
  2. Membaca sambil memperbaiki semua kekurangan, sebagai seorang redaktur.
  3. Membaca lagi untuk mengetahui bagaimana tanggapan diri sendiri tentang tulisan yang baru saja perbaiki.
Penyuntingan
  1. Membaca tulisan untuk klarifikasi bahasa dan makna tulisan sekaligus menulis kembali jika diperlukan
  2. Memperpendek tulisan dengan tetap menjaga agar esensi dan kepaduannya
  3. Memadukan satu tulisan dengan lainnya atau dengan tulisan yang sedang masuk dari kantor berita, koresponden, dan wartawan untuk menghasilkan satu tulisan yang padu dari berbagai sumber yang kadang bertentangan.
  4. Menjaga agar tulisan tetap ‘masuk’ dalam ruangan yang tersedia.
  5. Mengecek bahasa dan gaya media yang ditanganinya
  6. Mengecek soal-soal fakta: adakah yang keliru.
  7. Mengecek adakah kesalahan legal
  8. Mengecek ‘rasa’ seluruh tulisan.
  9. Menambah fakta penting dan menghindarkan adanya pertanyaan yang tak terjawab
  10. 1Membuat judul sehingga menarik pembaca sekaligus juga membuat subjudul jika diperlukan
Nilai dari seorang redaktur (Paula Ellis dari The State di Columbia, AS)
  • Memandang ke depan sebuah tulisan: apa pengaruhnya bagi masyarakat atau orang per orang.
  • Bentuk tulisan terbaik: bercerita
  • Tidak terpaku pada satu bentuk tulisan, termasuk yang dinilai baku pada media itu.
  • Berbagi peran dalam mengembangkan tulisan
  • Memahami reporter
  • Sifat kritis yang tidak sembarangan
  • Tanamkan nilai-nilai yang Anda kehendaki pada reporter.
  • Evaluasi pada kinerja reporter.
  • Membangun kepercayaan diri reporteer.
  • Membangun kebersamaan.
  • Menempuh risiko
  • Jaga diri sendiri juga
Redaktur memahami benar visi dan misi serta kemudian karakter medianya. Dia harus selalu berpedoman pada hal itu dalam tugas sehari-harinya.

Oleh karena itu juga, seorang redaktur kini harus bersinergi dengan bagian lain, misalnya promosi, iklan, dan bisanis pada umumnya. Karya yang keluar dari sebuah perusahaan media adalah hasil kerja sama semua bidang.

10 Sifat yang Perlu Dimiliki Redaktur (Anne Glover, St. Petersburg Times)
  1. Semangat bekerja (Passion for the work)
  2. Memiliki pengetahuan dasar yang memadai (A solid education in the basics)
  3. Pengalaman (Experience)
  4. Kreativitas (Creativity)
  5. Pengetahuan umum yang luas (Knowledge of the Times)
  6. Memiliki keyakinan (Convictions)
  7. Sikap luwes dan menyadari kenyataan (Flexibility and a sense of reality)
  8. Perhatian kepada detail (Attention to detail)
  9. Rasa ingin tahu yang besar (Curiosity)
  10. Akal sehat (Common sense)
Konsekuensi Tugas Redaktur
  1. Tenang, meski tegang. Redaktur bekerja dalam suasana tegang dan tergesa-gesa. Namun, dalam keadaan demikian dia dituntut untuk sanggup tetap tenang.
  2. Sabar dan bugar. Pekerjaan mengedit itu membosankan. Duduk berjam-jam di ruang tertutup. Mata terus-menerus menatap monitor. Ini mengundang banyak penyakit (mata, pencernaan, stres, dll.). Acap kali juga gemas karena yang ditulis oleh wartawan jauh dari harapannya. Redaktur dituntut untuk sabar dan tetap bugar.
  3. Kerja sama. Penerbitan pers adalah produk kerja sama. Oleh sebab itu, redaktur harus pandai-pandai menjalin kerja sama bukan hanya di selingkup redaksi, melainkan juga dengan bagian iklan, pemasaran, promosi, dan lain-lain.
  4. Berilmu dan berpengalaman. Seseorang diangkat sebagai redaktur karena luas wawasan, dalam pengetahuan, dan banyak pengalamannya.
  5. Berjiwa pendidik. Redaktur berkewajiban membimbing wartawan. Oleh karena itu, ia harus berjiwa pendidik. Mendidik adalah mentransfer ilmu dan mengubah perilaku, kebiasaan, dan kepribadian. Misalnya, mengubah kebiasaan wartawan yang umumnya bekerja tanpa perencanaan, baik dalam mencari bahan tulisan maupun ketika membuat tulisan.
  6. Mencintai bahasa. Sebagian besar pekerjaan mengedit itu memperbaiki bahasa. Konsekuensinya redaktur harus mencintai bahasa dan mahir berbahasa.
  7. Kreatif dan kaya inisiatif. Bisnis media adalah jasa melayani masyarakat. Masyarakat itu dinamis. Redaktur harus selalu memantau masalah yang sedang berkembang, yang sedang digemari, dan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Untuk itu diperlukan redaktur yang kaya inisiatif dan kreatif.
Perlengkapan Redaktur
  1. Agenda
  2. Daftar alamat, termasuk e-mail
  3. Telepon seluler
  4. Kamus Inggris–Indonesia
  5. Kamus Indonesia–Indonesia
  6. Kamus sinonim
  7. Kamus bahasa daerah
  8. Buku Pengindonesiaan Istilah Asing
  9. Buku panduan (style book)
  10. Buku pintar
  11. Ensiklopedi
  12. Buku tata bahasa
  13. Buku ejaan
  14. Peta, termasuk peta kota
  15. Kata-kata mutiara
  16. Data base
  17. Kliping surat kabar, tabloid, majalah
  18. Dan lain-lain.
Bahan-bahan:
  1. Coaching Writers, Editors and Reporters Working Together (Roy Peter Clark dan Don Fry)
  2. The Art of Editing (Floyd K. Baskette, Jack Z. Sissors, Brian S. Brooks)
  3. The Copy Editing and Headline Handbook (Barbara G. Ellis Ph.D)
  4. Redaktur itu Jantung Surat Kabar (Makalah Maskun Iskandar)



____________________

Sumber :  http://rubrikbahasa.wordpress.com/2009/03/02/panduan-bagi-redaktur/

Minggu, 06 Juli 2014

(Artikel Ringan) - Mata Pendar Marina







"... orang-orang bermata kilau berjalan sendirian, lalu saling berhadapan, memutuskan melangkah bersama, beberapa telah bedampingan sekian masa, beriringan menapak kaki satu demi satu ke depan, namun semuanya sama: kilau mata menyeruak keluar dari kepala, lamat-lamat menjelma nada." (1)


~ PENDAR PLASMA, 2014, Penerbit Teras Budaya, Judul Puisi: 'Orang-Orang Bermata Kilau', h. 11.,



Di antara lima puluh enam puisi dalam buku kumpulan puisi tunggalnya [Pendar Plasma] penyair Marina Novianti ini yang paling tidak mewakili 'mata'-nya penyair yang memang memiliki mata 'tajam' dan 'indah'. Mata merupakan bagian perangkat panca indra manusia yang menangkap sisi-sisi kehidupan manusia, mata merupakan 'jendela tubuh' yang melihat dengan tajam segala macam bentuk kehidupan yang mampu merekam peristiwa dengan sudut pandang yang paling 'objektif', setidak-tidaknya menurut akal-budi manusia yang melihatnya dengan segala perspektif sebagai seorang penyair wanita.

Tentunya penyair Marina ini mengenal betul arti dari sebuah Referensi yang ia sering baca dalam perjalanan religiositasnya: "”Pelita tubuh adalah mata. Maka, jika matamu sederhana [tulus; terpusat; ada dalam fokus; murah hati], seluruh tubuhmu akan cemerlang; tetapi jika matamu fasik, seluruh tubuhmu akan gelap. Jika dalam kenyataannya terang yang ada padamu adalah kegelapan, betapa hebat kegelapan itu!” (2). Ya kata atau istilah 'mata' atau pilihan diksi ini memiliki arti yang luar biasa dalamnya dan luas sekali.

Secara umum mata berfungsi sebagai : "sebuah ”kamera” yang sangat efisien dan dapat menyesuaikan keadaannya sendiri, yang mengirimkan impuls-impuls ke otak, tempat objek yang diproyeksikan pada retina mata diinterpretasikan sebagai penglihatan ... Adanya sepasang mata, sebagaimana pada manusia, memungkinkan penglihatan stereoskopis. Kehilangan penglihatan merupakan rintangan yang sangat besar sebab penglihatan mungkin adalah saluran komunikasi yang terpenting ke pikiran." (3) Betapa pentingnya peranan atau fungsi mata itu dalam salah satu bagian terpenting tubuh manusia!

Penyair Marina memilih sebuah diksi 'Orang-Orang Bermata "Kilau"'. Apa artinya 'kilau' itu ? Menurut sebuah kamus populer kata 'kilau' memiliki arti:



noun

1. cahaya gemerlap; cahaya berkilap; cahaya yg memantul:
bagai -- intan berlian tampaknya;

ber·ki·lauv gemerlap; berkilap;

ber·ki·lau·ana gemerlap (seolah-olah sinarnya memantul-mantul):
putri itu mengenakan permata yg ~;

ber·ki·lau-ki·lau·anv berkilauan;

me·ngi·lauv mengeluarkan kilau;

ki·lau-me·ngi·lauv bercahaya gemerlapan:
malam sangat indah, bintang di langit ~;

ki·lau·ann kilatan; kilapan: ~ golok tajam yg diarahkan kepadanya mengecilkan hatinya

~ Artikata.com (4)



Ada 'mata' cahaya yang gemerlap atau berkilau, biasanya mata yang berkilau atau gemerlap itu disebabkan oleh berbagai faktor, bisa karena terharu, menangis yang tertahan yang disebabkan oleh kesedihan atau kebahagiaan, bisa juga berarti ketertarikan terhadap sesuatu atau hati yang bersemangat sebagai pancaran jiwanya yang penuh emosi meluap-luap, bisa juga menandakan kegairahan dalam tubuhnya. Ya bisa berbagai kemungkinan kata 'mata kilau' diartikan atau diterjemahkan.

Sebagai catatan bahwa kata 'mata' sudah menjadi pilihan kata (diksi) sejak zaman dahulu kala, kata 'mata' tersebut biasanya diikuti oleh kata lain sebagai penguat artinya, misalnya dalam suatu Referensi ada beberapa istilah mata itu, sebagai berikut : ”mata air”, ”mata”-Nya, ”keinginan mata”, ”mata sombong [angkuh]”, ’mata yang berbinar’, ’mata penuh perzinaan’, ’mata yang tidak pemurah’, ’mata dengki’, ’mata fasik’ (’mata jahat’, KJ), mata yang ”ramah”, 'Mata kami tertuju kepadamu', 'mata yang ada di ujung bumi', 'mata bebal', 'mata rohani'  (5) dan lain sebagainya.

Penyair Marina mungkin sadar atau tidak sadar, 'matanya' telah menulis lima puluh enam puisi yang dibagi menjadi tiga bagian bab (Interstellar, Ionisasi dan Aurora), dengan matanya ia melihat sebagian besar hidupnya ini menjadi tiga pilihan itu. Saya percaya ia memiliki mata kilau seperti pendar plasmanya melihat hidup seperti puisi yang ditulisnya, dan menurutku ini adalah puisi yang paling kuat yang pernah aku baca dari dua buku puisi tunggalnya (Aku Mati Di Pantai, 2013 dan Pendar Plasma, 2014) :




Orang-Orang Bermata Kilau (6)




ada rasa asin merembes dari sela bibir pecah. ujung lidah
kering merindukan cairan. butir-butir keringatku sendiri
bergulir dari pelipis menyeberang mata, ke bawah. aroma
anyir seusai perang, kabut pedih kepulan mesiu
menyesakkan sudut mata, cuping hidung, nuansa kematian
di mana-mana

pengab, terlalu pengab, aku tak bisa bernapas! terus
melangkah, dongak kepala, kupicingkn mata menantang
bola api menyala di atas. kukutki surya! telah ia tikamkan
terik ke tubuh tercabik luka! telah ia didihkan bongkah
tanah di bawah tumit pecah merekah! lolong angin kemarau
riuh rendah, terbangkan butir pasir, berhamburan mengisi
kulitku

angin riuh, daun kering menari berputar-putar di jalanan
berlubang. helai coklat kuning berkejaran spiral. pasrah
rebah di tanah. bersitumbuk tubuh kami. jatuh terinjak-
injak, kami terus berjalan perlahan

di bentangan berdebu, kami, kaum yang bertahan hidup,
berjubah tudung hitam kumal. jubah rombeng
menyedihkan untuk melindungi, sosok hitam tegak,
bungkuk, besar, kecil, berjalan. tertatih tembus tabir udara
pengap. tiupan angin meraung-raung

sembari menapak langkah, lambat laun kusadari di antara
kami, mata berkilau, bekerjap binar, bersinar terang, atau
redup, sedetik kilat, atau perlahan, di dekat, jauh, di manapun
tiap kilau membawa sepenggal adegan
kehidupan. mereka saksikan atau alami selama mengada

orang-orang bermata kilau berjalan sendirian, lalu saling
berhadapan, memutuskan melangkah bersama. beberapa
telah berdampingan sekian masa, beriringan menapak kaki
satu demi satu ke depan. namun semuanya sama: kilau
mata menyeruak keluar dari kepala, lamat-lamat menjelma
nada

sulit bagiku menentukan, rintih atau senandung nada jelma
kudengar, lirih sedu dan getar telah menjadi padu. nada-nada
bertaut, membentuk harmoni. tiap nada teripta
berpandangan dengan mata kilau. mewujudkan helaian panjang
putih melambai-lambai tertiup angin, di keruh udara abu.
segenap penjuru mata angin, lantunan bening paduan nada
naik turun perlahan. pedih dan indah terbit bersamaan

langkahku terhenti. satu dari beribu tumpukan puing-puing
yang berserak, potongan-potongan kaca menyelip pada
rangka jendela. membayang pantulan wajahku, patah-patah
retakan kaca. dua mata berkilau, seperti mata mereka,
menyelinap keluar diriku, menjelma untai gumaman ini




MN, September 2013






'Mata kilau', tentunya kita sangat bersyukur apabila dikarunia mata yang indah dan berkilau, di samping wajah akan terlihat menarik juga memandang dan berbicara dengan seseorang yang memiliki mata kilau ini sangat menyenangkan hati, karena di dalamnya terkandung sebuah kekayaan hidup yang tak ternilai, dan apabila diputar seperti sebuah melodi sebuah lagu, maka akan terdengar sebuah simponi yang menakjubkan, Anda yang mendengar akan menikmati 'pelangi indah di matamu'.

Rasa kegetiran hidup itu bagai sebuah rangkaian kereta api yang bersambung-sambung, dengan pluitnya yang berkumandang akan terdengar dari kejauhan bahwa itu sebuah rangkain gerbong yang akan lewat. Sebuah mata yang berkilau akan bercerita bagaimana rangkaian kereta api itu berjalan menuju kota tujuan, bukankah sepanjang perjalanan yang panjang itu melewati lembah-lembah curam dan landai serta mendaki sedikit demi sedikit dengan keadaan kontur tanah yang berbeda-beda, mungkin juga menempuh sebuah musim yang berlainan jenis. Semua itu direkam oleh sepasang mata yang berkilau!







Mata juga bisa berfungsi untuk berjaga-jaga, 'mata yang awas' senantiasa menjaga tubuh dari bahaya-bahaya yang mengancam tubuh, mata sebagai perlindungan akan pikiran yang bersih, itu sebabnya dalam referensi di atas kita dianjurkan untuk memiliki 'mata sederhana' yang berarti menyederhanakan pikiran dari kehidupan yang rumit dan melelahkan jiwa serta ketidakadilan yang kita alami dalam perjalanan hidup ini.

Fungsi mata yang seperti menara pengawas yang tinggi dalam sebuah bangunan berbenteng lazim di bangun untuk mengawasi keadaan di luar bangunan berbenteng, di bangun dalam empat penjuru mata angin atau disetiap sudut bangunan.

Puisi Marina Novianti yang saya pilih (Orang-Orang Bermata Kilau) dari sekian banyak puisi yang ada dalam buku puisi tunggalnya (Pendar Plasma, 2014) ini menurut saya mewakili dari sekian puisi yang bermakna kehidupan keseharian penulisnya baik yang bertema kesedihan, pengalaman pribadi ataupun perasaan terdalamnya, saya mengambil tema yang paling komplit dan religius.





 “Duhai. Ternyata, pada setiap mata ada kejernihan. Di sana kau bisa melihat jiwa. Jiwa yang mulia. Tak bisa melihatkah kau? Itu lantaran manusia tersandung pada segala yang membingkai mata. Orang sibuk melihat apa yang di seputar mata, dan tak bisa mencapai yang utama.”


Ayu Utami, Maya  (7)





“Aku suka matamu. Seperti mata rusa. Rapuh sekaligus kuat.”





Jakarta, 6 Juli 2014
Jack Phenomenon




_____________________

Rujukan :

1. PENDAR PLASMA, Penerbit Teras Budaya, Judul Puisi: 'Orang-Orang Bermata Kilau', h. 11.,
2. New World Translation of The Holly Scriptures (Indonesian Edistion)
3. Watchtower Library (Indonesian Edition)
4. Artikata.com
5. Watchtower Library
6. PENDAR PLASMA, Penerbit Teras Budaya, Judul Puisi: 'Orang-Orang Bermata Kilau', h. 11.,
7. Goodreads, Ayu Utami, Maya
8. Goodreads, Devania Annesya, X: Kenangan yang berpulang
9. Sumber gambar/photo dari album pribadi Facebook Marina Novianti

Sabtu, 14 Juni 2014

(Artikel Ringan) - Sorot Mata Anak Kecil yang Penuh Kasih


Koleksi Gambar 1000 Art




"”Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu: Jika kamu tidak berubah haluan dan menjadi bagaikan anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga. Karena itu, barang siapa merendahkan dirinya seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan surga.” ~ New World Translation of The Holly Scriptures





Mengapa anak kecil, salah satu sifat yang bisa kita pelajari dari seorang anak kecil ialah 'kerendahan hatinya'. Mereka mudah didekati dan penurut sertahaus akan sesuatu. Lihatlah bagaimana seorang bocah dengan wajah polosnya mau mendengarkan sebuah kisah dongeng sebelum tidur, apalagi jika seorang anak kecil diajarkan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, tentu besar sekali manfaatnya, dan jangan sekali-kali Anda memandang remeh kemampuan mereka mengingat dan mempelajari segala sesuatu, mereka dengan cepat sekali memahaminya, karena mereka rendah hati.




Anak-anak pada dasarnya rendah hati

     


Seorang anak keil itu mudah diajar dan mereka mau percaya, oleh sebab itu, ajaran yang telah tertanam dalam benak mereka dengan kuat, akan sulit diubah setelah mereka dewasa kelak, mereka mudah sekali percaya. Sebuah referensi mengatakan: '”Mereka menyerap informasi seperti karet busa menyerap air”.










Ada yang mengatakan bahwa 'orang yang mudah diajar gampang disesatkan', pendapat ini juga ada benarnya, akan tetapi pertimbangkan juga bahwa mayoritas pendidikan anak-anak ada ditangan mereka, tentu orang tua bertanggungjawab untuk memndidik mereka dengan cara yang benar dan tepat, ini adalah sebuah proses alamiah dan umum. Oleh sebab itu Anda sebagai orang tua atau pendidik anak wajib melakukannya dengan benar.


Sungguh menyedihkan sekali jika banyak anak-anak di negeri konflik yang keadaan negaranya berkecamuk perang, mereka anak-anak bisa menyaksikan langsung peristiwa keji itu, dan bahkan para orang tua ikut mengajarkan anak mereka untuk saling membenci, oleh sebab itu ajaran untuk membenci hendaknya dihapuskan dalam pendidikan di rumah-rumah. Kebencian ini bisa mendarah daging jika diajarkan dari kecil.









Anak-anak memiliki pikiran yang murni. Di dunia ini mereka dilahirkan dengan berbagai macam latar belakang dan kebudayaan. Ada yang lahir dengan sempurna, namun juga ada yang lahir dengan membawa kecacatan. Keadaan mereka seringkali diperlakukan tidak adil dalam dunia orang dewasa, misalkan saja buruh anak, pelacur anak, ataupun korban-korban perlakuan buruk dari kondisi lingkungan terdekat mereka. Mereka melewati masa-masa indah mereka dengan berbagai cara.


Tidak semua mereka bahagia, gembira seperti layaknya yang mereka harus terima, jika demikian berbahagialah jika Anda dibesarkan oleh para orang tua yang bertanggungjawab dan penuh kasih atau lingkungan yang baik tempat di mana mereka tumbuh dan dibesarkan.










Anak kecil tidak berprasangka, dan mereka cepat memaafkan serta melupakan





Jadilah peniru seperti anak kecil ini, mereka memang adalah buah hati, pemberian yang sangat istimewa. Mereka sangatlah berharga sekali, namun sungguh sayang pemberian yang baik ini disia-siakan oleh manusia itu sendiri, dan orang dewasa seringkali tidak bisa menjadi tauladan bagi mereka. Ironis memang, malah sifat anak kecil inilah yang memberi pelajaran bagi orang dewasa.









Anak Adalah Nyawa Tak BerdayaPengarang: Widodo Judarwanto



Meskipun Anak Adalah Sebuah Darah Daging Manusia Bukan Berarti
Manusia Boleh Melepas Makian Bukan Berarti Manusia Boleh Mengayun Tamparan Anak Adalah Nyawa Tak Berdaya Hanya Bisa Menangis Bila Benturan Kasar Menerpanya


Meskipun Anak Adalah Adalah Hak Seorang Manusia Bukan Berarti Manusia Boleh Memperdagangkan Semaunya Bukan Berarti Manusia Boleh Memperkerjakan Seenaknya


Anak Adalah Nyawa Tak Berdaya
Hanya Bisa Menghiba
Bila Letih Menyentuh Tubuhnya
Anak Adalah Nyawa Tak Berdaya
Tak Berdaya Melawan Kekerasan Biadab Manusia
Tak Berdaya Menolak Kepentingan Picik Manusia
Tak Berdaya Lari Dari Amukan Amarah Manusia
Tak Berdaya Menutup Telinga Dari Suara Jahat Manusia
Tak Berdaya Menutup Mata Dari Perilaku Setan Manusia


Anak Adalah Nyawa Tak Berdaya
Hanya Bisa Merengek Saat Dahaga
Tertimbun Di Lehernya
Hanya Bisa Menghela Napas
Bila Kalimat Kasar Merasuk Jiwanya
Hanya Bisa Terdiam
Bila Saat Amarah Manusia Menerjang
Egonya Hanya Bisa Mengerang
Bila Pukulan Menghunjam Tulangnya
Hanya Bisa Terisak
Bila Kekerasan Terus Mengitarinya
Hanya Bisa Menitikkan Air Mata
Bila Derita Terus Menderanya


Manusia Yang Terus Menderanya Adalah Bukan Manusia Apapun Alasannya,
Hentikan Segera Segala Kekerasan Itu
Karena Anak Bukan Sekedar Darah Daging Manusia
Karena Anak Bukan Sekedar Hak Seorang Manusia
Karena Anak Adalah Titipan Yang Kuasa
Karena Anak Adalah Nyawa Tak Berdaya



Sumber : http://www.kumpulan-puisi.com/poetry-detail.php?id=810




















Anak-anak tumbuh seperti sebuah pohon dia sangat tergantung tanah dan iklim atau cuaca yang mendukungnya, tentu kita semua senang apabila melihat pohon tumbuh dengan suburnya dan berbuah dengan lebatnya. Begitupun anak-anak dengan mata polosnya yang teduh ia melihat dunia aneka ragam.


Cobalah kita simak sebuah berita dari 'Mengamati Dunia ini:




Orang Tua Sulit Memperlihatkan Kasih Sayang

”Semakin banyak orang tua yang membutuhkan buku petunjuk tentang cara memperlakukan anak-anakkecil mereka, karena mereka tampaknya tidak sanggup memperlihatkan kasih sayang alami,” kata majalah Polandia, NewsweekPolska. Orang tua perlu diajari hal-hal dasar, seperti memeluk anak-anak, bermain bersama mereka, dan bernyanyi untuk mereka. Aktivitas seperti ini penting agar perkembangan anak-anak seimbang. Namun, hasil penelitian memperlihatkan bahwa ”di kalangan keluarga Polandia, menonton televisi dan berbelanja menempati urutan pertama dalam aktivitas yang umum dilakukan orang tua bersama anak-anak mereka”. Bermain bersama-sama hanya menempati urutan keenam.


Sumber : mengamati Dunia




Tidaklah heran dengan pengamatan ini, dalam dunia yang semakin materi ini, para orang tua lebih menekankan hal materi ketimbang hal-hal yang bersifat kasih sayang, memang materi penting sekali dalam hidup ini, apalagi dalam dunia yang modern seperti sekarang. Namun bukankah hidup serta nilai kasih sayang itu tidak bisa diveli ataupun dibayar dengan materi, secara alami manusia membutuhkan ketulusan dan keharmonisan, manusia bisa bertahan hidup karena itu.




Jaga Blengko, 14-6-2014
Jak Phenomenon


[Tulisan terinspirasi dari Artikel berjudul : Apa Yang Bisa Kita Pelajari Dari Anak-Anak ? - Watchtower Library]






_____________________


Sumber :  


- Wathtower Library
- New World Translation of The Holly Sriptures
- Dan sumber lain di internet