Tampilkan postingan dengan label Kotak Penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotak Penyair. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

(Kotak Penyair) - 2 Puisi Sonny H. Sayangbati Di Jurnal Sastra Masterpoem 14-6-14



 

Hujan dan Hujan Lagi


Senandung rindu itu bernama hujan
tak kenal saat,
ia membasahi ladang dengan rinai tak bertepi
terus mengguyur dengan derasnya
seolah-olah tak ada tempat penampung

Tidak!
Aku hanya bisa memberi
dengan kelimpahan

Daun-daun berkabut
menyerap cairku sampai yang terdalam
karena di situlah rumahku
Jaga Blengko, 30-01-2014


 

Dua Pohon


“Pohon yang besarnya sepelukan,
tumbuh dari benih yang kecil saja. 
Menara setinggi sembilan tingkat,
dibangun mulai dari seonggok tanah. 
Perjalanan seribu li,
dimulai dari satu langkah.”

― Laozi



Dari benih tinggi tiga puluh centimeter aku telah melihatmu tumbuh di dua sisi kiri dan kanan, aku yakin burunglah yang membawamu ke sana. Setiap tiba musim bertelur angin musim membawa mereka hinggap dan memenuhi hamparan air yang penuh dengan ikan-ikan bersisik terang yang pasrah di santap sang pelikan.

Beratahun-tahun lamanya siklus itu tidak berubah dan aku tetap setia duduk dan menikmati fenomena alam ini, entahlah sampai berapa tahun lagi burung-burung pelikan dan ikan-ikan saling menghidupi dan bermain, hampir sepanjang musim di bumi ini, semua jenis burung hadir, ada yang hanya mendarat sebentar lalu pergi, dan apa juga yang hanya seminggu saja lalu melanjutkan perjalanan mereka ke benua lainnya.

Ini adalah tanah, dan danau persinggahan yang hanya ditandai oleh kedua pohon yang dengan setia berdiri teguh acuh tak acuh, puluhan tahun pohon danau ini menjadi saksi kisah hidup manusia yang bercinta dan menangis sambil bersandar punggung di pohon, sudah banyak kekasih yang menikah dan memiliki keturunan dari generasi ke generasi.

Seperti sebuah pohon Tamariska, di mana Ibrahim menanam pohon sejarah bangsa-bangsa di gurun kering gersang. Ya, sebuah pohon kesaksian yang tak pernah mengeluh dan menangis, hanya diam meneduhkan setiap orang yang singgah ataupun sekedar melepas lelah.

Berbahagialah engkau pohon yang hidup di pinggir danau, di mana setiap makhluk terbang selalu merindukanmu untuk singgah ataupun sekedar mencium atau melihatmu, engkaupun menjadi tempat semua orang seisi kota untuk bertemu dan hanya sekedar berbicara, entah itu sebuah rahasia ataupun hanyalah sebah kata yang harus didengar oleh telinga, entahlah.

Dua pohon, mengapa engkau hanya dua tidak satu atau tiga, berbahagaialah engkau, sebab siapapun yang memandangmu dari kejauhan ataupun dekat, sesungguhnya engkau sepasang kekasih abadi. 
Jaga Blengko, 13-3-14 
_____________________

Sumber : http://masterpoem-id.blogspot.com/

Kamis, 10 Oktober 2013

(Kotak Penyair) - Sebuah Rumah Bagi Tuan Grass

Kotak Penyair







Pemerintah Kota Labeck menghadiahkan sebuah rumah bagi Gunter Grass untuk memajang karya-karyanya. Apa saja isinya?

Rumah berlantai dua itu berdiri di antara gedung-gedung berarsitektur Renaissance yang terletak di Jalan Glokenengiesser, Labeck, Jerman. Gunter Grass Hauss, demikian namanya, bukanlah rumah sang pengarang terkenal itu, tapi tempat pameran karya-karyanya.

Di depan pintu masuk, pada dinding berwarna abu-abu terpampang kilasan biografi sang pengarang, mulai dari lahir sampai di usianya yang ke-70. Di depannya lagi terdapat taman mungil dengan dekorasi karya monumental Grass, berupa patung perunggu setinggi 220 sentimeter, Butt im Griff (Ikan Flounder dalam Genggaman) dan Zwei Kapfe (Dua Kepala).

Di sini pengunjung dapat mengenal lebih dekat sang penerima Hadiah Nobel Sastra pada 1999 itu. Grass adalah seniman, tapi juga politikus, pemusik dan belakangan dikenal jago masak. Selain pengarang buku, penulis puisi, drama dan teater, ia adalah pematung, pemahat dan ahli seni grafis.

Ia juga menerima penghargaan lain setingkat Nobel, seperti hadiah sastra Le meilleur livre a tranger dari Prancis dan hadiah budaya Prinz-von-Asturien dari Spanyol. Dengan latar belakang itulah, Yayasan Kebudayaan kota Labeck, Jerman, meresmikan Gunter Grass Haus ini tepat di hari ulang tahun Grass yang ke-75 pada 16 Oktober 2002 lalu.

Saat Tempo berkunjung ke sana pada awal Juli lalu, terlihat bagian dalam rumah itu nyaman dan tertata apik. Di sana Grass menggelar film yang diangkat dari bukunya yang pertama (terbit pada 1959) dan meledak di seluruh dunia, Die lechtromel (Genderang Kaleng). Film itu terus diputar sepanjang hari.

Film hitam-putih itu berkisah tentang Oskar Matzerath, seorang bocah dengan drum kesayangannya, yang menolak menjadi dewasa pada ulang tahunnya yang ketiga. Dia selalu memukul genderangnya dan akan memukulnya lebih keras bila dunia di sekitarnya makin kacau. Ketika Jerman dikuasai Nazi dan pecah perang pada 1930-an dan 1940-an, Oskar terus menerus memukul genderangnya dengan liar. Hanya setelah invasi Uni Soviet di akhir perang, ketika satu-satunya anggota keluarganya yang selamat terbunuh, dia memutuskan untuk jadi dewasa. Film yang disutradarai Volker Schlündroff ini menyabet penghargaan Palm d’Or pada festival film Cannes pada 1979 dan piala Oscar untuk film asing terbaik pada tahun yang sama.

Yang unik, puisi-puisi Gras ternyata tak sekadar berupa rangkaian kata-kata indah. Seluruh puisi yang dipajang berpigura di rumah itu ditulis tangan di atas goresan sketsa, litografi, bahkan foto dan grafis. Seperti sajak berjudul Letze Tanze (Tarian Terakhir), Geteert und gefeedert (Beraspal dan Berbulu) danLiebe gepraft (Bukti Cinta). Karyanya menyegarkan mata dan hati, kata seorang pengunjung.

Lulusan sekolah seni di Dasseldorf dan Sekolah Tinggi Seni di Berlin ini bahkan juga menggunakan materi yang belum populer di masanya dalam berpameran, seperti plastik dan kapur merah.

Selain rangkaian lukisan cat air hitam putih dan warna, Grass juga memajang sketsa potret dirinya, seperti mit Handschuh nachdenklich (Dengan Sarung Tangan Terpekur), selbst mit Matze und Unke (Diriku dengan Topi dan Katak) dan ich als koch (Saya Sebagai Tukang Masak).

Grass memang piawai menggambar dirinya. Pengarang berkaca mata tebal yang bergaya konservatif dan berkumis lebat, gemar berpeci baret, makan ikan dan pintar masak itu gampang dikenali lantaran tangannya tak pernah lepas dari pipa rokok dan tangannya yang lain masuk ke dalam saku bajunya. Sketsa yang digoresnya jelas menampilkan guratan-guratan wajahnya yang merangkak ke usia 83.
Kegemarannya memasak dan makan ikan terekam di sebagian karya-karyanya, seperti terlihat pada goresan sketsanya yang berjudul selbst mit Butt und Federn (Diriku dengan Ikan Flouder dan Bulu Burung), atau litografi Fischkfe (Kepala-kepala Ikan). Juga goresan sketsanya di atas lempeng tembaga Hai aber Land (Ikan Hiu di Atas Permukaan) dan Frau mit Fisch (Perempuan dan Ikan). Ia juga menulis buku dengan nuansa ikan, seperti Der Butt (Ikan Flounder). Dan, dengan keahliannya itu pula, semua ilustrasi sampul buku-bukunyanya dibikin sendiri oleh Grass.

Di bagian tengah ruangan terdapat beberapa meja kecil dengan tiga laci pipih berkaca yang berisi contoh tulisan-tulisan tangan Grass sebelum diserahkan ke penerbit. Jadi, begitulah rupanya cara kerja Grass jika ia menulis buku. Alur cerita digarap dengan tulisan tangan. Sebelum ada komputer, Grass menyerahkan draf tulisan itu ke sekretarisnya untuk diketik, baru kemudian diserahkan ke penerbit.

Konon Grass sendiri lebih suka bekerja dengan mesin tik daripada komputer. Selama hidupnya ia punya tiga mesin tik. Mesin tiknya yang pertama bermerek Olivetti warna hijau, yang dipinjam dari temannya, Wolfgang Bergmann, ikut dipajang di rumah ini. Satu lagi ada di tempat peristirahannya di Mon, Denmark, dan yang lain di ruang kerjanya.

Setiap Rabu, Grass bekerja dari pukul 13.00-19.30 di ruang kerjanya yang juga berada di rumah ini. Dia ramah, tapi jarang menyapa kami kalau tidak perlu, kata Yosef Buse, pegawai di situ.

Meski usia Grass sudah lebih dari delapan dasawarsa itu, menurut Buse, ia masih produktif. Beberapa buku barunya ditulis di situ, seperti Dummer August (2007), Die Box (2008) dan Unterwegs von Deutschland, buku setebal 256 halaman yang diterbitkan Januari lalu.

Hari-hari lainnya, Grass, yang pernah ke Jakarta dalam rangkaian kunjungannya ke negara-negara Asia pada 1978, lebih banyak menghabiskan waktunya bersama istrinya, Ute Grunert, dan Minka, anjingnya. Mereka tinggal di desa Beelen, sekitar 30 menit naik mobil dari Kota Labeck.

Satu dari empat anak Grass dari seorang wanita pelukis dan arsitektur yang tidak dinikahinya, Helene Grass, mengikuti jejak bapaknya sebagai seniman di Prancis. Mereka berdua membuat pertunjukkan di Paris berupa pembacaan buku literatur Jerman kuno abad ke-18, Des Knaben Wunderhern (Anak Kecil Menakjubkan). Kisahnya itu tampil di kilasan otobiografi Grass dalam bentuk film dari sebuah televisi berukuran besar di bagian depan rumah ini.

Di sebelah pintu masuk rumah tersebut terdapat toko yang menjual semua karya-karya Grass, seperti buku, audiobook, kartu pos bergambar sketsa atau lukisan Grass, serta patung-patung hasil pahatannya. Di bagian bawah patung perunggu yang dibuat seukuran dekorasi meja itu diberi nomor dan ditandatangani Grass.

Benda-benda seni ini amat mahal harganya, seperti replikasi Butt im Griff harganya 3.200 euro (hampir Rp 45,5 juta), dchen mit Rattin hampir Rp 60 juta, dan Zwei Kache mencapai Rp 68 juta. Pegawai toko itu pun harus memakai sarung tangan untuk memegangnya. Benda seni ini bernilai tinggi, jadi mesti hati-hati memegangnya agar jangan sampai tergores kuku, kata Nicole Werner, pegawai toko di situ.






_______________

* Dinukil dari Suplemen Ruang Baca Harian Koran Tempo Edisi 26 Juli 2009 
 http://radiobuku.com/2009/07/sebuah-rumah-bagi-tuan-grass/

(Kotak Penyair) - Puisi-Puisi Sitor Situmorang

Kotak Penyair 







Ini puisi-puisi Sitor Situmorang dalam kumpulan Rindu Kelana (Pilihan Sajak 1948- 1993). Sastrawan angkatan 45 ini lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober 1924. Sitor sempat menetap di Paris. Pada 1981 menjadi dosen di Universitas Leiden, Belanda, dan pensiun 10 tahun kemudian. Sejak 2001 ia kembali tinggal di Indonesia.

Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).



Kaliurang (Tengah Hari)


Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut Dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut ‘manggil aku berlayar dari sini
Tungguhlah aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita akan bersatu lagi.


Perhitungan


Buat Rivai Apin
Sudah lama tidak ada puncak dan lembah
Masa lempang-diam menyerah
dan kau tahu di ujung kuburan menunggu kesepian
Aku belum juga rela berkemas
Manusia, mengapa malam bisa tiba-tiba menekan
dada?
Sedang rohnya masih mengembara di lorong-lorong
Keyakinan dulu manusia bisa
hidup dan dicintai habis-habisan
Belum tahu setinggi untung bila bisa menggali
kuburan sendiri
Rebutlah dunia sendiri
dan pisahkan segala yamg melekat lemah
Kita akan membubung ke langit menjadi bintang
jernih sonder debu
Detik kata jadikan abad-abad
Abad-abad kita hidupi dalam sekilas bintang
Sesudah itu malam, biarlah malam
Bila hidup menolak
Ia kita tinggalkan seperti anak
yang terpaksa puas dengan boneka
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tapi tak ada lagi kita
Sedang mereka rindu pada cinta garang
Mereka akan menari dan menyanyi terus
Tentang abad dan detik yang ‘lah terbenam
Bersama kita, tarian perawan janda ….


Lereng Merapi


Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran ….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu ….


Dia dan Aku


Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali
Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi
Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji
Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari


Surat Kertas Hijau


Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh
Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
mengimbau dari seberang benua
Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan


Amoy-Aimee


Terbakar lumat-lumat
Menggapai juga lidah ingin
Api di pediangan
Terkapar sonder surat
Mati juga malam dingin
Lahirnya hari keisengan
Mari, cabikkan malam Amoy
Jika terlalu – ingin malam ini
Besok ada mentari sonder hati
Belum apa-apa hampa begini
Jauh dalam terowongan nadi
Berperang bumi dan sepi


Kebun Binatang


Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang, boneka dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Si anak ini punya ketakutan
Hari-hari kemarin
Punya keinginan
Berumah ufuk, ombak menggulung
Hari-hari kandungan
Tolak keisengan
Ramai-ramai di kebun binatang
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan
Hari-hari datang
Hari kembang di kebun binatang
Hari bersenang
Pecah dalam balonan
Kembang, boneka dan kehidupan
Kembang dan kerinduan
Si adik ini ingin teman
Boneka ini punya kesayuan


Matahari Minggu


Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota
Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas
Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan
Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba
Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima


Chathedrale de Chartres


Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih
Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat
Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata
Ketika malam itu sebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
tersedu is dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis
Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu
Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah dari Pasah
ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan isteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
Bersatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lambaian cinta setia dan pelukan perempuan
Demikianlah
Cerita Pasah
Ketika tanah basah
Air mata resah
Dan bunga-bunga merekah
Di bumi Perancis
Di bumi manis
Ketika Kristus disalibkan


The Tale of Two Continents


Satu rasa dua kematian
Satu kasih dan dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra
Dua kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketakpedulian tuju
Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di sisik samudra






________________

SUMBER :
http://geocities.com/sitorsitumorang/
 http://jalansetapak.wordpress.com/2008/08/09/puisi-puisi-sitor-situmorang/

Sabtu, 05 Oktober 2013

(Kotak Penyair) - Puisi-Puisi Tengku Amir Hamzah

Kotak Penyair







 
 
Berdiri aku di senja senyap
camar melayang menepis buih
melayah bakau mengurai puncak
berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang menyejuk bumi
menepuk teluk menghempas emas
lari ke gunung memuncak sunyi
berayun-alun di atas alas
Benang raja mencelup hujung
naik marak menyerak corak
elang leka sayap tergulung
di mabuk warna berarak-arak
Dalam rupa maha sempurna
rindu sendu mengharu kalbu
ingin datang merasa sentosa
mengecap hidup bertentu tuju.


~ Amir Hamzah







Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kendi kemerlap
Pelita jendela dimalam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku


~ Amir Hamzah



Segala kupinta tiada kauberi
Segala kutanya tiada kau sahuti
Butalah aku terdiri sendiri
Penuntun tiada memimpin jari
Maju mundur tiada berdaya
Sempit bumi dunia maya
Runtuh ripuk astana cuaca
Kureka gembira di lapangan dad
Buta tuli bisu kelu
Tertahan aku dimuka dewala
Tertegun aku di jalan buntu
Tertebas putus sutera sempana
Besar benar salah arahku
Hampir tertahan tumpah berkahmu
Hampir tertutup pintu restu
Gapura rahasia jalan bertemu
Insyaf diriku dera durhaka
Gugur tersungkur merenang mata:
Samar terdengar suwara suwarni
Sapur melipur merindu temu




~ Amir Hamzah






________________

Sumber :  http://weby.ucoz.com/news/amir_hamzah/1-0-6

Jumat, 04 Oktober 2013

(Kotak Penyair) - Istambul, Kenangan Sebuah Kota by Orhan Pamuk

Kotak Penyair









Judul : Istanbul, Kenangan sebuah kota
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 363 hlm

Istanbul adalah memoar dari peraih nobel sastra 2006 asal Turki, Orhan Pamuk. Namun berbeda dengan memoar-memoar lainnya yang biasanya lebih mengutamakan kisah hidup si penulisnya, dalam memoarnya ini Pamuk tak hanya berkisah mengenai sejarah hidupnya. Dengan cara betutur seperti dalam novel-novelnya , Pamuk mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya yang dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, kota kelahirannya yang begitu ia cintai. Jadi bisa disimpulkan bahwa buku ini merupakan serpihan-serpihan memoar dan essai panjang Pamuk tentang dirinya dan Istanbul

Bagi Pamuk yang begitu lekat dengan kota kelahirannya, takdir Istanbul adalah takdir dirinya sebab Istanbullah yang membuat dirinya seperti sekarang ini. Istanbul baginya adalah mata air yang terus menerus memberinya inspirasi. Tak heran jika sebagian besar novel-novelnya berlatar Istanbul, kota yang merupakan warisan kesultanan Usmani yang tak henti bergumul dengan identitas Barat dan Timur. Begitupun dalam memoarnya ini, di mata Pamuk, Istanbul dimetaforkan sebagai mahluk yang berwajah murung, atau istilah dalam bahasa arabnya adalah “huzun”.

Setelah Kesultanan Usmani ambruk, dunia nyaris lupa bahwa Istanbul ada. Kota tempat saya dilahirkan ini lebih miskin, lebih kumuh, dan lebih terasing ketimbang sebelumnya selama sejarahnya sepanjang dua ribu tahun. Bagi saya, Istanbul selalu merupakan kota penuh reruntuhan dan kemurungan masa akhir kesultanan. Saya menghabiskan hidup memerangi kermurungan ini atau (seperti semua penduduk Istanbul) menjadikannya kemurungan saya. (hal 7)

Istanbul modern dalam kacamata Pamuk memang telah mengalami kemunduran sejak jatuhnya Kesultanan dan berdirinya pemintahan Republik dengan reformasinya yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk (pendiri Turki dan presiden pertama Turki). Bagi Ataturk satu-satunya jalan untuk melangkah maju adalah mengembangkan konsep baru mengenai ke-Turkian yag modern, sayangnya konsep ini dilakukan dengan cara melupakan masa lalu sehingga kultur, seperti bahasa dan pakaian tradisional, dilupakan. Bahkan literatur tradisional pun dilupakan.

Kemurungan Istanbullah yang menjadi benang merah seluruh kisah dalam memoarnya ini. Karenanya jangan harap dalam memoarnya ini kita akan disuguhkan panorama keindahan Istanbul, alih-alih membicarakan bangunan megah Hagai Sophia atau situs-situs bersejarah lainnya, kita malah akan disuguhkan deskripsi rumah-rumah kayu yang kumuh yang dibangun diatas reruntuhan bangunan megah dari era kejayaan kesultanan Usmani dan kehancuran puri-puri para Pasha karena tak terawat atau terbakar.

Dalam memoarnya ini, wajah Istanbul modern yang kini semakin carut marut itu dikisahkan secara parallel dengan kehidupan masa lalu Pamuk yang dilahirkan dari keluarga kelas menengah yang hidup dalam budaya sekuler Barat. Dengan begitu hidup Pamuk menceritakan tentang dirinya dan keluarganya, apartemen-apartemen yang pernah didiaminya, jalan-jalan yang sering dilaluinya, peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya, kisah cinta pertamanya yang kandas, serta keinginannya yang besar untuk menjadi pelukis sebelum ia banting setir dan akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis.

Karena setiap jejak langkah masa lalu Pamuk senantiasa dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul maka daya pikat memoar ini bukan hanya terletak pengalaman pribadi penulisnya, melainkan dalam identifikasi puitisnya dengan Istanbul . Hasilnya adalah semacam essai yang berisi sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Istanbul baik dari apa yang diperolehnya dari pengalaman dan risetnya sendiri maupun dari catatan orang-orang yang pernah menulis sejarah Istanbul seperti, Yahya Kemal, seorang penyair, Resat Ekrem Kocu, seorang sejarawan, Tampinar, seorang novelis, dan Abdulhak Sinasi Hisar, seorang kronologis. Sedangkan untuk penulis barat terwakili oleh Gerard du Nerval, Teophile Gautier, Gustave Flaubert.

Untuk lebih menghidupi memoarnya ini, Pamuk juga menampilkan ratusan foto hitam putih baik yang berasal dari koleksi keluarga Pamuk sendiri maupun foto-foto Istanbul karya fotografer lokal, Ara Guller. Dan yang tak kalah menarik adalah foto-foto lukisan engraving Antoine-Ignace Melling, pelukis Jerman yang merekam Istanbul di abad ke 18. Jika foto-foto karya Ara Guller didominasi wajah Istanbul modern yang muram, maka pada karya Mellinglah keindahan masa lalu Istanbul terungkap.




Salah satu lukisan karya Melling tentang Istanbul abad ke 18



Sayangnya foto-foto yang tersaji itu beberapa diantaranya tersaji kurang sempurna karena pengaruh jenis kertas yang dipakai dalam terjemahan buku ini. Andaikata penerbit menggunakan jenis kertas yang lebih baik lagi tentunya buku ini akan tersaji secara sempurna.

Sebagai seorang novelis terkemuka, Pamuk menyajikan memoarnya ini dengan begitu menarik dan hidup sehingga membaca ke 37 bab kisahnya tak membuat kita bosan kendati dia terkadang menceritakan hal-hal yang sederhana yang pernah dialaminya. Hal-hal sederhana itu ia hubungkan dengan, lukisan, buku-buku, landskap, bangunan kuno, legenda, sejarah, politik, dll sehingga potret dirinya dan Istanbul terekam dengan menarik.

Sayangnya memoar Pamuk terhenti di era 70-an ketika Pamuk memutuskan merubah jalan hidupnya dari seorang pelukis menjadi seorang penulis. Jadi dalam memoar setebal 363 halaman ini kita tak akan menemukan jejak Pamuk dan Istabul ketika ia meniti kariernya sebagai seorang penulis. Semenjak kecil hingga menjadi seorang mahasiswa arsitektur tampaknya tak ada tanda-tanda bahwa Pamuk kelak akan menjadi seorang penulis terkenal kecuali kesenangannya membaca yang terungkap di memoarnya kali ini

Akhir kata novel yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 2003 dalam bahasa Turki dengan judul Istanbul : Hatiralar ve Sehir ini memang sangat-sangat menarik, kisah kehidupan Pamuk, pergumulan batinnya , serta responnya atas lingkungan yang membesarkannya membawa pembacanya pada sebuah perenungan yang dalam. Berbagai kisah mengenai Istanbul membuat kita memahami sejarah dan kultur Istanbul modern di tahun 50-70an yang menyiratkan wajah Turki yang murung dan terbelahnya kultur masyarakat Turki antara Islam dan sekularisasi, modern dan tradisional, timur dan barat, yang ternyata masih bisa dirasakan hingga kini.

Seperti yang ditulis oleh Irish Times sebagai pujian untuk buku ini bahwa memoar Pamuk ini layak disejajarkan dengan karya-karya terbaik Pamuk dan buku-buku terbaik yang pernah ditulis mengenai Istanbul. Buku ini wajib dibaca dan kota itu wajib dikunjungi.

Tentang Penulis :

Lahir di Istambul, Turki, pada 7 Juni 1952, Ferit Orhan Pamuk adalah novelis terkemuka Turki dalam sastra pasca-modernis. Ia sangat populer di dalam maupun luar negeri, dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, serta telah mendapatkan banyak penghargaan nasional maupun internasional.

Pada mulanya, Pamuk kuliah di Universitas Teknik Istambul, karena keluarganya menginginkan ia menjadi insinyur atau arsitek. Namun, karena tidak sesuai dengan cita-citanya sendiri yang ingin menjadi penulis, Pamuk pun berhenti kuliah tiga tahun kemudian. Setelah itu ia menjadi penulis penuh waktu, sambil menyelesaikan pendidikannya di Institut Jurnalistik di Universitas Istambul pada 1977.

Novel pertama Pamuk, berjudul “Karanlik ve Isik” (Gelap dan Terang) terbit pada 1982, setelah itu karya-karyanya semakin dikenal orang baik di dalam maupun di luar negeri. Harian The New York Times memujinya sebagai “Bintang yang baru terbit di timur”.

Puncak popularitas Orhan Pamuk terjadi ketika ia menerbitkan novel “Kara Kitap” (Buku Hitam) pada 1990, yang menjadi salah satu bacaan paling populer sekaligus kontroversial dalam sastra Turki karena kompleksitas dan kekayaan isinya. Ketika buku itu diterbitkan ulang pada 1995, buku itu disebut sebagai buku paling cepat terjual dalam sejarah Turki.

Sukses Pamuk secara internasional diperoleh setelah ia menerbitkan “Benim Adim Kirmizi” ( My Name is Red) , reviewnya bisa dibaca di sini ) pada tahun 2000. Novel itu mencampurkan teka-teki misteri, roman, dan filosofis, yang berlangsung di Istambul pada abad ke-16. Semenjak itu pula berbagai penghargaan di bidang literasi baik di dalam dan luar negeri diraihnya.

Secara keseluruhan, karya-karya Pamuk memiliki ciri mengenai kebingungan identitas yang sebagiannya ditimbulkan oleh konflik antara nilai-nilai Eropa dan Islam, memiliki plot yang rumit namun memikat, dengan karakter-karakter yang hidup.

Puncak sukses Pamuk sebagai seorang penulia adalah saat ia dianugerahi penghargaan Nobel Sastra 2006. Panitia Nobel Sastra dalam rilis resminya mengatakan bahwa :

"Penghargaan diberikan lantaran dia (Orhan Pamuk) mampu menemukan simbol-simbol baru dalam perselisihan dan persatuan kebudayaan"

@htanzil












________________


Sumber : http://bukuygkubaca.blogspot.com/2012/10/istanbul-kenangan-sebuah-kota-by-orhan.html