Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang (Referensi). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang (Referensi). Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

(Sudut Pandang/Referensi) - Bagaimana Aku Bisa Memilih Hiburan yang Bagus?







Bagaimana Aku Bisa Memilih Hiburan yang Bagus?

Kalau kamu seorang Kristen, kamu pasti selektif soal hiburan. Kamu tidak sekadar ikut-ikutan dengan kata orang lain tentang apa yang mesti kamu tonton, baca, atau dengarkan. Mengapa? Karena kebanyakan hiburan dewasa ini memuja hal-hal yang harus kamu hindari, seperti hubungan seks gelap, kekerasan, dan spiritisme. Walau demikian, ada hiburan yang bagus. Mari kita lihat bagaimana kamu bisa memilihnya.*


FILM


Di bawah ini, tandai ✔ di sebelah jenis film kesukaanmu.

○ Komedi
○ Drama
○ Laga/Petualangan
○ Fiksi ilmiah
○ Yang lain

Tahukah kamu . . . ? India sering memproduksi lebih dari seribu film per tahun—lebih banyak daripada negeri lain mana pun.

Apa yang perlu dihindari. Banyak film mempromosikan nilai-nilai yang bertentangan dengan standar Alkitab. Ada yang jelas-jelas menonjolkan adegan seks dan kekerasan, dan ada yang bertemakan hal gaib. Tetapi, Alkitab berkata, ”Singkirkan itu semua dari dirimu, kemurkaan, kemarahan, hal-hal yang buruk, cacian, dan perkataan cabul.” (Kolose 3:8) Juga, Allah mengutuk segala hal yang berkaitan dengan spiritisme.—Ulangan 18:10-13.

Bagaimana kamu bisa selektif. ”Kalau cuplikannya saja sudah enggak benar, aku enggak mau nonton film itu.”—Sherina.*

”Aku enggak pernah asal percaya kalau ada yang bilang filmnya bagus, kecuali aku tahu orang itu prinsipnya sama denganku.”—Katrin.

”Kalau aku lagi nonton film di bioskop dan mulai merasa risi sama adegannya, aku langsung keluar.”—Marina.

”Biar tahu bagus atau enggaknya film, aku cek dulu situs Internet yang memuat peringkat adegan seks, kekerasan, dan kata-kata kotor dalam setiap film.”—Natasha.

Tips: Carilah film yang kecil kemungkinannya berisi hal-hal yang tidak berterima. ”Aku suka banget film yang latarnya tempo dulu, yang diangkat dari sastra klasik,” kata remaja bernama Masami.

Pikirkanlah,

’Apakah film yang aku tonton memudahkan—atau menyulitkan—aku menaati hukum Allah mengenai seks, kekerasan, dan spiritisme?’





BUKU


Di bawah ini, tandai ✔ di sebelah jenis bahan bacaan kesukaanmu.

○ Fiksi
○ Nonfiksi
○ Novel klasik
○ Yang lain

Tahukah kamu . . . ? Lebih dari seribu buku diterbitkan setiap minggu di Amerika Serikat saja.
Apa yang perlu dihindari. Sama halnya dengan film, banyak buku mempromosikan nilai-nilai yang bertentangan dengan standar Alkitab. Misalnya, ada yang terang-terangan melukiskan adegan seks atau bertemakan spiritisme. Tetapi, Alkitab berkata, ”Mengenai percabulan dan setiap jenis kenajisan atau ketamakan, disebut saja pun jangan di antara kamu.” (Efesus 5:3) Alkitab juga mengatakan bahwa praktek spiritisme ”buruk di mata Yehuwa”.—2 Raja 17:17.

Bagaimana kamu bisa selektif. ”Sebelum beli sebuah buku, aku baca dulu sampul belakangnya dan lihat-lihat isinya. Kalau ada sesuatu yang meragukan, aku enggak jadi beli.”—Marie.

”Semakin dewasa dan mulai bisa bernalar, aku sadar pentingnya mendengarkan hati nurani. Kalau aku baca suatu buku lalu merasa itu jelek, aku akan berhenti membacanya karena isinya tidak sesuai dengan cara berpikir Allah.”—Karina.

Tips: Bacalah yang lain juga. ”Menurutku, lebih seru baca novel klasik daripada fiksi modern,” tutur Lara, 17 tahun. ”Pilihan katanya, perjalanan hidup tokohnya, alur ceritanya—keren habis deh!”

Pikirkanlah,
’Apakah buku yang aku baca membuat aku terhibur oleh tingkah laku yang tidak diperkenan Allah?’






MUSIK


Di bawah ini, tandai ✔ di sebelah jenis musik kesukaanmu.
○ Rock
○ Klasik
○ Jazz
○ Pop
○Rap
○ Yang lain

Tahukah kamu . . . ? Setiap tahun, ada total sekitar 30.000 album yang dirilis empat perusahaan-musik besar.

Apa yang perlu dihindari. Sama halnya dengan film dan buku, kebanyakan musik dewasa ini sangat bejat. Lirik yang tidak senonoh dan video musik yang vulgar justru makin menyulitkanmu mengendalikan dorongan seksual. (1 Korintus 6:18) ”Banyak musik sekarang ini menganjurkan perilaku yang berseberangan dengan standar Alkitab,” ujar Layla, 21 tahun, ”dan iramanya itu lho, bikin orang jadi ingin bergoyang sensual.”

Bagaimana kamu bisa selektif. ”Aku coba jujur sama diriku, ’Seandainya ada orang Kristen dewasa melihat-lihat daftar musikku, apa aku bakal malu?’ Ini menjadi pertimbangan bagiku untuk memilih jenis musik apa yang sebaiknya aku dengarkan.”—Liani.

Tips: Cobalah dengarkan beragam jenis musik. ”Papaku suka musik klasik, jadi dari kecil aku lumayan sering mendengarkannya,” kata remaja bernama Roberto. ”Mendalami musik klasik, sambil belajar main piano, membuka wawasanku!”

Pikirkanlah,

’Apakah musik yang aku dengarkan memudahkan—atau menyulitkan—aku mengendalikan hasrat seksualku?’

BACALAH JUGA!

Lihat buku Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis, Jilid 2, Pasal 31 dan 32, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

[Catatan Kaki]

Sedarlah! tidak menganjurkan ataupun mengecam judul film, buku, atau lagu komersial tertentu. Tujuan artikel ini adalah membantumu mengembangkan dan mengikuti hati nurani yang dilatih Alkitab, yang peka terhadap standar Allah.—Mazmur 119:104; Roma 12:9.

Beberapa nama dalam artikel ini telah diubah.

[Blurb di hlm. 19]

Industri hiburan tidak rugi—malah untung besar—kalau kamu mengabaikan hati nuranimu yang dilatih Alkitab dan ikut-ikutan menonton, membaca, atau mendengarkan apa pun yang sedang populer.

[Kotak/Gambar di hlm. 18]
  
 ”Banyak buku dan film yang enggak cocok sama standar Alkitab. Tapi, kalau aku menemukan yang cocok, aku jadi lebih menikmati ceritanya.” Adrian

[Gambar di hlm. 18]

[Kotak di hlm. 18]

TANYAI ORANG TUAMU
  
Apa bedanya hiburan sewaktu Papa dan Mama masih muda dengan hiburan sekarang? Bagaimana cerita Kakek dan Nenek tentang hiburan pada masa muda mereka dibanding masa muda Papa dan Mama?

[Kotak/Gambar di hlm. 19]

 ”Ada musik yang bisa bikin kita penasaran dengan hal-hal yang harus dijauhi orang Kristen. Jangan sampai kita cuek sama hati nurani kita hanya karena suka entakan musiknya.” Janiece

[Gambar di hlm. 19]




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102011408#h=18:0-29:107

(Sudut Pandang/Referensi) - BUKU







BUKU


 
Kata Ibrani se′fer (buku; surat; tulisan) berkaitan dengan kata kerja sa·far′ (hitung) dan kata benda so·fer′ (penulis; penyalin). (Kej 5:1; 2Sam 11:15; Yes 29:12; 22:10; Hak 5:14; Neh 13:13) Apabila digunakan untuk tulisan resmi, se′fer secara beragam diterjemahkan menjadi ”dokumen tertulis”, ”surat”, dan ”akta”. (Est 9:25; Yer 3:8; 32:11) Bi′blos adalah kata Yunani untuk ”buku”; bentuknya yang berimbuhan, bi·bli′on (harfiah, buku kecil), diterjemahkan menjadi ”kitab”, ”buku”, ”surat”, dan ”gulungan”. (Mrk 12:26; Ibr 9:19, Int; Mat 19:7; Luk 4:17) Kata bahasa Inggris ”Bible” (Alkitab) berasal dari kata-kata Yunani tersebut.—Lihat ALKITAB.

Pada masa awal, ”buku” mungkin berbentuk sebuah lempeng atau sekumpulan lempeng yang terbuat dari tanah liat, batu, lilin, kayu berlapis lilin, logam, gading, atau mungkin bahkan sekumpulan pecahan tembikar (ostraka). Gulungan-gulungan yang ditulis dengan tangan dibuat dari lembaran-lembaran papirus yang direkatkan, dari perkamen (kulit binatang, seperti kulit domba dan kambing), atau dari bahan yang lebih halus, yaitu vellum yang terbuat dari kulit lembu muda, dan belakangan, dari linen dan kertas linen. Akhirnya, yang disebut buku adalah sekumpulan lembaran bertulisan tangan atau bertulisan cetak yang dilipat dan disusun secara berurutan, kemudian dijilid menjadi sebuah bundel dengan diikat, dijahit, dilem, atau dengan cara lain.

Gulungan biasanya ditulisi pada satu sisi saja (jika terbuat dari kulit, sisi yang tadinya berbulu). Alat tulis ini kadang-kadang digulungkan pada sebatang tongkat. Si pembaca akan mulai membaca dari ujung yang satu, sambil menahan gulungan itu dengan tangan kiri dan menggulungnya pada tongkat dengan tangan kanan (jika membaca bahasa Ibrani; arahnya dibalik jika membaca bahasa Yunani). Apabila catatan itu panjang, gulungan ini mungkin digulungkan pada dua batang tongkat, dan bagian tengah teks akan terlihat sewaktu gulungan diangkat untuk dibaca. Oleh karena itu, kata ”volume” (jilid) dalam bahasa Inggris diambil dari kata Latin volumen, yang berarti sebuah ”gulungan”.

Umumnya lembaran yang digunakan untuk membuat gulungan panjangnya antara 23 sampai 28 cm dan lebarnya 15 sampai 23 cm. Beberapa lembaran disambung dengan merekatkan sisi-sisinya menggunakan pasta. Namun, lembaran-lembaran Gulungan Yesaya Laut Mati, dari abad kedua SM, dijahit menjadi satu dengan benang linen. Gulungan itu terdiri dari 17 lembaran perkamen yang rata-rata tingginya 26,2 cm dan lebarnya bervariasi dari kira-kira 25,2 cm hingga 62,8 cm; panjang seluruhnya 7,3 m berdasarkan kondisinya sekarang. Pada zaman Plinius, panjang gulungan (mungkin yang diperjualbelikan) biasanya 20 lembaran. Sebuah gulungan papirus Mesir yang memuat riwayat pemerintahan Ramses III, disebut Papirus Harris, panjangnya 40,5 m. Untuk Injil Markus pastilah diperlukan gulungan sepanjang 5,8 m; untuk Injil Lukas, sekitar 9,5 m.

Pinggiran-pinggiran gulungan dipotong, dihaluskan dengan batu apung, lalu diwarnai, biasanya hitam. Dengan dicelupkan ke dalam minyak pohon aras, gulungan akan terlindung dari serangga. Orang biasanya menulis pada satu sisi gulungan saja kecuali jika ada lebih banyak informasi yang tidak termuat di sisi dalam. Untuk itu, ada yang mungkin menulis di sisi luar, atau sisi sebaliknya. Gulungan-gulungan yang memuat penghakiman dalam penglihatan nabi Yehezkiel, nabi Zakharia, dan rasul Yohanes ditulisi pada kedua sisinya. Ini berarti penghakiman tersebut berat, ekstensif, dan serius.—Yeh 2:10; Za 5:1-3; Pny 5:1.

Dokumen-dokumen penting disegel dengan gumpalan tanah liat atau lilin yang dibubuhi cap meterai sang penulis atau pembuatnya, dan meterai itu direkatkan pada tali yang mengikat dokumen tersebut. Rasul Yohanes melihat dalam penglihatan sebuah gulungan dengan tujuh meterai, yang diserahkan oleh pribadi yang duduk di atas takhta kepada Anak Domba.—Pny 5:1-7.

Tampaknya gulungan-gulungan yang lebih awal memiliki sampai empat kolom per lembar, sedangkan yang belakangan umumnya hanya satu kolom. Gulungan Yeremia terdiri atas beberapa ”kolom halaman”. Setelah dibacakan tiga atau empat kolom, Raja Yehoyakim memotong bagian gulungan itu lalu melemparkannya ke api. (Yer 36:23) Ke-17 lembaran Gulungan Yesaya Laut Mati berisi 54 kolom teks, rata-rata sekitar 30 baris per kolom.

Buku berbentuk gulungan masih digunakan oleh orang Israel sampai periode sidang Kristen. Catatan-catatan dalam arsip pemerintah bangsa Israel dan Yehuda zaman dahulu serta tulisan-tulisan terilham para nabi Yehuwa, meski kadang-kadang disebut buku (kitab), sebenarnya berbentuk gulungan.—1Raj 11:41; 14:19; Yer 36:4, 6, 23.

Setelah pembuangan di Babilon, dimulailah pembangunan sinagoga-sinagoga, yang masing-masing menyimpan dan memanfaatkan gulungan-gulungan Tulisan-Tulisan Suci, dan pada setiap hari Sabat, gulungan-gulungan itu dibacakan di depan umum. (Kis 15:21) Yesus pun membaca dari gulungan semacam itu, yang mungkin mirip Gulungan Yesaya Laut Mati.—Luk 4:15-20.

Kodeks. Tampaknya, orang Kristen terutama menggunakan buku berbentuk gulungan setidaknya sampai kira-kira akhir abad pertama M. Rasul Yohanes menulis buku Penyingkapan kira-kira pada tahun 96 M, dan di pasal 22, ayat 18 dan 19, buku itu sendiri disebut sebagai gulungan. Tetapi buku berbentuk gulungan sangat besar dan berat. Sesudah peralihan bentuk kodeks dari buku catatan ke bentuk buku, jelas terlihat bahwa kodeks jauh lebih unggul daripada gulungan kuno. Misalnya, dibutuhkan gulungan sepanjang 31,7 m agar dapat memuat keempat Injil, sedangkan satu kodeks yang relatif kecil dapat menampung keempat Injil sekaligus. Selain itu, kodeks lebih ekonomis, karena kedua sisi halamannya dapat ditulisi. Lagi pula, penutup buku dapat sangat melindungi isinya, dan suatu keterangan dapat ditemukan dengan cepat tanpa perlu bersusah payah membuka gulungan demi gulungan.

Akan merepotkan, dan bahkan nyaris tidak mungkin, untuk mencari dengan cepat pernyataan tertentu dalam sebuah gulungan yang besar. Bukti-bukti menunjukkan bahwa orang Kristen langsung menerima penggunaan kodeks, atau buku berhalaman, karena mereka sangat berminat untuk memberitakan kabar baik dan sering membuka Alkitab serta merujuk ke banyak ayat sewaktu mempelajari dan memberitakan Alkitab.

Sekalipun mungkin bukan penemunya, orang Kristen telah memelopori penggunaan buku berhalaman; mengenai fakta ini, Profesor E. J. Goodspeed dalam bukunya Christianity Goes to Press (1940, hlm. 75, 76) menyatakan, ”Ada orang-orang dalam gereja masa awal yang sangat antusias terhadap peranan penerbitan bacaan di dunia Yunani-Romawi, yang, karena bergairah menyebarluaskan berita Kristen ke seluruh dunia itu, menggunakan segala macam teknik penerbitan, tidak hanya teknik tradisional yang sudah ketinggalan zaman, tetapi juga teknik yang paling baru serta paling progresif, dan memanfaatkan itu semua sepenuhnya dalam propaganda Kristen mereka. Untuk itu, mereka mulai menggunakan buku berhalaman dalam skala luas, yang kini digunakan di seluruh dunia. Injil yang mereka beritakan bukanlah suatu misteri yang khusus dan rahasia, melainkan sesuatu yang harus diumumkan di atas sotoh rumah, dan mereka menjadikannya sebagai pekerjaan mereka untuk melaksanakan slogan kuno para nabi, ’Umumkan kabar baik.’ Tentu saja, penulisan injil-injil itu merupakan hal yang luar biasa, tetapi pengumpulannya, dan juga penerbitannya sebagai sebuah karya, adalah tindakan yang sama sekali berbeda, yang hampir sama pentingnya dengan penulisan beberapa injil tersebut.”—Lihat juga Encyclopædia Britannica, 1971, Jil. 3, hlm. 922.

Berdasarkan pernyataan Profesor Sanders (yang diterbitkan dalam University of Michigan Quarterly Review, 1938, hlm. 109), Profesor Goodspeed mengemukakan dalam bukunya (hlm. 71) sebuah tabel untuk membandingkan antara temuan berupa karya-karya Yunani-Romawi dan temuan berupa karya-karya orang Kristen dari abad kedua, ketiga, dan keempat M, sehubungan dengan jumlah fragmen gulungan dan kodeks, atau buku berhalaman, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:


     YUNANI ROMAWI        KRISTEN
Abad  Gulungan  Kodeks     Gulungan  Kodeks
II                        1?       4
III      291     20         9?      38
IV      26     49          6?      64


Mengenai orang-orang Kristen masa awal selaku penerbit buku, Profesor Goodspeed selanjutnya mengatakan (hlm. 78), ”Mereka tidak hanya mengikuti zaman dalam hal-hal demikian, mereka bahkan mendahului zaman, dan para penerbit pada abad-abad berikutnya telah meniru mereka.” Lebih lanjut ia menyatakan (hlm. 99), ”Penerbitan Alkitablah yang memacu pengembangan buku berhalaman untuk tujuan kesusastraan pada abad kedua, dan penerbitan Alkitablah yang memacu penemuan mesin cetak.”

Profesor Goodspeed dengan berani berpendapat (hlm. 81), ”Pernyataan ganjil di II Tim. 4:13 ’Bawa . . . kitab-kitabku, terutama perkamen itu’, (kata-kata Yunaninya adalah biblia, membranas) membuat orang bertanya-tanya apakah biblia itu tidak memaksudkan gulungan-gulungan kitab orang Yahudi, dan membranai itu buku-buku berhalaman yang lebih baru yang berasal dari orang Kristen—injil-injil dan Paulus. Argumen Profesor Sanders dengan tegas menyiratkan bahwa di utara L. Tengah, buku-buku berhalaman pada mulanya kemungkinan besar terbuat dari perkamen.”

Palimpsest. Karena harganya mahal dan langka, alat tulis kadang-kadang digunakan kembali dan inilah yang disebut palimpsest. Manuskrip-manuskrip adakalanya dihapus sebagian dengan mengerik, membasahi dengan spons, atau dengan menggunakan berbagai ramuan untuk menghapus sebisa mungkin tulisan aslinya. Untuk papirus, tulisan dapat dihapus dengan spons jika tintanya masih cukup basah; atau, bisa juga tulisan lamanya dicoret, atau bagian belakangnya digunakan untuk menulis. Pada beberapa palimpsest, karena cuaca, dan kondisi-kondisi lainnya, tulisan yang asli mungkin tampak cukup jelas untuk diartikan. Di antaranya terdapat sejumlah manuskrip Alkitab, salah satu yang terkenal adalah Kodeks Efraem yang memuat sebagian Kitab-Kitab Ibrani dan Yunani yang diperkirakan ditulis pada abad ke-5 M, tetapi yang kemudian ditimpa dengan tulisan yang mungkin berasal dari abad ke-12.

Buku-Buku Lain yang Disebutkan dalam Alkitab. Alkitab menyebutkan sejumlah buku yang tidak terilham. Beberapa di antaranya menjadi sumber rujukan para penulis yang terilham. Ada yang tampaknya merupakan kumpulan jurnal dari arsip negara. Berikut ini beberapa di antaranya:

Buku Perang Yehuwa. Dikutip oleh Musa di Bilangan 21:14, 15; buku ini tentu merupakan catatan atau riwayat yang dapat diandalkan mengenai peperangan umat Allah. Buku ini mungkin diawali dengan peperangan Abraham yang berkemenangan melawan empat raja yang bersekutu yang menawan Lot beserta keluarganya.—Kej 14:1-16.

Buku Yasyar. Buku ini dikutip di Yosua 10:12, 13, sehubungan dengan permohonan Yosua agar matahari dan bulan tidak bergerak selama ia bertempur melawan orang Amori, dan di 2 Samuel 1:18-27, yang menyebutkan sebuah puisi berjudul ”Busur”, suatu nyanyian ratapan atas Saul dan Yonatan. Karena itu, ada anggapan bahwa buku ini merupakan kumpulan puisi, nyanyian, dan tulisan lainnya. Tentu saja buku-buku ini banyak diminati orang sepanjang sejarah dan banyak beredar di kalangan orang Ibrani.

Tulisan-tulisan sejarah lainnya. Beberapa tulisan sejarah lain yang tidak terilham disebutkan dalam buku Raja-Raja dan buku Tawarikh, salah satunya adalah ”buku catatan peristiwa pada masa raja-raja Israel”. (1Raj 14:19; 2Raj 15:31) ”Buku catatan peristiwa pada zaman raja-raja Yehuda” adalah padanannya untuk raja-raja dari kerajaan selatan, yang dimulai dari Rehoboam, putra Salomo. Buku ini disebutkan sebanyak 15 kali. (1Raj 14:29; 2Raj 24:5) Catatan lain mengenai pemerintahan Salomo disebutkan di 1 Raja-Raja 11:41 sebagai ”buku catatan peristiwa berkenaan dengan Salomo”.

Sewaktu menyusun dan menulis buku Tawarikh setelah pembuangan, Ezra merujuk sedikitnya 14 kali kepada sumber-sumber lain, termasuk ”Buku Raja-Raja Israel”, ”kisah tentang peristiwa-peristiwa pada masa Raja Daud”, dan ”Buku Raja-Raja Yehuda dan Israel”. (1Taw 9:1; 27:24; 2Taw 16:11; 20:34; 24:27; 27:7; 33:18) Ezra juga merujuk ke buku-buku yang ditulis oleh para penulis terilham sebelumnya. (1Taw 29:29; 2Taw 26:22; 32:32) Ezra menyebutkan bahwa nabi-nabi Yehuwa yang lain membuat catatan-catatan tertulis yang tidak dilestarikan dalam Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham. (2Taw 9:29; 12:15; 13:22) Nehemia menyebutkan tentang ”buku catatan peristiwa pada zaman itu”. (Neh 12:23) Alkitab juga menyebutkan dokumen-dokumen pemerintah Persia, yang mencakup laporan-laporan tentang dinas kepada sang raja, misalnya ketika Mordekai mengungkap rencana pembunuhan.—Ezr 4:15; Est 2:23; 6:1, 2; 10:2.

Penulis buku Pengkhotbah yang arif memperingatkan terhadap pembuatan banyak buku yang tiada akhirnya, yakni buku-buku yang merupakan hasil penalaran duniawi dan bertentangan dengan hikmat ilahi, yang tidak menanamkan pentingnya memiliki rasa takut kepada Allah yang benar dan menjalankan perintah-perintah Allah. (Pkh 12:12, 13) Contoh buku-buku seperti itu terdapat di Efesus, tempat merajalelanya spiritisme dan demonisme. Setelah pemberitaan kabar baik tentang Kristus, orang-orang yang percaya mengumpulkan buku-buku ilmu gaib mereka dan membakarnya di hadapan umum; harga semua buku itu ditaksir bernilai 50.000 keping perak (jika dinar, $37.200).—Kis 19:19.

Di Keluaran 17:14 ada perintah Yehuwa untuk menuliskan penghakiman-Nya terhadap Amalek dalam ”buku”, yang menyiratkan bahwa tulisan-tulisan Musa, yakni tulisan-tulisan pertama yang diketahui keterilhamannya, sudah mulai dibuat pada tahun 1513 SM.

Beberapa keterangan lain yang merujuk ke Alkitab atau bagian-bagiannya adalah: ”Buku perjanjian”, tampaknya berisi hukum-hukum yang diuraikan di Keluaran 20:22 sampai 23:33 (Kel 24:7); dan ”gulungan kitab”, yakni Kitab-Kitab Ibrani.—Ibr 10:7.

Sebagai Kiasan. Alkitab beberapa kali menggunakan kata ”buku” secara kiasan, misalnya dalam ungkapan ”bukumu [milik Allah]” (Kel 32:32), ”buku peringatan” (Mal 3:16), dan ”buku kehidupan” (Flp 4:3; Pny 3:5; 20:15). Tampaknya, ungkapan-ungkapan itu pada dasarnya memaksudkan hal yang sama, yakni semua ”buku” peringatan milik Allah agar Ia dapat memberikan upah berupa kehidupan kekal (di surga atau di bumi) kepada orang-orang yang namanya tertulis di situ. Ada syaratnya agar nama seseorang tertulis dalam ”buku” Allah, sebab Alkitab memperlihatkan bahwa nama orang dapat ’dihapus’ dari buku ini. (Kel 32:32, 33; Pny 3:5) Jadi, nama seseorang akan tetap tertulis dalam buku tersebut hanya apabila ia terus setia.—Lihat HIDUP, KEHIDUPAN.




___________________


Sumber :
http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/1200000789

Sabtu, 24 Januari 2015

(Sudut Pandang/Referensi) - Penderitaan


Seorang pria sedang duduk di reruntuhan sambil menatap foto dengan sedih




PANDANGAN ALKITAB



Penderitaan

Ada yang berpikir bahwa Allah yang membuat manusia menderita atau paling tidak, Ia tak peduli. Tapi, apakah itu yang Alkitab ajarkan? Anda mungkin terkejut dengan jawabannya.

Apakah Allah yang membuat kita menderita?
”Allah Yang Mahakuasa tidak melakukan kejahatan.”Ayub 34:12, Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK).

APA KATA ORANG Ada yang berkata bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Allah. Jadi, mereka percaya bahwa Allah yang membuat kita menderita. Misalnya, mereka berpikir bahwa bencana alam adalah hukuman Allah untuk orang-orang berdosa.

APA KATA ALKITAB Allah tidak membuat kita menderita. Alkitab berkata bahwa sewaktu kita menghadapi cobaan, sungguh salah jika kita berkata, ”Aku sedang dicobai Allah.” Mengapa salah? ”Karena sehubungan dengan hal-hal yang jahat Allah tidak dapat dicobai dan dia juga tidak mencobai siapa pun.” (Yakobus 1:13) Jadi, Allah tidak pernah memberi kita cobaan, ataupun penderitaan akibat cobaan itu. Perbuatan seperti itu jahat, sedangkan ”Allah Yang Mahakuasa tidak melakukan kejahatan”.—Ayub 34:12, BIMK.

Jika bukan Allah, lalu siapa atau apa yang menyebabkan kita menderita? Manusia sering ditindas oleh manusia tak sempurna lainnya. (Pengkhotbah 8:9) Ditambah lagi, kita bisa mengalami malapetaka karena ”kejadian yang tidak terduga”, yaitu karena berada pada tempat dan waktu yang salah. (Pengkhotbah 9:11) Alkitab mengajarkan bahwa yang paling bertanggung jawab atas penderitaan manusia adalah ”penguasa dunia ini”, Setan Si Iblis, karena ”seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik” itu. (Yohanes 12:31; 1 Yohanes 5:19) Setan—bukan Allah—yang membuat orang-orang menderita.

Apakah Allah peduli dengan penderitaan kita?
”Selama kesesakan mereka, hal itu menyesakkan baginya.”Yesaya 63:9.

APA KATA ORANG Ada yang berpikir bahwa Allah tidak peduli dengan cobaan yang kita hadapi. Misalnya, seorang penulis mengutip apa yang ia sebut sebagai sikap Allah yang ”jelas-jelas tidak kasihan melihat penderitaan kita”. Penulis ini menegaskan bahwa kalaupun Allah memang ada, Ia pasti sudah ”mati rasa” terhadap manusia.

APA KATA ALKITAB Alkitab tidak menggambarkan Allah sebagai pribadi yang tak berbelaskasihan. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa Allah sangat sedih melihat penderitaan kita dan akan segera mengakhirinya. Perhatikan tiga kebenaran yang menghibur dari Alkitab.

Allah tahu penderitaan kita. Sejak manusia pertama kali menderita, tak ada setetes air mata pun yang luput dari perhatian Yehuwa,* yang ”matanya sendiri memperhatikan” segala sesuatu. (Mazmur 11:4; 56:8) Dahulu, sewaktu para penyembah-Nya ditindas, Allah berkata, ”Aku telah melihat penderitaan umatku.” Tapi, apakah Ia hanya sekadar melihat kepedihan mereka? Tidak, karena Ia menambahkan, ”Aku tahu benar kepedihan yang mereka derita.” (Keluaran 3:7) Banyak orang sudah merasa terhibur dengan mengetahui kebenaran itu saja, yaitu bahwa Allah tahu segala penderitaan kita, termasuk yang orang lain mungkin tidak ketahui atau mengerti.—Mazmur 31:7; Amsal 14:10.

Allah sedih melihat kita menderita. Allah Yehuwa tidak hanya tahu tentang penderitaan manusia, tapi juga sedih melihatnya. Misalnya, Allah benar-benar resah sewaktu para penyembah-Nya di zaman dulu menghadapi cobaan. Alkitab berkata, ”Selama kesesakan mereka, hal itu menyesakkan baginya.” (Yesaya 63:9) Meski jauh lebih berkuasa daripada manusia, Allah berempati terhadap orang-orang yang menderita, seolah-olah kepedihan mereka ada dalam hati-Nya! Ya, ”Yehuwa sangat lembut dalam kasih sayang dan ia berbelaskasihan”. (Yakobus 5:11) Selain itu, Yehuwa membuat kita mampu menanggung penderitaan kita.—Filipi 4:12, 13.

Allah akan mengakhiri semua penderitaan manusia. Menurut Alkitab, Allah akan mengakhiri penderitaan semua manusia di planet ini. Melalui Kerajaan surgawi-Nya, Yehuwa akan membuat keadaan manusia berubah total, menjadi lebih baik. Mengenai masa itu, Alkitab berjanji bahwa Allah ”akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu”. (Penyingkapan [Wahyu] 21:4) Bagaimana dengan orang-orang yang telah meninggal? Allah akan menghidupkan mereka kembali di bumi ini agar mereka juga bisa menikmati kehidupan yang bebas penderitaan. (Yohanes 5:28, 29) Akankah ada yang dibayang-bayangi ingatan menyedihkan tentang penderitaan di masa lalu? Tidak, karena Yehuwa berjanji, ”Hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, ataupun timbul lagi di dalam hati.”—Yesaya 65:17.*

[Catatan Kaki]

Yehuwa adalah nama Allah yang disebutkan dalam Alkitab.

Mengenai alasan Allah mengizinkan penderitaan untuk sementara dan bagaimana Ia akan mengakhirinya, lihat pasal 8 dan pasal 11 buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? yang diterbitkan Saksi-Saksi Yehuwa. Juga tersedia di www.jw.org/id.




_____________________


Sumber : Majalah Sedarlah! Januari 2015

Kamis, 08 Januari 2015

(Sudut Pandang (Referensi) - Perenungan



Pria yang sedang merenung





 PANDANGAN ALKITAB

Perenungan

Apa perenungan itu?

”Aku pasti akan merenungkan semua kegiatanmu, dan aku akan memikirkan perbuatan-perbuatanmu.”Mazmur 77:12.

 

APA KATA ORANG


Dalam bahasa-bahasa tertentu, kata ”perenungan” mirip dengan ”meditasi”. Karena itu, ada yang mengira bahwa dua kata ini memaksudkan hal yang sama. Meditasi memiliki banyak jenis, yang beberapa di antaranya berasal dari agama-agama Timur zaman dulu. ”Pikiran harus dikosongkan agar dapat melihat dengan jelas,” kata J. Krishnamurti, seorang pakar meditasi. Kata-kata itu menunjukkan bahwa mengosongkan pikiran sambil memusatkan perhatian pada kata-kata atau gambar-gambar tertentu dapat menciptakan kedamaian batin, kejernihan pikiran, dan pencerahan.

 

APA KATA ALKITAB


Menurut Alkitab, perenungan sangat penting. (1 Timotius 4:15) Perenungan yang dimaksud Alkitab bukanlah meditasi, atau mengosongkan pikiran atau mengulangi kata atau frasa tertentu, yang kadang disebut mantra. Menurut Alkitab, merenung berarti memikirkan hal-hal yang bermanfaat, seperti sifat-sifat Allah, prinsip-prinsip-Nya, dan ciptaan-Nya. Seorang hamba Allah yang setia berdoa, ”Aku merenungkan semua kegiatanmu; aku dengan rela terus memikirkan pekerjaan tanganmu.” (Mazmur 143:5) Ia juga berkata, ”Apabila aku mengingat engkau di peraduanku, sepanjang giliran jaga malam aku merenungkan engkau.”Mazmur 63:6.

 Apa manfaat perenungan?


”Hati orang adil-benar merenung agar dapat menjawab.”Amsal 15:28.

 

APA KATA ALKITAB


Dengan merenung, kita bisa memiliki sifat-sifat baik, mengendalikan emosi, dan berani melakukan yang benar. Itu semua akan membuat tutur kata dan sikap kita lebih bijak. (Amsal 16:23) Hasilnya, kehidupan kita bisa lebih bahagia dan memuaskan. Mengenai orang yang biasa merenung tentang Allah, Mazmur 1:3 menyatakan, ”Ia pasti akan menjadi seperti sebuah pohon yang ditanam dekat aliran-aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan yang dedaunannya tidak menjadi layu, dan segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil.”

Perenungan juga membantu kita meningkatkan kemampuan memahami dan mengingat. Sebagai contoh, ketika kita belajar tentang ciptaan Allah atau topik Alkitab tertentu, kita mendapat banyak fakta menarik. Tetapi, ketika kita merenungkan fakta-fakta tersebut, kita jadi tahu bahwa itu semua berkaitan dengan satu sama lain dan juga dengan apa yang pernah kita pelajari. Maka, seperti seorang pembangun mengubah bahan-bahan bangunan menjadi rumah yang bagus, perenungan membantu kita menyatukan fakta-fakta menjadi pola yang saling berkaitan.

Bagaimana cara merenung yang benar?

 

”Hati lebih licik daripada apa pun juga dan nekat. Siapakah yang dapat mengetahuinya?”Yeremia 17:9.

 

APA KATA ALKITAB


”Dari dalam, dari hati orang, keluar pertimbangan yang merugikan: percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keinginan akan milik orang lain, kefasikan, tipu daya, tingkah laku bebas, mata dengki, . . . sikap tidak masuk akal.” (Markus 7:21, 22) Ya, seperti api, perenungan harus dikendalikan! Jika tidak, sewaktu kita merenung, bisa muncul pikiran-pikiran yang salah yang kemudian berubah menjadi keinginan yang salah. Lalu, karena tidak terkendali, keinginan itu menjadi perbuatan jahat.Yakobus 1:14, 15.

Maka, Alkitab menganjurkan kita untuk merenungkan hal-hal yang ’benar, adil, murni, menyenangkan, patut dibicarakan, bajik, dan patut dipuji’. (Filipi 4:8, 9) Jika kita memikirkan hal-hal yang baik demikian, kita akan memiliki sifat-sifat baik, perkataan yang menyenangkan, dan hubungan yang hangat dengan orang lain.Kolose 4:6.




____________________

Sumber :

SADARLAH! MEI 2014

Jumat, 19 Desember 2014

(Sudut Pandang) - Mengapa Ada Begitu Banyak Agama ?



Gambar seorang pria yang sedang berdiri di depan berbagai tempat ibadat


PANDANGAN ALKITAB

Agama

Mengapa ada begitu banyak agama?



”Dengan melepaskan perintah Allah, kamu berpegang erat pada tradisi manusia.”Markus 7:8.

APA KATA ALKITAB Orang-orang secara alami mempunyai ”kebutuhan rohani” yang hanya bisa dipenuhi jika mereka menyembah Allah. (Matius 5:3) Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang-orang membuat banyak agama yang didasarkan pada pemikiran manusia, bukan pemikiran Allah.

Misalnya, mengenai jemaat sebuah agama di abad pertama, Alkitab berkata, ”Mereka mempunyai gairah untuk Allah; tetapi tidak menurut pengetahuan yang saksama; sebab, oleh karena tidak mengetahui keadilbenaran Allah tetapi berupaya menetapkan keadilbenaran mereka sendiri, mereka tidak menundukkan diri kepada keadilbenaran Allah.” (Roma 10:2, 3) Demikian pula dewasa ini, ada banyak sekali agama yang ”mengajarkan perintah manusia sebagai doktrin”.—Markus 7:7.

Apakah perlu menganut suatu agama?

”Biarlah kita memperhatikan satu sama lain untuk menggerakkan kepada kasih dan perbuatan yang baik, dengan tidak mengabaikan pertemuan kita.”Ibrani 10:24, 25.

APA KATA ALKITAB Dalam Ibrani 10:25, Alkitab menasihati kita untuk ”tidak mengabaikan pertemuan kita”. Itu berarti bahwa Allah ingin agar orang-orang beribadat dalam suatu kelompok yang terorganisasi. Namun, apakah mereka bisa punya pendapat sendiri-sendiri tentang siapa Allah itu dan apa yang Ia kehendaki? Tidak, karena Alkitab berkata bahwa semua orang yang menyembah Allah dengan cara yang Ia perkenan hendaknya ”selaras dalam hal berbicara” dan ”bersatu dengan sepatutnya dalam pikiran yang sama dan dalam jalan pikiran yang sama”. (1 Korintus 1:10) Mereka beribadat secara terorganisasi dalam sidang-sidang jemaat dan ’mengasihi segenap persekutuan saudara-saudara’. (1 Petrus 2:17; 1 Korintus 11:16) Jika mau menyenangkan Allah, kita perlu beribadat secara terpadu dan terorganisasi seperti itu.

Apakah agama yang sejati bisa dikenali?

”Dengan inilah semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridku, jika kamu mempunyai kasih di antara kamu.”Yohanes 13:35.

APA KATA ALKITAB Alkitab menggambarkan bagaimana kita bisa mengenali penganut agama yang sejati. Alkitab berkata, ”Dari buah-buahnya kamu akan mengenali mereka. Tidak pernah orang mengumpulkan buah anggur dari tanaman berduri atau buah ara dari rumput duri, bukan?” (Matius 7:16) Anda tidak perlu menjadi pakar tumbuh-tumbuhan untuk dapat membedakan pohon ara dengan rumput duri. Demikian juga, Anda tidak perlu menjadi pakar agama untuk dapat membedakan agama yang sejati dengan yang palsu. Apa saja buah-buah, atau ciri-ciri, agama yang sejati?

• Agama yang sejati mengajarkan kebenaran dari Firman Allah, Alkitab. (Yohanes 4:24; 17:17) Itu tidak didasarkan pada filsafat manusia.
• Agama yang sejati membantu orang-orang mengenal Allah, termasuk mengetahui nama-Nya, Yehuwa.—Yohanes 17:3, 6.
• Agama yang sejati menonjolkan Kerajaan Allah, bukan pemerintahan manusia, sebagai satu-satunya harapan umat manusia.—Matius 10:7; 24:14.
• Agama yang sejati menjunjung tinggi kasih kepada sesama. (Yohanes 13:35) Agama itu mengajar orang-orang untuk menghormati semua kelompok etnik, menggunakan waktu dan sumber daya untuk membantu orang lain, dan tidak ikut dalam peperangan.—Mikha 4:1-4.
• Agama yang sejati adalah jalan hidup, bukan sekadar rutinitas. Anggotanya mempraktekkan apa yang mereka ajarkan.—Roma 2:21; 1 Yohanes 3:18.

Saksi-Saksi Yehuwa, penerbit majalah ini, berupaya keras untuk menghormati Allah melalui perkataan dan tingkah laku mereka. Cobalah cari tahu tentang mereka dengan menghadiri pertemuan ibadat di salah satu Balai Kerajaan mereka.

Untuk mengetahui waktu dan tempat pertemuan ibadat di Balai Kerajaan terdekat, kunjungi situs Web kami, www.jw.org/id. Temukan di MENGENAI KAMI > PERTEMUAN IBADAH.

[Blurb di hlm. 14]

Agama yang sejati adalah jalan hidup, bukan sekadar rutinitas




_____________________

Sumber :

Kamis, 06 November 2014

(Sudut Pandang) - Apakah Berita di Media Bisa Dipercaya ?




BANYAK orang ragu akan berita yang mereka baca atau dengar di media. Perhatikan saja hasil sebuah jajak pendapat oleh lembaga Gallup di Amerika Serikat pada 2012 tentang berita di koran, TV, dan radio. Mereka ditanyai, apakah mereka yakin bahwa berita-berita itu cukup akurat, berimbang, dan utuh. Hasilnya, 6 dari 10 orang menjawab ”kurang yakin” atau ”tidak yakin sama sekali”. Apakah keraguan mereka beralasan?

Memang ada banyak wartawan dan organisasi media yang mengaku berkomitmen untuk menyampaikan berita yang penting dan akurat. Tapi, tetap saja ada yang bisa membuat sebuah informasi kurang andal. Misalnya:




BOS MEDIA. Beberapa media massa dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang berpengaruh. Ini bisa sangat menentukan pilihan berita, cara penyampaian, serta besarnya liputan. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan itu bertujuan mencari untung. Karena alasan ini, berita-berita yang tidak menguntungkan para bos media tersebut biasanya tidak akan diliput.




PEMERINTAHAN. Ada banyak berita di media massa yang berkaitan dengan politisi dan pemerintahan. Kalangan pemerintah sering kali berupaya meyakinkan masyarakat untuk mendukung pejabat tertentu atau kebijakan tertentu. Dan, karena media membutuhkan bahan berita dari pemerintah, tak heran jika para jurnalis dan narasumber pemerintah kadang bekerja sama.




IKLAN. Di kebanyakan negeri, media massa harus punya pemasukan agar bisa terus beroperasi. Sumber pemasukan terbesar mereka adalah iklan. Di Amerika Serikat, industri majalah mendapatkan 50 hingga 60 persen pemasukan mereka dari iklan; surat kabar 80 persen; stasiun televisi dan radio 100 persen. Tentu saja, para pengiklan tidak akan mau mensponsori program yang bisa menjatuhkan citra produk dan perusahaan mereka. Jika mereka tidak suka dengan liputan-liputan suatu media, mereka akan mencari media lain. Akibatnya, para editor mungkin akan menghindari berita-berita yang bisa merugikan pengiklan.




PENIPUAN. Tidak semua wartawan jujur. Kadang ada yang suka membuat-buat cerita. Misalnya, beberapa tahun lalu, seorang wartawan Jepang ingin meliput perusakan koral oleh para penyelam di Okinawa. Karena tak kunjung berhasil menemukan kerusakan semacam itu, dia pun merusak beberapa koral dan memotretnya. Selain itu, foto juga bisa direkayasa untuk menipu masyarakat. Kini, dengan perangkat yang semakin canggih, hasil rekayasa sebuah foto bisa sangat mulus sampai tidak ada yang menyadarinya.




PEMELINTIRAN. Suatu informasi, meskipun benar, dapat dipelintir sedemikian rupa untuk menyiratkan kesan tertentu. Beberapa fakta sengaja tidak disebutkan, sementara yang lain sengaja diselipkan. Contohnya, mungkin sebuah tim sepak bola diberitakan kalah 2-0 dari lawannya. Itu memang fakta. Tapi bisa jadi belakangan para wartawan membumbuinya dengan dugaan-dugaan mengapa tim itu kalah.




PENGHILANGAN. Ketika merangkai suatu berita, para jurnalis sering kali sengaja menghilangkan rincian yang rumit atau yang bisa membuat pemirsa bertanya-tanya. Akibatnya, beberapa fakta jadi lebih menonjol, sementara fakta lainnya kurang tersorot. Beberapa pembaca berita dan reporter kadang harus menyampaikan berita yang panjang dalam waktu satu atau dua menit saja. Akibatnya, beberapa rincian penting terpaksa dipotong.




PERSAINGAN. Beberapa puluh tahun belakangan, jumlah stasiun televisi semakin berlipat ganda. Persaingan untuk menjaring penonton pun semakin ketat. Stasiun televisi akhirnya harus berjuang keras untuk menyampaikan berita yang menghibur atau unik. Menurut buku Media Bias, berita televisi kini terus-menerus menampilkan gambar-gambar yang mencengangkan atau memikat, dan berita sengaja dibuat singkat agar penonton tidak cepat bosan.




KEKELIRUAN. Jurnalis juga manusia; mereka bisa tanpa sengaja membuat kekeliruan. Salah ejaan, salah koma, dan salah tata bahasa—semuanya bisa mengubah arti sebuah kalimat. Fakta-fakta tertentu mungkin tidak diperiksa lebih dulu. Karena tuntutan kejar tayang atau kejar cetak, mereka juga bisa salah ketik angka. Misalnya, seharusnya 10.000 malah diketik 100.000.




DUGAAN YANG SALAH. Menyajikan berita yang akurat tidaklah semudah yang dibayangkan. Yang hari ini dianggap benar, bisa saja besok sudah terbukti salah. Misalnya, dulu orang berpikir Bumi adalah pusat tata surya. Sekarang kita tahu bahwa ternyata pusat tata surya adalah Matahari.

Menyikapi Berita dengan Seimbang

Meskipun kita sebaiknya tidak memercayai semua berita, bukan berarti tidak ada berita yang bisa kita percaya. Kuncinya adalah berhati-hati, sambil tetap berpikiran terbuka.

Alkitab mengatakan, ”Bukankah telinga yang menguji kata-kata sebagaimana langit-langit mengecap makanan?” (Ayub 12:11) Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa diperhatikan sewaktu menyaring berita yang kita dengar dan baca:

SIAPA YANG MEMBERITAKAN: Apakah media atau orang yang memberitakannya punya reputasi yang baik? Apakah acara atau media cetak yang meliput berita itu dikenal sering memublikasikan berita yang tepercaya atau hanya yang sensasional? Siapa sumber dana media itu?

NARASUMBER: Apakah informasi yang diberikan sudah diperiksa dengan saksama? Apakah informasinya hanya dari satu narasumber? Apakah para narasumbernya bisa diandalkan, berimbang, dan objektif? Apakah mereka menyampaikan informasinya dari berbagai sudut pandang?

TUJUAN BERITA: Coba pikirkan, ’Apakah berita itu tujuannya untuk memberikan informasi atau untuk menghibur? Apakah ada embel-embel promosi di baliknya?’

KESAN YANG DIBERIKAN: Jika berita itu mengandung kesan kemarahan, kebencian, ketidaksetujuan, berita itu bisa jadi sebenarnya dimaksudkan untuk menyerang pihak tertentu.

KESELARASAN: Apakah fakta-fakta yang disampaikan selaras dengan artikel atau laporan yang lain? Kalau beritanya saling bertentangan, waspadalah!

KAPAN BERITANYA DILIPUT: Apakah berita itu up-to-date? Apa yang menjadi fakta 20 tahun lalu, sekarang mungkin sudah tidak dianggap benar. Sebaliknya, jika yang diliput adalah peristiwa yang baru saja terjadi, bisa jadi informasi yang disampaikan masih kurang lengkap.

Jadi, apakah Anda bisa memercayai berita di media? Salomo yang bijak pernah menulis nasihat ini, ”Orang yang kurang berpengalaman percaya pada setiap perkataan, tetapi orang yang cerdik mempertimbangkan langkah-langkahnya.”—Amsal 14:15.


[Gambar di hlm. 7]
[Gambar di hlm. 4]
[Gambar di hlm. 4]
[Gambar di hlm. 5]
[Gambar di hlm. 5]
[Gambar di hlm. 5]
[Gambar di hlm. 5]
[Gambar di hlm. 6]
[Gambar di hlm. 6]
[Gambar di hlm. 6]
[Kotak di hlm. 6, 7]


Mengenai Majalah Ini




Majalah Sedarlah! disajikan melalui riset yang saksama. Sewaktu mengulas sebuah topik, kami berupaya mencari tahu semua fakta, tokoh, dan kutipan. Majalah ini tidak dipengaruhi oleh aktivis, perusahaan, atau pemerintahan mana pun. Majalah ini bisa tersedia karena dukungan sukarela. Orang-orang yang membagikan majalah ini adalah orang-orang yang meyakini Alkitab sebagai Firman Allah dan meyakini kebenaran di dalamnya.

[Gambar]




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013442

Rabu, 05 November 2014

(Sudut Pandang) - POTRET MASA LALU Plato





POTRET MASA LALU
Plato


Plato (± 427-347 SM) adalah filsuf Yunani kafir. Ia lahir di Athena dalam keluarga ningrat dan menerima pendidikan yang biasa didapat anak muda Yunani yang kaya. Ia sangat dipengaruhi oleh filsuf terkenal Sokrates dan oleh para pengikut Pythagoras, seorang filsuf dan matematikawan.

SETELAH berkeliling di kawasan Mediterania dan terlibat dalam politik di Sirakuse, kota Yunani di Sisilia, Plato kembali ke Athena, tempat ia mendirikan Akademi. Akademi ini, yang sering disebut-sebut sebagai universitas pertama di Eropa, menjadi pusat penelitian matematika dan filosofi.

MENGAPA ANDA PERLU TAHU?

Ajaran Plato sangat berpengaruh terhadap kepercayaan religius jutaan orang, termasuk orang yang mengaku Kristen, yang kebanyakan dengan keliru mengira bahwa berbagai kepercayaan ini berdasarkan Alkitab. Ajaran utama Plato adalah konsep bahwa manusia punya jiwa yang tidak dapat mati meskipun tubuh jasmani mati.

Plato sangat berminat akan kehidupan setelah kematian. Buku Body and Soul in Ancient Philosophy berkata bahwa ”jiwa yang tidak dapat mati adalah salah satu topik kesukaan Plato”. Ia begitu yakin bahwa ”jiwa tetap hidup walau wujudnya sekarang mati, untuk mendapat upah atau hukuman yang pantas di akhirat, berdasarkan cara hidup seseorang selama di bumi”.*

BAGAIMANA AJARAN PLATO MENYEBAR?

Selama sembilan abad Akademi Plato berdiri, dari 387 SM sampai 529 M, pengaruhnya sangat besar. Gagasan Plato menjadi populer di negeri-negeri yang dikuasai Yunani dan Romawi. Filsuf Yahudi Filo dari Aleksandria menerima ajaran Plato, sama seperti banyak pemimpin agama dalam Susunan Kristen. Hasilnya, konsep filosofis kafir, termasuk jiwa yang tidak dapat mati, menyusup ke dalam ajaran Yudaisme dan Kekristenan.

”Semua teologi Kristen bergantung, sedikit banyak, pada filsafat Yunani modern, terutama ajaran Plato,” kata The Anchor Bible Dictionary, ”tetapi beberapa pemikir Kristen . . . lebih cocok disebut Platonis Kristen.” Bandingkan apa yang dikatakan beberapa sumber berikut.

Apa kata Plato: ”[Pada waktu mati,] sesuatu yang adalah diri kita yang sebenarnya, dan yang kita sebut jiwa yang tidak dapat mati, pergi menghadap dewa-dewi lain, di sana . . . untuk memberikan pertanggungjawaban,—prospek yang dihadapi dengan berani oleh orang baik, tetapi dengan rasa takut yang hebat oleh orang jahat.”—Plato—Laws, Buku XII.

Apa kata Alkitab: Jiwa adalah orang itu sendiri atau kehidupan yang ia nikmati. Bahkan binatang adalah jiwa. Sewaktu mati, jiwa itu tidak ada lagi.* Perhatikan beberapa ayat berikut:

▪ ”Manusia pertama, Adam, menjadi jiwa yang hidup.”—1 Korintus 15:45.
▪ ”Selanjutnya Allah berfirman, ’Biarlah bumi mengeluarkan jiwa-jiwa yang hidup menurut jenisnya, binatang peliharaan dan binatang merayap dan binatang liar di bumi.’”—Kejadian 1:24.
▪ ”Biarlah jiwaku mati.”—Bilangan 23:10.
▪ ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.”—Yehezkiel 18:4.




Jelaslah, Alkitab tidak mengajarkan bahwa jiwa tetap hidup saat tubuh jasmani mati. Jadi, pikirkanlah, ’Apakah kepercayaan saya berdasarkan Alkitab atau filsafat Plato?’

[Catatan Kaki]

Meski Plato memopulerkan gagasan jiwa yang tidak dapat mati, ia bukan yang pertama mencetuskannya. Dalam berbagai bentuk, konsep itu sudah lama menjadi bagian dari agama kafir, antara lain dari Mesir dan Babilonia.

Alkitab mengajarkan bahwa orang mati seolah sedang tidur, menantikan kebangkitan. (Pengkhotbah 9:5; Yohanes 11:11-14; Kisah 24:15) Kontrasnya, jiwa yang tidak dapat mati tidak membutuhkan kebangkitan.

[Gambar di hlm. 12]

[Blurb di hlm. 13]

”Jiwa yang tidak dapat mati adalah salah satu topik kesukaan Plato.”—Body and Soul in Ancient Philosophy

[Kotak di hlm.  13]

”Gagasan bahwa jiwa akan tetap hidup setelah kematian tidak terlihat dengan jelas dalam Alkitab.”—New Catholic Encyclopedia.

”Baru pada masa pasca-Alkitab, kepercayaan yang jelas dan tegas berkenaan jiwa yang tidak berkematian diteguhkan . . . dan menjadi salah satu batu penjuru dari iman Yahudi dan Kristen.” (Cetak miring red.)—Encyclopaedia Judaica.

”Kepercayaan bahwa jiwa terus hidup setelah tubuh membusuk merupakan soal spekulasi filosofis atau teologis . . . dan karenanya itu sama sekali tidak diajarkan dalam Tulisan-Tulisan Kudus.”—The  Jewish Encyclopedia.

[Gambar]

[Kotak di hlm. 12]


SEKILAS FAKTA

▶ Plato dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh dalam sejarah kebudayaan Barat.
▶ Sewaktu muda, ia tertarik kepada politik tetapi belakangan merasa sangat dikecewakan.
▶ Ia belakangan menulis tentang etika, keadilan, pengetahuan, kesahajaan, kesalehan, jiwa, dan kepahlawanan.
▶ Murid Plato yang paling terkenal adalah Aristoteles, yang menjadi pendidik, filsuf, dan ilmuwan.




____________________

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102013048