Tampilkan postingan dengan label Kisah Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Perang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2015

(Kisah Perang) - Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura




Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura
 

B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga




Merdeka.com - Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.

Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.

TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.

Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.

Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.

"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.

Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.

Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.

Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.

"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.

Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.

Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.

Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.

Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar.





_____________________

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tni-au-mau-bom-pangkalan-jet-tempur-inggris-di-singapura.html

Kamis, 18 Juni 2015

(Kisah Perang) - Kisah para tentara Islam berjuang di perang kemerdekaan Amerika


Kisah para tentara Islam berjuang di perang kemerdekaan Amerika

perang kemerdekaan amerika. ©althistory.wikia.com



Merdeka.com - Sejarah perang kemerdekaan Amerika Serikat melawan Inggris tak bisa dilepaskan dari sejumlah tentara Muslim. Mereka ikut bertempur dengan gagah untuk negara baru yang merdeka tahun 1776 itu.

Sosiolog AS Dr Craig Considine menulis sebuah artikel soal para pejuang Muslim ini. Tulisannya yang berjudul 'Honoring Muslim American Veterans on Memorial Day' dimuat di Huffington Post.

Di bawah Tentara Kontinental pimpinan George Washington, ada nama Bampett Muhammad. Dia bertempur untuk Barisan Virginia sejak tahun 1775.

Lalu ada nama Peter Buckminster yang dicatat dalam sejarah militer AS. Dia menembak mati Major Jenderal John Pitcairn, seorang panglima Inggris di pertempuran Bunker Hill.

Setelah mendapatkan kemerdekaannya sebagai budak. Buckminster mengganti namanya dengan Salem. Asal katanya Salam, yang berarti damai dalam Bahasa Arab. Salem kemudian kembali mendaftar sebagai sukarelawan dan bertempur dengan gagah berani di pertempuran Saratoga dan pertempuran Stony Point.

"Saat itu Washington yang menjadi komandan pasukan," kata Dr Craig Considine, yang ahli dalam sejarah hubungan Islam dan Katolik di AS.

Considine berpendapat, kehadiran pasukan Muslim di barisan Jenderal Washington itu menunjukkan kebebasan beragama di pasukannya. Tak masalah apa pun kepercayaan mereka selama mau bertempur untuk kemerdekaan AS.

Di pasukan Jenderal Thomas Sumter, seorang pria asal Afrika Utara bernama Yusuf Ben Ali ikut berperang. Pria yang dikenal dengan nama Joseph Benhaley bergabung dengan pasukan Carolina Utara.

Setelah perang kemerdekaan usai, Amerika terjebak dalam perang saudara antara daerah Utara yang menentang perbudakan dan Selatan yang ingin terus melegalkan perbudakan. Kembali sejumlah prajurit yang beragama Islam ikut berperang.

Banyak dari mereka bergabung di Resimen Massachusetts ke-55. Yang terkenal dengan julukan All African Amerikan. Seorang bernama Muhammad Ali bin Said yang kemudian mengganti nama menjadi Nicholas Said berhasil meraih pangkat sersan.

Seperti yang dikatakan Considine, peran Muslim di ketentaraan AS sudah dimulai sejak era para pendiri negara adidaya tersebut. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.
[ian]




___________________

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-para-tentara-islam-berjuang-di-perang-kemerdekaan-amerika.html














Kamis, 18 Desember 2014

(Kisah Perang) - AU di Tengah AD



Komodor Udara Ignatius Dewanto. Foto: public domain.

















Dua perwira AU melerai pertempuran dua pasukan AD di "rumahnya" Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma.

OLEH: MF MUKTHI



PAGI, 2 Oktober 1965. Pilot Komodor Udara Ignatius Dewanto dan kopilot Kapten Udara Willy Kundimang mendaratkan Cessna L-180 tanpa pemandu di Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim Perdanakusuma. Setelah memarkir pesawat, keduanya turun.

Tiga anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) –kini Komando pasukan Khusus atau Kopassus– menghampiri sembari menodongkan senjata AK-47. Begitu tahu mereka berhadapan dengan seorang perwira tinggi, mereka segera memberi hormat. Setelah menjelaskan tujuannya, mereka minta izin melucuti senjata –kecuali Dewanto.

Toto, sapaan akrab Dewanto, dan Kundimang tak melawan sesuai perintah Laksda Sri Moelyono Herlambang, petinggi AU yang menjadi menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Dwikora I, agar sedapat mungkin menghindari kontak senjata.

Kelima orang tersebut lalu menuju hangar dan bergabung dengan prajurit Yon-1/RPKAD lainnya. Tuan rumah menjamu dengan ramah. Maklum, banyak di antara mereka saling kenal dan pernah menjalani operasi militer bersama dari Trikora hingga konfrontasi Indonesia-Malaysia. Di tengah obrolan santai, terdengar rentetan senjata. Baku tembak terjadi antara pasukan Batalyon 454 Banteng Raiders dan RPKAD.

Wakil komandan Yon 454 Kapten Inf. Koentjoro mendapat perintah dari atasannya, Mayor Sukirno, untuk mempertahankan Halim dan tak boleh ada pasukan manapun masuk kecuali AU. Di sisi lain, RPKAD di bawah Kolonel Inf. Sarwo Edhie diperintahkan Pangkostrad Mayjen Soeharto untuk menduduki Halim. Perintah itu keluar menyusul kekhawatiran Soeharto akan terjadinya serangan AU terhadap Makostrad. Dalam pandangan Soeharto, AU mendukung G30S pimpinan Letkol Untung.

“Kalau pertempuran itu kita biarkan, habis Halim. Kamu tahu Willy, di Halim ada aset negara yang sangat berharga, yaitu pesawat. Selain itu banyak keluarga AURI,” kata Toto kepada Kundimang, sebagaimana dimuat dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 yang disunting Aristides Katoppo.

Toto dan Kundimang berinisiatif melerai. Dengan jip Nissan Patrol, mereka menembus hujan peluru menuju posisi pasukan Raiders. Kundimang menemui Koentjoro dan memintanya menghadap Toto. Koentjoro sempat marah. Setelah dijelaskan Jenderal Dewanto ingin bertemu untuk menyelesaikan pertempuran, Koentjoro mengajak dua anak buahnya.

Di depan Dewanto, Koentjoro menjelaskan alasan penempatan pasukannya di Halim. Toto mengapresiasi profesionalitasnya, tapi memerintahkan Koentjoro agar menahan tembakan. Pertempuran mereda.

Kundimang, dikawal seorang prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT), lalu ditugaskan menyerahkan surat yang ditujukan untuk Sarwo Edhie. Berbekal kain putih sebagai lambang perdamaian dan pita merah-hijau di bahu kiri –tanda pengenal dari Raiders– Kundimang dan prajurit PGT berjalan ke tempat pasukan RPKAD.

Sesampai di sana, karena Sarwo Edhie masih dalam perjalanan ke Halim, mereka ditemui Mayor Inf. Goenawan Wibisono. Setelah menyerahkan surat, mereka kembali. Pita pengenal dari RPKAD tersemat di bahu kanan.

Di tengah penantian kedatangan Sarwo Edhie yang hampir sejam, dua dentuman keras tiba-tiba terdengar dan diikuti rentetan senjata. Pasukan Raiders bahkan melepaskan bazoka begitu melihat kedatangan panser Ferret Mk-1/1 dari arah RPKAD. Padahal panser itu berbendera putih dan dikirim untuk menindaklanjuti upaya perundingan. Koentjoro, atas perintah Toto, akhitnya memerintahkan pasukannya menahan tembakan.

Kundimang kembali ke posisi RPKAD. Goenawan mengatakan Sarwo Edhie minta Toto yang datang. Setelah mendapatkan pinjaman mobil, Kundimang menjemput Toto.

“Sebagai yang empunya Halim, saya akan menjemput tamu saya,” kata Toto.

Ketegangan sempat terjadi antara Toto dan Koentjoro yang bersikeras menjaga Halim. “Saya mengerti sikap Kapten, tapi untuk apa Kapten melaksanakan perintah dengan harus menutup pintu rumah saya?” kata Toto.

Toto dan Kundimang bertemu Sarwo Edhie yang setuju mengakhiri pertempuran. Maka, jip Kundimang dan Toto kembali ke posisi Raiders. Goenawan ikut bersama mereka. Sesampai di tujuan Koentjoro memberi hormat kepada Toto dan berpelukan dengan Goenawan. Koentjoro mengatakan kepada Toto bahwa dia akan menarik pasukan Raiders ke arah timur menuju Bekasi.

Pertempuran yang menewaskan seorang prajurit RPKAD itu, berhenti. Mission accomplished




____________________

Sumber : http://www.historia.co.id/artikel/modern/1501/Majalah-Historia/AU_di_Tengah_AD

Kamis, 04 Desember 2014

(Kisah Perang) - KRI Teluk Bone, Kapal Perang Dunia II yang Tetap Eksis Hingga Kini






JAKARTA, Jaringnews.com - Perang Dunia (PD) II memang sudah berakhir dan tinggal sejarah. Namun sisa peninggalannya berupa alat-alat perang tersebut masih dapat dilihat hingga saat ini. Salah satu peninggalan sejarah dunia tersebut adalah KRI Teluk Bone-511, salah satu kapal perang TNI AL jenis Landing Ship Tank (LST) di bawah pembinaan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).

KRI Teluk Bone-511 adalah eks kapal perang Amerika Serikat USS Iredell County (LST-839). Dibuat di galangan kapal American Bridge Company, Ambridge, Pennsylvania, Amerika Serikat pada tanggal 25 September 1944.

Selama memperkuat armada Amerika Serikat, kapal perang ini telah ditugaskan di beberapa mandala, yaitu Perang Dunia II pada tahun 1945-1946, dan perang Vietnam tahun 1966-1970, dan memperoleh beberapa penghargaan, diantaranya satu Battle Star selama PD II dan sembilan Campaign Star atas perannya pada perang Vietnam.

Pada bulan Juli 1970 Iredell County diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia, dan kemudian pada tanggal 12 Desember 1970 memperkuat jajaran armada TNI AL dengan nama KRI Teluk Bone-511, dengan komandan pertama Mayor Laut (P) M.H. Poerbosisworo. Pada tanggal 1 Januari 1990 KRI Teluk Bone-511 dialihbinakan ke Kolinlamil. Nama Teluk Bone diambil dari nama sebuah teluk yang berada di sebelah selatan Pulau Sulawesi.

Keberadaan KRI Teluk Bone yang masih eksis dan tetap dapat beroperasi hingga saat ini tidak terlepas dari upaya-upaya TNI AL dalam rangka mempertahankan kesiapan teknis KRI melalui program Perpanjangan Usia Pakai (PUP).

Selama lebih dari 40 tahun setelah memperkuat jajaran kapal perang TNI AL, kapal perang yang memiliki spesifikasi berat 2.160 ton dan mampu mengangkut 17 tank dengan beberapa jenis kendaraan ini, banyak dilibatkan dalam operasi militer, baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Operasi-operasi tersebut antara lain Operasi Dwikora, Operasi Seroja Timor-Timur, Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya, TNI/ABRI Masuk Desa, pergeseran pasukan dalam rangka pengamanan daerah rawan (Pamrahwan), pengamanan daerah perbatasan (Pamtas), pengamanan pulau-pulau terluar (Pamputer), maupun operasi penanggulangan bencana alam di Padang, Nias, serta tsunami di Aceh.Selain tugas-tugas tersebut kapal perang yang ber home-base di Surabaya ini juga berperan dalam menanamkan jiwa bahari bagi generasi muda. Hal ini terlihat banyaknya masyarakat umum maupun dari kalangan dunia kependidikan untuk melihat dari dekat, baik untuk program field trip maupun sebagai wisata yang bernuansa sejarah yang mengandung nilai edukasi yang bermanfaat guna menambah wawasan tentang dunia kemartiman.Hingga kini, KRI Teluk Bone-511 selalu siap dalam melaksanakan tugas pokok Komando Lintas Laut Militer, baik dalam mendukung angkutan laut militer pergeseran material, logistik, maupun pergeseran pasukan dalam rangka pengamanan daerah rawan (Pamrahwan), Pengamanan daerah perbatasan (Pamtas), pengamanan pulau-pulau terluar (Pamputer), bhakti kemanusiaan bencana alam, maupun angkutan laut dalam rangka pemerataan pembangunan nasional.




____________________

Sumber : Indonesian History











Minggu, 23 November 2014

(Kisah Perang) - 9 Pasukan Khusus Terbaik Dunia



Pasukan khusus atau pasukan operasi khusus adalah satuan militer yang sangat terlatih dalam menjalankan misi yang tidak biasa untuk menjaga keamanan politik, ekonomi atau militer suatu negara. Pasukan khusus berasal dari abad ke-20, didirikan oleh Brandenburgers Jerman ketika Perang Dunia II. Untuk mendapatkan gelar pasukan khusus terbaik di seluruh dunia merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Seperti halnya berjuang untuk mendapatkan gelar atlet terbaik dunia di antara banyak cabang olahraga yang berbeda yang tentunya membutuhkan keterampilan dan kemampuan yang berbeda. 

Di seluruh dunia, setiap negara melatih pasukan khusus mereka dalam kemiliteran. Dan pasukan khusus ini dilatih untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik, untuk mengemban tugas yang tidak mungkin menjadi mungkin. Berikut adalah 9 pasukan khusus terbaik dari seluruh dunia. Semua pasukan khusus ternama ini harus selalu bersembunyi dan tidak boleh diketahui oleh masyarakat umum.

 
9. MARCOS, India.




 
MARCOS (Marine Commando Force) merupakan unit operasi khusus elit Angkatan Laut India. Pasukan ini diciptakan untuk melakukan operasi khusus seperti perang amfibi, kontra-terorisme, aksi langsung, pengintaian khusus, perang inkonvensional, penyelamatan sandera, pemulihan personil, perang asimetris dan counterproliferation. MARCOS sangat terorganisir, terlatih dan dilengkapi untuk pelaksanaan operasi khusus dalam lingkungan maritim.


8. GIS, Italia.




 
GIS (Gruppo di Intervento Speciale) adalah unit khusus kontra-terorisme untuk unit elit reaksi taktis di kepolisian militer di Carabinieri, Italia. Pasukan ini dibuat oleh kepolisian negara Italia pada tahun 1978 untuk memerangi ancaman teroris. Secara keseluruhan, pasukan ini dikenal dengan keahlian dalam menembak. Saat ini, GIS dengan lebih dari 100 tentara bertugas untuk operasi anti-terorisme, menjaga keamanan dan memberikan pelatihan.


7. EKO Cobra, Austria.




 
EKO Cobra (Einsatzkommando Cobra) merupakan operasi khusus utama di Austria untuk unit taktis kontra-terorisme. Dibentuk pada tahun 1978, sebagai respon atas serangan atlet Israel pada Olimpiade Munich pada tahun 1972. Mereka terlibat dalam penyelamatan sandera di Penjara Graz-Karlau pada tahun 1996 dan banyak operasi lainnya. EKO Cobra merupakan satu-satunya unit penanggulangan terorisme untuk melawan pembajakan sementara pesawat masih di udara. Mereka dikenal sebagai salah satu unit kontra-teroris terbaik di dunia.


6. GIGN, Perancis.




 
GIGN (National Gendarmerie Intervention Group) adalah unit operasi khusus Angkatan Bersenjata Perancis. Unit ini dilatih untuk melakukan misi kontra-teroris dan misi penyelamatan sandera di Perancis dan di seluruh belahan dunia. Pasukan ini dibentuk setelah pembantaian Olimpiade Munich pada tahun 1971. Tujuan awal dibentuknya pasukan ini adalah untuk mempersiapkan apabila negara mendapatkan serangan. Pada tahun 1973, GIGN menjadi kekuatan laki-laki yang sangat terlatih dan tentunya siap untuk menanggapi ancaman di negaranya. Pasukan ini terkenal karena respon cepat dan kemampuan mahir dalam bertempur, penyelamatan sandera dan operasi anti-terorisme. Saat ini, GIGN digunakan untuk intervensi skala besar, pencarian dan perlindungan misi.

 
5. SSG, Pakistan.




 
SSG (Special Services Group) adalah operasi pasukan khusus Angkatan Darat Pakistan. Pasukan ini mirip dengan Pasukan Khusus Angkatan Darat AS dan Angkatan Darat Inggris, SAS (Special Air Service). Pasukan ini dibentuk pada tahun 1956, pasukan ini juga dikenal 
sebagai “Black Storks”. SSG dianggap sebagai salah satu pasukan khusus terbaik dunia karena keberanian mereka. Presiden Rusia pernah berkata, jika ia memiliki pasukan Pakistan ditambah dengan senjata Rusia, pasti ia bisa menaklukkan dunia karena mereka sangat berani. SSG dilatih untuk menjalankan misi khusus, di antaranya asymmetric warfare, operasi khusus, kontra-proliferasi, perang inkonvensional, ancaman luar negeri, pengintaian khusus, aksi langsung, penyelamatan sandera, kontra-teroris dan pemulihan personil. Baru-baru ini, SSG aktif dalam operasi anti-teroris di perbatasan barat untuk konflik yang bergolak antara Pakistan dengan Afghanistan dan memerangi ekstremis Islam di kota-kota di Pakistan.


4. JW GROM, Polandia.





 
JW GROM (Jednostka Wojskowa GROM) adalah satuan kontra-terorisme elit Polandia. Pasukan ini secara resmi diaktifkan pada tanggal 13 Juli 1990 untuk menanggapi ancaman teroris. Grom merupakan salah satu dari lima kekuatan operasi khusus unit Angkatan Bersenjata Polandia. Mereka dilatih untuk menanggapi berbagai ancaman dan perang konvensional, termasuk tindakan anti-teroris dan sebagai proyeksi kekuatan di belakang garis musuh. 


3. GSG 9, Jerman.




 
GSG 9 adalah kontra-terorisme Jerman dan Unit Operasi Khusus Polisi Federal Jerman. Pasukan ini secara resmi didirikan pada tahun 1973, setelah polisi Jerman berhasil membebaskan 11 atlet Israel yang diculik pada Olimpiade Munich selama musim panas. GSG 9 dikerahkan dalam kasus penyanderaan, penculikan, terorisme dan pemerasan. Pasukan ini juga dapat digunakan untuk pengamanan lokasi, menetralisir sasaran, melacak buronan dan kadang-kadang melakukan operasi sniper. Unit ini sangat aktif dalam mengembangkan metode dan taktik untuk misi pengujian. Dari tahun 1972-2003 mereka dikabarkan telah menyelesaikan lebih dari 1500 misi dan selama misi tersebut mereka hanya menggunakan senjata sebanyak 5 kali, sungguh luar biasa.

 
2. Delta Force, Amerika Serikat.




 
1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D), atau lebih dikenal sebagai Delta Force, secara resmi didirikan pada tahun 1997 setelah banyak insiden teroris yang menyerang Amerika Serikat. Pasukan ini merupakan pasukan terbaik dan merupakan salah satu kekuatan rahasia Amerika Serikat. Pendiri / co-pendiri SFOD-D adalah mantan operasi SAS yang berpikir mungkin AS membutuhkan pasukan elit seperti SAS. Tugas utama Delta Force adalah kontra-terorisme, tindakan langsung dan operasi intervensi nasional.

1. SAS, Inggris.




 
Special Air Service (SAS) adalah salah satu Pasukan Khusus terbaik di Inggris. SAS didirikan pada tahun 1941 selama Perang Dunia II, pasukan ini dibentuk sebagai bagian dari Teritorial Angkatan Darat pada tahun 1947 dan diberi nama Battalion 21, SAS Resimen. 

Angkatan Darat Reguler SAS 22 terkenal dan mendapat pengakuan di seluruh dunia setelah berhasil menyerang Kedutaan Besar Iran di London dan menyelamatkan sandera serta mengepung Kedutaan Iran di tahun 1980. Sampai saat ini, pasukan ini terdiri dari satu resimen reguler dan dua resimen teritorial. Tugas utama SAS adalah kontra-terorisme untuk misi perdamaian dan operasi khusus dalam masa perang.




____________________

Sumber : http://www.tergemes.com/2014/11/9-pasukan-khusus-terbaik-dunia.html

Jumat, 14 November 2014

(Kisah Perang) - Foto Che Guevara Usai Dibunuh 47 Tahun Silam Akhirnya Dipublikasikan



Foto Che Guevara Usai Dibunuh 47 Tahun Silam Akhirnya Dipublikasikan - che3.jpg
Che Guevara bersama Bung Karno
 
Foto Che Guevara Usai Dibunuh 47 Tahun Silam Akhirnya Dipublikasikan - che1.jpg







Foto Che Guevara Usai Dibunuh 47 Tahun Silam Akhirnya Dipublikasikan - che2.jpg





TRIBUNNEWS.COM, INGGRIS - Foto Ernesto "Che" Guevara, seusai dibunuh tentara reaksioner Bolivia pada 1967, akhirnya dipublikasikan kepada publik oleh keluarganya.

Che Guevara, merupakan pejuangan legendaris Amerika Latin yang hingga kekinian menjadi ikon perlawanan terhadap penindasan di seluruh dunia. Che, pada medio 1960-an, juga pernah ke Indonesia dan bertemu Presiden Soekarno.

"Paman saya yang dulu menyelundupkan foto-foto itu kepada keluarga sang legendaris Che Guevara. Itu adalah tindakan penuh risiko, karena rezim otoriter Bolivia dulu tak bakal memaafkannya," kata Imanol Arteaga.

Setelah diserahkan, keluarga Che yang sangat dihormati oleh rakyat Amerika Latin menyimpan foto-foto yang berisi kenangan pahit tersebut.

Tapi, untuk alasan pelurusan sejarah, pihak keluarga akhirnya mau memublikasikan foto-foto mendiang gerilyawan, intelektual, cum sastrawan Marxis tersebut.
Untuk diketahui, Guevara dibunuh pada tanggal 9 Oktober 1967. Persis, sehari setelah ia ditangkap tentara Bolivia.

Che, merupakan pria kelahiran Argentina. "Tersadar" setelah melakukan perjalanan keliling Amerika latin memakai sepeda motor, ia lantas mendedikasikan diri untuk memperjuangkan kemerdekaan rakyat.

Ketika berkunjung ke Kuba, ia bertemu Fidel Castro yang lantas mengajaknya membangun grup gerilya untuk menumbangkan kediktatoran Batista di negeri tersebut.

Setelah sukses menggelar revolusi di Kuba, Che diresmikan sebagai warga negara kehormatan Kuba dan diangkat menjadi Menteri Pendidikan. Semasa itu, ia sempat berkunjung ke Indonesia dan bertemu Bung Karno.

Selanjutnya, Che meletakkan jabatannya di Kuba dan berinisiatif sendiri membangun kekuatan gerilya untuk meruntuhkan kekuasaan otoriter di Bolivia. Di sana, hidup sang legenda berakhir. (Daily Mail)


Laporan Wartawan Tribunnews.com Reza Gunadha



 

____________________

Sumber :  http://www.tribunnews.com/internasional/2014/11/14/foto-che-guevara-usai-dibunuh-47-tahun-silam-akhirnya-dipublikasikan

Kamis, 13 November 2014

(Kisah Perang) - Marsose Oh Marsose







“Biar susah satu gunung, kami tetap Marsose…”





Ketiksa saya SMP, saya pernah membaca keganasan pasukan kolonial. Konon cukup tidak beradab dalam menghabisi pemberontak—atau pembebas—pribumi. Saya mulai tertarik mengkajinya di akhir-akhir kuliah saya yang berantakan. Cerita soal Marsose masih menarik buat saya.

Bermula dari Pemerintah Kolonial yang begitu pusing menghadapi para pemberontak Nusantara. Juga Perang Aceh yang makan banyak biaya. Banyaknya korban dikalangan KNIL dalam menghadapi gerilyawan pribumi yang hanya bersenjata parang dan minim senjata api itu, maka pemerintah kolonial mencari cara mengalahkan para pemberonak. 

Lalu munculah sebuah gagasan membentuk pasukan khusus yang efektif menghadapi gerilyawan. Pasukan yang beradaptasi dengan gaya perang kaum gerilyawan. Jadilah sebuah pasukan antigerilya. Jangan heran bila dalam Marsose penggunaan senjata api sangatlah minim. Prajurit Marsose lebih sering menggunakan klewang daripada karaben atau senjata api yang mereka bawa.

Sepertihalnya gerilyawan, pasukan Marsose tidak memerlukan logistik yang terlalu banyak seperti pasukan biasa. Marsose selalu hampir memasuki hutan untuk mencari para gerilyawan dan sebisa mungkin menangkap pemimpinnya—perburuan itu dilakukan selama berhari-hari. 

Keberhasilan Marsose menjadi kebanggan tersendiri bagi sebagian kalangan termasuk militer Belanda—disamping kesadisannya yang juga dibenci dan membuat ngeri sebagian orang-rang Belanda sendiri. Bagaimanapun juga, pasukan ini memiliki legenda tersendiri di nusantara. 

Pasukan ini dibentuk pada tanggal 20 April 1890—digolongkan oleh beberapa kalangan sebagai pasukan komando modern. Menurut Paul van’t Veer, Marsose dibentuk atas prakarsa dari Teuku Muhamad Arif, seorang Jaksa Kepala di Kutaraja, Aceh. Pastinya Teuku Muhamad Arif adalah orang Indonesia yang pro Belanda setelah pendudukan Belanda di Aceh dimulai. Dia memberi nasehat kepada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal van Teijn juga Kepala Staf-nya J.B. van Heutsz, untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri yang memiliki mobilitas tinggi. Pasukan ini tentunya pasukan anti gerilya. Pembentukan pasukan ini tidaklah sulit, tahun 1889, Komando Tentara Belanda di Aceh sudah menyusun dua detasemen pengawalan mobil yang memiliki kemampuan antigerilya.[i]

Konsep pasukan itu lalu dimatangkan lagi hingga menjadi pasukan Marsose yang akhirnya membuktikan diri sebagai pasukan elit karena beberapa tugas berat yang sulit dilakukan serdadu KNIL biasa berhasil mereka selesaikan. Bagaimana tidak, pasukan ini adalah pasukan pilihan dari berbagai kesatuan KNIL baik pribumi maupun Eropa.[ii]

Setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin seorang sersan Belanda yang dibantu seorang kopral pribumi. Setiap pasukan biasanya terdiri dari satu peleton yang terdiri dari 40 orang dan dipimpin seorang Letnan Belanda. Secara keseluruhan, korps Marsose terdiri dari 1.200 orang—dari berbagai bangsa. Pasukan ini, selain dipersenjatai karaben, juga dipersenjatai dengan senjata tradisional seperti klewang, rencong dan sebagainya.[iii]
 
Kata Marsose berasal dari kata marechaussée yang sebenarnya memiliki akar sejarah cukup panjang. Tahun 1370, dikota Paris terdapat sebuah otoritas hokum bernama Tribunal of Constables and Marshals of France. Constables dan Marshals ini lalu menjadi Gendermarie, yang menjadi kekuatan kepolisian di Belanda dan Belgia. sebuah unit kepolisian yang berakar pada masa pendudukan Perancis di Belanda. Berdasar dekrit Republik Bataaf, bentukan Perancis, dibentuklah sebuah unit kepolisian ini pada tanggal 4 Februari 1863 dengan nama marechaussée. Hal ini tidak langsung ditanggapi oleh otoritas Belanda. Tahun 1805, barulah terbentuk satu unit Gendermarie.[iv] Ketika wangsa Oranje berkuasa di Negeri Belanda, setelah Republik Bataaf tersingkir, berdasar dekrit nomor 48 tanggal 26 Oktober 1814 Marechaussée terbentuk.[v]

Di Hindia Belanda, Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat gari merah. Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam klewang. Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa, karaben. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.[vi]

Keberadaan Marsose di Hindia Belanda lebih berkembang sebagai pasukan tempur handal daripada pasukan polisi bersenjata seperti pendahulunya, Marechaussée, di Eropa barat. Kesamaannya di Eropa atau di Hindia Belanda, keduanya sama diseganinya. Ketika Perang Dunia II berlangsung, Marsose ikut membantu Angkatan Perang Belanda. Pasukan ini berhasil menewaskan Sisingamangaraja XII di Sumatra utara.[vii]
 
Marsose terdiri orang-orang Belanda, Perancis, Swiss, Belgia, Afrika, Ambon, Ambon, Menado, Jawa, juga beberapa orang Nias dan Timor. Selain karaben—senapan modern berukuran pendek—mereka juga membawa klewang dalam front Aceh dan Batak. Hal ini sangat berguna dalam perang jarak dekat, man to man, seperti yang dilakukan para gerilyawan pribumi. Marsose berusaha mengikuti gaya berperang ini karena gerilya kaum gerilyawan begitu efektif menggempur KNIL yang biasa menang dalam front besar namun repot ketiuka diserang mendadak. Pasukan ini tentunya terlatih dalam peperangan di hutan menghadapi serangan gerilyawan[viii]

Marsose bukan pasukan tempur biasa seperti yang berkembang pada pergantian abad XIX ke XX. Marsose tidak seperti KNIL, mereka memiliki karakter sendiri dalam bertempur. Mereka tidak terlalu mengandalkan senjata api, melainkan klewang mereka untuk mengahabisi lawannya dalam jarak dekat. Marsose lebih terlihat seperti jawara dibanding tentara reguler pada umumnya. Senjata api tetap mereka pegang dan akan digunakan bila keadaan terpaksa.


 





Kapten Hans

Hans Christofell adalah orang yang memimpin pengejaran yang menewaskan Sisingamangaraja XII dengan bantuan prajurit Belanda dari Senegal yang sangat ahli berburu. Setelah mereka menewaskan Sisingamangaraja XII, dipedalaman Sumatra Utara, Piso Gaja Dompak, pedang pusaka yang biasa dibawa bertempur oleh Sisingamangaraja XII lalu diserahkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai bukti[ix] Sisingamangaraja XII tewas ditembak seorang serdadu, asal Alfuru bernama Hamisi.[x]
 
Selama Pemberontakan PKI 1926-1927 yang gagal, disamping polisi, KNIL juga ikut melakukan penumpasan. Penumpasan pemberontakan PKI di Padang dan Silungkang , Sumatra Barat, beberapa brigade Marsose pimpinan Mayor (KNIL) W.V. Rhemrev, melakukan penyiksaan sadis pada kaum pemeberontak komunis. Terjadi penjagalan dalam usaha meredam pemberontakan kaum komunis itu. Tubuh korban dirusak, kepala korban ditusuk dengan tongkat lalu diarak keliling kampung. Tujuannya tidak lain untuk menebar teror di kalangan penduduk biasa. Berita kesadisan Marsose itu terdengar sampai di Eropa tanpa dapat disangkal.[xi]

Marsose, dalam banyak catatan, lebih banyak melakukan tugasnya sebagai pasukan kontra-gerilya di Aceh dan Tanah Batak. Dua daerah itu sangatlah sulit dikuasai pemerintah kolonial hingga awal abad XX. Marsose dalam jumlah besar dibutuhkan disana untuk waktu tugas yang lama. Bahkan setelah perang melawan orang-orang Batak di Pedalaman Sumatra dan Aceh itu berakhir, perlawanan kecil kadang masih terjadi. Seperti dialami bekas komandan Marsose, Letnan Kolonel W.B.J.A Scheepens, yang tertusuk rencong orang Aceh.

Marsose sebenarnya tidak hanya ditugaskan di dua daerah itu, tapi juga dibeberapa tempat seperti di kepulauan Nusa Tenggara juga Sulawesi—walau dengan personil yang tidak terlalu banyak. Cerita kekejamana pasukan Marsose lebih banyak didengar di Aceh saja dan tanah Gayo saja.



 
Tentara KNIL

Tentara KNIL



Kolone Macan

Kehadiran Marsose sebagai pasukan khusus yang sedemikian handal itu, rupanya masih dirasa belum cukup oleh petinggi militer Belanda. Perwira-pwerwira Belanda itumembentuk lagi sebuah unit didalam pasukan Marsose bernama Kolone Macan.. Seperti halnya Marsose, Kolone Macan juga dipimpin oleh perwira-perwira dari orang-orang Eropa. Salah satunya adalah perwira asal Swiss bernama Hans Christofell. Dia sangat tersohor karena berjasa kepada pemerintah kolonial dalam peperangan di Sumatra bagian utara itu. Dia membentuk pasukan khusus baru lagi, dimana anggotanya adalah anggota-anggota Marsose yang terpilih.[xii]

Ada perwira Marsose yang lebih tinggi pangkatnya dibanding Christoffel, Kapten Scheepens. Setelah lewati berbagai pertimbangan, pembuat kebijakan militer Belanda sampai pada kesimpulan, pekerjaan algojo yang sadistis tidaklah cocok bagi Scheepens—walaupun Scheepens tergolong orang bersedia mengerjakan tugas militer yang berat sekalipun seperti bertempur berhari-hari dalam hutan. Dimata pembuat kebijakan itu, Christoffel dianggap lebih cocok untuk memimpin sekelompok algojo. Akhirnya Christoffel diberangkatkan ke Cimahi—dimana berdiri sebuah garnisun pasukan Belanda disana. Disini Christoffel berttemu dengan banyak Marsose kawakan dan memiliki pengalaman bertempur di Aceh. Keberadaan mereka di Cimahi adalah dalam rangka istirahat setelah peperangan berat di Aceh selama berbulan-bulan.[xiii]

Dia menghimpun anggota Marsose yang beringas, jago berkelahi. Pasukan ini dinamakan Kolone Macan. Pasukan ini dilatih oleh Christoffel di Garnisun Cimahi. Pakaian mereka berwarna hijau kelabu yang kerah bajunya terdapat dua lambing jari berdarah. Tentu saja ikat leher warna merah agar nampak lebih lebih menyeramkan. Mereka dikenal sebagai pasukan yang menyeramkan dengan julukan ‘pembunuh berdarah dingin’.[xiv]
 
Setelah beristirahat dalam waktu yang lama, para Marsose itu merasa ingin kembali berperang di Aceh lagi. Dunia Marsose jelas bukan dunia tangsi yang damai, dunia mereka adalah peperangan dalam hutan, seperti di Aceh. Selama di tangsi Cimahai yang damai itu, para Marsose itu juga diberikan teori peperangan, namun hal itu kurang direspon pleh marsose yang berpendidikan rendah. Mereka tidak butuh teori dalam peperangan, melainkan pertempuran. Wajar bila teori perang itu tidak sekalipun dicerna prajurit Marsose. Mereka lebih tahu dan senang bertempur. Rutinitas lain yang mereka benci di tangsi adalah beberapa kali dalam sehari harus apel. Latihan marsose bukanlah menembakan senapan, melainkan memainkan klewang.[xv]

Di Cimahi, Christoffel mengamboil beberapa komandan brigade—yang biasanya berpangkat sersan—terbaik Marsose. Mereka yang bosan hidup di garnisun jelas menjadi prioritasnya. Pasukan ini terdari dari 12 brigade marsose yang sudah dilatih lagi di Cimahi. Betapa terlatihnya mereka sekarang. Barisan depan pasukan Kolene Macan adalah para Marsose jejaka. Jelas mereka bisa lebih leluasa bertempur karena tidak akan memikirkan anak istrinya.[xvi]

Cara kerja pasukan ini lebih kejam dari Marsose sebelumnya. Mereka melakukan eksekusi ditempat. Hal ini tergolong gila, seperti yang dirasakan salah seorang komandan Marsose Schriwanek. Walau dia tergolong kasar, namun dia melihat cara kerja Kolone Macan, dirasa oleh perwira itu, benar-benar keterlaluan ketika melakukan Sweeping. Mereka membersihkan gerakan gerilyawan perlawanan rakyat dengan kejam sejak dari dataran rendah. Mereka lakukan kerja mereka dengan singkat dan tuntas.[xvii]

Reaksi keras atas cara kerja Kolone Macan muncul juga dari kalangan militer Belanda sendiri. Peperangan yang mereka jalankan di Aceh terbilang keterlaluan. Reaksi ini datang dari perwira Belanda yang bukan berlatar belakang dari tentara bayaran. Akhirnya komando atas daerah Aceh dirubah dari van Daalen kepada Swart. Karena hal pergantian komando itu, cara kejam Kolone Macan perlahan dihilangkan. Pasukan yang pernaha dilatih dan dipimpin oleh Christoffel itu kemudian beralih komando pada van der Vlerk. Komandan baru ini, seperti tuntutan sebagian perwira Belanda yang benci kebengisan van Daalen dan Christoffel, mulai merubah sifat pasukan Kolone Macan. Pasukan ini lama-lama menghilang dan hanya menjadi Marsose biasa.[xviii]

Kolone Macan adalah bagian terkejam dari korps bernama Marsose dan hanya terjun di front Aceh saja. Pemerintah Kolonial rupanya tidak menginginkan adalah sepasukan algojo terorganisir, bagi pemerintah kolonal, cukup hanya marsose saja pasukan terkejam yang mereka miliki. Bagaimanapun perlawanan terhadap kebijakan kolonial tidak bisa ditebak kapan terjadinya dan inilah alasan mengapa Marsose terus dipertahankan walaupun perannya semakin meredup sinarnya. Marsose tidak terdengar kehebatannya lagi ketika Jepang mendarat di Indonesia. akhir sejarahnya mungkin saat perang Aceh saja lalun hilang adan tanpa terlihat taringnya yang tajam seperti pada Perang Aceh.



 
Kedatangan Sultan Potjoet Moerong ke pelabuhan Oeleëlheuë ke Koetaradja

Korps Marechausse men in their egelstelling porcupine formation in Aceh.



Cerita-cerita Marsose Pribumi.
 
Walau, Marsose pasukan elit, bukan berarti pasukan ini hanya terdiri orang Belanda maupun Eropa lain. Banyak orang pribumi yang menjadi anggota Marsose. Orang pribumi bahkan bisa menjadi Marsose yang baik dibanding orang-orang Eropa yang menjadi serdadu KNIL umumnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis. Banyak diantara Marsose adalah orang-orang dengan kemampuan seperti jawara yang ada di Banten yang ahli dalam berkelahi.

Satu dari banyak anggota Marsose pribumi yang cukup diakui jasanya adalah W.C. Ferdinandus. W.C. Ferdinandus adalah pemuda kelahiran 19 Februari 1883 di Haruku, Saparua. Seperti banyak pemuda disana yang ingin bertualang sebagai serdadu KNIL, Ferdinandus pada tanggal 1 Maret 1906 mendaftarkan diri sebagai KNIL di Ambon—teeken soldadu istalahnya pada waktu itu.[xix]
 
Pagi hari tanggal 12 Desember 1908 di Dondo—sebuah daerah di Nusa tenggara Barat sekarang ini—sekelompok Marsose bergerak. Salah satu dari mereka adalah W.C. Ferdinandus bergerak dibawah komando dari Letnan Satu de Vries untuk menyerang markas pemberontak di pantai utara. Marie Langa, pimpinan pemberontak itu membangun kubu pertahanan didekat Watoe Ngere. W.C. Ferdinandus adalah salah satu dari sekian banyak pasukan dari Letnan Satu De Vries. Pasukan yang dipimpin De Vries itu terdiri dari tiga brigade Marsose dengan kekuatan 50 karaben. Dan sekelompok strapan yang terdiri dari tiga puluh orang. 

Pasukan beserta strapannya itu berangkat ke Nio Panda, mereka tiba pukul 2 sore. Mereka beristirahat, sebelum bergerak pada pukul 22.00 malam. Malam itu, De Vries, memimpin pasukannya mengintai benteng musuh itu dari atas. Dalam kegelapan malam mereka bergerak. Mereka melintasi jalan yang berat dan terjal. Mereka mencapai daerah tujuan mereka denganm susah payah dan dari jauh mengintai lawan mereka dalam kegelapan malam itu.

Pada pukul 8 pagi, 12 Desember 1908, Letnan Satu de Vries membagi tiga pasukannya, satu pasukan dibawah sersan van Rijen, satu pasukan dibawah pimpinan sersan Ambon dan satu pasukan lagi dibawah pimpinan Kopral Katuuk. Ketiga pasukan itu bergerak mengelilingi benteng diam-diam. W.C. Ferdinandus adalah Marsose pertama yang menaiki benteng. Didalam benteng, W.C. Ferdinandus dan penyerang lain berhasil menembak tiga musuh dalam benteng dan membuat gerilyawan lain melarikan diri ke utara, sementara itu di utara sudah menunggu pasukan pimpinan Kopral Katuuk. Akhir dari serangan itu adalah, beberapa musuh melarikan diri dan benteng direbut. Majalah Trompet juga pernah menampilkan profil salah prajurit marsose lain, salah satunya dalah Robert Talumewo. Pemuda dari Langoan kelahiran 11 September 1882 dan teeken soldadu pada 6 Agustus 1904 di Manado. Karena keberaniannya ketika menjadi serdadu reguler biasa di KNIL, dia akhirnya dimutasikan ke Marsose[xx]



 
Levensmiddelentransport door dwangarbeiders tijdens de militaire expedities, Atjeh  



 
Ada Marsose Jawa bernama Redjakrama. Pemuda kelahiran Kedungwaru, Bagelen—Kabupaten Purworejo sekarang—tahun 1867. Diusianya yang ke-18, tahun 1885 dia teeken soldadu di Gombong. Setehun kemudian Redjakrama dikirim ke Aceh untuk pertama kalinya. Tahun 1887 Redjakrama ditempatkan di Sulawesi. Tanggal 21 Desember 1888, Redjakrama resmi menjadi kopral dan 2 Oktober 1890 sudah menjadi seorang sersan. Sebuah prestasi hebat untuk seorang pemuda kampung yang tidak terpelajar macam dirinya. Pada 2 Oktober 1901, Redjakrama dimutasikan ke Marsose. Sebagai Marsose Redjakrama telah menunjukan keberaniannya—seperti yang dimuat dalam majalah Trompet. Pada 26 Juni 1904, Sersan Redjakrama ditugaskan di daerah Beureuleueng, Pidie—Nangroe Aceh Darussalam sekarang.

“Sementara berkelahi ini, maka satu bahagian dari kumpulan musuh darai Pang Andah tahan sekuat-kuatnya didalam dua rumah dari sini mereka pasang pada Marsose. Cuma dengan pendek saja, pasangan dari musuh dibalas oleh Marsose, lantas Marsose tarik jatuh dinding dari kedua rumah. Ini pekerjaan dikerjakan oleh brigade, dimana terdapat sesan Redjakrama yang telah enam bulan lamanya pegang komando dari brigade ini yang telah menunjuk gagah beraninya. Ini onderofficer biasa terdapat ditempat-tempat yang ada dan sikapnya ada satu contoh yang bagus buat soldadu-soldadu. Yang perlu sabar dan tiada hilang otak sehat, sebab brigade terdiri dihadapan musuh yang tahan dengan sekuat-kuatnya dirumah-rumah dimana seperti dekking, musuh memakai karung-karung dengan beras. Contoh yang gagah berani dari sesan Redjakrama yang pertama kali masuk rumah, ada sebegitu rupa sehingga dituruti oleh brigade, yang bikin kalah musuh dan sesungguh-sungguhnya.”[xxi]

Cerita keberanian yang juga dimuat di Majalah Trompet adalah Simon Leiwakabessy. Ia pensiunan kopral yang tinggal di Ambon. Leiwakabessy lahir di Tial, Ambon pada 25 Januari 1870 dan teeken soldadu di Ambon pada 8 Maret 1894. sebelum ditempatkan di Marsose, Leiwakabessy termasuk anggota pasukan dari Batalyon 3 yang beberapa kali pindah tugas dibeberapa tempat di Indonesia.

“Overvalling musuh disebelah selatan dari Cot Bamboton (Troeseb Pidie) pada tanggal 24 Agustus 1903. Agar supaya menyemu musuh, maka keluarlah Letnan Darlang pada tanggal 24 Agustus jam 3 pagi dari Didok dengan satu brigade ke selatan dari Troeseb yang terdapat di terrain yang berbukit-bukit. Yang lain brigadenya mendapat opdract pada jam 7 pagi marsch ke lapang, disebelah dari kaki utara dari bukit-bukit dan disana diajak musuh dengan vurren yang biasa dari pihak itu mereka pasang pada compagnie. Waktu pagi hari, maka Letnan Darlang 2 orang Aceh Aceh disatu cot boleh jadi ini 2 orang ada Wachtpost dari musuh. Dengan tiada diketahui oleh musuh, maka brigadenya Letnan Darlang di itu bukit dan dengan ati-ati naik keatas. Sampai dekat diatasnya bukit, maka kelihatan 10 orang Aceh, yang ada tidur ditanah. Tempo satu dari diantara musuh bangun dan berdiri dan tunggu lama tiadalah baik, bertentangan dengan mereka boleh lihat di compagnie maka Darlang dan beberapa Marsose-nya storm pada musuh. Marsose Leiwakabessy yang oleh sebab kurang kader dan juga oleh sebab gagah berani-nya dan cepat biasanya ditunjuk seperti komandan dari spits lari kemuka dengan lewati 2 temannya dan sekonyong-konyong berada ditengah-tengah dari musuh yang lari. 2 orang musuh ditembak mati oleh Leiwakabessy. Tempo Leiwakabessy lihat, bahwa lain-lain musuh lari kebawah, maka dengan beberapa temannya dari spits ia ambil jalan pendek dan potong pas dari musuh. Dengan ini, maka ia tembak lagi 4 orang musuh mati. Oleh sebab gagah beraninya dari Leiwakabessy, maka jatuh didalam tangan kita 6 orang musuh dengan senjata-senjatanya, 3 beamont dan 3 senapan voorlaad.”[xxii]
 




aceh_marechaussee

tentara marsose yg dipakai  untuk menumpas pejuang aceh




Stephanus Melfibossert Anthony pemuda kelahiran 3 Juni 1872 di Ambon dan teeken Soldadu tanggal 27 Agustus 1890 di Ambon. S.M. Anthony terpilih untuk dimasukan ke korps Marsose pada 13 April 1897 lalu terlinbat dalam ekspedisi militer KNIL di beberapa tempat seperti Aceh, Timor juga Sulawesi Selatan. Dia memiliki cerita keberaniannya sebagai seorang Marsose dalam benteng Sala Banga di daerah Mandar, Sulawesi Selatan. Peristiwa oitu terjadi pada 20 Oktober 1914. 

“Waktu bestorming benteng tersebut, maka naiklah kopral Anthony, biarpun musuh tahan dengan begitu kuat dan lawan pada compagnie dengan gagah berani stormladder dan biasa pertama dimuka waktu bongkar rintangan-rintangan dimana pekerjaan ini menuntut banyak kekuatan. Sesudahnya dengan banyak susah pekerjaan lamanya satu setengah jam dikerjakan dan satu lubang diborstwering dibikin, maka dengan segera Anthony storm kemuka dengan lagti 3 militairen lain kedalam benteng. Sesudahnya itu ia pasang pada musuh yang dekat padanya, sehingga mereka tiada bisa apa lagi, sehingga troep dibelakang bisa mendapat kesempatan ke borstwering.”[xxiii]

Masih banyak lagi cerita heroik yang menggambarkan keberanian para Marsose pribumi—dimata masyarakat kolonial—yang termuat di majalah Trompet. Marsose-marsose pribumi tadi telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang prajurit yang membela bendera Ratu Belanda. Bagaimanapun, Marsose pribumi adalah bagian penting dalam korps Marsose, dari segi jumlah pastinya lebih banyak dan sebagai prajurit rendahan mereka siap melakukan hal-hal berat yang mungkin saja tidak mau dilakukan oleh perwira maupun bintara Belanda. Sebagai prajurit mereka siap untuk melawan siapa saja yang menajdi musuh ratu Belanda di Hindia Belanda. Mereka tidak takut melawan siapa saja termasuk gerilyawan di Aceh. Perang Aceh dan gerilyawannya yang tidak kenal menyerah adalah bagian terpenting dalam sejarah Marsose selain korps dan anggota Marsose itu sendiri.


Disarikan dari buku Pasukan Komando: Pengukir Sejarah Indonesia (Media Pressindo, Yogyakarta, 2008)



Catatan Kaki
[i]Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, Jakarta, Cipta Adi Perkasa, 1990. h. 167.
[ii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h. 167.
[iii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h.167-168.
[iv] Polisi Lapangan bersenjata seperti Brigade Mobil di Indonesia sekarang.
[v] (Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib.)
[vi] R.P. Suyono, Peperaqngan Kerajaan di Nusantara, Jakarta, Grasindo, 2003. h. 336.
[vii] Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, Dalam: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib
[viii] Walter Bonar Sidjabat, Ahu Sisingamangaradja XII, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1982, h. 245.
[ix] Sibarani, Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Jakarta, Ever Ready, tanpa tahun. h. 210-218: W. Bonar Sidjabat, h. 17.
[x] W. Bonar Sidjabat, h. 290-295.
[xi] Imam Soedjono, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Yogyakarta, Resist Book, 2006. h. 37.
[xii] Sibarani, h. 204
[xiii] H.C. Zentgraaff, Aceh, ab. Firdaus Burhan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jarahnitra, 1983. h. 177.
[xiv] Sibarani,. h. 204
[xv] H.C. Zentgraaff, h. 178.
[xvi] H.C. Zentgraaff, h. 178.
[xvii] H.C. Zentgraaff, h. 179.
[xviii] H.C. Zentgraaff, h. 179.
[xix] TROMPET (organ van den Bond van Inheemsche Gepensionereerd Militairen) no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940. h. 4-5.
[xx] TROMPET no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940., h. 4-5.
[xxi] TROMPET no 73 tahun ke 6, edisi Februari 1940., h 6-7.
[xxii] TROMPET no 70tahun ke 6, edisi November 1939., h 4-5.
[xxiii] TROMPET no 81 tahun ke 6, edisi November 1940, h . 5.




____________________

Sumber : http://www.kompasiana.com/posts/tags/hindia%20belanda
Petrik Matanasi [Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Jogja. Kini tinggal Palembang.]

Sumber Foto-foto :  http://dodimaubelajar.blogspot.com/2012/12/foto-foto-pasukan-marsose-belanda-di.html