Tampilkan postingan dengan label Resensi/Review/Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi/Review/Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2014

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding {Martha Sinaga/Penuls/Jurnalis)






 



Sonny H. Sayangbati....Sepuluh jari kukatupkan untuk berucap terimakasih, atas sebuah nilai yang kuterima melalui buku indahmu yang kau kirim Sahabat.........Tentu kupercayai lembaran demi lembaran buku ini akan mewarisi nutrisi untuk-ku...

Lantas, mata hatiku tertuju pada sebuah puisimu di halaman 19 yang berjudul:

"Sebuah Nilai"

......jikapun kosong
tak mengapa....hanya angka terbilang
Angka hanyalah bilangan manusia,
amal itu bilangan Tuhan....

Ehm...susunan kata singkat yang menebar dalam lapisan makna sebuah nilai. Ya nilai!. Dan itu mengingatkanku pada awal puisi Nu'ayamah yang diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaya....
Demikian penggalan puisi itu,.
....Bertanya aku pada junjunganku
"Adakah di alam semesta ini junjungan selain dari pada-Mu?

Kembali seorang penyair mempertanyakan soal nilai sebuah makna. Dan pertanyaan akan nilai itu terus mengalir sejak lahirnya puisi di Mesir 2500 tahun sebelum masehi, yang mereka tulis di atas papyrus. Dari papyrus inilah peradaban manusia sampai pada tingkat tertentu, memanfaatkan "sda" sebagai media penulisan kesustraannya. Demikian juga yang terjadi di dunia sastera di Cina. Kita longok penggalan puisi antara lain diterjemahkan oleh Alif Danya Munsyi....

Jika kau menjadi besar
setelah dulu kau kecil
memiliki banyak harta
setelah dulu kau miskin dst...

Semua bicara nilai dan perbandingan. Sungguh sobatku Sonny, nilai dan makna kehidupan, keselarasan. hati, jiwa dan roh saling mengkait dalam kumpulan tulisanmu selanjutnya menyemburkan arti pada panjangnya perjalanan hari.

Sebuah "pribadi" kuat itu kutemukan melalui larik-larikmu. Dalam berbagi kau tak berkutat dengan bahasa puitik-mu. Tentu atas dasar kuat alasan yang kau tuju.

Yang pasti kau telah menabur sebuah kumpulan "cerita" hati-rasa dan jiwa....teruslah menabur kebajikan melalui lembaran sastera alam pikir dan hatimu nan selaras....Have a nice poem....Tha Sinaga.

amal itu bilangan Tuhan
 
 
 
 
___________________

Sumber : Martha Sinaga (Penyair, Penulis, Jurnalis, Sastrawan)

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding [Yatim Ahmad/Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times]







SASTERA DI BAWAH KHATULISTIWA

 

MATAHARI pukul 2 petang bagai sengatan tebuan ketika aku menjemput Sonny H. Sayangbati di pejabat New Sabah Times, lantas kami ke kereta dan aku memasang penghawa dingin, ia bagai taufan sejuk yang nikmat untuk mengenyahkan bahang panas.

Lalu aku membawanya ke Kota Kinabalu, ibu negeri Sabah, Negeri di Bawah Bayu, untuk menyelesaikan urusan pembayaran ansuran kereta sebelum aku membawanya di sebuah restoran berhawa dingin pula. Memang aku amat teruja kehadiran ini.

"Masa semakin lanjut. Dunia terperosok dengan keinginan yang purba, dibentuk Aang Penghulu Dunia. Tanpa sedar, segala lapis ilmu- yang kelihatan seperti permata mutu manikam - disanjung dan dipuja, seperti pemuja ilmu asal-usul, ilmu evolusi, dan ilmu persaingan," katanya*

Aku tertarik, dan Sonny terus sahaja bicara, kecuali aku mengalih perhatian. Kemudian, dia berkata lagi: "Sahabat palsu di mana-mana seperti serigala menerkam. Bahkan serigala pun tak tahu bahwa ia adalah binatang,"

Akhirnya, Sonny mengakhiri ucapan pendahluluan untuk pertama kali pertemuan ini dengan berkata: "Ya! Lebih baik aku menulis di dinding karena lebin merdeka. Dinding tampat manusia berlindung dari bencana yang datang. Siapa tahu, saat bencana datang dia membacanya? Akan tetapi ia sungguh terlambat,"

Sonnny yang saya kenal sejak tiga tahun lalu, jika tidak silap ketika ketua admin PBKS (Puisikan Bait Kata Suara), sdr Muhammad Rois Rinaldi dan Noor Aisya menjemput dan melantik saya sebagai antara admin group berkenaan. Lalu dari situ, adakalanya kami bercerita di ruang sembang peribadi (inbox) hinggakan ia semacam peta untuk melakar persaudaraan, dan saling berkongsi informasi mengenai perkembangan sastera antara dua negara, saya warga Malaysia dan Sonny Indonesia.

Ada dua rakan Sonny bersama kami, seorang ialah Elisa Korang, dia berkata "Bukan sebuah kebetulan jiak saya berteman baik dengan sang penulis, Sonny H Sayanbati. Kami kawan semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. Namun Bukan karena pertemanan baik mana saya mau membantu menerbitkan karyanya di PEDAS Publishing,"**

Saya semakin berasa seronok. Manakala, seorang lagi - Veronica B Vanny pula berkata: "Bagaikan diajak menaiki sampan kecil melayari sebuah danau tenangm sementara sepoi angin dan dingeng pak tukang perahu yang bijak membuai dan menyentak antara kantuk dan jaga. Itulah yang terasa ketika saya membaca puis-puis Sonny H Sayangbati,"***

Nah! semakin menarik bukan. Agaknya ketika dibicarakan karyanya, Sonny tentu bahagia, tak mengapa bangga, kerana dia memang antara terbaik penulis dna penyair alam maya, malah sasterawan yang megeluti pelbagai tugasan editorial sastera di negaranya.

Restoran pengahwa dingin itu seperti terapung apabila Sonny deklamasikan 100 sajaknya bermula 'Berjanjillah' hingga 'Separuh Jiwaku Tertidur'. Dengan memakaikemeja biru, Sonnny memang hebat, mungkin jika dia ada kumis, lebih digunting rapi berbaidng jangut dan kumis saya yang agak berselerak. Tapi Sonnny mungkin tiada kumis, dan itu dia lebih kelihatan tanpan amat, ya..begitulah kira-kiranya.

Dan dia juga menyuakan foto orang tuanya, D K Sayangbati dan W W Sayangbati-Dengah. Foto hitam putih, yang kerana jasa ibubapanya. Saya kira Sonny sudah bukan milik kita lagi, dia sudah milik seni sepenuhnya, yang kita miliki Sonny sekarang ialah antara pencetus sastera pascamodenisme di bawah kolong langit Khatulistiwa ini.

Saya mahu saja mengapresiasikan sajaknya di sini, tetapi nantilah, saya baru balik dari bandar dan membawa Sonny pulang pula. Kepada rakan sastera sama ada di Malaysia atau Indonesia, yang kenal kami, jangan cemberut pertemuan dua sahabat ini. Dan kepada shabat sastera alam maya Sonnny di Kota Kinabalu ini, saya juga tak mengizinkan anda membawa dia keluar makan. Tak perlu minta izin atau tidak, saya tak benarkan!

Jika mahu, kalian boleh meminjam buku Sonny yang saya terima awal petang tadi, dan menikmati didepan saya, dan selepas membacanya kembalikan waktu itu juga sebab Sonny yang ini dengan kemeja birunya tidak untuk disahabatkan dengan anda, maksud saya dipinjamkan.

Terima kasih kepada sahabat saya Sonnny yang mengirim 'Kumpulan Puisi dan Sketsa Tulisan di Dinding'. Saya menerima panggilan dari pejabat New Sabah Times, di mana saya adalah kolumnis sastera di sana.

Anda tahu, NST adalah antara pelopor penyiaran karya dari luar Sabah selain sastera budaya Utusan Borneo, kelolaan sdr Abd Naddin Shaiddin II. Untuk itu, saya akan berjumpa dan mengopi dengan Bung Naddin kelak untuk membicarakan buku yang menarik ini.

Mungkin selepas ini saya minta Comic Comot supaya inbox saya, ada buku kedua juga dititipkan untuk comic ya.

O ya, saya menandakan buku ini dengan lima bintang. Rakan sastera di mana sahaja berada, milikilah buku ini, dengan memesan kepada sdr Sonnny dan ia menjadi antara koleksi sastera yang amat berharga.

* - petikan Kata Penghantar Sonny

**- Petikan kata penghantar Elisa

***- petikan kata penghantar Veronica




____________________

Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times Yatim Ahmad

Minggu, 20 April 2014

(Resensi/Review/Esai) - Kumpulan Puisi Dan Sketsa Tulisan Di Dinding









RAK PUSTAKA PEDAS - SABTU, 19 APRIL 2014: KUPAS BUKU
"KUMPULAN PUISI DAN SKETSA: TULISAN DI DINDING" KARYA SONNY H. SAYANGBATI



Halo, Sobat PEDAS!

Hari ini kita akan mengupas buku keren karya seorang mantan teman kuliah dan sahabat lama Bunda Elisa Koraag, yaitu Pak/Om Sonny H. Sayangbati. Berikut spesifikasi bukunya:


Judul: "Kumpulan Puisi dan Sketsa: Tulisan di Dinding"
Penulis: Sonny H. Sayangbati
Penyunting & Penata Letak: Veronica B. Vonny & Lathifah Edib
Penyunting Penyelia: Veronica B. Vonny
Pendesain Sampul: Wirasatriaji
Perancang Sketsa: Ayu R. Hidayah
ISBN: 978-602-14178-7-4
Cetakan I: Maret 2014
Jumlah halaman: xiv + 132 hlm; 13 x 19 cm
Lama penggarapan: 2 bulan.
Total isi: 100 puisi, dihiasi 50 sketsa goresan pensil.




Seulas Kesan:

Bagaikan diajak menaiki sampan kecil melayari sebuah danau tenang, sementara sepoi angin dan dongeng pak tukang perahu yang bijak membuai dan menyentak antara kantuk dan jaga. Itulah yang terasa ketika kita membaca puisi-puisi Sonny H. Sayangbati.

Begitu sederhana, bahkan kadang begitu polos seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, pilihan diksi-diksinya. Hampir tak terjumpai kata-kata berat—apalagi arkais—yang membuat kita harus membolak-balik kamus atau menuliskan kata-kata itu di pencarian Google, untuk merebut makna puisi-puisinya. Cukup membacanya dalam sekejapan, atau merenunginya sesaat lebih lama kalau ingin lebih lama juga menikmati efek serapnya, dan kita pun bisa… entah tersenyum, entah merasa ikut bahagia, entah merasa tenang, entah turut bersedih, entah jadi teringat kisah cinta pribadi yang mirip, atau memilih langsung meninggalkan dan melupakannya saja—sebagai hasil pembacaan kita.



Secuplik Biodata Sonny H. Sayangbati:

"Kebetulan ibu saya bekerja di Perpustakaan Nasional RI. Beliau sering membawa pulang pekerjaan kantor termasuk buku-buku bacaan yang akan dikatalogkan dan saya sempat membaca-bacanya. Itulah pertama kali saya bersentuhan langsung dengan buku-buku sastra,” kata penyair Sonny H. Sayangbati.

Setelah itu, ia bergelut dalam bidang sastra, terutama puisi. Ia tinggal dan lahir di Jakarta, tanggal 14 Desember. Ia senang membaca buku-buku sastra sejak kecil serta pelajaran kebudayaan, sejarah, dan geografi. Itulah awalnya ia menyukai buku-buku fiksi, cerpen, legenda, dan novel.

Sejak internet mulai diperkenalkan dan kebetulan pekerjaannya sebagai konsultan marketing banyak berurusan dengan internet, mulailah ia kembali bersentuhan dengan dunia cybersastra, khususnya di media sosial seperti Facebook, yang populer dengan banyak grup puisi.

Ia pun mulai membuat grup puisi sendiri yang ia beri nama Info For Us by Sonny H. Sayangbati. Grup ini berawal dari sebuah blog pribadi berisi informasi penting mengenai beragam topik. Namun, belakangan ia khususkan untuk masalah-masalah sastra saja. Ia juga mengelola blog pribadi bernama Sonny H. Sayangbati Blog Sastra.



BEBERAPA PUISI SONNY:



Engkau Akan Tahu Birunya Laut

Menangislah dengan kencang, kekasihku
deras air matamu seperti sungai mengalir
bilur-bilur lukamu akan sembuh
kesedihan membuatmu setangguh batu karang
janganlah berpaling lagi ke hulu sungai
mengalirlah ke lautan mahaluas
engkau akan tahu birunya laut
dan dalamnya cinta.

Jakarta, 16-03-2013 12.43 pm-wib © Sonny H. Sayangbati



Sebuah Nilai

Cobalah kauhitung sekali lagi,
genap atau ganjil
tak masalah buatku
hanyalah bilangan angka,
jikapun kosong
tak mengapa
hanya angka terbilang

Angka hanyalah bilangan manusia,
amal itu bilangan Tuhan

Jakarta, 01-03-2013 © Sonny H. Sayangbati



Kepala Bidadari

Betapa cantiknya kekasihku, Laila.
Tuhan menyebutnya kepala bidadari di surga.
Jika memang ada kata-kata itu,
sungguh, Majnun itu yang bicara,
sebab dia gila.
Akulah Majnun!

21-01-2013 © Sonny H. Sayangbati



====



Oke, Sobat PEDAS. Silakan mengajukan pertanyaan kepada Pak/Om Sonny ini. Ingat, ya, hendaknya pertanyaan diajukan dengan sopan.

Acara ini akan berlangsung cukup lama, mulai pukul 10.00 WIB hingga 19.00 WIB malam nanti.

Sonny H. Sayangbati saat ini sedang bekerja di Timika, Papua, dan akan menjawab sesempatnya dari sana. Jadi, apabila pertanyaan Sobat belum dijawab, mohon bersabar dan jangan memenuhi kolom komentar dengan komen-komen yang di luar topik kita.

Dua penanya beruntung akan mendapat masing-masing satu buku "Tulisan di Dinding". Bebas ongkir area Indonesia.



Salam PEDAS!