Jurnal Kirbat Sastra : - e-mail : sonny14sayangbati@gmail.com - sms (6221) 8161458020
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 November 2014
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) - Puisi Nyanyian Angsa – WS Rendra
Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).
Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)
_____________________
Sumber : http://penyair.wordpress.com/2009/08/07/puisi-nyanyian-angsa-ws-rendra/
Rabu, 02 Oktober 2013
(Puisi-Puisi Menarik dan Terkenal) - Joko Pinurbo
Puisi-Puisi Menarik dan Legendaris
Biarkan hujan yang haus itu
melahap airmata
yang mendidih di cangkirmu.
(2012)
________________
Sumber : http://jokopinurbo.blogspot.com/
Lampu Teplok
Dulu saya belajar menulis di bawah lampu teplok.
Lampu teplok itu masih terlihat di mata saya.
Saya kadang tidur dengan mata menyala.
(2012)
Lampu teplok itu masih terlihat di mata saya.
Saya kadang tidur dengan mata menyala.
(2012)
Mata Waktu
Pagi menemukan mata di atas daun:
mata embun yang berbinar-binar
melihat matahari menghangatkan matamu.
Pagi berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada batu
yang pendiam itu."
Ah di situ berasal dari desah angin
yang merayap di leher bajumu.
Malam menemukan mata di gigir cangkir:
mata kopi yang menyala-nyala
menyaksikan hujan memandikan waktu.
Malam berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada jam dinding
yang mengantuk itu."
Ah di situ berasal dari haus rindu
yang singgah minum di bibirmu.
Subuh menemukan mata di atas buku:
mata ibu yang berjaga-jaga
menemani insomniamu.
Subuh berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada kening
yang tak mau tidur itu.
Ah di situ berasal dari celah sunyi
yang menganga di pedalaman tubuhmu.
(2012)
mata embun yang berbinar-binar
melihat matahari menghangatkan matamu.
Pagi berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada batu
yang pendiam itu."
Ah di situ berasal dari desah angin
yang merayap di leher bajumu.
Malam menemukan mata di gigir cangkir:
mata kopi yang menyala-nyala
menyaksikan hujan memandikan waktu.
Malam berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada jam dinding
yang mengantuk itu."
Ah di situ berasal dari haus rindu
yang singgah minum di bibirmu.
Subuh menemukan mata di atas buku:
mata ibu yang berjaga-jaga
menemani insomniamu.
Subuh berkata: "Ah mata,
aku mau memasangmu pada kening
yang tak mau tidur itu.
Ah di situ berasal dari celah sunyi
yang menganga di pedalaman tubuhmu.
(2012)
Pada Matanya
Pada matanya aku melihat
kerlap-kerlip cahaya lampu kota kecil
seperti bisikan hati yang lembut memanggil.
(2012)
kerlap-kerlip cahaya lampu kota kecil
seperti bisikan hati yang lembut memanggil.
(2012)
Airmata
melahap airmata
yang mendidih di cangkirmu.
(2012)
________________
Sumber : http://jokopinurbo.blogspot.com/
Selasa, 01 Oktober 2013
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris - Karya Sapardi Djoko Damono
Puisi-Puisi Terkenal Dan Legendaris
/1/
Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.
Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.
/2/
Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.
Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.
/3/
Ia kini dunia.
Tanpa ibarat.
_______________
Sumber : https://www.facebook.com/groups/409730912448672/doc/409732099115220/
/1/
Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah
ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa
merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan
terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani
begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang.
Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak
di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang
membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu
yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu,
ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam
kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang
dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak
akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka
menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika
angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu
bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air
yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam
itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba
untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas
hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan
olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan
mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum
sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain
yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun
lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi
pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.
Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.
/2/
Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun
jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh
tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia
merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam
itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena
melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak. Ia senang
bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil sesekali menyambar lumut
yang terjurai kalau beberapa hari lamanya si empunya rumah lupa
menebarkan makanan. Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin
karena tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya melawan
arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin karena tidak pernah
merasakan godaan umpan yang dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada
daun jatuh, ia tahu daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia
yang membebaskannya bergerak ke sana ke mari, ia tahu bahwa daun itu
tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air digoyang-goyangnya. Tidak
pernah dikatakannya Jangan ikut bergerak tinggal saja di pojok kolam
itu sampai zat entah apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya
bahwa kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa pun
bisa saja berada di situ dan bergoyang-goyang seirama dengan gerak air
yang disibakkannya yang tak pernah peduli ia meluncur ke mana pun.
Air tidak punya pintu.
Kadangkala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.
Merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.
/3/
Air kolam adalah jendela yang suka menengadah menunggu
kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela rimbunan dan dengan
cerdik menembusnya karena lumut merindukannya. Air tanpa lumut? Air,
matahari, lumut. Ia tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan
daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit tempat matahari
berputar itu berada jauh di luar luar luar sana, ia bahkan tahu bahwa
dongeng tentang daun, ikan, dan lumut yang pernah berziarah ke jauh
sana itu tak lain siratan dari rasa gamang dan kawatir akan
kesia-siaan tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya.
Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang terhalang rimbunan
pohon jeruk di pinggirnya yang semakin rapat daunnya karena matahari
dan hujan tak putus-putus bergantian menyayanginya. Ia harus merawat
daun yang karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu
sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-benar busuk,
terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah darinya. Ia pun harus
habis-habisan menyayangi ikan itu agar bisa terus-menerus meluncur dan
menggoyangnya. Air baru sebenar-benar air kalau ada yang terasa
meluncur, kalau ada yang menggoyangnya, kalau ada yang berterima kasih
karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak suka bertanya
siapa gerangan yang telah mempertemukan kalian di sini. Ia tak peduli
lagi apakah berasal dari awan di langit yang kadang tampak bagai
burung kadang bagai gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam
kelabu. Tak peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah
yang dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan garis-garis
lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan, kadang bagai labirin.
Tanpa ibarat.
_______________
Sumber : https://www.facebook.com/groups/409730912448672/doc/409732099115220/
Rabu, 25 September 2013
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) - Puisi-Puisi Rabindranath Tagore
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
Panggilan Hidup
Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.
Tamu
Sajak-Sajak Masa Tua
***
Dunia kini buas dengan mata gelap kebencian,
***
Dari jauh aku memikirkanmu
***
Pintu senantiasa terbuka
***
Bertebaran di ruang ini
________________
@Redaktur SARBI: Dody
Kristianto
________________
Sumber : http://sarbikita.blogspot.com/2013/07/puisi-puisi-rabindranath-tagore.html
Panggilan Hidup
Jika gong berdegung sepuluh
kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari
dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”
Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.
Aku ingin jadi penjual
kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik,
Manik batu!”
Jika sore hari pukul empat aku
pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit
rumput di halaman.
Ia bekerja sesuka hatinya,
mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan
tanpa seorang pun melarangnya.
Aku ingin jadi tukang kebun
yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.
Jika malam tiba dan ibu
menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.
Jalanan gelap, dan sepi, dan
lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.
Peronda itu berjalan membawa
lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.
Aku ingin jadi peronda dan
berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan
lampuku.
Tamu
Lama tiada tamu berkunjung ke
rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang: kupikir malam-malamku akan
sepi.
Ketika mataku kubuka kusaksikan
gelap telah lenyap.
Aku bangkit dan lari kemudian
kulihat batu gapura rumah-ku hancur, dan lewat pintu terbuka angin dan cahayamu
mengibarkan bendera-benderanya.
Dulu ketika aku jadi tawanan di
rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku senantiasa ingin melarikan
diri dan pergi mengembara.
Kini aku masih saja duduk di
muka gapuraku yang hancur, menunggu kehadiramu.
Kini kau telah mengikatku
dengan kebebasanku.
Sajak-Sajak Masa Tua
Ketika aku masih muda
Siang hari pukul dua
Kuhadapkan kepalaku ke pintu
Kamarku di atap
Tikarku lebar terhampar
Dan kuhabiskan jam-jam riang.
Jauh di udara burung elang
Memanggil-manggil
Di angin basah
Daun-daun shirish berkilauan
Dengan paruh pecah karena haus,
burung gagak
Terbelalak matanya memandang
tembok batu.
Burung-burung gereja
menggelepar
Di kasau-kasau kamarku.
Menyebrangi gang kudengar suara
penjaja makanan:
Di sebuah atap nun jauh
seseorang bermain layang-layang.
Jauh di balik pelupuk mata,
Yang Tak Dikenal
Meniup seruling membujuk hatiku
Meninggalkan rumah.
Cinta dan duka bercampur entah
kenapa,
Menenun mimpi tanpa awal
Tanpa akhir.
Seakan aku memandang –
Teman seseorang yang tak punya
teman.
Aku melangkah ke umur tujuh
puluh,
Menuju akhir pantai.
Kusingkap jendela kalbuku
Seakan di masa kanak
Merenung. Waktu-waktuku lewat.
Dalam panas membakar ini
Dahan-dahan Shirish bergetar
Dekat perigi di tepi pohon
tamarin.
Anjing tetangga tidur;
Bebas dari gerobak, sapi jantan
Membaringkan dirinya di padang.
Bunga gandharaya berlayuan di
atas kerikil,
Mataku menyentuh semua,
Pikiranku berada di tiap benda.
Seakan bocah bebas
bertelanjang, pikiranku
Menyertai kenaungan hutan
Dan langit,
Kulit kerang-kerangan tak
dikenal
Bergema dalam semua yang
kukenal.
***
Dunia kini buas dengan mata gelap kebencian,
Pertikaian kian ganas dan
ketakutan tak kunjung henti,
Miring jalannya, kacau oleh
timbunan kelobaan.
Segenap makhluk meneriakkan
kelahiran baru darimu.
O Kamu kehidupan yang tak
terbatas,
Selamatkanlah mereka,
bangkitkanlah suara kekal harapanmu.
Biarkan teratai cinta dengan
kekayaan madunya tak habis-habis
Mebukakan kelopak-kelopaknya di
dahan cahayamu.
O Terang, O Kebebasan,
Dalam kasih saying dan
kebaikanmu yang tak terhingga
Spulah semua najis kegelapan
dari hati bumi ini.
Kaulah pemberi karunia abadi
Beri kami kekuatan menyangkal
Dan tuntutlah dari kami
kebanggaan kami.
Dalam pesona fajar baru
kearifan
Biar si buta memperoleh
penglihatan terang
Dan biar hidup mendatangi
jiwa-jiwa mati.
O Terang, O Kebebasan,
Dalam kasih saying dan
kebaikanmu yang tak terhingga
Sapulah semua najis kegelapan
dari hati bumi ini.
Hati manusia cemas oleh bara
kegelisahan,
Oleh racun kepentingan diri,
Oleh dahaga tak kenal akhir.
Negeri-negeri jauh dan luas
menunjukkan kening mereka
Yang memercikkan darah merah
kebencian.
Rabalah mereka dengan tangan
kananmu,
Jadikan mereka satu dalam
semangat,
Bawakan keselamatan dalam hidup
mereka,
Bawakan nada keindahan.
O Terang, O Kebebasan
Dalam kasih saying dan
kebaikanmu yang tak terhingga
Sapulah semua najis kegelapan
dari hati bumi ini.
***
Dari jauh aku memikirkanmu
Kaum zalim, tak tergugat.
Dunia gemetar dalam ketakutan
Mengerikan.
Kobaran api kelobaanmu
Melalap hati yang patah
Di tanganmu trisula
Naik menuju awan bertopan
Menurunkan guntur.
Hatiku gemetaran
Aku berdiri di depanmu.
Dalam pandang matamu yang
mencakar
Terhambur ancaman bagaikan
gelombang
Angin kencang turun.
Seraya menekankan tanganku ke
hati
Aku bertanya,
“masih ada lagikah
Halilintarmu yang terakhir?”
Angin kencang bertiup.
Hanya inikah?
Rasa takutku lenyap.
Jika halilintarmu kau enyahkan,
Kau jadi lebih agung dariku.
Tiupan anginmu membuatmu
tegelincir
Jatuh ke duniaku.
Kau jadi kecil
Dan rasa takutku lenyap.
Betapapun besar
Kau tak lebih agung dari
kemarin.
Bahwa aku lebih agung
Itulah kata-kataku yang
terakhir
Jika aku pergi.
***
Pintu senantiasa terbuka
Hanya mripat si buta yang
tertutup
Ia yang tak berani masuk
Tak kenal jalan ruh.
Pintu, serumu bergema dalam
terang dan gelap
Musik selamat datangmu begitu
khidmat
Palang pintumu dalam matahari
fajar
Dan dalam kegelapan
bintang-bintang.
Pintu, dari benih sampai pucuk
sulur.
Kau berjalan dari kembang ke
buah
Walau waktu-waktu tak terurai
Dari mati menuju hidup.
O Pintu, kehidupan dunia
Perjalanan demi perjalanan dari
mati ke mati
Kau lambaikan isyarat pada
peziarah kebebasan
Suara “Tak Takut” terdengar
dari malam keputusasaan.
***
Bertebaran di ruang ini
Benda-benda bisu tuli berbaur
Ada yang mencucuk mata, ada
yang sukar dipandang:
Jambang bunga di sudut,
Poci the menyembunyikan
wajahnya;
Isi almari, aneka ragam
Berkerumun menuju kekosongan.
Sepasang bingkai jendela pecah
tergeletak di sisi tirai
Sekonyong kulihat tirai memerah
sendiri
Kulihat tapi tak kusaksikan.
Cahaya pagi mengusut liku-liku
desain permadani,
Di situ – taplak meja hijau;
lama telah kukhayalkan
Agar menyala warnanya di
mataku.
Kini kehijauan terkubur, seakan
asap rokok
Dan ia tetap berada di situ
sekaligus lenyap.
Pengambilan barang ada di sini,
penaruh penuh kertas
Aku lupa membuangnya jauh-jauh.
Almanac condong ke arah meja,
Mengingatkan aku bahwa kini
tanggal delapan,
Botol minyak rambut merebut
cahaya;
Jam berdetak: sulit kulihat.
Dekat dinding
Sebuah rak, penuh buku –
Banyak yang tetap tak dikenal.
Gambar-gambar yang kugantung
tampak bagai hantu, terlupakan,
garis-garis babut yang dulu
mengucap jelas
kini hamper membisu.
Hari-hari lenyap, kemarin dan
kini
Terbaring tanpa pertalian.
Di ruang sempit ini
Ada benda yang karib, begitu
banyak yang asing,
Dan meja lintas sejenak
Lewat mata yang biasa terpejam.
Betapa banyak yang hilang dari
apa yang kupandang.
Tapi tanpa acuh kusebrangi dan
kusebrangi lagi
Jembatan antara yang dikenal
dan tak dikenal.
Seseorang menaruh sebuah foto
bocah
Di bawah bingkai kaca; cetakan
memudar
Ramang mendekati bayangan
Dalam pikiran aku adalah
Rabindranath,
Seperti ruang ini
Dalam bahasa kabur, mengharukan
Ada benda yang tampak terang,
ada
Yang jauh tersembunyi di sudut.
Banyak yang hampir lupa
kupindahkan
Seperti makna yang hilang ini,
Hari-hari silang menyusut
Menghapus haknya mengada.
Bayang-bayang lenyap di tengah
yang baru
Dan abjad yang menggeram makna
Tak seorang telah membacanya.
________________
Rabindranath
Tagore dilahirkan pada tahun 1861 di Calcuta, India. Berasal dari
keluarga yang berkecukupan dan mencintai seni, membuat Tagore kecil akrab
dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Pengalaman apresiasinya itu
bukannya tidak membawa pengaruh pada karya-karyanya kemudian. Konon, Tagore
banyak terpengaruh Hafiz, penyair sufi (Persia) abad ke-14.
Tagore pernah sekolah di
Inggris, pada tahun 1877, mengambil jurusan hukum, tetapi tidak selesai. Ia
kembali ke India untuk mengurus tanah orang-tuanya. Dalam perjalanan hidupnya
sewaktu muda, Tagore pernah mengalami kesulitan keuangan. Tetapi karena
kecintaannya terhadap hidup dan kehidupan, dalam keadaan seperti itu, ia malah
mendirikan sekolah khusus laki-laki, Shanti-Niketan. Maka ia harus banyak membagi
waktunya, antara mengajar, menulis, dan menerjemahkan.
Kontribusi nyata Rabindranath
Tagore dalam dunia kesusastraan meliputi 50 drama, 100 kumpulan puisi, 40
kumpulan cerpen dan roman, serta sejumlah buku esai dan filsafat. Gitanyali
adalah salah satu kumpulan puisinya yang dianggap sebagai karya puncak
kepenyairannya. Tahun 1913, Tagore menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan
(Nobel Award of Literature). Dan tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan sir
dari kerajaan Inggris. Tagore meninggal tahun 1941. Puisi-puisi terjemahan di
atas dikutip dari buku Antologi Puisi Nobel, yang diterbitkan oleh Yayasan
Bentang Budaya, Jogjakarta.
________________
Sumber : http://sarbikita.blogspot.com/2013/07/puisi-puisi-rabindranath-tagore.html
Selasa, 24 September 2013
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) - Kain Lebar Dua Jari (Prof. Hasyim Yaacob)
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
Orang tuaku baru datang dari kampung.
Kubawa ke kelab, makan malam.
Di kerusi empuk
pada ruang gemerlap cahaya benderang
gugup orang tuaku
menyaksi kemewahan di ruang mata.
Bila tiba hidangan, ibu kaget
lihat ada hamba yang menyaji.
Di kampung tidak bisa dia begini.
Dalam pinggan, ikan besar terguling
tidak seperti di kampung, kecil dan kering.
Udang pun begitu, merah merengkuk
bagai mau menanduk
kedua orang tuaku, kini terasuk
takut
pada besarnya makhluk
yang dipanggil lauk.
Orang tuaku mengais dengan mata
mencari terung manggur, petola
pucuk paku, sayur nangka.
Tidak jumpa, hampa.
Yang ada, asparagus asing bagi mereka.
Tak sedap kata mereka makanan itu.
Bila kutunjuk ongkos, ternganga mulut ibu.
Wang sebanyak itu, mampu tampung
sebulan hidup di kampung.
Selesai makan, kami lewat kolam renang.
Astagha! Astagha! Astaghfirullah!
Terjojol biji mata orang tuaku
hampir cicir ke dalam kolam.
Rupanya mereka terpandang pengunjung kolam
yang hampir telanjang.
------------"pakai kain lebar dua jari
------------sudah gila mereka ini".
Di kampung,
orang mandi berkemban
kerbau lembu saja yang telanjang.
Malunya aku, malu aku pada orang tuaku.
Orang bandar
sudah hilang tatasusila.
------------"pakai kain lebar dua jari
------------sudah gila orang-orang ini!"
.
11 Okt 1993
________________
Sumber : http://www.angelfire.com/az/jerangkoong/kainlebarduajari.html
Kain Lebar Dua Jari
Orang tuaku baru datang dari kampung.
Kubawa ke kelab, makan malam.
Di kerusi empuk
pada ruang gemerlap cahaya benderang
gugup orang tuaku
menyaksi kemewahan di ruang mata.
Bila tiba hidangan, ibu kaget
lihat ada hamba yang menyaji.
Di kampung tidak bisa dia begini.
Dalam pinggan, ikan besar terguling
tidak seperti di kampung, kecil dan kering.
Udang pun begitu, merah merengkuk
bagai mau menanduk
kedua orang tuaku, kini terasuk
takut
pada besarnya makhluk
yang dipanggil lauk.
Orang tuaku mengais dengan mata
mencari terung manggur, petola
pucuk paku, sayur nangka.
Tidak jumpa, hampa.
Yang ada, asparagus asing bagi mereka.
Tak sedap kata mereka makanan itu.
Bila kutunjuk ongkos, ternganga mulut ibu.
Wang sebanyak itu, mampu tampung
sebulan hidup di kampung.
Selesai makan, kami lewat kolam renang.
Astagha! Astagha! Astaghfirullah!
Terjojol biji mata orang tuaku
hampir cicir ke dalam kolam.
Rupanya mereka terpandang pengunjung kolam
yang hampir telanjang.
------------"pakai kain lebar dua jari
------------sudah gila mereka ini".
Di kampung,
orang mandi berkemban
kerbau lembu saja yang telanjang.
Malunya aku, malu aku pada orang tuaku.
Orang bandar
sudah hilang tatasusila.
------------"pakai kain lebar dua jari
------------sudah gila orang-orang ini!"
.
11 Okt 1993
________________
Sumber : http://www.angelfire.com/az/jerangkoong/kainlebarduajari.html
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) - Taman - Chairil Anwar
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
(Maret 1943)
_______________
Chairil Anwar
buku Aku Ini Binatang Jalang, Penerbit GPU
Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia
(Maret 1943)
_______________
Chairil Anwar
buku Aku Ini Binatang Jalang, Penerbit GPU
Kamis, 19 September 2013
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) 12 Sonett (Soneta) William Shakespeare
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
Sonnet I
by William Shakespeare
From fairest creatures we desire increase,
That thereby beauty's rose might never die,
But as the riper should by time decease,
His tender heir might bear his memory:
But thou, contacted to thine own bright eyes,
Feed'st thy light's flame with self-substantial fuel,
Making a famine where abundance lies,
Thyself thy foe, to thy sweet self too cruel.
Thou that art now the world's fresh ornament
And only herald to the gaudy spring,
Within thine own bud buriest thy content
And, tender churl, makest waste in niggarding.
Pity the world, or else this glutton be,
To eat the world's due, by the grave and thee.
Sonnet II
by William Shakespeare
Ada yang belum tahua apa itu sonnet? Secara sederhana, sonnet diartikan sebagai salah satu jenis puisi yang biasanya berisi 14 baris. Shakespeare sendiri telah menulis sekitar 154 sonnet, itupun belum termasuk sonnet yang ada dalam drama-drama karya beliau. Bisa lebih dari sekedar 154 saja dan hal tersebut membuat William Shakespeare disebut sebagai salah satu penulis sonnet terbaik di dunia.
Sonnet I
by William Shakespeare
From fairest creatures we desire increase,
That thereby beauty's rose might never die,
But as the riper should by time decease,
His tender heir might bear his memory:
But thou, contacted to thine own bright eyes,
Feed'st thy light's flame with self-substantial fuel,
Making a famine where abundance lies,
Thyself thy foe, to thy sweet self too cruel.
Thou that art now the world's fresh ornament
And only herald to the gaudy spring,
Within thine own bud buriest thy content
And, tender churl, makest waste in niggarding.
Pity the world, or else this glutton be,
To eat the world's due, by the grave and thee.
Sonnet II
by William Shakespeare
When forty winters shall besiege thy brow
And dig deep thenches in thy beauty's field,
Thy youth's proud livery, so gazed on now,
Will be a tatter'd weed, of small worth held:
Then being ask'd where all thy beauty lies,
Where all the treasure of thy lusty days,
To say, within thine own deep-sunken eyes,
Were an all-eating shame and thriftless praise.
How much more praise deserved thy beauty's use,
If thou couldst answer 'This fair child of mine
Shall sum my count and make my old excuse,'
Proving his beauty by succession thine!
This were to be new made when thou art old,
And see thy blood warm when thou feel'st it cold.
Sonnet III
by William Shakespeare
And dig deep thenches in thy beauty's field,
Thy youth's proud livery, so gazed on now,
Will be a tatter'd weed, of small worth held:
Then being ask'd where all thy beauty lies,
Where all the treasure of thy lusty days,
To say, within thine own deep-sunken eyes,
Were an all-eating shame and thriftless praise.
How much more praise deserved thy beauty's use,
If thou couldst answer 'This fair child of mine
Shall sum my count and make my old excuse,'
Proving his beauty by succession thine!
This were to be new made when thou art old,
And see thy blood warm when thou feel'st it cold.
Sonnet III
by William Shakespeare
Look in thy glass, and tell the face thou viewest
Now is the time that face should form another;
Whose fresh repair if now thou not renewest,
Thou dost beguile the world, unbless some mother.
For where is she so fair whose unear'd womb
Disdains the tillage of thy husbandry?
Or who is he so fond will be the tomb
Of his self-love, to stop posterity?
Thou art thy mother's glass, and she in thee
Calls back the lovely April of her prime:
So thou through windows of thine age shalr see,
Despite of wrinkles, this thy golden time.
But if thou live, remember'd not to be,
Die single, and thine image does with thee.
Sonnet IV
by William Shakespeare
Now is the time that face should form another;
Whose fresh repair if now thou not renewest,
Thou dost beguile the world, unbless some mother.
For where is she so fair whose unear'd womb
Disdains the tillage of thy husbandry?
Or who is he so fond will be the tomb
Of his self-love, to stop posterity?
Thou art thy mother's glass, and she in thee
Calls back the lovely April of her prime:
So thou through windows of thine age shalr see,
Despite of wrinkles, this thy golden time.
But if thou live, remember'd not to be,
Die single, and thine image does with thee.
Sonnet IV
by William Shakespeare
Unthrifty loveliness, why dost thou spend
Upon thyself thy beauty's legacy?
Nature's bequest gives nothing, but doth lend,
And being frank, she lends to those are free.
Then, beauteous niggard, why dost thou abuse
The bounteous largess given thee to give?
Profitless usurer, why dost thou use
So great a sum of sums, yet canst not live?
For having traffic with thyself alone,
Thou of thyself thy sweet self dost deceive.
Then how, when nature calls thee to be gone,
What acceptable audit canst thou leave?
Thy unused beauty must be tomb'd with thee,
Which, used, lives th' executor to be.
Sonnet V
by William Shakespeare
Upon thyself thy beauty's legacy?
Nature's bequest gives nothing, but doth lend,
And being frank, she lends to those are free.
Then, beauteous niggard, why dost thou abuse
The bounteous largess given thee to give?
Profitless usurer, why dost thou use
So great a sum of sums, yet canst not live?
For having traffic with thyself alone,
Thou of thyself thy sweet self dost deceive.
Then how, when nature calls thee to be gone,
What acceptable audit canst thou leave?
Thy unused beauty must be tomb'd with thee,
Which, used, lives th' executor to be.
Sonnet V
by William Shakespeare
Those hours that with gentle work did frame
The lovely gaze where every eye doth dwell,
Will lay the tyrants to the very same
And that unfair which fairly doth excel:
For never-resting time leads summer on
To hideous winter and confounds him there;
Sap check'd with frost and lusty leaves quite gone,
Beauty o'ersnow'd and bareness every where:
Then, were not summer's distillation left,
A liquid prisoner pent in walls of glass,
Beauty's effect with beauty were bereft,
Nor it, nor no remembance what it was:
But flowers distill'd, though they with winter meet,
Leese but their show; their substance still lives sweet.
Sonnet VI
by William Shakespeare
The lovely gaze where every eye doth dwell,
Will lay the tyrants to the very same
And that unfair which fairly doth excel:
For never-resting time leads summer on
To hideous winter and confounds him there;
Sap check'd with frost and lusty leaves quite gone,
Beauty o'ersnow'd and bareness every where:
Then, were not summer's distillation left,
A liquid prisoner pent in walls of glass,
Beauty's effect with beauty were bereft,
Nor it, nor no remembance what it was:
But flowers distill'd, though they with winter meet,
Leese but their show; their substance still lives sweet.
Sonnet VI
by William Shakespeare
Then let not winter's ragged hand deface
In thee thy summer, ere thou be distill'd:
Make sweet some vial; treasure thou some place
With beauty's treasure, ere it be self-kill'd.
That use is not forbidden usury,
Which happies those that pay the willing loan;
That's for thyself to breed another thee,
Or ten times happier, be it ten for one;
Ten times thyself were happier than thou art,
If ten of thine ten times refigured thee:
Then what could death do, if thou shouldst depart.
Leaving thee living in posterity?
Be not self-will'd, for thou art much too fair
To be death's conquest and make worms thine heir.
Sonnet VII
by William Shakespeare
In thee thy summer, ere thou be distill'd:
Make sweet some vial; treasure thou some place
With beauty's treasure, ere it be self-kill'd.
That use is not forbidden usury,
Which happies those that pay the willing loan;
That's for thyself to breed another thee,
Or ten times happier, be it ten for one;
Ten times thyself were happier than thou art,
If ten of thine ten times refigured thee:
Then what could death do, if thou shouldst depart.
Leaving thee living in posterity?
Be not self-will'd, for thou art much too fair
To be death's conquest and make worms thine heir.
Sonnet VII
by William Shakespeare
Lo, in the orient when the gracious light
Lifts up his burninghead, each under eye
Doth homage to his new-appearing sight,
Serving with looks his sacred majesty;
And having climb'd the steep-up heavenly hill,
Resembling strong youth in his middle age,
Yet mortal looks adore his beauty still,
Attending on his golden pilgrimage;
But when from highmost pitch, with weary car,
Like feeble age, he reeleth from the day,
The eyes, 'fore duteous, now converted are
From his low tract, and look another way:
So thou, thyself out-going in thy noon,
Unlook'd on diest, unless thou get a son.
Sonnet VIII
by William Shakespeare
Lifts up his burninghead, each under eye
Doth homage to his new-appearing sight,
Serving with looks his sacred majesty;
And having climb'd the steep-up heavenly hill,
Resembling strong youth in his middle age,
Yet mortal looks adore his beauty still,
Attending on his golden pilgrimage;
But when from highmost pitch, with weary car,
Like feeble age, he reeleth from the day,
The eyes, 'fore duteous, now converted are
From his low tract, and look another way:
So thou, thyself out-going in thy noon,
Unlook'd on diest, unless thou get a son.
Sonnet VIII
by William Shakespeare
Music to hear, why hear'st thou music sadly?
Sweets with sweets war not, joy delights in joy.
Why lovest thou that which thou receivest not gladly,
Or else receivest with pleasure thine annoy?
If the true concord of well tuned sounds,
By unions married, do offend thine ear,
They do but sweetly chide thee, who confounds
In singleness the parts that thou shouldst bear.
Mark how one string, sweet husband to another,
Strikes each in each by mutual ordering;
Resembling sire and child and happy mother,
Who, all in one, one pleasing note do sing:
Whose speechless song, being many, seeming one,
Sings this to thee: 'Thou single wilt prove none.'
Sonnet IX
by William Shakespeare
Sweets with sweets war not, joy delights in joy.
Why lovest thou that which thou receivest not gladly,
Or else receivest with pleasure thine annoy?
If the true concord of well tuned sounds,
By unions married, do offend thine ear,
They do but sweetly chide thee, who confounds
In singleness the parts that thou shouldst bear.
Mark how one string, sweet husband to another,
Strikes each in each by mutual ordering;
Resembling sire and child and happy mother,
Who, all in one, one pleasing note do sing:
Whose speechless song, being many, seeming one,
Sings this to thee: 'Thou single wilt prove none.'
Sonnet IX
by William Shakespeare
Is it far fear to wet a widow's eye
That thou consumest thyself in single life?
Ah! if thou issueless shalt hap to die,
The world will wail thee, like a makeless wife;
The world will be thy widow, and still weep
That thou no form of thee hast left behind,
When every private widow well may keep
By children's eyes her husband'sshape in mind.
Look, what an unthrift in the world doth spend
Shifts but his place, for still the world enjoys it;
But beauty's waste hath in the world an end,
And kept unused, the user so destroys it.
No love toward others in that bosom sits
That on himself such murderous shame commits.
Sonnet X
by William Shakespeare
That thou consumest thyself in single life?
Ah! if thou issueless shalt hap to die,
The world will wail thee, like a makeless wife;
The world will be thy widow, and still weep
That thou no form of thee hast left behind,
When every private widow well may keep
By children's eyes her husband'sshape in mind.
Look, what an unthrift in the world doth spend
Shifts but his place, for still the world enjoys it;
But beauty's waste hath in the world an end,
And kept unused, the user so destroys it.
No love toward others in that bosom sits
That on himself such murderous shame commits.
Sonnet X
by William Shakespeare
For shame! deny that thou bear'st love to any,
Who for thyself art so unprovident.
Grant, if thou wilt, thou art beloved of many,
But that thou none lovest is most evident;
For thou art so possess'd with murderous hate
That 'gainst thyself thou stick'st not to conspire,
Seeking that beauteous roof to ruinate
Which to repair should be thy chief desire.
O. change thy thought, that I may change my mind!
Shall hate be fairer lodged than gentle love?
Be, as thy presence is, gracious and kind,
Or to thyself at least kind-hearted prove:
Make thee another self, for love of me,
That beauty still may live in thine or thee.
Sonnet XI
by William Shakespeare
Who for thyself art so unprovident.
Grant, if thou wilt, thou art beloved of many,
But that thou none lovest is most evident;
For thou art so possess'd with murderous hate
That 'gainst thyself thou stick'st not to conspire,
Seeking that beauteous roof to ruinate
Which to repair should be thy chief desire.
O. change thy thought, that I may change my mind!
Shall hate be fairer lodged than gentle love?
Be, as thy presence is, gracious and kind,
Or to thyself at least kind-hearted prove:
Make thee another self, for love of me,
That beauty still may live in thine or thee.
Sonnet XI
by William Shakespeare
As fast as thou shalt wane, so fast thou grow'st
In one of thine, from that which thou departest;
And that fresh blood which youngly thou bestow'st
Thou mayst call thine when thou from youth convertest.
Herein lives wisdom, beauty and increase;
Without this, folly, age and cold decay:
If all were minded so, the times should cease
And threescore year would make the world away.
Let those whom Nature hath not made for store,
Harsh, featureless and rude, barrenly perish:
Look, whom she best endow'd she gave the more;
Which bounteous gift thou shouldst in bounty cherish:
She carved thee for her seal, and meant thereby
Thou shouldst print more, not let that copy die.
Sonnet XII
by William Shakespeare
In one of thine, from that which thou departest;
And that fresh blood which youngly thou bestow'st
Thou mayst call thine when thou from youth convertest.
Herein lives wisdom, beauty and increase;
Without this, folly, age and cold decay:
If all were minded so, the times should cease
And threescore year would make the world away.
Let those whom Nature hath not made for store,
Harsh, featureless and rude, barrenly perish:
Look, whom she best endow'd she gave the more;
Which bounteous gift thou shouldst in bounty cherish:
She carved thee for her seal, and meant thereby
Thou shouldst print more, not let that copy die.
Sonnet XII
by William Shakespeare
When I do count the clock that tells the time,
And see the brave day sunk in hideous night;
When I behold the violet past prime,
And sable curls all silver'd o'er with white;
When lofty trees I see barren of leaves,
Which erst from heat did canopy the herd,
And summer's green all girded up in sheaves,
Borne on the bier with white and bristly beard,
Then of thy beauty do I question make,
That thou among the wastes of time must go,
Since sweets and beauties do themselves forsake
And die as fast as they see others grow;
And nothing 'gainst Time's scythe can make defence
Save breed, to brave him when he takes thee hence.
And see the brave day sunk in hideous night;
When I behold the violet past prime,
And sable curls all silver'd o'er with white;
When lofty trees I see barren of leaves,
Which erst from heat did canopy the herd,
And summer's green all girded up in sheaves,
Borne on the bier with white and bristly beard,
Then of thy beauty do I question make,
That thou among the wastes of time must go,
Since sweets and beauties do themselves forsake
And die as fast as they see others grow;
And nothing 'gainst Time's scythe can make defence
Save breed, to brave him when he takes thee hence.
________________
Ada yang belum tahua apa itu sonnet? Secara sederhana, sonnet diartikan sebagai salah satu jenis puisi yang biasanya berisi 14 baris. Shakespeare sendiri telah menulis sekitar 154 sonnet, itupun belum termasuk sonnet yang ada dalam drama-drama karya beliau. Bisa lebih dari sekedar 154 saja dan hal tersebut membuat William Shakespeare disebut sebagai salah satu penulis sonnet terbaik di dunia.
Sumber : http://www.englishindo.com/2012/01/12-sonnet-puisi-cinta-shakespeare.html
Selasa, 17 September 2013
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) D. Zawawi Imron (2)
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
Teluk
Kaubakar gema di jantung waktu
Bibir pantai yang letih nyanyi
Sembuh oleh laut yang berloncatan
Memburu takdirmu yang menderu
Dan teluk ini
Yang tak berpenghuni kecuali gundah dan lampu
Memberangkatkan dahaga berlayar
Berkendara seribu pencalang
Ke arah airmata menjelma harimau
Pohon-pohon nyiur pun yakin
Janjimu akan tersemai
Dan di barat piramid jiwa
Berkat lambaian akan tegak mahligai senja
Senyum pun kekal dalamnya
Hanya Seutas Pamor Badik
Dalam tubuhku kau nyalakan dahaga hijau
Darah terbakar nyaris ke nyawa
Kucari hutan
Sambil berdayung di hati malam
Bintang-bintang mengantuk
Menunggu giliran matahari
Ketika kau tegak merintis pagi
Selaku musafir kucoba mengerti:
Ternyata aku bukan pengembara
Kata-kata dan peristiwa
Telah lebur pada makna
Dalam aroma rimba dan waktu
Hanya seutas pamor badik, tapi
Tak kunjung selesai dilayari
Teluk
Kaubakar gema di jantung waktu
Bibir pantai yang letih nyanyi
Sembuh oleh laut yang berloncatan
Memburu takdirmu yang menderu
Dan teluk ini
Yang tak berpenghuni kecuali gundah dan lampu
Memberangkatkan dahaga berlayar
Berkendara seribu pencalang
Ke arah airmata menjelma harimau
Pohon-pohon nyiur pun yakin
Janjimu akan tersemai
Dan di barat piramid jiwa
Berkat lambaian akan tegak mahligai senja
Senyum pun kekal dalamnya
Hanya Seutas Pamor Badik
Dalam tubuhku kau nyalakan dahaga hijau
Darah terbakar nyaris ke nyawa
Kucari hutan
Sambil berdayung di hati malam
Bintang-bintang mengantuk
Menunggu giliran matahari
Ketika kau tegak merintis pagi
Selaku musafir kucoba mengerti:
Ternyata aku bukan pengembara
Kata-kata dan peristiwa
Telah lebur pada makna
Dalam aroma rimba dan waktu
Hanya seutas pamor badik, tapi
Tak kunjung selesai dilayari
Sabtu, 14 September 2013
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) : "Inilah Namaku" Karya Adonis
Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris
kumasuki pinggulmu
bumi berputar-putar di sekelilingku
anggota-anggota tubuhmu berdesau desir
seperti desau alir nil
kita terapung-apung
kita salam bersalam
kauterpotong-potong di dalam darahku
ombak-ombakku memotong-motong dadamu
kita pun lebur
marilah kita mulai:
cinta telah lupakan belati malam
mestikah kuberteriak bahwa topan akan datang?
marilah kita mulai:
sebuah teriakan memanjat kota
manusia adalah cermin-cermin berjalan
ketika garam telah berenang ke seberang
kita pernah berjumpa, itukah kamu?
--cintaku sebuah luka
________________
Penyair Adonis berasal dari Syria, namun sekarang menetap di Perancis, karena alasan politik.
Penyair Adonis dikenal juga dengan syair-syair erotisnya.
Sumber : kaila estetika.-
Inilah Namaku
Penyair : Adonis
kumasuki pinggulmu
bumi berputar-putar di sekelilingku
anggota-anggota tubuhmu berdesau desir
seperti desau alir nil
kita terapung-apung
kita salam bersalam
kauterpotong-potong di dalam darahku
ombak-ombakku memotong-motong dadamu
kita pun lebur
marilah kita mulai:
cinta telah lupakan belati malam
mestikah kuberteriak bahwa topan akan datang?
marilah kita mulai:
sebuah teriakan memanjat kota
manusia adalah cermin-cermin berjalan
ketika garam telah berenang ke seberang
kita pernah berjumpa, itukah kamu?
--cintaku sebuah luka
________________
Penyair Adonis berasal dari Syria, namun sekarang menetap di Perancis, karena alasan politik.
Penyair Adonis dikenal juga dengan syair-syair erotisnya.
Sumber : kaila estetika.-
Langganan:
Postingan (Atom)








