Jurnal Kirbat Sastra : - e-mail : sonny14sayangbati@gmail.com - sms (6221) 8161458020
Tampilkan postingan dengan label Puisi Tamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Tamu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 September 2015
(Puisi Tamu) - BENING karya Almondia Salem
Damai...
Milikmu yangg tulus hati
Ke sana lagi, mata air menetap
Jernih...
Sebening kaca...
Mengalir apa adanya
Menyaring ampas sandiwara
Disimpan dalam endapan lumpur musiman
Merunduk,
Bersembunyi...
Memberi jalan pada terik matahari
Entah sejauh apa aku tlah berlari
Indah batin-mu...
Elok damai-mu...
Ke dasar hatimu lagi, jiwaku kan kembali.
___________________________
written by Almondia Salem
16th September 2013
Penulis Almondia Salem, tinggal di Madiun, Jawa Timur, adalah penyuka puisi dan suka menulis puisi di halaman pribadinya (Facebook)
Selasa, 02 Juni 2015
(Puisi Tamu) - MULANYA ADALAH LANGIT ASTA TINGGI (Karya : Yuli Nugrahani)
Sumber Foto : Koleksi Foto Yuli Nugrahani di Facebook
Asta Tinggi diratapi candra
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
pada saat tubuhmu tubuhku lekat.
Walau raut hilang dalam malam
Walau raut hilang dalam malam
namun suara melantunkan irama berpagar tanya.
"Pasirkah hati Pancali, atau batu?"
Tanganku atau tanganmu menadah
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
dan kita berdua terguncang-guncang
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
dan kita berdua terguncang-guncang
oleh perbedaan.
"Yudistirakah suami Pancali, atau Pandawa?"
Bibirku meregangkan cengkerama
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.
"Pancali pongah di gelung rambut Krishna."
Itu adalah haknya, katamu.
Itu adalah haknya, katamu.
Kami saling memandang,
kembali pada langit Asta Tinggi, tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.
kembali pada langit Asta Tinggi, tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.
Mei 2015
_____________________
Yuli Nugrahani (Cerpenis dan Penyair Lampung)
Lahir di Kediri
9 Juli 1974. Pernah menjadi wartawan Harian Malang Post dan Pemimpin
Redaksi Majalah Nuntius, kini tinggal di Hajimena, Natar, Lampung
Selatan. Tulisannya pernah beredar di berbagai buletin, majalah,
koran dan jurnal seperti Panyebar Semangat, Terlibat, Lembur,
Nuntius, Hidup, Ucanews, Femina, Malang Post, Lampung Post, Suara
Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Swara Gender, Buletin Insan,
Konfrontasi, Teras Lampung, dan sebagainya. Menjadi editor dan
penyusun buku untuk Eritis Mihi Testes (2002), Suster-suster Klaris
Kapusines Sekincau (2003), Samudera Peziarahan (2010) dan Goro-goro,
Kucing Gering Bagong Leong (2013) dan Antologi Puisi Hujan Kampoeng
Jerami (2014). Cerpen-cerpennya masuk dalam Antologi Cerpen Kawin
Massal (Dewan Kesenian Lampung, 2011)
dan Antologi Sastrawan Lampung Hilang
Silsilah (Dewan Kesenian Lampung,
2013). Buku cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Daun-daun
Hitam (Indepth Publishing, 2014,
bersanding dengan sketsa-sketsa Dana E. Rachmat). Sedang
puisi-puisinya masuk dalam buku : Turonggo Yakso, Memperjuangkan
sebuah Eksistensi (2014), Gemuruh Ingatan, 8 Tahun Lumpur Lapindo
(2014), dan Hujan Kampoeng Jerami (2014). Buku puisinya adalah
Pembatas Buku (Indepth Publishing, 2014). Terakhir menjadi
penulis dan editor dalam antologi puisi Titik Temu, yang
diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2014, berisi puisi-puisi
bertema HAM. Selain sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak,
sehari-hari bekerja untuk Bagian Justice and Peace Keuskupan
Tanjungkarang, memberikan pelatihan penulisan di berbagai tempat di
Indonesia, mengisi berbagai acara sastra dan kegiatan sosial, dan
aktif mengembangkan Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK).
Rabu, 27 Mei 2015
(Puisi Tamu) - Lelaki Senja
Lelaki Senja
duduk termenung di beranda tua
secangkir kopi tanpa gula, temannya hanya
pada senja dia bercerita
berjuta langkah t'lah di laluinya
ribuan kisah mengiringinya
dari benua tawa
hingga lautan airmata
dihisapnya batang sigaret tersisa
entah, kepulan yang ke berapa
dia tertawa ...
"ha.ha.ha. aku pernah jaya!"
diteguknya si teman setia
mungkin itu tetes paling purna
tawanya terhenti seketika,
"aahh ..., kau pun akan mendahuluiku rupanya,"
kembali dia terdiam
menatap asap sigaretnya menjauh terbang
seperti mimpinya yang telah hilang
perlahan matanya terpejam
menikmati pelukan rindunya pada sang pemilik alam
lelaku tua, tetaplah bertahan
meski langkahmu tak lagi panjang
senja akan selalu bertandang
mengiringimu tuntaskan perjalalanan
di sini aku 'kan menenun doa panjang
'tuk bahagiamu yang pasti pulang
Nangang 280515
_____________________
Penulis Asri Fara, penyair wanita yang tinggal dan bekerja di Nangang, Taiwan
Sumber : Puisi ini diambil dari catatannya di Facebook
Minggu, 17 Mei 2015
(Puisi Tamu) - ALZHEIMER [Karya Bintang Kartika
sekian panjang jalan kaujejak
dan kautuah pada laluan;
"aku menyamun malammu, merompak tidurmu. di sudut mana pun, aku menyauhmu!"
di ladang,
di antara bebatang kopi
dan sekian dahannya
tentu telah dipatah orang lewat
kau tak ingat
disampuk alzheimer.
may 2015
______________________
Karya penyair wanita dari Malaysia, tinggal di Kuala Lumpur, dengan nama pena : Bintang Kartika, karya banyak diterbitkan di Akhbar Melayu di Malaysia dan beberapa di bukukukan dan antologi bersama
Sabtu, 02 Mei 2015
(Puisi Tamu) - Babak Terakhir Karya Penyair Lia Amalia Sulaksmi
BABAK TERAKHIR
¯¯¯¯¯¯¯¯˜”*°•.♡.♡.♡.•°*”˜¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
Jika memang layar sudah tertutup
Tiada lakon lagi
Dengan pincang aku keluar
Dari pintu depan
Tinggallah punggung tertimpa lampu
Yang sebentar lagi padam
Panggung mulai sepi
Tanpa tepuk tangan penonton
Bandung, 29-4-15
_____________________
Lia Amalia Sulaksmi, penyair wanita menetap di Bandung, Jawa Barat
Senin, 09 Februari 2015
(Puisi Tamu) - Jalan Rahsia
Jika kelak aku pergi tiba-tiba
meninggalkan basah rumput musim muda
berdenyut silau di bawah mentari
atau sebakul janji tidak sempat kita taburkan
di perkebunan bakal tua
akankah ada alir magis menemukan kembali
secantum kenangan yang berderai
direjam kalut usia?
Tika ketar jemari kita berpadu
menarik kerusi paling sejahtera
lalu duduk bersama di beranda rahsia
menghirup syukur di cangkir kasihNya
setia senyuman yang terkumpul
setiap madu renungan kita
pada hari yang entah di mana
sedang selokan hanya menandakan tanya ...
atau
barangkali ya,
gelisah ini makin dewasa
menelan hijau kata.
____________________
Judul/Tajuk puisi ditambahkan
Karya : Teratai Abadi (Khadijah R) Tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia
Senin, 12 Januari 2015
(Puisi Tamu) Sepanjang Jalan Kita Karya Nova Linda
jalan ini panjang, sayang!
penuh ketikil tajam menghadang
bongkahan perih melintang
mengiris pedih, hingga belulang
ini jalan kita, sayang!
jangan surut atau lintang pukang
katupkan gigi saat tak kuasa menahan dera
pejam netra saat luka terasa nganga
ini jalan cinta, sayang!
tempat kita tumpahkan beribu cerita
melumuri tiap jejak dengan tetes airmata
menyisa rindu di rapuh telapak jiwa
di sinilah kita, sayang!
di jalan penuh doa
menyusuri liku garisNya
menuju temu, akhir sebuah jiwa
Pekanbaru, 12 Jan 2015
_____________________
Penyair Nova Linda, tinggal di Pekanbaru, Riau
Minggu, 21 Desember 2014
(Puisi Tamu) - Kidung Perpisahan Karya Bintang Kartika
jangan tunggu aku, kanda
aku tak jadi datang
bara dalam dada
telah padam
diguyur hujan
lebat dan deras
meski,
aku pernah berharap
bersanding berdua
tapi,
nasib lain bicara
maka,
jauhkan saja raga
dari asmara
dan,
andai kita bersua
jangan biarkan
pandangan mata beradu
biarkan semuanya diam
jadi rahsia dalam ingatan
perlahan, kan melapuk
lambat-laun terlupa
akan tetapi,
bila kanda tak sengaja
beradu pandang
ucapkan;
"selamat tinggal,
selamat jalan."
tanpa gaung
tanpa gema
biarkan hanya jiwa
tabah mendengar.
dec'rain 2014
_____________________
Bintang Kartika (Nama Pena), penyair wanita tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia
Rabu, 10 Desember 2014
(Puisi Tamu) - Rabindranath Tagore
Doa
Memberkati hati kecil ini, jiwa putih ini
telah memenangkan ciuman surga bagi bumi kita.
Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai
Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai
dan melihatnya wajah ibu.
Dia tidak belajar untuk membenci debu,
Dia tidak belajar untuk membenci debu,
dan berminat setelah emas.
Genggam dia untuk jantungmu
Genggam dia untuk jantungmu
dan memberkatinya.
Dia telah datang ke negeri ini
Dia telah datang ke negeri ini
menempuh seratus jalan lintas.
Aku tidak tahu bagaimana dia memilihmu
dari orang-orang yang datang ke pintumu,
dan memegang tanganmu
demi meminta jalan.
Ia akan mengikutimu, tertawa dan berbicara,
dan tak ada keraguan dalam hatinya.
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus
dan memberkatinya. Meletakkan tangannya
di kepalanya, dan berdoa
bahwa meskipun gelombang di bawah mengancam,
namun napas dari atas dapat datang
dan mengisi layar, dan menghembusnya
ke surga perdamaian. Lupakan dia jika kau tidak tergesa,
dan biarkan dia datang ke hati
dan memberkati.
Izinkan
Izinkan aku berdoa bukan agar terhindar
dari bahaya, melainkan agar aku
tiada takut menghadapinya.
Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,
Izinkan aku tidak mencari sekutu
Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,
Izinkan aku tidak mencari sekutu
dalam medan perjuangan hidupku
melainkan memperoleh kekuatanku sendiri.
Izinkan aku tidak mengidamkan
Izinkan aku tidak mengidamkan
dalam ketakutan dan kegelisahan
untuk diselamatkan, melainkan harapan
dan kesabaran untuk memenangkan
kebebasanku. Berkati aku, sehingga aku
tidak menjadi pengecut
dengan merasakan kemurahan-Mu
dalam keberhasilanku semata,
melainkan biarkan aku menemukan
genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku.
_____________________
Sumber : http://donhasan.blogspot.com/2012/03/puisi-puisi-rabindranath-tagore.html
Sumber : http://donhasan.blogspot.com/2012/03/puisi-puisi-rabindranath-tagore.html
Minggu, 07 Desember 2014
(Puisi Tamu) - Menadah Luka dan Bahagia
Koleksi foto Sasa Syakira
Ada rintik gerimis
yang kau sembunyikan
di balik katakata manismu.
Entah bagaimana caranya
kau bisa begitu lihai
menadah luka dan bahagia
pada satu cawan secara bersamaan..
Yogyakarta, 5 Desember 2014
Sasa Syakira
_____________________
Sasa Syakira, penyair wanita tinggal di Yogyakarta
Rabu, 05 November 2014
(Puisi Tamu) - Kasih Adalah Ibadah Karya Dinding Syair
Foto Koleksi album Dinding Syair
Menyemai ladang kerontang
Haus kesuburan kasih sayang
Merenta tubuh inginkan keikhlasan
Meminta terbaluri perhatian
Di pintalnya doa doa untuk anak anak tercinta
Yang tak jua membalas kasih bunda
Di jahitnya duka demi selembar asa
Kelahiran dan pengasuhan bagai sutra begitu suci dan mahal tuk di tukar harta
Ananda
kau bak permata ibunda
Jadikanlah ibunda intan
Amalan ibadah kehidupan
Kau ibadahku
Aku ibadahmu
Kasih adalah ibadah
***4-6-2013***
___________________
Dinding Syair adalah nama pena dari penyair yang tinggal di Bekasi bernama asli Tuti Angraeni, Puisi diambil dari blog Warna Warni Pelangi Kata
Sabtu, 25 Oktober 2014
(Puisi Tamu) - Keberangkatan
Koleksi Album Teratai Abadi
"Sebelum keberangkatan itu kulalui,
aku ingin sekali melihat kamu di sini,
bertelingkah tentang siapa yang lebih setia,
atau siapa yang akan lebih nestapa,
bila maut tersenyum di hadapan kita.
Seperti dahulu,
angin nakal menjatuhkan rambut di dahimu,
bibir gementar meluncurkan kalimat rahsia
dan suara-suara asing di luar daerah kedekatan ini,
tidak menjejaskan kita untuk saling berbagi mesra.
Kau,
bersama kebiasaanmu yang hangat,
merenung aku dengan segenggam janji yang perlahan,
berubah menjadi pencuri,
mencuri ketenangan berkali-kali,
setelah kau pergi.
Bagaimana aku mampu berangkat,
dari penaklukan ini?
Seluruhnya adalah tentang kamu.
Di beranda, sepi yang berkumpul,
dan tanpa tahu pamit memeluk aku
untuk terus kekal terpaku.
Kau yang selalu hidup,
begitu angkuh berada di langit-langit,
menutup mentari yang seharusnya menyuluh ubunku dengan kilaunya,
mendekamkan aku pada perjalanan waktu.
Kau tahu, suaramu tidak pernah meninggalkan teras kita.
Membunuh aku tanpa henti.
Membunuh aku tanpa berhenti."
Kuala Lumpur, 25 Okt' 14
____________________
Nama Pena : Teratai Abadi, penyair wanita Malaysia
Selasa, 30 September 2014
(Puisi Tamu) - Puisi dan Kata-Kata Indah Selendang Hitam (Russie)
BUKAN
Bukan mahuku
untuk mencalar
garis pelangi senja
yang tersusun
kerana aku
adalah mentari
yang bakal tenggelam
dalam tangis hujan.~
~ Rusie ~
22/9/2014
Perlukah kupadamkan rindu
Saat cintaku tidak lagi diperlu olehmu?
~ Sie ~
Saat cintaku tidak lagi diperlu olehmu?
~ Sie ~
Di mana sentuhan malam
saat sunyi memanggil namamu?
~ Sie ~
?
Entah mengapa
tibatiba disenja
nan syahdu..
jiwa diracau rindu
yang lama membeku.
Engkaukah?
yang mengusik senjaku
atau cuma rindu
yang membuakbuak
di dada daku?
~ Rusie ~
18/9/2014
16:48pm
saat sunyi memanggil namamu?
~ Sie ~
?
Entah mengapa
tibatiba disenja
nan syahdu..
jiwa diracau rindu
yang lama membeku.
Engkaukah?
yang mengusik senjaku
atau cuma rindu
yang membuakbuak
di dada daku?
~ Rusie ~
18/9/2014
16:48pm
Bila bulan enggan bicara
wajah malam bermuram durja.
~ Sie ~
23:40 mlm
Melangkah bawah redup senja
bayangmu tibatiba menerpa..
~ Sie ~
16:57
_____________________
Penyair : Selendang Hitam (Rusie)
Tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia
wajah malam bermuram durja.
~ Sie ~
23:40 mlm
Melangkah bawah redup senja
bayangmu tibatiba menerpa..
~ Sie ~
16:57
_____________________
Penyair : Selendang Hitam (Rusie)
Tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia
Sabtu, 20 September 2014
(Puisi Tamu) - Kidung Rindu Di Kaki Senja
kidung, nyanyian resah nan lelah
dikaki senja
menaiki ruh malam
yang diam langkah
mata menekur curam
nanar di laman tebing kelam
mungkinkah ombak kerinduan terbangunkan?
atau keangkuhan mengakar tikaman
jangan,
jangan kawahkan cinta dalam magma
agar menari ia dalam cadar pesona
nan terjaga
dengarlah cinta,
biarkan mentari menunggu malam
hinga kaki kakinya merebut kalbu
yang dilukiskan
di sini,
ketika rindu lirih
mencarimu.
Miaoli, 16092014
____________________
Salju Kemayoe (Eppril W)
Penyair tinggal di Taiwan
Minggu, 24 Agustus 2014
(Puisi Tamu) - Nota Malam (Rah Jaffar/Penyair Malaysia)
MALAM INI...
seperti malam yang sudah.
Ketika hujan timpa atap rumah.
Tok ,, tok ,, tok...
Bunyi ketukan bertalu di pintu.
Aku ke jendela.. meninjau,,......
sunyi ....
Hanya titik hujan jatuh di rerumput laman.
Kasih, kaukah yang mengetuk pintu atau aku yang sering teringat kamu?
11:44pm@RJ
24/8/2014
___________________
Rah Jaffar, Penyair Malaysia, Tinggal di Kuala Lumpur
____________________
(Puisi Tamu) - Tuliskan Aku Dalam Sajakmu (Penyair Leliana Lesmana)
Sumber Gambar : Album Leliana Lesmana (FB)
Tuliskan aku dalam sajakmu, jerit hujan
seperti daun gugur, seperti kabut turun
dan bangku taman yang berkarat
sendiri mendekap sepi
Abadikan aku dalam kata, teriak senja
sebagaimana cinta yang patah, peri, kuburan
dan para peselingkuh mendekap lara
Kemiskinan tertuang di sajak sajak garang,
dibacakan pengganti keluh , ber api api
seperti tuhan, kebencian, dan pemerasan diteriakkan pecundang
setiap hari di layar televisiku
yang nyaris pecah karena tiap kali kepalan
melayang disertai seruan " keparat "
"Aku mungkin menulis hujan dan kabut,
menyelinapkan air mata di situ
setetes demi setetes" bisikku pada nasibku sendiri
Lalu siapa yang peduli dengan sajak ini?
apakah akan menjadi kenangan atau sejarah
yang diingat sambil lalu?
Langit sedikit jingga dan kelabu putih di malam
menjelang musim penghujan yang bersuara ini
dan bulan berkubang perih di lempengan kaca...tertawa
tak tahu kalau kita semua ternyata bisa menagis juga
solo, 151012
___________________
Sumber : Catatan Penyair Leliana Lesmana
Penyair tingal di kota Solo
Sabtu, 23 Agustus 2014
(Puisi Tamu) - Sendiri (Chandra Maulidina/Penyair Jakarta)

Sendiri ...
dahulu ... berapa tahun yang lalu,
kita pernah datang bersama,
di tempat ini,
di pantai ini ...
setelah berlalunya waktu ...
ternyata mampu mengubah semuanya,
kamu,
aku,
dan kita berdua ...
di tempat yang sama ...
di pantai yg sama,
aku datang kembali,
namun kini sendiri ...
di sini, di pantai ini ...
aku ingin melepaskan semua,
kecewa ku,
sedih ku,
semua itu kan ku ceritakan kepada laut,
duhai ombak di lautan,
temani aku saat ini,
isilah relung hatiku yg sepi,
dengan deru indah suara ombakmu,
sejuknya udaramu,
sehingga aku tak merasa sendiri,
dan sepi ....
(foto by Ella Yustanti)
cm, 21/8/2014
___________________
Penyair Chandra Maulidina/Penyair Jakarta
(Puisi Tamu) - Pengawasan (Bunga Pena Hbasrie Btmvarao/Penyair Pulau Batam)
pengawas itu akan segera tiba
dari semalam
kaki dan tangan sibuk berkejaran
semua masih terasa kurang
pengawas itu akan segera tiba
dan semuanya harus terlihat sempurna
kotoran-kotoran itu harus segera dibungkus rapi
bangkai-bangkai itu pun harus dibedaki
disemprot parfum biar wangi
pengawasan kali ini
membuat ini pagi sibuk sekali
Batam, pagi ini, 21.08.2014
___________________
Bunga Pena Hbasrie Btmvarao/Penyair Pulau Batam
(Puisi Tamu) - Membutuhkannya (Saifun Arif Kojeh/Penyair Kalbar)
riak bergelombang di antara dua sungai itu
menghempas sampan besi hati kami
yang bergerak menembus rembulan
tirakat gelembung-gelembung kata syahdu terucap
dari bidadari-bidari kerudung ungu di ujung haluan
menyinggahkannya ke pendaratan yang erat
menyisakan jejaknya di udara yang sulit dihilangkan
endusan hidung kekaguman kami
selalu membutuhkannya setiap masa terlewatkan
Bumi Lelabi Putih, 21 Agustus 2014
___________________
Saifun Arief Kojeh (Penyair/Cerpenis/Novelis)
Tinggal di Bumi Lelabi Putih Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat
(Puisi Tamu) - Biar Katanya (Topan Kejora/Penyair Kota Singkawang)
Biar katanya,
aku menopang yang tiada.
Kuanggap dia tak pahami kita.
Biar katanya,
segala milikmu adalah sisa
tak peduli aku apa dan di mana
asal dikau menjadi lembut jiwa.
Biar katanya,
aku luput membaca tanda
sebab tak bisa bedakan warna.
Bagiku dikau huruf yang menyala.
Biar katanya,
aku memaknai rasa dengan cuma.
Namun hingga malam palingkan muka
dikaulah pikat penyandera mata.
Biar katanya,
bersamaku engkau tak bahagia.
Sementara telah kita rekat makna
mari kita satukan angan dan cita-cita.
Biar katanya,
sebab nyata dan demi masa
dikau sungguh mempesona.
------------------------------
TWA,
Kalimantan Barat,
Indonesia – 1435 H.
____________________
Topan Kejora (Penyair)
Tinggal di Singkawang KALBAR
Langganan:
Postingan (Atom)



















