Jurnal Kirbat Sastra : - e-mail : sonny14sayangbati@gmail.com - sms (6221) 8161458020
Minggu, 06 September 2015
(Puisi Tamu) - BENING karya Almondia Salem
Damai...
Milikmu yangg tulus hati
Ke sana lagi, mata air menetap
Jernih...
Sebening kaca...
Mengalir apa adanya
Menyaring ampas sandiwara
Disimpan dalam endapan lumpur musiman
Merunduk,
Bersembunyi...
Memberi jalan pada terik matahari
Entah sejauh apa aku tlah berlari
Indah batin-mu...
Elok damai-mu...
Ke dasar hatimu lagi, jiwaku kan kembali.
___________________________
written by Almondia Salem
16th September 2013
Penulis Almondia Salem, tinggal di Madiun, Jawa Timur, adalah penyuka puisi dan suka menulis puisi di halaman pribadinya (Facebook)
Jumat, 03 Juli 2015
(Puisi) - Pendiam namun Cerewet
Koleksi Pribadi Foto Dewi Kamaratih
ada yang manis keluar dari pohon
ada yang tersenyum membaca buku
ada yang diam merenung
ada yang cerewet seperti cabe rawit
oh itu dia si pemilik andeng-andeng
di atas bibir
aduh hiasan bibir
sebuah titik noktah
dari Pencipta
jika marah dan tersenyum tiada beda
orang sering salah kira
dia sedang membaca puisi
sepenuh hayat
ya, lembut dan cerewet adalah anugerah
dia memang seperti itu
Layla, ia sungguh cantik
setaip kali ia berkata-kata
aku akan menatap wajahnya
sebab aku lebih mengerti wajahnya
ketimbang ucapannya yang cerewet
Jaga Blengko, 03 Juli 2015
Jak Phenomenon
Kamis, 25 Juni 2015
(Kisah Perang) - Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura
B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga
Merdeka.com - Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.
Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.
TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.
Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.
Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.
"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.
Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.
Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.
Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.
"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.
Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.
Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.
Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.
Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar.
_____________________
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tni-au-mau-bom-pangkalan-jet-tempur-inggris-di-singapura.html
Senin, 22 Juni 2015
(Puisi) - Jikalau Nanti Kita Bertemu
aku akan mengajakmu ke tempat yang tinggi sekali
biar kita tahu betapa kecilnya kita
supaya kita selalu mengingatNya
pasti hari itu yang paling indah
langit tersenyum
tanah tempat kita berpijak
akan tumbuh bunga mawar
burung-burungpun bernyayi
seperti lovebird yang berkicau berdua
ya, berdua saja
berpuisi dari relung hati yang paling dalam
C.I.N.T.A.
__________________
Jaga Blengko, 22 Juni 2015
Jack Phenomenon
Kamis, 18 Juni 2015
(Kisah Perang) - Kisah para tentara Islam berjuang di perang kemerdekaan Amerika
perang kemerdekaan amerika. ©althistory.wikia.com
Merdeka.com - Sejarah perang kemerdekaan Amerika Serikat
melawan Inggris tak bisa dilepaskan dari sejumlah tentara Muslim. Mereka
ikut bertempur dengan gagah untuk negara baru yang merdeka tahun 1776
itu.
Sosiolog AS Dr Craig Considine menulis sebuah artikel soal para pejuang Muslim ini. Tulisannya yang berjudul 'Honoring Muslim American Veterans on Memorial Day' dimuat di Huffington Post.
Di bawah Tentara Kontinental pimpinan George Washington, ada nama Bampett Muhammad. Dia bertempur untuk Barisan Virginia sejak tahun 1775.
Lalu ada nama Peter Buckminster yang dicatat dalam sejarah militer AS. Dia menembak mati Major Jenderal John Pitcairn, seorang panglima Inggris di pertempuran Bunker Hill.
Setelah mendapatkan kemerdekaannya sebagai budak. Buckminster mengganti namanya dengan Salem. Asal katanya Salam, yang berarti damai dalam Bahasa Arab. Salem kemudian kembali mendaftar sebagai sukarelawan dan bertempur dengan gagah berani di pertempuran Saratoga dan pertempuran Stony Point.
"Saat itu Washington yang menjadi komandan pasukan," kata Dr Craig Considine, yang ahli dalam sejarah hubungan Islam dan Katolik di AS.
Considine berpendapat, kehadiran pasukan Muslim di barisan Jenderal Washington itu menunjukkan kebebasan beragama di pasukannya. Tak masalah apa pun kepercayaan mereka selama mau bertempur untuk kemerdekaan AS.
Di pasukan Jenderal Thomas Sumter, seorang pria asal Afrika Utara bernama Yusuf Ben Ali ikut berperang. Pria yang dikenal dengan nama Joseph Benhaley bergabung dengan pasukan Carolina Utara.
Setelah perang kemerdekaan usai, Amerika terjebak dalam perang saudara antara daerah Utara yang menentang perbudakan dan Selatan yang ingin terus melegalkan perbudakan. Kembali sejumlah prajurit yang beragama Islam ikut berperang.
Banyak dari mereka bergabung di Resimen Massachusetts ke-55. Yang terkenal dengan julukan All African Amerikan. Seorang bernama Muhammad Ali bin Said yang kemudian mengganti nama menjadi Nicholas Said berhasil meraih pangkat sersan.
Seperti yang dikatakan Considine, peran Muslim di ketentaraan AS sudah dimulai sejak era para pendiri negara adidaya tersebut. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.
Sosiolog AS Dr Craig Considine menulis sebuah artikel soal para pejuang Muslim ini. Tulisannya yang berjudul 'Honoring Muslim American Veterans on Memorial Day' dimuat di Huffington Post.
Di bawah Tentara Kontinental pimpinan George Washington, ada nama Bampett Muhammad. Dia bertempur untuk Barisan Virginia sejak tahun 1775.
Lalu ada nama Peter Buckminster yang dicatat dalam sejarah militer AS. Dia menembak mati Major Jenderal John Pitcairn, seorang panglima Inggris di pertempuran Bunker Hill.
Setelah mendapatkan kemerdekaannya sebagai budak. Buckminster mengganti namanya dengan Salem. Asal katanya Salam, yang berarti damai dalam Bahasa Arab. Salem kemudian kembali mendaftar sebagai sukarelawan dan bertempur dengan gagah berani di pertempuran Saratoga dan pertempuran Stony Point.
"Saat itu Washington yang menjadi komandan pasukan," kata Dr Craig Considine, yang ahli dalam sejarah hubungan Islam dan Katolik di AS.
Considine berpendapat, kehadiran pasukan Muslim di barisan Jenderal Washington itu menunjukkan kebebasan beragama di pasukannya. Tak masalah apa pun kepercayaan mereka selama mau bertempur untuk kemerdekaan AS.
Di pasukan Jenderal Thomas Sumter, seorang pria asal Afrika Utara bernama Yusuf Ben Ali ikut berperang. Pria yang dikenal dengan nama Joseph Benhaley bergabung dengan pasukan Carolina Utara.
Setelah perang kemerdekaan usai, Amerika terjebak dalam perang saudara antara daerah Utara yang menentang perbudakan dan Selatan yang ingin terus melegalkan perbudakan. Kembali sejumlah prajurit yang beragama Islam ikut berperang.
Banyak dari mereka bergabung di Resimen Massachusetts ke-55. Yang terkenal dengan julukan All African Amerikan. Seorang bernama Muhammad Ali bin Said yang kemudian mengganti nama menjadi Nicholas Said berhasil meraih pangkat sersan.
Seperti yang dikatakan Considine, peran Muslim di ketentaraan AS sudah dimulai sejak era para pendiri negara adidaya tersebut. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.
[ian]
___________________
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-para-tentara-islam-berjuang-di-perang-kemerdekaan-amerika.html
Langganan:
Postingan (Atom)

