Jumat, 29 Mei 2015

(Puisi) - _______MAMPIRLAH KE GUBUKKU ______







masuklah ke bilikku yang paling dalam
aku akan menjamumu dengan kehangatan
tinggallah beberapa saat di sini sampai bosan
sehari atau seminggu, mungkin sebulan
setidak-tidaknya kamu bisa coba setahun
bila kamu betah tinggallah di sini selamanya
mungkin kita bisa membangun satu bilik lagi

buat matahari yang akan hadir
aku tidak tahu berapa yang kau sanggup bikin bilik di rumah ini ?

entahlah, semoga kiranya Yang Maha Tahu
memberkati kita
Dia yang mempertemukan
Dialah yang memberi kecukupan

aku hanya mengundangmu ke bilikku yang paling dalam





____________________

Jaga Blengko 29 Mei 2015
Jack Phenomenon


Rabu, 27 Mei 2015

(Puisi Tamu) - Lelaki Senja








Lelaki Senja
duduk termenung di beranda tua
secangkir kopi tanpa gula, temannya hanya
pada senja dia bercerita
 

berjuta langkah t'lah di laluinya
ribuan kisah mengiringinya
dari benua tawa
hingga lautan airmata


dihisapnya batang sigaret tersisa
entah, kepulan yang ke berapa
dia tertawa ...
"ha.ha.ha. aku pernah jaya!"

diteguknya si teman setia
mungkin itu tetes paling purna
tawanya terhenti seketika,
"aahh ..., kau pun akan mendahuluiku rupanya,"

kembali dia terdiam
menatap asap sigaretnya menjauh terbang
seperti mimpinya yang telah hilang
perlahan matanya terpejam
menikmati pelukan rindunya pada sang pemilik alam

lelaku tua, tetaplah bertahan
meski langkahmu tak lagi panjang
senja akan selalu bertandang
mengiringimu tuntaskan perjalalanan
di sini aku 'kan menenun doa panjang
'tuk bahagiamu yang pasti pulang




Nangang 280515




_____________________

Penulis Asri Fara, penyair wanita yang tinggal dan bekerja di Nangang, Taiwan
Sumber : Puisi ini diambil dari catatannya di Facebook

Minggu, 17 Mei 2015

(Puisi Tamu) - ALZHEIMER [Karya Bintang Kartika











sekian panjang jalan kaujejak
dan kautuah pada laluan;
"aku menyamun malammu, merompak tidurmu. di sudut mana pun, aku menyauhmu!"

di ladang,
di antara bebatang kopi
dan sekian dahannya
tentu telah dipatah orang lewat

kau tak ingat
disampuk alzheimer.




may 2015






______________________

Karya penyair wanita dari Malaysia, tinggal di Kuala Lumpur, dengan nama pena : Bintang Kartika, karya banyak diterbitkan di Akhbar Melayu di Malaysia dan beberapa di bukukukan dan antologi bersama

Sabtu, 02 Mei 2015

(Puisi Tamu) - Babak Terakhir Karya Penyair Lia Amalia Sulaksmi












BABAK TERAKHIR
¯¯¯¯¯¯¯¯˜”*°•.♡.♡.♡.•°*”˜¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯




Jika memang layar sudah tertutup
Tiada lakon lagi

Dengan pincang aku keluar
Dari pintu depan

Tinggallah punggung tertimpa lampu
Yang sebentar lagi padam

Panggung mulai sepi
Tanpa tepuk tangan penonton




Bandung, 29-4-15






_____________________


Lia Amalia Sulaksmi, penyair wanita menetap di Bandung, Jawa Barat

Selasa, 14 April 2015

(Puisi) - Kutundukkan Kepalaku Kepada Sang Penenun dan Pemintal Tubuhku








Nenek moyangku seorang pemintal dan tukang tenun kain, turun-temurun memainkan kelentukkan tangan, kaki dan mata lelahnya, memilih warna-warni atau mencari pohon-pohon atau akar dan daun yang apabila sihir petunjuk ilhamnya menyatakan bahwa daun ini dan akar itu apabila diampur akan menghasilkan warna anu.Sejak dahulu kala keturunan nenek moyang pemintal dan penenun menyebar ke seluruh bumi, mereka memiliki kesamaan ilmu, baik dalam corak, alat, benang dan warna. Satu guru mereka yang lahir di lembah subur Mesopotamia, di tengah-tengah benua mereka belajar satu ilmu dari seorang nenek moyang keturunan mahir.

Mata mereka melihat sekeliling alam dan meniru corak alam, binatang, tumbuhan bahkan di langit atas mereka membuat tiruan alam di kain tenun mereka dan mereka membuat apa saja dengan kain tenun ini, membuat busana adat mulai dari pembungkus kaki sampai kepala, membuat kain pelana kuda, membuat taplak meja, alas tempat tidur ataupun kemah dan karpet-karpet tempat duduk orang-orang, raja-raja, dan pangeran beserta keluarga besarnya.

Di semua bumi berpenduduk segala bangsa menenun, memintal, kadangkala mereka mewujudkannya dalam sebuah ritual yang sakral, membuat tenun khusus bagi upacara-upacara, bahkan saat sang bayi lahir di bumi entah itu anak laki-laki atau perempuan mereka memiliki kain tenunnya sendiri. Kepala suku dengan coraknya, bangsawan dengan coraknya dan dukun dengan coraknya.

Semua dikenal karena busana tenunnya yang merupakan identitas atau jabatan mereka, itulah keturunan para penenun dan pemintal mewariskan kepada keturunan mereka dengan segala pesan, nasihat, mantra dan doa-doa panjang mereka

Lihat seringkali busana tenun memiliki sebuah gengsi, kedudukan, pangkat atau jabatan dikombinasikan dengan corak dan warna-warni penuh arti, setiap orang suku bangsa bangga dengan hasil tenunnya sebagai warisan leluhur yang merupakan budaya, adat istiadat yang lestari.

Sampai suatu saat seorang yang memiliki arti hidup, seorang pecinta mengoyakkan jubah tenunnya dan membuangnya di tanah dan kepalanya ditaruh abu dan debu dan berduka cita dengan semua yang apa ia kenakan dengan segala kebanggaan, itu semua sia-sia tanpa martabat, tanpa juru selamat dan tanpa Allah yang hidup, semua sia-sia.

Aku menundukkan kepala dengan segala kerendahan hati bahwa semua itu tidak pantas aku kenakan, biarkan hidupku telanjang dan masuk angin, aku tahu Oh penenun hati dan pikiran, aku menundukkan kepalaku hanya kepadamu bahwa ini semua sia-sia tanpa Engkau ada disampingku senantiasa.




Jaga Blengko, 3 April 2015
Jack Phenomenon