Selasa, 03 Juni 2014

(Serba-Serbi) - Haji "Mahiwal" Hasan Mustapa




Ilustrasi: MRP

















Ulama dan pujangga termasyhur tanah Sunda. Terkenal dengan dangding-nya yang mengandung mistisisme Islam.

OLEH: ANNISA MARDIANI

 
 
HAJI Hasan Mustapa kerap disebut sebagai haji mahiwal atau kontroversial. Dia dianggap sebagai penganut ajaran wahdatul wujud lantaran karya-karyanya yang terkenal berkaitan dengan hubungan menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Sebagai ulama, dia menggunakan dangding atau guguritan untuk mengekspresikan pemikiran dan renungan tentang ajaran Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan kejadian yang dialami sehari-hari.

Hasan Mustapa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut, Jawa Barat. Ketika berusia sembilan tahun dia bersama ayahnya, Mas Sastramanggala, pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Hingga dewasa dia menghabiskan hari-harinya di pesantren di Tatar Sunda, Jawa, ataupun Madura. Hasan Mustapa kembali lagi ke Tanah Suci dan sekira delapan tahun belajar dan mengajar di sana. Ketika terjadi perselisihan paham antarulama di Garut, Hasan Mustapa dipanggil pulang untuk menyelesaikan persoalan.

Pada 1882 Hasan Mustapa mulai memberikan pengajaran agama di mesjid agung Garut. Tujuh tahun setelahnya, dia berkeliling Jawa dan Madura membantu pekerjaan Snouck Hurgronje yang dia kenal semasa di Arab Saudi. Atas usul Hurgronje, Hasan Mustapa diangkat menjadi hoofd penghoeloe (kepala penghulu) Aceh, dan dua tahun kemudian pindah menjadi hoofd penghoeloe di Bandung sampai pensiun dari jabatannya pada 1910-an.

Hasan Mustapa yang meninggal pada 13 Januari 1930, tidak hanya dikenal sebagai ulama, tapi juga sebagai sastrawan yang termasyhur dengan dangding-nya. Dangding atau guguritan adalah jenis puisi klasik yang dikenal dalam kesustraan Sunda sebagai tulisan berpola dan melodis. Penggunaan istilah dangding pun dipilih karena pengucapannya yang terdengar melodis. Karya sastra ini biasanya juga disebut sebagai nyanyian puitis. Tak sekadar tulisan, naskah dangding pun ditembangkan.

Susastra Sunda mengenal pupuh, yakni irama lelaguan yang memiliki ciri khas masing-masing jenisnya dan memiliki aturan. Lirik lelaguan inilah yang dikenal sebagai dangding. Ia terikat aturan baku. Guru wilangan adalah aturan jumlah suku kata setiap larik dan jumlah larik dalam setiap bait. Sedangkan guru lagu adalah aturan bunyi rima akhir yang harus sesuai dengan jenis pupuh-nya.

Nyanyian puitis atau dangding ini terbagi ke dalam 17 jenis pupuh, yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, jurudemung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom dan wirangrong. Setiap pupuh memiliki aturan dan karakteristik suasana masing-masing. Melalui dangding inilah Hasan Mustapa menyampaikan pemikirannya. Dia menulis dangding dengan menggunakan huruf pegon, yakni huruf Arab dengan bahasa Sunda atau Jawa.

Pujangga sekelas Hasan Mustapa, yang mungkin sudah tidak memiliki kesulitan lagi dalam  hal pembuatan puisi dengan keterikatan aturan, dalam tempo dua hingga tiga tahun mampu menghasilkan dangding lebih dari 10 ribu bait. Mistisime Islam kental terasa dalam dangding atau guguritan karyanya yang banyak memperlihatkan renungannya tentang tasawuf atau ketuhanan. Karena pandangannya tentang hubungan masnusia dengan Tuhan yang dia ibaratkan seperti rebung dengan bambu, dia dinilai sebagai Haji “mahiwal” atau kontroversial penganut wahdatul wujud.

"Setiap kali membaca dangding-dangding Haji Hasan Mustapa, saya merasa seperti mendekati arus sungai besar. Betapapun dalam diri saya ada dorongan untuk menyentuh arus yang deras itu, tapi pada saat yang sama saya merasa takut hanyut karena saya merasa belum mampu atau sanggup mengarunginya," kata Hawe Setiawan dalam kuliah umum “Islam dan Mistisisme Nusantara: Dangding Mistis Haji Hasan Mustapa,” di Salihara, Jakarta, 4 Agustus lalu.

Dangding karya Haji Hasan Mustapa, diantaranya Puyuh Ngungkung dina Kurung, Hariring nu Hudang Gering, Dumuk Suluk Tilas Tepus, Sinom Pamaké Nonoman, Amis Tiis Pentil Majapait, Kinanti Kulu-kulu, Sinom Barangtaning Rasa, Sinom Wawarian, Asmarandana nu Kami, dan Dangdanggula Sirna Rasa.

Karya-karyanya terkenal sampai sekarang. Pada 1994 mereka pernah melakukan perunjukan bertajuk Nembangkeun Karya Akbar Haji Hasan Mustapa atau "Melantunkan Karya Akbar Hasan Mustapa", yakni acara yang menyajikan pertunjukan tembang-tembang Sunda dengan lirik dangding dari Hasan Mustapa. Atas karya-karyanya, pada 1977 Haji Hasan Mustapa menerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia sebagai Sastrawan Daerah Sunda.




___________________

Sumber : http://historia.co.id/artikel/persona/1054/Majalah-Historia/Haji_Mahiwal_Hasan_Mustapa

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding {Martha Sinaga/Penuls/Jurnalis)






 



Sonny H. Sayangbati....Sepuluh jari kukatupkan untuk berucap terimakasih, atas sebuah nilai yang kuterima melalui buku indahmu yang kau kirim Sahabat.........Tentu kupercayai lembaran demi lembaran buku ini akan mewarisi nutrisi untuk-ku...

Lantas, mata hatiku tertuju pada sebuah puisimu di halaman 19 yang berjudul:

"Sebuah Nilai"

......jikapun kosong
tak mengapa....hanya angka terbilang
Angka hanyalah bilangan manusia,
amal itu bilangan Tuhan....

Ehm...susunan kata singkat yang menebar dalam lapisan makna sebuah nilai. Ya nilai!. Dan itu mengingatkanku pada awal puisi Nu'ayamah yang diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaya....
Demikian penggalan puisi itu,.
....Bertanya aku pada junjunganku
"Adakah di alam semesta ini junjungan selain dari pada-Mu?

Kembali seorang penyair mempertanyakan soal nilai sebuah makna. Dan pertanyaan akan nilai itu terus mengalir sejak lahirnya puisi di Mesir 2500 tahun sebelum masehi, yang mereka tulis di atas papyrus. Dari papyrus inilah peradaban manusia sampai pada tingkat tertentu, memanfaatkan "sda" sebagai media penulisan kesustraannya. Demikian juga yang terjadi di dunia sastera di Cina. Kita longok penggalan puisi antara lain diterjemahkan oleh Alif Danya Munsyi....

Jika kau menjadi besar
setelah dulu kau kecil
memiliki banyak harta
setelah dulu kau miskin dst...

Semua bicara nilai dan perbandingan. Sungguh sobatku Sonny, nilai dan makna kehidupan, keselarasan. hati, jiwa dan roh saling mengkait dalam kumpulan tulisanmu selanjutnya menyemburkan arti pada panjangnya perjalanan hari.

Sebuah "pribadi" kuat itu kutemukan melalui larik-larikmu. Dalam berbagi kau tak berkutat dengan bahasa puitik-mu. Tentu atas dasar kuat alasan yang kau tuju.

Yang pasti kau telah menabur sebuah kumpulan "cerita" hati-rasa dan jiwa....teruslah menabur kebajikan melalui lembaran sastera alam pikir dan hatimu nan selaras....Have a nice poem....Tha Sinaga.

amal itu bilangan Tuhan
 
 
 
 
___________________

Sumber : Martha Sinaga (Penyair, Penulis, Jurnalis, Sastrawan)

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding [Yatim Ahmad/Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times]







SASTERA DI BAWAH KHATULISTIWA

 

MATAHARI pukul 2 petang bagai sengatan tebuan ketika aku menjemput Sonny H. Sayangbati di pejabat New Sabah Times, lantas kami ke kereta dan aku memasang penghawa dingin, ia bagai taufan sejuk yang nikmat untuk mengenyahkan bahang panas.

Lalu aku membawanya ke Kota Kinabalu, ibu negeri Sabah, Negeri di Bawah Bayu, untuk menyelesaikan urusan pembayaran ansuran kereta sebelum aku membawanya di sebuah restoran berhawa dingin pula. Memang aku amat teruja kehadiran ini.

"Masa semakin lanjut. Dunia terperosok dengan keinginan yang purba, dibentuk Aang Penghulu Dunia. Tanpa sedar, segala lapis ilmu- yang kelihatan seperti permata mutu manikam - disanjung dan dipuja, seperti pemuja ilmu asal-usul, ilmu evolusi, dan ilmu persaingan," katanya*

Aku tertarik, dan Sonny terus sahaja bicara, kecuali aku mengalih perhatian. Kemudian, dia berkata lagi: "Sahabat palsu di mana-mana seperti serigala menerkam. Bahkan serigala pun tak tahu bahwa ia adalah binatang,"

Akhirnya, Sonny mengakhiri ucapan pendahluluan untuk pertama kali pertemuan ini dengan berkata: "Ya! Lebih baik aku menulis di dinding karena lebin merdeka. Dinding tampat manusia berlindung dari bencana yang datang. Siapa tahu, saat bencana datang dia membacanya? Akan tetapi ia sungguh terlambat,"

Sonnny yang saya kenal sejak tiga tahun lalu, jika tidak silap ketika ketua admin PBKS (Puisikan Bait Kata Suara), sdr Muhammad Rois Rinaldi dan Noor Aisya menjemput dan melantik saya sebagai antara admin group berkenaan. Lalu dari situ, adakalanya kami bercerita di ruang sembang peribadi (inbox) hinggakan ia semacam peta untuk melakar persaudaraan, dan saling berkongsi informasi mengenai perkembangan sastera antara dua negara, saya warga Malaysia dan Sonny Indonesia.

Ada dua rakan Sonny bersama kami, seorang ialah Elisa Korang, dia berkata "Bukan sebuah kebetulan jiak saya berteman baik dengan sang penulis, Sonny H Sayanbati. Kami kawan semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. Namun Bukan karena pertemanan baik mana saya mau membantu menerbitkan karyanya di PEDAS Publishing,"**

Saya semakin berasa seronok. Manakala, seorang lagi - Veronica B Vanny pula berkata: "Bagaikan diajak menaiki sampan kecil melayari sebuah danau tenangm sementara sepoi angin dan dingeng pak tukang perahu yang bijak membuai dan menyentak antara kantuk dan jaga. Itulah yang terasa ketika saya membaca puis-puis Sonny H Sayangbati,"***

Nah! semakin menarik bukan. Agaknya ketika dibicarakan karyanya, Sonny tentu bahagia, tak mengapa bangga, kerana dia memang antara terbaik penulis dna penyair alam maya, malah sasterawan yang megeluti pelbagai tugasan editorial sastera di negaranya.

Restoran pengahwa dingin itu seperti terapung apabila Sonny deklamasikan 100 sajaknya bermula 'Berjanjillah' hingga 'Separuh Jiwaku Tertidur'. Dengan memakaikemeja biru, Sonnny memang hebat, mungkin jika dia ada kumis, lebih digunting rapi berbaidng jangut dan kumis saya yang agak berselerak. Tapi Sonnny mungkin tiada kumis, dan itu dia lebih kelihatan tanpan amat, ya..begitulah kira-kiranya.

Dan dia juga menyuakan foto orang tuanya, D K Sayangbati dan W W Sayangbati-Dengah. Foto hitam putih, yang kerana jasa ibubapanya. Saya kira Sonny sudah bukan milik kita lagi, dia sudah milik seni sepenuhnya, yang kita miliki Sonny sekarang ialah antara pencetus sastera pascamodenisme di bawah kolong langit Khatulistiwa ini.

Saya mahu saja mengapresiasikan sajaknya di sini, tetapi nantilah, saya baru balik dari bandar dan membawa Sonny pulang pula. Kepada rakan sastera sama ada di Malaysia atau Indonesia, yang kenal kami, jangan cemberut pertemuan dua sahabat ini. Dan kepada shabat sastera alam maya Sonnny di Kota Kinabalu ini, saya juga tak mengizinkan anda membawa dia keluar makan. Tak perlu minta izin atau tidak, saya tak benarkan!

Jika mahu, kalian boleh meminjam buku Sonny yang saya terima awal petang tadi, dan menikmati didepan saya, dan selepas membacanya kembalikan waktu itu juga sebab Sonny yang ini dengan kemeja birunya tidak untuk disahabatkan dengan anda, maksud saya dipinjamkan.

Terima kasih kepada sahabat saya Sonnny yang mengirim 'Kumpulan Puisi dan Sketsa Tulisan di Dinding'. Saya menerima panggilan dari pejabat New Sabah Times, di mana saya adalah kolumnis sastera di sana.

Anda tahu, NST adalah antara pelopor penyiaran karya dari luar Sabah selain sastera budaya Utusan Borneo, kelolaan sdr Abd Naddin Shaiddin II. Untuk itu, saya akan berjumpa dan mengopi dengan Bung Naddin kelak untuk membicarakan buku yang menarik ini.

Mungkin selepas ini saya minta Comic Comot supaya inbox saya, ada buku kedua juga dititipkan untuk comic ya.

O ya, saya menandakan buku ini dengan lima bintang. Rakan sastera di mana sahaja berada, milikilah buku ini, dengan memesan kepada sdr Sonnny dan ia menjadi antara koleksi sastera yang amat berharga.

* - petikan Kata Penghantar Sonny

**- Petikan kata penghantar Elisa

***- petikan kata penghantar Veronica




____________________

Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times Yatim Ahmad

Senin, 02 Juni 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Ada Kalanya Kesedihan Tak Perlu Dituliskan


















Sorrow

Claribel Alegría
Terjemahan Inggris oleh Carolyn Forché dari Saudade (1999)
edisi dwibahasa, Curbstone Press, 1999


Ada kalanya kesedihan hanya harus direnungi dan dijalani tanpa harus dituliskan. Bahkan bagi seorang penyair sekelas Claribel Alegría.


Claribel Alegría adalah penyair dan aktivis kenamaan dari El Salvador, yang salah satu buku suntingannya pernah saya resensi di sini. Selama puluhan tahun ia dan suaminya, Darwin J. Flakoll, menuliskan sejarah negeri dan rakyat mereka, mencatat detail-detail perjuangan gerakan Sandinista, dan ikut berjuang agar El Salvador terbebas dari tirani. Meninggalnya sang suami pada 1995 menghempaskan Alegría pada kesedihan mendalam. 


Judul asli kumpulan puisi ini, Saudade, adalah frase yang tak mudah dicari terjemahan/padanannya (seperti dijelaskan di artikel wiki ini). Judul Sorrow yang dipakai untuk edisi Inggris juga tidak begitu tepat sebenarnya. Saudade mirip "kangen", namun lebih keras dari itu. Dalam bayangan saya, mungkin frase "rindu dendam" dari J.E. Tatengkeng bisa dipakai untuk menggambarkannya.


Dalam situasi diri yang limbung itu Alegría pergi ke Thailand dan Indonesia untuk mencari ketenangan batin dan "bercakap-cakap" dengan suaminya. Ini menarik buat saya, bagaimana Asia dipandang sebagai tempat kebatinan bukan cuma oleh bule-bule dari Dunia Pertama macam Elizabeth Gilbert dg Eat, Shit, Make Love-nya itu (eh, judulnya salah ya?), namun juga buat orang Amerika Latin yang notabene sama-sama "Dunia Ketiga", di mana Amerika Latin sendiri juga dipandang eksotis oleh bule-bule Dunia Pertama. Orientalisme rupanya memang telah tertanam begitu kuat dalam imajinasi banyak orang.


Kepergian ke Timur inilah yang kemudian melahirkan kumpulan puisi ini, yang --maaf--menurut saya tidak menampakkan kualitas Alegría sebagai salah satu penyair terpenting Amerika Latin. Lihatlah puisi pertama "Salí a buscarte" ("Aku pergi mencarimu"), hlm. 2:


Salí a buscarte
atravesé valles
y montañas
surqué mares lejanos
le pregunté a las nubes
y al viento
inútil todo
inútil
dentro de mí estabas
Aku pergi mencarimu
lintasi lembah
dan pegunungan
arungi laut nun di kejauhan
bertanya pada awan
dan angin
segala percuma
percuma
kau toh ada dalam diriku


Frase "lintasi lembah, pegunungan, arungi laut" tidakkah terdengar seperti lirik lagu dangdut? Begitu klise dan bombastis. Namun ada beberapa lainnya yang menggetarkan, ketika perasaan kehilangan dan kerinduan diekspresikan dalam majas yang lebih sublim, termasuk puisinya yang dibuat di Jakarta ini, "No importa si en Yakarta" ("Tidak soal apakah di Jakarta"), hlm. 84:


No importa si en Yakarta
en París
o en Umbria
el espejo me habla
en español
Tidak soal apakah di Jakarta
di Paris
atau di Umbria
cermin bicara padaku
dalam bahasa Spanyol


Maka begitulah, ada kalanya kesedihan tak perlu (langsung) dituliskan. Orang butuh waktu untuk bisa meletakkan kondisi diri dalam perspektif, yang mungkin merupakan salah satu cara untuk menghindari mediokritas. Namun tentu penilaian saya ini hanya tertuju pada kualitas puisi yang ada, dan sama sekali tak bermaksud menghakimi perasaan Alegría bahwa sentimentalitas yang dirasakannya itu "dangdutan."


Medioker atau tidak, Alegría sudah jujur menuliskannya. Dan menurutnya ia memang harus menuliskannya, agar sang suami tetap "ada", seperti terungkap dalam puisinya "Cada vez" ("Tiap kali"), hlm. 92:


Cada vez
que los nombros
resucitan mis muertos

Tiap kali
kunamai
bangkitlah lagi orang-orangku yang mati




___________________

Sumber : http://sastraalibi.blogspot.com/2010/10/ada-kalanya-kesedihan-mungkin-tak-perlu.html

Minggu, 01 Juni 2014

[Cerita Penjuru Dunia] - Cingkrik, Maen Pukulan Khas Betawi Rawabelog







Sumber Tulisan: silatindonesia.com

(Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong di antaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub). Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja)

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali.

Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong.

Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya.

Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing.

Asal Kata Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing.