Sabtu, 07 Juni 2014

(Serba-Serbi) - Budaya






Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.




________________________

Sumber :  http://thpardede.wordpress.com/budaya/

(Cerita Penjuru Dunia) - Pesawat Bung Karno Jadi Bahan Tertawaan Kruschev



Kruschev dan Bung Karno


Tahun 60-an, saat usia kemerdekaan kita masih berbilang belasan tahun, Indonesia –dan Bung Karno– sudah menjadi bangsa dan negara yang dihargai oleh para pemimpin negara besar, utamanya penguasa Blok Kapitalis (Amerika Serikat) dan Blok Komunis (Rusia atau Uni Sovyet).  Kedua negara adidaya yang terlibat perang dingin karena beda ideologi tadi, saling berebut pengaruh terhadap Indonesia.

Sikap Bung Karno? Sangat jelas, dia menyuarakan kepada dunia sebagai negara nonblok. Sekalipun begitu. bukan berarti Indonesia adalah negara yang istilah Bung Karno hanya “duduk thenguk-thenguk” tanpa berbuat apa-apa bagi peradaban dunia. Nonblok yang aktif. Karena itu pula, Bung Karno berhasil menggalang kekuatan-kekuatan baru yang ia wadahi dalam NEFO (New Emerging Forces), sebuah kekuatan baru, terdiri atas negara-negara yang baru merdeka, atau sedang berkembang.

Nah, ini cerita tentang pesawat terbang. Dalam berbagai lawatan ke luar negeri, pemerintah Indonesia menyewa pesawat komersil Pan America (PanAm), lengkap beserta kru untuk rombongan Presiden Sukarno. Ini sempat jadi masalah diplomatik, ketika Bung Karno hendak berkunjung ke Rusia, memenuhi undangan Kamerad Nikita Kruschev. Sebab waktu itu, tidak ada satu pun perusahaan penerbangan Amerika Serikat yang mempunyai hubungan tetap dengan Moskow.

Rusia terang-terangan keberatan bila Bung Karno datang menggunakan PanAm dan mendarat di Moskow. Karena itu, pihak pemerintah Rusia mengajukan usul, akan menjemput Bung Karno di Jakarta menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, lebih perkasa, Ilyushin L.111.

Sudah watak Bung Karno untuk tidak mau didikte oleh pemimpin negara mana pun. Termasuk dalam urusan pesawat jenis apa yang hendak ia gunakan. Karenanya, atas usulan Rusia tadi, Bung Karno menolak. Bahkan jika kedatangannya menggunakan PanAm ditolak, ia dengan senang hati akan membatalkan kunjungan ke Rusia.

Pemerintah Rusia pun mengalah. Ya… mengalah kepada Sukarno, presiden dari sebuah negara yang belum lama berstatus sebagai negara merdeka, lepas dari pendudukan Belanda dan Jepang.

Akan tetapi, tampaknya Rusia tidak mau kehilangan muka sama sekali, dengan mendaratnya sebuah pesawat Amerika –musuhnya– di tanah Moskow. Alhasil, ketika pesawat PanAm jenis DC-8 mendarat di bandar udara Moskow, petugas traffic bandara langsung mengarahkan pesawat yang ditumpangi Sukarno dan rombongan parkir tepat di antara dua pesawat terbang “raksasa” buatan Rusia, jenis Ilyushin seri L.111. Seketika, tampak benar betapa kecilnya pesawat Amerika itu bila dibanding dengan pesawat jet raksasa buatan Rusia.


PanAm dan Ilyushin


Belum cukup dengan aksi “unjuk gigi” tadi, Kruschev yang menjemput Bung Karno di lapangan terbang, masih pula menambahkan, “Hai, Bung Karno! Itukah pesawat kapitalis yang engkau senangi? Lihatlah, tidakkah pesawat-pesawatku lebih perkasa?”

Mendengar ucapan itu, Bung Karno hanya tersenyum lebar dan menjawab, “Kamerad Kruschev, memang benar pesawatmu kelihatan jauh lebih besar dan gagah, tetapi saya merasa lebih comfortable dalam pesawat PanAm yang lebih kecil itu.”




_____________________

Sumber : http://thpardede.wordpress.com/2014/03/13/pesawat-bung-karno-jadi-bahan-tertawaan-kruschev/

(Cerita Penjuru Dunia) - Andai Hitler Tak Tidur Saat Sekutu Mendarat di Normandia





Operasi Overlord atau pendaratan sekutu di Pantai Normandia, Perancis 6 Juni 1944, dianggap menjadi sebuah operasi militer yang paling berpengaruh dalam menjatuhkan Jerman dan mengakhiri Perang Dunia II. Meski sudah berlalu 70 tahun, selalu ada hal menarik yang bisa diungkap dari peristiwa bersejarah itu, salah satunya coba Kompas.com sampaikan di bawah ini.



KOMPAS.com
— Hari ini 70 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1944, sebuah pendaratan militer terbesar dalam sepanjang sejarah akan menentukan arah sejarah dunia. Pendaratan pasukan sekutu di pantai Normandia, Perancis, dianggap sebagai salah satu operasi militer yang paling menentukan kejatuhan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler.

Namun, banyak yang berpendapat Jerman bisa saja memenangkan perang jika para pembantu Hitler saat itu berani membangunkan sang "Der Fuhrer" dari tidurnya.

Sebagai pemimpin Jerman, Hitler adalah seorang yang karismatik dan memiliki kendali penuh atas militer Jerman saat itu. Dia juga adalah yang paling bertanggung jawab untuk menangkal invasi sekutu di Normandia.

Sayangnya, Hitler juga dikenal sebagai seorang yang temperamental dan bisa marah meledak-ledak untuk sebuah kesalahan terkecil yang dilakukan bawahannya.

Itulah sebabnya, saat kabar kemungkinan mendaratnya pasukan sekutu di pantai Normandia pada pukul 04.00 pagi tiba di markas besar Hitler pada 6 Juni 1944, tak seorang pun staf Hitler berani membangunkan sang pemimpin.

Mungkin mereka berpikir, lebih baik membiarkan sang pemimpin tidur dulu sehingga saat dia terjaga semua informasi lengkap bisa disampaikan kepada dia.

Saat itu kebingungan memang melanda Jerman soal jadi atau tidaknya sekutu mendaratkan pasukannya di Normandia. Apalagi cuaca di perairan Normandia berkabut dengan ombak laut yang cukup tinggi.

Dengan kondisi cuaca semacam itu, banyak perwira tinggi Jerman yakin pendaratan sekutu akan berakhir dengan kegagalan. Selain itu, Jerman sudah menyiapkan penyambutan di pantai Calais, Perancis, titik terdekat pendaratan dari Inggris.

Ternyata, sekutu dan intelijennya berhasil melakukan tipuan dengan membuat Nazi percaya sekutu akan mendaratkan pasukannya di Calais padahal sekutu memilih pantai Normandia yang lebih jauh dalam cuaca yang buruk. Sebuah efek kejutan yang luar biasa.

Keraguan para perwira Nazi itu terbukti mengakibatkan Jerman harus membayar mahal. Sekutu memiliki keunggulan 12 jam yang sangat vital.

Divisi tank duduk menunggu

 

BBC Pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Akibat tidak dibangunkannya Hitler dari tidurnya di Berlin, pasukan cadangan tank dan infanteri Jerman, yang seharusnya bisa merespons pendaratan itu dalam hitungan menit, duduk diam dan menunggu perintah.

Sebanyak 10.000 personel pasukan perbatasan Jerman bersembunyi saja di parit-parit perlindungan dan membiarkan 175.000 personel pasukan Inggris, AS, Kanada, dan Perancis mendarat di pantai.

Kesialan Jerman tak berhenti di sana. Jenderal Erwin Rommel yang berjuluk Si Rubah Gurun, yang diberi tanggung jawab di pesisir Perancis itu, tengah berada di kediamannya di Jerman, memperingati ulang tahun ke-50 dirinya.

Mendengar sekutu sudah mendarat, Rommel bergegas kembali ke garis depan, tetapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa karena sebagian besar pasukan Jerman di Perancis hanya bisa digerakkan dengan perintah langsung Hitler.

Rommel berusaha menghubungi Hitler di markasnya, tetapi hanya diminta menunggu. Pada pukul 07.00 atau satu jam setelah pendaratan sekutu, salah satu perwira tinggi Jerman, Gerd von Rundstedt, memberanikan diri melangkahi wewenangnya.

Dia memerintahkan dua divisi tank cadangan untuk bergerak ke kota Caen untuk mencegat gerak maju pasukan sekutu. Namun, ketika mengetahui inisiatif Von Rundstedt ini, markas besar AB Jerman justru memerintahkannya untuk tak menyerang. "Von Rundstedt harus menunggu perintah Hitler," demikian perintah markas besar.

Dan, saat Hitler sudah cukup segar untuk memahami apa yang terjadi di garis depan, pada pukul 16.00 dia merestui gerak maju Von Rundstedt ke Caen. Perintah Hitler itu terlambat hampir 12 jam, yang membuat sekutu telanjur memiliki pijakan kuat di Normandia dan sekitarnya.

Saat itu tak hanya pasukan darat sekutu yang terus maju, pesawat-pesawat tempur Typhoon, Mustang, dan Mosquito sudah menguasai udara, menghancurkan apa pun yang bergerak di bawahnya.

Sementara itu, meski kacau-balau pada awal pendaratan, pasukan Sekutu berhasil mendesak pasukan Jerman yang bertahan di pantai dan mendaratkan berbagai peralatan berat seperi tank, artileri berat, dan berton-ton amunisi.

Tak ada yang bisa dilakukan Jerman untuk menghentikan gerak maju sekutu saat itu. Semuanya hanya karena tak ada yang berani membangunkan Hitler dari tidurnya. kompas.com




_____________________

Sumber : http://forum.tribunnews.com/showthread.php?7364175-Andai-Hitler-Tak-Tidur-Saat-Sekutu-Mendarat-di-Normandia#.U5GMr33cT6o.twitter

Selasa, 03 Juni 2014

(Cerita Penjuru Dunia) - Ngeri-Ngeri Sedap Terasi




Kendati bau menyengat, terasi tetap nikmat.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI



HENRY O. Forbes, naturalis Skotlandia, menjelajahi Nusantara antara 1878-1883. Suatu hari, pada Minggu pagi, dia terlambat bangun di pondokannya di daerah Genteng, Lebak (sekarang, Bojong Genteng, Cijaku, Lebak, Banten). Dia terusik oleh bau busuk yang menyengat.


Mulanya dia mengira daging unggasnya mulai membusuk. Namun, setelah diperiksa, daging itu baik-baik saja. Dia lalu memeriksa sekeliling pondokan, mungkin ada bangkai hewan. Akhirnya, dia menemukan sumber bau busuk itu di dapur: sebuah benda padat terbungkus rapat daun pisang.

“Ya ampun, apakah ini?” tanya Forbes kepada pelayannya, sambil menyentuh benda itu hati-hati.

“Oh! Tuan, itu trassi!”

“Trassi? Demi Tuhan, apa itu trassi?”

“Enak untuk dimakan, Tuan, terutama direbus.”

“Apakah saya sudah memakannya selama ini?”

“Tentu saja, Tuan. Itu enak sekali.”

“Kamu orang bodoh! Apakah kamu ingin meracuni saya dan membunuh dirimu sendiri?”

“Biar saya terkena gondok, Tuan, tetapi makanan itu memang enak sekali!”


Forbes memuat percakapan tersebut dalam A Naturalist’s Wandering in the Eastern Archipelago from 1878 to 1883, masuk dalam antologi Jawa Tempo Doeloe suntingan James R. Rush.


Pelancong Skotlandia lainnya, John Crawfurd, juga mencatat mengenai pengolahan dan penggunaan ikan yang menurutnya aneh tapi umum dilakukan. “Pengolahan ini, dalam bahasa Melayu blachang dan dalam bahasa Jawa disebut trasi, adalah setumpuk ikan kecil, terutama udang, yang telah difermentasi, dan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Olahan berbau busuk ini, yang dapat membuat mual bagi orang asing, adalah saus umum di pulau Hindia, lebih umum daripada kecap dari Jepang. Penggunaannya meluas ke setiap negara tropis dari China sampai Bengal (India) ” tulisnya dalam History of the Indian Archipelago, Vol. I (1820).


Namun Crawfurd menunjuk William Dampier, penjelajah dan penulis asal Inggris, sebagai orang yang menjelaskan pengolahan terasi dengan “akurasi yang sempurna”. Dalam A New Voyage Round the World (1688), Dampier menguraikan balachaun adalah komposisi yang berbau kuat namun hidangan yang disukai penduduk asli negeri ini. 


Cara membuatnya: campuran udang dan ikan kecil ditambah garam dan air ditumbuk dalam bejana, dan cairan yang keluar jangan dibuang karena masih bisa digunakan. Ikan hasil tumbukan itu disebut balachaun. Sedangkan cairannya disebut nuke-mum, berwarna coklat pucat dan berasa sangat gurih, serta digunakan sebagai saus yang baik untuk unggas, tidak hanya oleh penduduk asli, tetapi juga oleh banyak orang Eropa, yang menganggapnya sama dengan kecap.
“Orang-orang miskin makan balachaun dengan nasi,” tulis Dampier.


Di Cirebon, nuke-mum kemungkinan besar adalah blendrang, perasan air rebon (udang) atau cai rebon. Makanan dari bahan ini disebut petis blendrang. Dari kata cai rebon inilah menjadi Cirebon.


Berdasarkan Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya sebuah dukuh bernama Muara Amparan Jati yang berada di Dukuh Pasambangan, lebih kurang 5 km di sebelah utara Kota Cirebon. Selain membabat belukar untuk dijadikan kebun dan ladang, penduduknya juga mendirikan industri rumahan membuat terasi dan blendrang dengan alat lumpang dan alu batu besar. Lama-kelamaan kegiatan ini terdengar oleh penduduk sekitarnya dari Pasambangan, Rajagaluh dan Palimanan. “Mereka berduyun-duyun datang membeli terasi dan cai rebon/petis blendrang. Sejak itulah dukuh itu disebut orang Dukuh Cirebon, pada tahun 1447,” tulis P.S. Sulendraningrat dalam Sejarah Cirebon.


Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3, catatan mengenai terasi tersua dalam Prasasti Karang Bogem tahun 1387 yang dikeluarkan penguasa yang tak disebutkan namanya, tetapi kemungkinan penguasa Lasem. Prasasti ini berhubungan dengan pendirian sebuah “lungguh” di suatu tempat yang disebut Karang Bogem di tepi laut. Dikatakan bahwa tanah itu mencakup satu jung sawah dan setengah jung tanah yang sudah dibuka, tetapi juga tambak-tambak yang ikannya dipakai untuk membuat terasi.


“Dalam teks prasasti tertulis acan, bentuk yang sekarang ditemukan kembali dalam kata blacan yang juga berarti terasi,” tulis Lombard.


Lombard juga mengutip buku F. de Haan berjudul Priangan, De Preanger-regentschappen onder het Nederlansch Bestuur tot 1811, jilid I. F. De Haan menyebut adanya sebuah tanah milik raja kecil (kroondomein) di Pamotan di pantai selatan yang tugasnya membuat terasi untuk keraton (Mataram, red). Bagi Lombard, ini “mengingatkan tanah milik yang disebut pada abad ke-14 dalam Prasasti Karang Bogem.”


Tak semua orang suka terasi, termasuk Forbes. Meski dibujuk, dia tetap membuang terasi ke hutan. Dia mengancam akan menghukum pembantunya jika menemukan lagi terasi di pondokannya. Setelah itu, dia mengetahui bahwa terasi menjadi bumbu penyedap di setiap masakan, lokal maupun Eropa, yang dimakannya sejak datang ke Hindia.


“Sulit bagi saya menerima kenyataan bahwa secara tidak sengaja saya sudah menyantap benda tersebut setiap hari tanpa merasa jijik sedikit pun,” kata Forbes.




___________________

Sumber : http://www.historia.co.id/artikel/budaya/1391/Majalah-Historia/Ngeri-ngeri_Sedap_Terasi

(Serba-Serbi) - Merayakan Pehcun Bersama Warga Cina Benteng



Wafatnya seorang sastrawan Tiongkok lebih dari 2000 tahun silam itu diperingati di seantero jagad. Bagaimana warga Cina Benteng mengenang leluhurnya?

 

 

pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 
Perahu Pehcun di Sungai Cisadane, satu malam sebelum perayaan Pehcun di pecinan
Tangerang. (Agni Malagina)


Tepian Sungai Cisadane di Tangerang, sehamparan kawasan tempat bermukim warga Cina Benteng. Tanggal 2 Juni 2014  bertepatan dengan Perayaan Pehcun: hari kelima bulan kelima penanggalan Imlek, sudut Kota Tangerang tampak sibuk sejak malam sebelumnya. Perayaan ini biasanya identik dengan “bacang” dan “perahu naga”. Di Indonesia, tidak semua pecinan merayakan Pehcun dengan kedua ikon tersebut.

Kata “Pehcun” merupakan dialek Amoi (Minan) yang berarti "(men)dayung perahu ba chuan" ( 把船). Dalam Bahasa Mandarin hari raya ini disebut Duanwujie (端午节).

Perayaan ini pada mulanya dimaksudkan untuk memperingati meninggalnya seorang sastrawan Tiongkok bernama Qu Yuan (340-278 SM) dari negara Chu di zaman Negara-Negara Berperang Zhanguo Shidai (475-221 SM).

Konon Qu Yuan yang juga seorang pejabat di kerajaan Chu mati bunuh diri menceburkan diri ke sungai Milo pada tanggal 5 bulan 5, karena pemikiran kritisnya dianggap membahayakan negara, ia diasingkan jauh dari ibu kota negara.

Rakyat yang sangat menyayangi Qu Yuan berusaha mencari mayatnya dengan menggunakan perahu panjang yang biasanya dapat diduduki oleh 60 orang pendayung. Karena kuatir mayat Qu Yuan dimakan ikan, maka dibuatlah makanan yang dibungkus daun bambu, berbentuk limas, lalu diberikan kepada ikan dengan tujuan supaya ikan-ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan. Makanan tersebut dikenal dengan (ba/babi) cang zong.


Perahu naga di negeri asalnya biasanya memiliki ukuran panjang hampir 40 meter. Bagian ujung depan kapal dihiasi ukiran kepala naga dan bagian belakang kapal dihiasi ornamen ekor naga.


pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 
Warga Cina Benteng memandikan perahu keramat jelang perayaan Pehcun
di Tangerang (Agni Malagina)

Lambat-laun, kegiatan mendayung perahu naga pun menjadi sebuah kegiatan rutin dan tak jarang diperlombakan. Ornamen naga yang mengihiasi perahu tersebut merupakan simbol bahwa naga dapat membawa keberuntungan bagi masyarakat dengan menurunkan hujan yang berguna untuk tumbuhan.

Hal serupa pun terjadi di Tangerang. Dayung perahu naga telah ada sejak tahun 1930-an dan terus berkembang menjadi perlombaan semarak yang menjadi ikon perayaan Pehcun di Tangerang. Sampai 1960-an, perlombaan perahu naga masih diselenggarakan di Sungai Cisadane yang terletak di dekat Klenteng Bun Tek Bio.

Uniknya perayaan Pehcun di Tangerang selalu dimulai dengan ritual memandikan perahu keramat Pehcun yang terletak di Klenteng Keramat Pehcun seberang Klenteng Bun Tek Bio. Upacara tersebut biasanya dilakukan tengah malam menjelang hari perayaan Pehcun.

Setelah upacara pemandian tersebut, perahu-perahu kecil yang akan digunakan untuk lomba dayung perahu naga tak luput dari tebaran berkah keselamatan. Malam hari warga menikmati sajian makanan malam serta musik gambang kromong. Gambang Kromong merupakan musik tradisi di Tangerang yang di dalamnya pun merupakan sinergi antara alat musik tradisional Indonesia dan alat musik tradisional Cina seperti tehyan, langgamnya pun tak jarang terpengaruh oleh nada-naga khas alunan musik tradisional Tiongkok. 


pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 


Salah satu keajaiban perayaan Pehcun di Tangerang: Menyaksikan telur-telur yang
berdiri seimbang. (Agni Malagina)

Pada hari perayaan Pehcun, terkenal pula upacara sembahyang Pehcun yang dipimpin pemuka agama di tepi Sungai Cisadane. Usai upacara, Pehcun makin semarak dengan kegiatan mendirikan telur. Warga meyakini, titik matahari sedang berada dalam titik tertingginya sehingga telur bulat pun dapat berdiri. Dalam kepercayaan pengobatan tradisional herbal Tiongkok, hari ini pun dianggap sebagai hari terbatik untuk memetik tumbuhan bahan obat tradisional.


Bacang merupakan makanan khas kuliner Tiongkok. Sejatinya bacang memang harus disajikan pada saat perayaan Pehcun. Bacang yang awalnya terbuat dari beras ketan diisi daging babi tumis manis pun saat ini telah mengalami modifikasi menu. Isian bacang tak lagi daging bagi, namun sudah bervariasi dari telur asin sampai daging ayam.


Kudapan ini pun tak lagi hanya disajikan pada saat upacara Pehcun, tetapi juga menjadi jajanan yang dapat dinikmati setiap hari. Kita dapat memperoleh jenis kuliner legit gurih ini di pelbagai tempat seperti area pecinan Glodok, Tangerang dan beberapa tempat lainnya. Jika kita tertarik untuk melihat perlombaan perahu naga di Tangerang, datanglah ke Tangerang pada tanggl 7-8 Juni 2014. Nikmatilah bacang sembari menonton lomba perahu naga!



(Agni Malagina, Sinolog FIB Universitas Indonesia/MYT)




____________________

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/06/merayakan-pehcun-bersama-warga-cina-benteng