Selasa, 06 Januari 2015

(Jual Buku/Info Buku) - Perempuan Bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam Fiksi)






Perempuan Bernama Arjuna

Perempuan Bernama Arjuna 2




Judul : Perempuan Bernama Arjuna 2
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Ukuran: 14 x 20  cm
Jenis kertas: Premium Bookpaper 52 gram
Tebal: 312 hlm
Tahun terbit: Cetakan II, Oktober 2014
ISBN: 978-602-7768-61-1
Harga: Rp 90.000.-



Arjuna, perempuan muda, bersama suaminya, Jean-Claudie van Damme, Pastor Jesuit yang “insyaf” itu, akhirnya berbulan madu di Bandung, kota yang sejak zaman Belanda punya istilah Bandoeng is Goed Voor pas getrowde paar (Bandung cocok untuk pengantin baru).

Berdua mereka menelusuri keragaman masa kini, mengaca pada masa silam, kemudian mengangkut sejumlah pelajaran kehidupan Sunda, Cina, Belanda, Jawa, Manado, Batak, dan etnik-etnik lain.
Setelah “Filsafat dalam Fiksi (Perempuan Bernama Arjuna ) beredar  akhir tahun 2013, Remy Sylado melanjutkan kisahnya dalam buku ini (Perempuan bernama Arjuna II) dengan tema “Sinologi dalam Fiksi”.

Dan sinologi (pengetahuan bahasa dan budaya Cina), dalam novel ini mendapatkan porsi dominan karena ilmu-ilmu Cina memang sudah lama masuk ke bumi Nusantara. Di Jawa Barat, pemakaian istilah Ci, seperti Cicadas, Ciroyom, Cimahi, Cilaki, Cihampelas, menjadi petunjuk sejarah yang jelas.

Novel ini sangat baik untuk menambah vitamin pemikiran sejarah dan merangsang gairah pengetahuan budaya nasional. Isinya seputar potret kehidupan  “Parijs van Java”, yang menukik pada masalah “prasangka rasial”, “pri non pri”,  “engkoh-encik”, “pembauran”, “masakan Cina”, “muslim Cina”, “musik Cina”, “obat Cina”, hingga seputar  “nyetun”, “purenva di Saritem,”  yang pokoknya terasa “edun suradun”,….[]




_____________________

Sumber :  http://www.nuansa.co/perempuan-bernama-arjuna-2-sinologi-dalam-fiksi-2/

(Jual Buku/Info buku) - Perempuan Bernama Arjuna 1 (Filsafat dalam Fiksi)







Judul : Perempuan Bernama Arjuna: Filsafat Dalam Fiksi
Penulis : Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Ukuran : 14 X 20
Jenis Kertas : Hvs 60 gram
Tebal : 280 hlm.
Tahun Terbit : Cetakan ke II, 2014
ISBN :  978-602-8395-80-9
Harga: Rp. 80.000,-



Apakah anda termasuk orang yang kangen fiksi bermutu?

Jika itu pertanyaannya, barangkali inilah buku yang ditunggu. Dalam Novel ini, Remy Sylado, mengambil tema filsafat. Pokok kajian di dalamnya merangkai sejarah pemikiran para filsuf dari zaman Yunani hingga era masa kini. Aktor utama yang bermain dalam novel ini adalah Arjuna, seorang perempuan 25 tahun ketuturan Cina-Jawa yang sedang belajar filsafat di Amsterdam, Belanda.
Sedikit menyinggung ketidaklaziman judul novel dan nama perempuan ini, nama Arjuna itu berawal dari “keterpaksaan menuju keliru”. Kisahnya, kakek Arjuna mengharapkan cucunya laki-laki. Pada usia kandungan yang ke 7 bulan, dibuat upacara khusus yang memberikan nama bakal jabang bayi dengan nama Arjuna. Karena sikap keluarganya yang kokoh dalam memegang adat, maka dengan terpaksa, nama Arjuna tidak diganti sekalipun kemudian bayi yang lahir itu perempuan.

Muatan novel ini mengutamakan isi dengan mengulas pemikiran para filsuf dunia. Tak tanggung-tanggung. Remy mampu mengulas lebih dari 150 filsuf dunia. Dan secara keseluruhan terdapat 200 sosok pemikir atau tokoh penting yang termaktub dalam catatan kaki di bagian halaman belakang novel ini.
Dalam membaca literatur fiksi, biasanya kita sering menarget untuk mendapatkan kenikmatan atas deretan kisah di dalamnya. Jika itu yang diharapkan, maka novel ini memberikan sarana meraih kenikmatan atas, 1) pengetahuan sejarah filsafat yang benar-benar akurat dan berwawasan, 2) teladan kemandirian berpikir dan juga kebebasan memilih dan menentukan garis hidup dari perempuan bernama Arjuna, dan, 3) cakrawala bahasa, sejarah,sains, budaya, politik dunia, termasuk politik nasional yang terpotret apik menyatu dengan paham-paham/ajaran isme dunia.

Lain daripada itu, perihal urusan kelamin dalam novel ini cukup banyak mewarnai alur cerita. Tentu itu bukan karena tujuan sensasi syahwati, melainkan alasan kajian ilmiah biologi-evolusioner. Tentang seksualitas itu menjadi topik yang unik ketika Arjuna harus jatuh cinta pada dosennya, Van Damme, seorang Jesuit asal Banneux Belgia yang dikatakan dalam novel itu, “kelihatannya kebanci-bancian tapi ternyata seorang koboi heunceut yang liar di atas ranjang.”

Jadi, jika nanti Anda menemukan istilah-istilah yang vulgar seperti “memberdayakan vagina”, “menggaruk-garuk kontol”, “koboi heunceut”, atau istilah sejenisnya, janganlah menganggap terdapat unsur porno dalam novel ini, sebagaimana pula kita tidak boleh gegabah menyebut novel religius karena di dalamnya banyak istilah agama, seperti “masya Allah”, “mazmur”, “tawakal”, dan lain sebagainya.

Buku ini bisa disebut novel-filsafat, artinya novel yang berisi ulasan filsafat secara mendalam dan karena itu wajar jika ditinjau dari sudut pandang fiksi, muncul slogan “Bukan Bacaan Ringan” dan jika dilihat dari sudut pandang filsafat, akan muncul slogan; “filsafat yang ringan”.

Maksudnya ringan karena dengan model adonan fiksi seperti ini, filsafat yang selama ini terasa mbulet bin ruwet, terurai secara simple, mudah dipahami, dan efektif dipahami. [Faiz Manshur. Redaktur Nuansa Cendekia]




____________________

Sumber :  http://www.nuansa.co/perempuan-bernama-arjuna-1-filsafat-dalam-fiksi/

Jumat, 02 Januari 2015

(puisi) - Terbang, Melayang








tolong beri aku jalan
di sebelah kanan aku lihat burung besar El Condor
sedang melintas benua dengan kepak sayapnya yang sombong

di sebelah kiriku tak kalah besarnya
burung bangau musim melintas dengan tenang

sedang di depanku burung elang bondol sedang menukik tajam
memburu ikan-ikan di laut

dan di belakangku burung gagak hitam berkoak-koak
tiada hentinya seperti melihat bangkai di bumi

Tinggal aku sendiri di sebatang pohon kering
menatap dikejauahan ufuk

tunggulah saatnya,
aku akan mengepakkan sayapku lebar-lebar
menembus awan pekat, gumpalan es dan petir
dan kembali ke rumahku yang aman sentosa 







Jaga Blengko, 2-1-15 
Jack Phenomenon

(Puisi) - Senja










Senja,
aku
mengabdikan
cintaku
padamu






Jaga Blengo, 2-1-15
Jack Phenomenon


Kamis, 01 Januari 2015

(Puisi) - Terang Bulan







Lihat duniaku yang di bawah
terasa sunyi
aku sungguh-sungguh kasihan
melihat sahabat baikku
burung pungguk
dunia gelap gulita
dan selalu merindukan yang di atas
bahkan berharap selalu dengan yang lebih tinggi

Dari masa ke masa
sungguh engkau seperti makhluk kesepian
pantaslah engkau selalu merindukan
sebuah peribahasa: "Pungguk merindukan bulan"

Sebab akulah si terang bulan !




Jaga Blengko, 31 Des 14
Jack Phenomenon