Kamis, 18 Juni 2015

(Cerita Penjuru Dunia) - Misteri Lenyapnya Mayor Muller, Utusan Belanda di Kalimantan



Suku Dayak dalam pakaian perangnya, 1864. Foto: The Illustrated London News/commons.wikimedia.org. Suku Dayak dalam pakaian perangnya, 1864.
Foto: The Illustrated London News/commons.wikimedia.org.



Setelah meneken perjanjian dengan Kesultanan Kutai Kertanegara, utusan pemerintah Belanda lenyap di Kalimantan. Diabadikan menjadi nama gunung.


 Oleh: RAHADIAN RUNDJAN




DI perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur terdapat Pegunungan Muller. Keanekaragaman hayatinya penting untuk menjaga kelestarian tiga sungai terbesar di Kalimantan: Kapuas, Barito, dan Mahakam. Penjelajah Belanda, Anton Willem Niewenhuis adalah orang yang pertama kali menamai pegunungan itu dengan nama Muller pada 1894.
Siapakah Muller? Georg Muller lahir di Mainz, sekarang wilayah Jerman, pada 1790. Karir militernya dimulai di pasukan Austria pada 1807. Muller menjadi perwira zeni pasukan Napoleon Bonaparte ketika Prancis menyerbu Rusia. Ketika Napoleon kalah, dia pergi ke Hindia Belanda pada 1817 untuk bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Dia terlibat dalam penyerangan Belanda ke Kesultanan Sambas pada 1818, bahkan diangkat sebagai acting residen di sana. Sempat bekerja sebagai petugas inspeksi pala di Banda Neira, Maluku, pada 1820. Dua tahun kemudian dia kembali ke Kalimantan Barat sebelum terpilih untuk mewakili Belanda ke Kesultanan Kutai Kertanegara.

Dengan ambisi untuk mengontrol arus perdagangan di sepanjang sungai Mahakam, Belanda bermaksud meneken kontrak politik dengan sultan Kutai, Salahuddin. Belanda mengutus Muller beserta 20 prajurit Jawa, ke Kutai pada 8 Agustus 1825.

“Ditetapkan bahwa perjanjian perdamaian mengharuskan Belanda untuk memberi perlindungan kepada Kutai dan menyediakan upah tahunan sebesar 8000 gulden untuk kesultanan sebagai syarat persetujuan,” tulis Burhan Djabier Magenda dalam East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy.

Setelah meneken perjanjian dengan Salahuddin, Muller berambisi menelusuri pedalaman Kalimantan –dari Kutai di timur menuju Sambas atau Pontianak di barat– untuk mengeksplorasi alam Kalimantan yang disebut para penjelajah Belanda sebagai terra incognita atau “wilayah tak diketahui.”

“Meski sultan enggan mengizinkan Muller masuk lebih jauh ke dalam wilayah kekuasaannya, dia tetap pergi ke Mahakam dengan pasukan Jawanya. Hanya satu dari rombongan itu yang berhasil dengan selamat di pantai Barat,” tulis Bernard Sellato dalam Innermost Borneo: Studies in Dayak Cultures.

Muller dan pasukannya diyakini dibunuh oleh suku Dayak di hulu Kapuas. Hal ini kemudian dibenarkan oleh John Dalton, petualang Inggris yang mengunjungi tempat kejadian perkara tiga tahun kemudian dan menemukan benda-benda peninggalan Muller dan timnya, seperti tertera dalam artikel seabad peringatan hilangnya Muller (20 Januari 1826-20 Januari 1926) oleh De Indische Courant.

Kesimpulan itu diragukan dan ada kecurigaan keterlibatan sultan, seperti diungkap artikel “Massacre of Major Mullen and His Party,” Singapore Chronicle, Mei 1831, termuat dalam Notices of the Indian Archipelago and Adjacent Countries suntingan J.H. Moor.

Artikel itu menyebutkan bahwa ternyata Muller meneken perjanjian bukan dengan sultan, melainkan syahbandar bernama Saib Abdullah. Saib mengaku bernegosiasi di bawah ancaman Muller; atau justru Muller yang ditipu oleh sang syahbandar. Skenario manapun membuat sultan tidak senang karena harus menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, dan satu-satunya cara membatalkan perjanjian itu dengan cara melenyapkan Muller.

“Akan tetapi ada beberapa orang yang mau memberikan informasi sesungguhnya apabila mereka dijamin keselamatannya. Salah satunya budak sultan, seorang Jawa, bernama Seredin, yang menyebut sang syahbandar sebagai otak dibalik peristiwa tersebut,” tulis artikel tersebut.

Entah mana yang benar, faktanya Muller dan timnya lenyap, dan tak ada konfirmasi resmi soal siapa yang bertanggungjawab. Setidaknya sampai 1950-an, orang-orang Belanda masih terus menggali kebenaran misteri lenyapnya Muller.*




_____________________

Sumber : http://historia.id/kuno/misteri-lenyapnya-mayor-muller-utusan-belanda-di-kalimantan

Minggu, 14 Juni 2015

(Puisi) - Aku Berserah








Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu.
Ketika pintu itu terbuka,
aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri. 



RUMI








aku melihat sebuah pohon
aku raih tubuhnya dan kupeluk
antara jariku di sebelah kiri dan jariku di sebelah kanan
aku pertemukan dalam lingkaran pohon
sia-sia upayaku
aku menyerah
aku tak mampu

aku coba lebih keras lagi
aku ambil tali tambang yang panjang
aku coba sekali lagi melingkarkan kedua tanganku ditambah tali tambang
tak mampu juga aku memeluknya

berulang-ulang kucoba dan kucoba
akhirnya aku menyerah

aku lelah dan tertidur di hamparan rumput
dan bermimpi memeluk sebuah pohon besar
dalam mimpi itu kedua tanganku mendekap erat
dan ujung jariku yang satu bertemu dengan ujung jariku yang lain
dan aku mampu menggenggam sepuluh jariku
seperti tangan yang sedang berdoa, memohon








_____________________ 


Jaga Blengko, 8 Juni 2015 
Jack Phenomenon

(Puisi) - Berkat Ilahi







_______BERKAT ILAHI ______



seperti tiga batu
untuk satu tungku
tiga kendi air berbual-bual
membuat huma seperti
sungai mengalir sepanjang musim



____________________

Jage Blengko, 11 Juni 2015
Jack Phenomenon

(Puisi) - Mengapa engkau Tersenyum








“The earth laughs in flowers.”


― Ralph Waldo Emerson






Senangnya bisa melihat bumi tersenyum
dan aku berada di antaranya
seperti berada di bumi baru
yang lalu telah berlalu

Hari-harinya bersama bunga-bunga di padang
berbincang-bincang tentang suatu rahasia
mengapa engkau selalu tersenyum






__________________ 


Jaga Blengko, 13 Juni 2015 
Jack Phenomenon

Selasa, 02 Juni 2015

(Puisi Tamu) - MULANYA ADALAH LANGIT ASTA TINGGI (Karya : Yuli Nugrahani)







Sumber Foto : Koleksi Foto Yuli Nugrahani di Facebook









Asta Tinggi diratapi candra
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
pada saat tubuhmu tubuhku lekat.
Walau raut hilang dalam malam
namun suara melantunkan irama berpagar tanya.

"Pasirkah hati Pancali, atau batu?"
Tanganku atau tanganmu menadah
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
dan kita berdua terguncang-guncang
oleh perbedaan.

"Yudistirakah suami Pancali, atau Pandawa?"
Bibirku meregangkan cengkerama
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.

"Pancali pongah di gelung rambut Krishna."
Itu adalah haknya, katamu.
Kami saling memandang,
kembali pada langit Asta Tinggi, tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.


Mei 2015




_____________________

Yuli Nugrahani (Cerpenis dan Penyair Lampung)

Lahir di Kediri 9 Juli 1974. Pernah menjadi wartawan Harian Malang Post dan Pemimpin Redaksi Majalah Nuntius, kini tinggal di Hajimena, Natar, Lampung Selatan. Tulisannya pernah beredar di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal seperti Panyebar Semangat, Terlibat, Lembur, Nuntius, Hidup, Ucanews, Femina, Malang Post, Lampung Post, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Swara Gender, Buletin Insan, Konfrontasi, Teras Lampung, dan sebagainya. Menjadi editor dan penyusun buku untuk Eritis Mihi Testes (2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (2003), Samudera Peziarahan (2010) dan Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (2013) dan Antologi Puisi Hujan Kampoeng Jerami (2014). Cerpen-cerpennya masuk dalam Antologi Cerpen Kawin Massal (Dewan Kesenian Lampung, 2011) dan Antologi Sastrawan Lampung Hilang Silsilah (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Buku cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Daun-daun Hitam (Indepth Publishing, 2014, bersanding dengan sketsa-sketsa Dana E. Rachmat). Sedang puisi-puisinya masuk dalam buku : Turonggo Yakso, Memperjuangkan sebuah Eksistensi (2014), Gemuruh Ingatan, 8 Tahun Lumpur Lapindo (2014), dan Hujan Kampoeng Jerami (2014). Buku puisinya adalah Pembatas Buku (Indepth Publishing, 2014). Terakhir menjadi penulis dan editor dalam antologi puisi Titik Temu, yang diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2014, berisi puisi-puisi bertema HAM. Selain sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, sehari-hari bekerja untuk Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang, memberikan pelatihan penulisan di berbagai tempat di Indonesia, mengisi berbagai acara sastra dan kegiatan sosial, dan aktif mengembangkan Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK).