Minggu, 25 Mei 2014

(Serba-Serbi) - Babad Diponegoro Jadi Warisan Ingatan Dunia


Babad Diponegoro dalam aksara Jawa. Foto: KITLV.










Pengakuan UNESCO atas Babad Diponegoro menjadi kebanggan tersendiri di tengah kritisnya apresiasi dari dalam negeri.

OLEH: ALLAN AKBAR

PADA 21 Juni lalu, Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat ketika Pangeran Diponegoro diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo.

Menurut P. Swantoro, isi dari Babad Diponegoro dibagi menjadi beberapa bagian kisah. “Sepertiga bagian dari Babad Diponegoro menceritakan sejarah Jawa dari jatuhnya Majapahit (1527) sampai Perjanjian Giyanti (1755). Duapertiga lainnya memaparkan keadaaan Kesultanan Yogyakarta dan riwayat hidup Pangeran Diponegoro sendiri dari saat kelahirannya pada 1785 sampai ia diasingkan ke Manado pada 1830,” tulis P. Swantoro dalam Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu.

Kisah perjalanan hidupnya itu dituangkan dalam tembang Macapat di mana Pangeran Diponegoro menampilkan diri sebagai orang ketiga. Masa penulisan babad ini memakan waktu hampir sembilan bulan, dari 20 Mei 1832 sampai 3 Februari 1833, dan terdiri dari sekitar seribu folio tulisan tangan.
Sejarawan Peter Carey, dalam bukunya Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 menyangsikan siapa yang menulis Babad Diponegoro, apakah Pangeran Diponegoro sendiri atau dia menunjuk seseorang untuk menuliskannya.

Pasalnya, menurut salah satu laporan Ajudan Gubernur Jenderal, Knoerle, yang ditugaskan mendampingi Pangeran Diponegoro menuju tempat pengasingannya di Manado, dia mendengar sendiri pengakuan Pangeran Diponegoro yang mengatakan bahwa kemampuannya menulis dalam bahasa Jawa sangat kurang. “Dat hij de Javaansche taal gebreking schreef,” tulis Knoerle sebagaimana terlampir dalam De Java Oorlog: 1825-1830, terjemahan Babad Diponegoro dalam bahasa Belanda.

Berdasarkan laporan itu, Peter Carey menduga, Diponegoro memberikan garis besar secara lisan, lalu sang penulis menuangkannya dalam bentuk tembang. Dugaan Carey, orang yang ditugasi menulis babad itu ialah Tumenggung Dipowiyono, ipar Pangeran Diponegoro yang ikut dibuang ke Manado.
Naskah asli Babad Diponegoro ditulis dalam aksara Arab Pegon. Naskah asli tersebut kemudian disalin ke dalam aksara Jawa. Babad Diponegoro juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Dikerjakan Palmer van den Broek, peneliti Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 1877, terjemahan ini diberi judul De Java Oorlog: 1825-1830.

De Java Oorlog terdiri dari enam jilid. Setiap jilidnya lebih dari 700 halaman, kecuali jilid VI yang hanya 375 halaman. Penggarapannya memakan waktu 15 tahun. Jilid pertama terbit pada 1894, sedangkan jilid terakhir terbit tahun 1909.

Babad Diponegoro pada 2012 diajukan secara bersama oleh Perpustakaan Nasional RI dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) ke UNESCO untuk diakui sebagai Memory of the World. Pengajuan bersama ini karena salinan naskah Babad Diponegoro yang ditulis menggunakan aksara Pegon tersimpan di Perpustakaan Nasional, sedangkan yang ditulis dalam aksara Jawa tersimpan di Belanda. Sementara itu, naskah aslinya sudah tidak ditemukan.

Sungguh suatu kebanggan bagi Indonesia atas apresiasi dari dunia terhadap warisan Indonesia yang terkadang justru dilupakan oleh bangsanya sendiri.




____________________


Sumber :
http://historia.co.id/artikel/modern/1251/Majalah-Historia/Babad_Diponegoro_Jadi_Warisan_Ingatan_Dunia

Jumat, 23 Mei 2014

(Cerita Penjuru Dunia) - Siapa Peluk "Istri Belanda"


















Kehadirannya di ranjang bikin nyaman dan sejuk, sebanding dengan peran seorang istri atau penyejuk udara (AC).


OLEH: HENDRI F. ISNAENI
 
 
 
SETIAP malam, sebagian dari kita terbiasa tidur dengan memeluk “istri Belanda” (Dutch wife) alias guling. Tanpanya tidur tak terasa nyaman. Tapi di masa lalu, tak semua orang bisa memilikinya. Hanya kalangan atas atau priyayi. Kisah dalam novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer, menyentil kebiasaan itu.

Dalam sebuah percakapan sesama mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, Wilam membicarakan lelucon-lelucon dari kehidupan tuan tanah bangsa Inggris kepada sahabat-sahabatnya, termasuk Minke. “Tahu kalian apa sebab di dalam asrama tidak boleh ada guling?”

Dia pun mulai bercerita. Menurutnya, guling takkan ditemukan di negeri-negeri lain di dunia –setidaknya menurut mamanya. Ini bermula ketika orang-orang Belanda dan Eropa lainnya datang ke Hindia. Karena tak membawa perempuan, mereka terpaksa menggundik. “Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling –gundik yang tak dapat kentut itu.”

Wilam juga bilang bahwa guling takkan ditemukan dalam sastra Jawa lama maupun sastra Melayu. “Memang tidak ada. Itu memang bikinan Belanda tulen –gundik tak berkentut. Dutch wife... “
“Dan tahu kalian orang pertama-tama yang menamainya? Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia.”
Meski sebuah novel, obrolan ringan mengenai guling itu tak sepenuhnya salah. Guling lahir dalam kebudayaan Indisch abad ke-18/19, percampuran antara kebudayaan Eropa, Indonesia, dan China. Kebudayaan ini kemudian menjadi gaya hidup golongan atas.

“Percampuran kebudayaan ini bisa dilihat misalnya pada pemakaian perabot seperti kursi Eropa, meja, dan tempat tidur dengan bantal, termasuk perlengkapan baru yang disebut guling atau Dutch wife, yang tidak ada dalam perlengkapan tempat tidur Eropa, jadi khusus Indisch,” tulis Hadinoto, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam “Indische Empire Style”, yang dimuat Jurnal Dimensi Arsitektur, Desember 1994.

Pribumi Hindia belum lama menggunakan guling. “Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang, terutama para priyayi berkepala kapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling,” tulis Pram.

Hanya saja Pram, juga penulis lain, tak akurat ketika menulis bahwa guling hanya ada di Indonesia. Guling juga terdapat di negara lain di Asia Tenggara. Variannya di Asia Timur dinamakan “istri bambu”, jukbuin, chikufujin, atau zhufuren yang terbuat dari anyaman bambu. Varian ini kemungkinan memengaruhi Dutch wife, karena keberadaan jukbuin sudah jauh sebelumnya.
“Sejarah jukbuin bisa dilacak ke belakang setidaknya pada masa Dinasti Goryeo, ditunjukkan novel berjudul Jukbuin-jeon (Story of the Bamboo Wife) karya Yi Gok (1298-1351),” tulis www.dynamic-korea.com.

Pengaruh “istri bambu” atas “istri Belanda” juga tampak dari definisi Dutch wife dalam Oxford English Dictionary, sebuah kamus yang mulai disusun sejak 1879 dan rampung 1927 atau empat puluh delapan tahun kemudian. Kamus itu mendefinisikan Dutch wife sebagai “sebuah kerangka berlubang-lubang dari rotan yang digunakan di Hindia Belanda dan lain-lain untuk sandaran anggota badan di tempat tidur.”

Tapi yang jelas keberadaan guling ini kerap mengejutkan orang-orang yang baru tiba di Hindia. Sejarawan dan pastor dari Amerika Serikat John S.C. Abbott (1805–1877) menceritakan pengalamannya bertemu guling dalam “A Jaunt in Java”, yang dimuat di Harper’s New Monthly Magazine Volume XV, Juni-November 1857.  

Ketika melemparkan diri ke ranjang, kata Abbott, Anda akan telentang dengan Dutch wife. “Jangan terkejut! Anda tak akan mendapatkan ‘kuliah tirai’ (curtain lecture) karena Dutch wife berbentuk bulat, bantal panjang keras, yang bikin takjub setiap orang asing ketika melihatnya terbaring rapi dan kaku di tengah ranjang seperti mayat kecil,” tulis Abbott.

Setelah tahu bagaimana memperlakukan “istri Belanda”, Abbott pun menjadi lebih dekat dengannya. “Singkatnya, Dutch wife harus diletakkan di bawah kaki atau lengan untuk mencegah kontak terlalu hangat dengan kasur, dan memungkinkan sirkulasi udara dingin. Dan kenyamanan dalam iklim tropis ini hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah mencobanya. Satu Dutch wife yang diisi dengan kapas lebih baik daripada Dutch wife buatan China yang berongga-rongga dan terbuat dari bambu,” kata Abbott.

Seorang Prancis, Désiré Charnay, pengemban misi ilmiah dan pendidikan untuk pihak otoritas Belanda, kebingungan saat tinggal di Jawa selama enam minggu pada 1878. Seperti dikisahkan dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX karya Bernard Dorléans, guling itu berisi jerami yang keras seperti kayu. Pelayan Melayu memberi tahunya.

“Guling itu Anda letakkan di antara kaki agar keduanya tidak bersentuhan dan supaya Anda bisa tidur dengan nyaman,” kata pelayan Melayu itu.

Begitu nyamannnya sehingga Horst Henry Geerken, seorang Jerman yang 18 tahun tinggal dan bekerja di Indonesia, tak melupakan pengalamannya bersama guling. Hingga sekarang, dia jadi terbiasa dengan guling. “Sekali pun di Jerman, saya tetap memakai guling. Kita bisa memeluk guling pada malam hari dan menekuknya dengan kaki. Rasanya nyaman dan sejuk. Guling berguna untuk memberi sirkulasi udara secara bebas dan menyerap keringat di kaki,” tulis Geerken dalam bukunya A Magic Gecko.

Tapi kenapa guling bisa dinamai Dutch wife?
Situs ensiklopedia online, di http://encyclopedia.jrank.org, berbasiskan Encyclopedia Britannica edisi ke-11 yang diterbitkan 1911, menulis bagaimana peranan bahasa dalam mendukung dan mengukuhkan stereotip, termasuk penggunaan istilah yang mengaitkan dengan Belanda. Dalam tulisan berjudul “Blason Populaire” disebutkan bagaimana Oxford English Dictionary menekankan koneksi sosiolinguistik.

“Karakteristik atau pengaitan dengan Belanda, sering dengan aplikasi yang menghina atau mengejek, sebagian besar disebabkan persaingan dan permusuhan antara Inggris dan Belanda pada abad ke-17... Namun hanya ‘janda Belanda’ (Dutch widow) yang dicatat sebelum 1700, dalam sebuah naskah drama karya Middleton pada 1608. Memainkan kata-kata menggunakan kata Belanda dan negara-negara yang rendah untuk merujuk daerah kelamin umum pada masa Elizabethan.” Karya Thomas Middleton itu adalah Trick to Catch the Old One, terbit 1608.

Arietha, perempuan asal Belanda, dalam artikel “The influence of the Dutch on the English language”, dimuat di www.hubpages.com, juga merujuknya pada persaingan antara Belanda dan Inggris. Setelah kekuasaan Spanyol meredup, Belanda muncul sebagai kekuatan militer dan dagang yang unggul di lautan pada awal abad ke-17. Periode ini dalam sejarah Belanda dikenal sebagai masa keemasan. Bersama Inggris, Belanda menumpuk kekayaannya atas dasar kolonialisme-perusahaan dagang negara tak resmi melalui Dutch East dan West India Companies, yang membentang dari Hindia (Indonesia), Sri Lanka, dan Brasil hingga Aruba, Antilles, dan ujung selatan Afrika. Antara 1652 dan 1674, Belanda menghadapi perang laut dengan Inggris. Inggris berharap bisa merebut kendali pelayaran dan perdagangan dari Belanda tapi gagal.

“Sebagian besar kata-kata dan ekspresi Belanda dibuat saat titik terendah hubungan antara Inggris dan Belanda. Rivalitas mereka menemukan saluran lewat berbagai ucapan populer yang diciptakan masing-masing negara untuk menghina yang lainnya,” tulis Arietha.

“Tradisi anti-Belanda dari para pemukim Inggris awal bertahan dan memberi (Amerika) istilah-istilah seperti ‘Dutch treat’ pada 1887, ‘go Dutch’ pada 1931…,” tulis Stuart Berg Flexner dalam I Hear America Talking, sebagaimana dikutip dari forum The Phrase Finder (www.phrases.org.uk).

The Phrase juga mengutip Morris Dictionary of Word and Phrase Origins karya William dan Mary Morris: “Mungkin tak ada negara yang begitu terus-menerus menjadi semburan pelecehan secara verbal dari bahasa Inggris kecuali tetangga mereka di seberang lautan, Belanda… Tidak selalu demikian. Hingga setelah masa Shakespeare, Belanda biasanya dihormati di semua referensi sastra oleh para pengarang Inggris.”

Sementara Encyclopedia of World and Phrase Origins karya Robert Hendrickson menulis: “Orang-orang Belanda begitu tersinggung oleh bahasa Inggris selama tiga abad sehingga pada 1934 pemerintah mereka memutuskan untuk membuang kata ‘Dutch’ dan menggunakan kata ‘Netherlands’ jika memungkinkan.” 

Meski Inggris membuat istilah itu dengan nada menghina, dan menertawakan kebiasaan menggunakan guling, toh mereka juga membutuhkannya ketika di Hindia. Dan Belanda punya istilah sendiri untuk guling ini, yakni British doll alias boneka Inggris. Setidaknya ini dikatakan Partotenojo, yang dijuluki Partokleooo, teman Minke lainnya dalam novel Jejak Langkah.

Terlepas dari perang istilah itu, guling tetap menjadi peralatan tidur yang tak bisa dilepaskan, hingga kini, terutama di Indonesia.




____________________

Sumber : http://historia.co.id/artikel/budaya/704/23/Majalah-Historia/Siapa_Peluk_Istri_Belanda

Rabu, 21 Mei 2014

(Serba-Serbi) - Layanan Registrasi ISBN Indonesia







The Indonesian ISBN Agency





ISBN (International Standard Book Number) adalah deretan angka 13 digit sebagai pemberi identifikasi unik secara internasional terhadap satu buku maupun produk seperti buku yang diterbitkan oleh penerbit. Setiap nomor memberikan identifikasi unik untuk setiap terbitan buku dari setiap penerbit, sehingga keunikan tersebut memungkinkan pemasaran produk yang lebih efisien bagi toko buku, perpustakaan, universitas maupun distributor.


ISBN diberikan oleh Badan Internasional ISBN yang berkedudukan di London. Perpustakaan Nasional RI merupakan Badan Nasional ISBN yang berhak memberikan ISBN kepada penerbit yang berada di wilayah Indonesia dan KDT (Katalog Dalam Terbitan).


Proses pendaftaran penerbit, permintaan ISBN dan KDT telah dibuat lebih mudah dengan layanan satu pintu. Sekali informasi judul terbitan diserahkan, akan menjadi bagian dari database bibliografi dan akan muncul di terbitan Katalog Dalam Terbitan di Perpustakaan Nasional, yang memungkinkan perpustakaan maupun toko buku yang mencari terbitan untuk dibeli mengetahui informasi terbitan terbaru.


PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Direktorat Deposit Bahan Pustaka Sub Direktorat Bibliografi Tim ISBN/KDT
 Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624 Jakarta 10002 - Indonesia
 © 2012


Kontak Kami
 (021) 929 209 79
(fax)(021) 392 7919
(fax)(021) 319 084 79
isbn@pnri.go.id  isbn.pnri.go.id


Jam Layanan

Permohonan ISBN dan KDT dilayani setiap hari kerja : Senin - Jumat : 09.00 – 15.00 (WIB) Istirahat : pk. 12.00 – 13.00 (WIB)






_____________________


Sumber : http://isbn.pnri.go.id/

(Seluk Beluk Sastra) - Balai Pustaka Harus Mati!






23 March 2013


::gus muh

Barangkali, 2013 adalah tahun sekarat Balai Pustaka (BP). Bukan hanya kali ini saja, BP dinyatakan sakit, koma, dan kemudian bangkit lagi.

Di masa kolonial BP menjadi pemain tunggal penerbit, percetakan, dan distributor buku milik negara. Arus utama sastra Indonesia juga ditentukan oleh "ideologi" yang diusung BP. Penebit inilah yang menentukan mana "sastra baik" dan mana "sastra aneh-aneh", meminjam istilah Subagio Sastrowardojo. “Sastra baik” dihidupkan, “sastra aneh-aneh”, ekperimental disingkirkan. Munculnya “bacaan liar” dari kaum pergerakan kebangsaan adalah antithesis dari BP.

Sejak masih bernama Commisie voor Indlansche School en Volklectuur pada 1908 dan berubah nama menjadi Balai Pustaka pada 1917, kehadiran raksasa ini sudah dikritik Tirto Adhi Soerjo. Bukan karena Rinkes, sang pendiri BP, adalah musuh bebuyutannya di lapangan pergerakan kebangsaan, melainkan kehadiran BP mengebiri hak-hak komunitas pergerakan untuk menerbitkan bacaan.


Menurut Tirto, ketimbang mendanai penerbitan khusus, alangkah baiknya dana pemerintah diberikan kepada komunitas masyarakat untuk pemberdayaan literasi.

Kritik Tirto Adhi Soerjo tak meleset. Setelah perannya dilikuidasi dari cakrawala pergerakan pada 1913, buku-buku yang ditulis olehnya dan kaum pergerakan setelahnya langsung dicap sebagai “batjaan liar”. Nasib penulis “batjaan liar” itu tentu sudah bisa ditebak di mana muaranya: penjara.

Kekuasaan yang begitu gigantis dan menentukan apa yang harus dibaca dan tidak dibaca masyarakat itu kemudian dimatikan Kenpetai di paruh awal tahun 40-an. Itulah masa ketika BP mengikuti tragika majikannya: masuk kubur bersama-sama di ujung samurai serdadu Jepang.

Seiring terbitnya fajar kemerdekaan, BP masuk dalam proyek "nasionalisasi". BP tak ikut abadi dalam kuburan, namun mengalami reinkarnasi dan kembali dengan posisi seperti semula: menjadi ikon negara di bidang penerbitan. Namun perannya tentu saja diciutkan. Pada 1963, keluar beslit baru bahwa BP hanya punya peran: percetakan dan distributor tunggal buku pelajaran.

Divisi penerbitan pun "dilikuidir" yang membuat perannya di bidang penerbitan sastra merosot tajam. Sebagai bekas editor BP, sastrawan Pramoedya Ananta Toer punya catatan kemarahan atas kebijakan Mohammad Jamin yang tak "populer" itu karena mengancam dapur keluarganya. Dan saat itu juga lenyap peran BP di arus perbincangan sastra. Namun tidak sebagai pengedar bacaan di sekolah-sekolah.

Peran sebagai distributor buku pelajaran itu rupanya yang menghidupkan BP. Apalagi setelah rezim berganti dan rezim baru tersebut mengeluarkan Inpres 1973 tentang pengadaan buku pelajaran. BP pun tancap gas. Memasuki sekolah secara leluasa. Nyaris tanpa saingan. Mengapa? Karena ia memegang mandat dari Departemen P & K, selain mencetak ulang buku pelajaran sekolah dari SD hingga SMA, juga menjadi rantai distribusi hingga ke sekolah-sekolah tersebut.

Keasyikan bermain di areal nyaman, membuat saraf kreativitas BP menjadi tumpul. BP menjadi penerbit yang tua, gembrot, dan tentu saja pemalas. Dunia berlari, tapi BP tetap duduk di tempatnya sambil terus memimpikan dunia perbukuan ini tak pernah berubah.

BP masih dengan mimpi leluhurnya di masa kolonial sebagai pelaku tunggal dunia literasi. Jika pesaingnya macam-macam, tinggal minta para marsose membereskannya. Mimpi it uterus abadi dalam kenangannya. Dan sialnya, tak pernah mau datang.

Ketika alaf berganti, rezim berubah, beberapa Badan Usaha Negara terkaget-kaget. Di era liberalisme, persaingan menjadi kebajikan baru. BP bukan hanya terlambat mengantisipasi datang zaman baru ini, tapi tak mau. Akibatnya, penyakit menggerogotinya tanpa ampun di pembaringannya yang sudah terlampau uzur.

Hingga 2013, BP sudah berusia 105 tahun dengan melewati lima perubahan rezim. Sebagai Badan Usaha Negara, BP dipaksa untuk mencangkul dan mencari laba sebanyak-banyaknya dalam dunia perbukuan. Namun para pesaing di bidang yang disuntuki BP ini terlalu banyak, kuat, dan sekaligus terlatih di sirkuit penerbitan dan distribusi.

Benar, BP masih berada di ketiak negara. Namun, kekuasaannya tak lagi seperti kala ia sekuat pada masa kolonial dan seleluasa di masa Orde Baru. Maklum, pesaingnya yang hari ini menjadi raksasa buku, di masa itu, masih balita yang layak diabaikan BP.

Selain tuna dalam kreativitas, BP juga dihuni oleh mental-mental pegawai negeri yang dalam kamus hidupnya tak ada jiwa bagaimana berselihai dalam menangkap momentum zaman. Dalam kamus amtenaar, prestasi atau tidak, gaji yang diambilkan dari anggaran belanja negara tetap ada dan datang. Dalam soal gaji, begitu mimpi semua amtenaar, Negara tak pernah ingkar janji.

Namun negara yang memerintah berubah-ubah wataknya. Di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dana segar untuk menyelamatkan BP benar-benar sudah distop. Pada 2010, Perusahaan Pengelola Aset (PPA) mengusulkan BP berubah saja menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Kalau masih mau jalan, aset-aset yang ada dijual saja.

Nah, BP masih bisa terdengar suaranya sampai saat ini bukan karena beroleh laba dari usaha percetakan dan penerbitannya, melainkan jual-jual harta yang ada. Itu pertanda, penerbit yang seratusan tahun lampau musuh kaum pergerakan ini benar-benar sudah sampai di akhir hayatnya.

Dan Balai Pustaka memang selayaknya mati lantaran dua hal di atas: (1) Balai Pustaka adalah mimpi buruk bagi kaum pergerakan khususnya dunia buku dan literasi kerakyatan yang antikolonialisme dan feodalisme; dan (2) Balai Pustaka menggerogoti keuangan negara yang diambil dari pajak Rakyat karena terus-menerus minta disuapi dan usahanya terus merugi.




* Dimuat pertama kali oleh Koran Tempo, 23 Maret 2013, hlm A 11 | Ditwitkan @radiobuku pada 23 Maret 2013




___________________

Sumber : http://akubuku.blogspot.com/2013/03/balai-pustaka-harus-mati.html

Selasa, 20 Mei 2014

(Puisi) - Pohon Kayu







aku memilih sebuah pohon kayu
yang kutanam sejak kecil
sampai ia besar dan tinggi
hingga lebar bulatannya
dari jauh orang memandang
sebuah pohon kayu yang tumbuh besar
mencolok dikejauhan mata memandang

pohon kayu yang tak berbuah
aku tebang tidak sampai bonggol
aku buat sebuah tiang dan papan
sampai bagian yang terkecil
dari sebuah huma
pohon kayu yang mengingatkanku
tentang cerita anak manusia
yang dipantek dalam satu tiang dan mati
lalu pada hari ketiga segera bangkit
untuk membangun sebuah rumah tinggal
kesanalah sebuah bangsa akan berbondong-bondong datang
dan berteriak dengan penuh sukacita
hosana, hosana
bapak tukang kayu, ahli bangunan bersukacita
pohon kayunya telah menjadi
rumah tinggal abadi





Jaga Blengko 20-5-14
Jack Phenomenon