Senin, 21 September 2015

(Seluk Beluk Sastra) - Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa Lewat Syair Iklan Abad Ke-19



Ting Sam Sien, pedagang buku di Semarang, barangkali tak pernah menyangka bahwa syair gubahannya berisi harta karun pendahulu kesusastraan modern di Indonesia.

 

Telusuri Awal Sastra Melayu-Tionghoa Lewat Syair Iklan Abad Ke-19 
 
 
Perayaan Cap Go Meh pada 1880-an yang menggambarkan keceriaan dua budaya. Litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard sekitar 1883-1889. (Tropenmuseum/Wikimedia)

Banjak lah tabe hormat besrenta,
Pada pembatja sekalian rata,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Njang ada terdjoewal di toko kita.

Ting Sam Sien, seorang pedagang buku di Semarang, mewartakan dagangannya dengan syair berbahasa Melayu pasar pada 1886. Ketika itu dia menjual sebanyak 41 roman terjemahan dari Tiongkok di tokonya, yang tampaknya sangat disuka oleh warga Tionghoa di Hindia Belanda. Judul syair pariwaranya, “Sair dari adanja Boekoe Tjerita Tjina njang soeda disalin bahasa Melajoe”.
Semuanya dikemas dan dipariwarakan lewat syair 36 bait. Syair merupakan puisi lama yang tiap-tiap baitnya terdiri atas empat larik atau baris dengan akhiran bunyi yang sama. Jadi bisa dibayangkan, Ting Sam memariwarakan dagangannya dalam 144 baris!

Syair gubahan Ting Sam berisikan judul buku, harga yang tak bisa ditawar lagi, isi cerita terjemahan, siapa penulisnya, tokoh dalam roman, hingga penilaian tentang kualitas terjemahan. Cukup menjadi senjata pemasaran yang ampuh pada akhir abad ke-19. Bentuk syair yang digunakan dalam pariwara terus berlanjut hingga awal abad ke-20.

Die bawah ini saja menbrita,
Pada sekalian pembatja kita,
Dari hal segala boekoe tjerita,
Harganja djoega poen ada besrenta.

Claudine Lombard-Salmon mengungkapkan hal tersebut pertama kali dalam jurnal Archipel Volume 8 yang terbit pada 1974, yang bersumber dari buku usang yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. “Hampir tidak ada karya Melayu-Tionghoa yang diterbitkan sebelum 1883—karya yang disebut dalam syair iklan ini.”

Tulisan tersebut bersama tulisan Salmon lainnya, diterbitkan juga dalam Sastra Indonesia Awal : Kontribusi Orang Tionghoa pada 2010. Salmon, seorang guru besar dan peneliti asal Prancis yang sekaligus anggota Yayasan Archipel, mulai meneliti sejarah dan budaya Tionghoa sejak akhir 1960-an.
Salmon mengungkapkan betapa syair gubahan Ting Sam sungguh penting bagi cikal bakal sastra modern Indonesia. “Teks itu memiliki daya tarik ganda,” ungkapnya. Berkat teks itu kita dapat menelusuri asal-mula kesusastraan Melayu-Tionghoa yang berbentuk cetakan.” Banyaknya terjemahan roman Tiongkok yang diterbitkan di Hindia Belanda, Salmon melihat fenomena itu sebagai “pendahulu kesusastraan modern”.

Kesusastraan modern di Indonesia berawal dari penerjemahan buku-buku roman Tiongkok, demikian hemat Salmon. Fenomena ini telah memberikan energi baru yang menggairahkan penulisan prosa berupa roman Melayu klasik. Kemudian para penulis Tionghoa mengembangkan roman lokal dalam bahasa Melayu. “Hal itu terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum penerbitan roman berbahasa Indonesia karangan Marah Rusli: Sitti Nurbaya (1922),” ungkap Salmon.


Sebuah lukisan dari Dinasti ... 
 
 
Sebuah lukisan dari Dinasti Ming yang menggambarkan adegan dalam kisah Sam Kok, Roman Tiga Kerajaan. (Wikimedia/Palace Museum)

Agni Malagina, seorang pengamat studi Cina dari Universitas Indonesia, menanggapi tentang peran orang-orang Tionghoa dalam lintasan perkembangan sastra Indonesia. Menurutnya, para penulis Tionghoa sama pentingnya dengan penulis lain yang berkontribusi pada perkembangan sastra Indonesia.

Orang Tionghoa menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca untuk karya mereka, namun dengan susunan gramatikal yang masih terpengaruh tata bahasa Tiongkok. “Mereka memang tampak seperti pionir, soalnya punya akses ke penerbit dan kapital,” ujarnya. “Dan, mereka pandai karena banyak yang mengenyam pendidikan ala Eropa.”

Kemudian Agni melanjutkan, “Mereka juga masih fasih berbahasa Cina karena masih terhitung totok, sehingga bisa menerjemahkan karya-karya Cina ke dalam bahasa Indonesia yang pada akhirnya kisah-kisah itu digemari di Hindia Belanda.”

Menurut syair gubahan Ting Sam, roman yang diterjemahkan dari Tiongkok antara lain: Samkok (Roman Tiga Kerajaan), Hong Kiauw Lie Tan (Ratu Wu Zetian menggulingkan Dinasti Tang), Lek Bo Tan (Bunga Punia Hijau), Tjhit Liap Sing (ketujuh bintang), See Ijoe (perjalanaan ke barat), Tan sha-Go nio (cerita jenaka), Tjerita Khong Hoe Tjoe (buku cerita untuk anak-anak), hingga Sam Pik — Ing Taij (roman percintaan Tiongkok ala Romeo dan Juliet) yang kerap dipentaskan di gedung pertunjukan mutakhir.


Boekoe Sam Pik — Ing Taij soedah lah njata,
Tjerita lakie prampoewan menaroeh tjinta,
Tetapi apa maoe die kata,
Menoeroet boekoe Tjina poenja tjerita.



Journalist | Text Editor National Geographic Indonesia

Minggu, 06 September 2015

(Puisi Tamu) - BENING karya Almondia Salem








Damai...
Milikmu yangg tulus hati
Ke sana lagi, mata air menetap

Jernih...
Sebening kaca...
Mengalir apa adanya
Menyaring ampas sandiwara
Disimpan dalam endapan lumpur musiman

Merunduk,
Bersembunyi...
Memberi jalan pada terik matahari

Entah sejauh apa aku tlah berlari
Indah batin-mu...
Elok damai-mu...
Ke dasar hatimu lagi, jiwaku kan kembali.







 








___________________________
 


written by Almondia Salem
16th September 2013









Penulis Almondia Salem, tinggal di Madiun, Jawa Timur, adalah penyuka puisi dan suka menulis puisi di halaman pribadinya (Facebook)

Jumat, 03 Juli 2015

(Puisi) - Pendiam namun Cerewet







Koleksi Pribadi Foto Dewi Kamaratih





ada yang manis keluar dari pohon
ada yang tersenyum membaca buku
ada yang diam merenung
ada yang cerewet seperti cabe rawit

oh itu dia si pemilik andeng-andeng
di atas bibir
aduh hiasan bibir
sebuah titik noktah
dari Pencipta

jika marah dan tersenyum tiada beda
orang sering salah kira
dia sedang membaca puisi
sepenuh hayat

ya, lembut dan cerewet adalah anugerah
dia memang seperti itu
Layla, ia sungguh cantik
setaip kali ia berkata-kata
aku akan menatap wajahnya
sebab aku lebih mengerti wajahnya
ketimbang ucapannya yang cerewet








Jaga Blengko, 03 Juli 2015
Jak Phenomenon















Kamis, 25 Juni 2015

(Kisah Perang) - Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura




Kisah TNI AU mau bom pangkalan jet tempur Inggris di Singapura
 

B-26 Invader. ©repro buku Baret Jingga




Merdeka.com - Tahun 1965, Inggris membangun pangkalan utama di Singapura. Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base menjadi markas jet tempur Inggris.

Saat itu hubungan Indonesia dan Malaysia sedang memburuk. Malaysia meminta bantuan Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bantuan langsung datang. Pesawat jet, kapal perang, hingga pasukan elite mereka disiagakan di perbatasan dengan Indonesia.

TNI AU melihat Pangkalan Udara Inggris di Singapura sebagai ancaman. Komando Mandala Siaga (Kolaga) merancang rencana untuk mengebom pangkalan tersebut.

Panglima Komando Operasi Komodor Leo Watimena memimpin briefing di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

"Pangkalan Udara Militer Tengah Air Force Base dijaga dengan radar dan misil anti serangan udara. Bukan tugas mudah untuk menyerang dan menghancurkannya," kata Komodor Leo Watimena.

Dia melihat para komandan skadron di depannya. "Siapa di antara kalian yang siap berjibaku menghancurkan tengah ABF?" tanya Leo.

"Saya siap Panglima!" teriak seorang perwira senior.

Tantangan itu dijawab dengan gagah oleh Komandan Skadron I Pembom Taktis Kolonel (Oedara) Pedet Soedarman. Dia merasa perlu mengobarkan semangat anak buahnya dalam konfrontasi melawan Malaysia dan sekutunya.

Pedet Soedarman pilot berpengalaman. Dia kenyang pengalaman menerbangkan pesawat jenis B-25 Mitchel dan B-26 Invander dalam menumpas berbagai penumpasan pemberontakan yang terjadi di tanah air.

Maka saat merencanakan mengebom Tengah ABF, 2 pesawat itu juga yang akan digunakannya. Demikian dikisahkan Pedet Soedarman dalam buku Pengalaman Heroik Penerbang Bomber tahun 2003.

"Direncanakan 50 persen bom yang dijatuhkan dari pesawat itu akan mampu menghancurkan landasan sekaligus mencegah musuh melakukannya," kata Pedet.

Rencana dan persiapan terus dilakukan. Moril para anggota TNI AU tinggi untuk melaksanakan tugas itu.

Namun angin berubah cepat. Peristiwa G30S mengubah peta politik Indonesia. Presiden Soekarno jatuh dan penggantinya, Presiden Soeharto memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan Malaysia.

Dalam waktu singkat pula TNI AU menderita akibat pemerintah Orde Baru memutus semua kerja sama dengan Rusia dan China. Pesawat-pesawat paling canggih milik TNI AU tak bisa terbang gara-gara kekurangan suku cadang. Berakhirlah era Macan Terbang Asia.

Misi mengebom pangkalan jet tempur itu tak pernah digelar.





_____________________

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-tni-au-mau-bom-pangkalan-jet-tempur-inggris-di-singapura.html

Senin, 22 Juni 2015

(Puisi) - Jikalau Nanti Kita Bertemu









aku akan mengajakmu ke tempat yang tinggi sekali
biar kita tahu betapa kecilnya kita
supaya kita selalu mengingatNya
pasti hari itu yang paling indah
langit tersenyum
tanah tempat kita berpijak
akan tumbuh bunga mawar

burung-burungpun bernyayi
seperti lovebird yang berkicau berdua
ya, berdua saja
berpuisi dari relung hati yang paling dalam
C.I.N.T.A.





__________________


Jaga Blengko, 22 Juni 2015
Jack Phenomenon

Kamis, 18 Juni 2015

(Kisah Perang) - Kisah para tentara Islam berjuang di perang kemerdekaan Amerika


Kisah para tentara Islam berjuang di perang kemerdekaan Amerika

perang kemerdekaan amerika. ©althistory.wikia.com



Merdeka.com - Sejarah perang kemerdekaan Amerika Serikat melawan Inggris tak bisa dilepaskan dari sejumlah tentara Muslim. Mereka ikut bertempur dengan gagah untuk negara baru yang merdeka tahun 1776 itu.

Sosiolog AS Dr Craig Considine menulis sebuah artikel soal para pejuang Muslim ini. Tulisannya yang berjudul 'Honoring Muslim American Veterans on Memorial Day' dimuat di Huffington Post.

Di bawah Tentara Kontinental pimpinan George Washington, ada nama Bampett Muhammad. Dia bertempur untuk Barisan Virginia sejak tahun 1775.

Lalu ada nama Peter Buckminster yang dicatat dalam sejarah militer AS. Dia menembak mati Major Jenderal John Pitcairn, seorang panglima Inggris di pertempuran Bunker Hill.

Setelah mendapatkan kemerdekaannya sebagai budak. Buckminster mengganti namanya dengan Salem. Asal katanya Salam, yang berarti damai dalam Bahasa Arab. Salem kemudian kembali mendaftar sebagai sukarelawan dan bertempur dengan gagah berani di pertempuran Saratoga dan pertempuran Stony Point.

"Saat itu Washington yang menjadi komandan pasukan," kata Dr Craig Considine, yang ahli dalam sejarah hubungan Islam dan Katolik di AS.

Considine berpendapat, kehadiran pasukan Muslim di barisan Jenderal Washington itu menunjukkan kebebasan beragama di pasukannya. Tak masalah apa pun kepercayaan mereka selama mau bertempur untuk kemerdekaan AS.

Di pasukan Jenderal Thomas Sumter, seorang pria asal Afrika Utara bernama Yusuf Ben Ali ikut berperang. Pria yang dikenal dengan nama Joseph Benhaley bergabung dengan pasukan Carolina Utara.

Setelah perang kemerdekaan usai, Amerika terjebak dalam perang saudara antara daerah Utara yang menentang perbudakan dan Selatan yang ingin terus melegalkan perbudakan. Kembali sejumlah prajurit yang beragama Islam ikut berperang.

Banyak dari mereka bergabung di Resimen Massachusetts ke-55. Yang terkenal dengan julukan All African Amerikan. Seorang bernama Muhammad Ali bin Said yang kemudian mengganti nama menjadi Nicholas Said berhasil meraih pangkat sersan.

Seperti yang dikatakan Considine, peran Muslim di ketentaraan AS sudah dimulai sejak era para pendiri negara adidaya tersebut. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.
[ian]




___________________

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-para-tentara-islam-berjuang-di-perang-kemerdekaan-amerika.html














(Cerita Penjuru Dunia) - Misteri Lenyapnya Mayor Muller, Utusan Belanda di Kalimantan



Suku Dayak dalam pakaian perangnya, 1864. Foto: The Illustrated London News/commons.wikimedia.org. Suku Dayak dalam pakaian perangnya, 1864.
Foto: The Illustrated London News/commons.wikimedia.org.



Setelah meneken perjanjian dengan Kesultanan Kutai Kertanegara, utusan pemerintah Belanda lenyap di Kalimantan. Diabadikan menjadi nama gunung.


 Oleh: RAHADIAN RUNDJAN




DI perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur terdapat Pegunungan Muller. Keanekaragaman hayatinya penting untuk menjaga kelestarian tiga sungai terbesar di Kalimantan: Kapuas, Barito, dan Mahakam. Penjelajah Belanda, Anton Willem Niewenhuis adalah orang yang pertama kali menamai pegunungan itu dengan nama Muller pada 1894.
Siapakah Muller? Georg Muller lahir di Mainz, sekarang wilayah Jerman, pada 1790. Karir militernya dimulai di pasukan Austria pada 1807. Muller menjadi perwira zeni pasukan Napoleon Bonaparte ketika Prancis menyerbu Rusia. Ketika Napoleon kalah, dia pergi ke Hindia Belanda pada 1817 untuk bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Dia terlibat dalam penyerangan Belanda ke Kesultanan Sambas pada 1818, bahkan diangkat sebagai acting residen di sana. Sempat bekerja sebagai petugas inspeksi pala di Banda Neira, Maluku, pada 1820. Dua tahun kemudian dia kembali ke Kalimantan Barat sebelum terpilih untuk mewakili Belanda ke Kesultanan Kutai Kertanegara.

Dengan ambisi untuk mengontrol arus perdagangan di sepanjang sungai Mahakam, Belanda bermaksud meneken kontrak politik dengan sultan Kutai, Salahuddin. Belanda mengutus Muller beserta 20 prajurit Jawa, ke Kutai pada 8 Agustus 1825.

“Ditetapkan bahwa perjanjian perdamaian mengharuskan Belanda untuk memberi perlindungan kepada Kutai dan menyediakan upah tahunan sebesar 8000 gulden untuk kesultanan sebagai syarat persetujuan,” tulis Burhan Djabier Magenda dalam East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy.

Setelah meneken perjanjian dengan Salahuddin, Muller berambisi menelusuri pedalaman Kalimantan –dari Kutai di timur menuju Sambas atau Pontianak di barat– untuk mengeksplorasi alam Kalimantan yang disebut para penjelajah Belanda sebagai terra incognita atau “wilayah tak diketahui.”

“Meski sultan enggan mengizinkan Muller masuk lebih jauh ke dalam wilayah kekuasaannya, dia tetap pergi ke Mahakam dengan pasukan Jawanya. Hanya satu dari rombongan itu yang berhasil dengan selamat di pantai Barat,” tulis Bernard Sellato dalam Innermost Borneo: Studies in Dayak Cultures.

Muller dan pasukannya diyakini dibunuh oleh suku Dayak di hulu Kapuas. Hal ini kemudian dibenarkan oleh John Dalton, petualang Inggris yang mengunjungi tempat kejadian perkara tiga tahun kemudian dan menemukan benda-benda peninggalan Muller dan timnya, seperti tertera dalam artikel seabad peringatan hilangnya Muller (20 Januari 1826-20 Januari 1926) oleh De Indische Courant.

Kesimpulan itu diragukan dan ada kecurigaan keterlibatan sultan, seperti diungkap artikel “Massacre of Major Mullen and His Party,” Singapore Chronicle, Mei 1831, termuat dalam Notices of the Indian Archipelago and Adjacent Countries suntingan J.H. Moor.

Artikel itu menyebutkan bahwa ternyata Muller meneken perjanjian bukan dengan sultan, melainkan syahbandar bernama Saib Abdullah. Saib mengaku bernegosiasi di bawah ancaman Muller; atau justru Muller yang ditipu oleh sang syahbandar. Skenario manapun membuat sultan tidak senang karena harus menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, dan satu-satunya cara membatalkan perjanjian itu dengan cara melenyapkan Muller.

“Akan tetapi ada beberapa orang yang mau memberikan informasi sesungguhnya apabila mereka dijamin keselamatannya. Salah satunya budak sultan, seorang Jawa, bernama Seredin, yang menyebut sang syahbandar sebagai otak dibalik peristiwa tersebut,” tulis artikel tersebut.

Entah mana yang benar, faktanya Muller dan timnya lenyap, dan tak ada konfirmasi resmi soal siapa yang bertanggungjawab. Setidaknya sampai 1950-an, orang-orang Belanda masih terus menggali kebenaran misteri lenyapnya Muller.*




_____________________

Sumber : http://historia.id/kuno/misteri-lenyapnya-mayor-muller-utusan-belanda-di-kalimantan

Minggu, 14 Juni 2015

(Puisi) - Aku Berserah








Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu.
Ketika pintu itu terbuka,
aku pun terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri. 



RUMI








aku melihat sebuah pohon
aku raih tubuhnya dan kupeluk
antara jariku di sebelah kiri dan jariku di sebelah kanan
aku pertemukan dalam lingkaran pohon
sia-sia upayaku
aku menyerah
aku tak mampu

aku coba lebih keras lagi
aku ambil tali tambang yang panjang
aku coba sekali lagi melingkarkan kedua tanganku ditambah tali tambang
tak mampu juga aku memeluknya

berulang-ulang kucoba dan kucoba
akhirnya aku menyerah

aku lelah dan tertidur di hamparan rumput
dan bermimpi memeluk sebuah pohon besar
dalam mimpi itu kedua tanganku mendekap erat
dan ujung jariku yang satu bertemu dengan ujung jariku yang lain
dan aku mampu menggenggam sepuluh jariku
seperti tangan yang sedang berdoa, memohon








_____________________ 


Jaga Blengko, 8 Juni 2015 
Jack Phenomenon

(Puisi) - Berkat Ilahi







_______BERKAT ILAHI ______



seperti tiga batu
untuk satu tungku
tiga kendi air berbual-bual
membuat huma seperti
sungai mengalir sepanjang musim



____________________

Jage Blengko, 11 Juni 2015
Jack Phenomenon

(Puisi) - Mengapa engkau Tersenyum








“The earth laughs in flowers.”


― Ralph Waldo Emerson






Senangnya bisa melihat bumi tersenyum
dan aku berada di antaranya
seperti berada di bumi baru
yang lalu telah berlalu

Hari-harinya bersama bunga-bunga di padang
berbincang-bincang tentang suatu rahasia
mengapa engkau selalu tersenyum






__________________ 


Jaga Blengko, 13 Juni 2015 
Jack Phenomenon

Selasa, 02 Juni 2015

(Puisi Tamu) - MULANYA ADALAH LANGIT ASTA TINGGI (Karya : Yuli Nugrahani)







Sumber Foto : Koleksi Foto Yuli Nugrahani di Facebook









Asta Tinggi diratapi candra
menusuk daun-daun aren mendesakkan ingatan
pada teras perjumpaan
pada saat tubuhmu tubuhku lekat.
Walau raut hilang dalam malam
namun suara melantunkan irama berpagar tanya.

"Pasirkah hati Pancali, atau batu?"
Tanganku atau tanganmu menadah
kata tergelincir seperti hujan
seperti ujung-ujung awan
dan kita berdua terguncang-guncang
oleh perbedaan.

"Yudistirakah suami Pancali, atau Pandawa?"
Bibirku meregangkan cengkerama
bibirmu menangkapnya sepenuh daya.
Menyudahi perdebatan di pangkal cemara
melumuri prasasti-prasasti dengan kata.
Pasir adalah batu, batu adalah pasir.
Yudistira adalah Pandawa, Pandawa adalah Yudistira.

"Pancali pongah di gelung rambut Krishna."
Itu adalah haknya, katamu.
Kami saling memandang,
kembali pada langit Asta Tinggi, tanpa penilaian
diam dilipat senyuman.


Mei 2015




_____________________

Yuli Nugrahani (Cerpenis dan Penyair Lampung)

Lahir di Kediri 9 Juli 1974. Pernah menjadi wartawan Harian Malang Post dan Pemimpin Redaksi Majalah Nuntius, kini tinggal di Hajimena, Natar, Lampung Selatan. Tulisannya pernah beredar di berbagai buletin, majalah, koran dan jurnal seperti Panyebar Semangat, Terlibat, Lembur, Nuntius, Hidup, Ucanews, Femina, Malang Post, Lampung Post, Suara Karya, Sinar Harapan, Jurnal Perburuhan, Swara Gender, Buletin Insan, Konfrontasi, Teras Lampung, dan sebagainya. Menjadi editor dan penyusun buku untuk Eritis Mihi Testes (2002), Suster-suster Klaris Kapusines Sekincau (2003), Samudera Peziarahan (2010) dan Goro-goro, Kucing Gering Bagong Leong (2013) dan Antologi Puisi Hujan Kampoeng Jerami (2014). Cerpen-cerpennya masuk dalam Antologi Cerpen Kawin Massal (Dewan Kesenian Lampung, 2011) dan Antologi Sastrawan Lampung Hilang Silsilah (Dewan Kesenian Lampung, 2013). Buku cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Daun-daun Hitam (Indepth Publishing, 2014, bersanding dengan sketsa-sketsa Dana E. Rachmat). Sedang puisi-puisinya masuk dalam buku : Turonggo Yakso, Memperjuangkan sebuah Eksistensi (2014), Gemuruh Ingatan, 8 Tahun Lumpur Lapindo (2014), dan Hujan Kampoeng Jerami (2014). Buku puisinya adalah Pembatas Buku (Indepth Publishing, 2014). Terakhir menjadi penulis dan editor dalam antologi puisi Titik Temu, yang diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2014, berisi puisi-puisi bertema HAM. Selain sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, sehari-hari bekerja untuk Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang, memberikan pelatihan penulisan di berbagai tempat di Indonesia, mengisi berbagai acara sastra dan kegiatan sosial, dan aktif mengembangkan Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK).



Jumat, 29 Mei 2015

(Puisi) - _______MAMPIRLAH KE GUBUKKU ______







masuklah ke bilikku yang paling dalam
aku akan menjamumu dengan kehangatan
tinggallah beberapa saat di sini sampai bosan
sehari atau seminggu, mungkin sebulan
setidak-tidaknya kamu bisa coba setahun
bila kamu betah tinggallah di sini selamanya
mungkin kita bisa membangun satu bilik lagi

buat matahari yang akan hadir
aku tidak tahu berapa yang kau sanggup bikin bilik di rumah ini ?

entahlah, semoga kiranya Yang Maha Tahu
memberkati kita
Dia yang mempertemukan
Dialah yang memberi kecukupan

aku hanya mengundangmu ke bilikku yang paling dalam





____________________

Jaga Blengko 29 Mei 2015
Jack Phenomenon


Rabu, 27 Mei 2015

(Puisi Tamu) - Lelaki Senja








Lelaki Senja
duduk termenung di beranda tua
secangkir kopi tanpa gula, temannya hanya
pada senja dia bercerita
 

berjuta langkah t'lah di laluinya
ribuan kisah mengiringinya
dari benua tawa
hingga lautan airmata


dihisapnya batang sigaret tersisa
entah, kepulan yang ke berapa
dia tertawa ...
"ha.ha.ha. aku pernah jaya!"

diteguknya si teman setia
mungkin itu tetes paling purna
tawanya terhenti seketika,
"aahh ..., kau pun akan mendahuluiku rupanya,"

kembali dia terdiam
menatap asap sigaretnya menjauh terbang
seperti mimpinya yang telah hilang
perlahan matanya terpejam
menikmati pelukan rindunya pada sang pemilik alam

lelaku tua, tetaplah bertahan
meski langkahmu tak lagi panjang
senja akan selalu bertandang
mengiringimu tuntaskan perjalalanan
di sini aku 'kan menenun doa panjang
'tuk bahagiamu yang pasti pulang




Nangang 280515




_____________________

Penulis Asri Fara, penyair wanita yang tinggal dan bekerja di Nangang, Taiwan
Sumber : Puisi ini diambil dari catatannya di Facebook

Minggu, 17 Mei 2015

(Puisi Tamu) - ALZHEIMER [Karya Bintang Kartika











sekian panjang jalan kaujejak
dan kautuah pada laluan;
"aku menyamun malammu, merompak tidurmu. di sudut mana pun, aku menyauhmu!"

di ladang,
di antara bebatang kopi
dan sekian dahannya
tentu telah dipatah orang lewat

kau tak ingat
disampuk alzheimer.




may 2015






______________________

Karya penyair wanita dari Malaysia, tinggal di Kuala Lumpur, dengan nama pena : Bintang Kartika, karya banyak diterbitkan di Akhbar Melayu di Malaysia dan beberapa di bukukukan dan antologi bersama

Sabtu, 02 Mei 2015

(Puisi Tamu) - Babak Terakhir Karya Penyair Lia Amalia Sulaksmi












BABAK TERAKHIR
¯¯¯¯¯¯¯¯˜”*°•.♡.♡.♡.•°*”˜¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯




Jika memang layar sudah tertutup
Tiada lakon lagi

Dengan pincang aku keluar
Dari pintu depan

Tinggallah punggung tertimpa lampu
Yang sebentar lagi padam

Panggung mulai sepi
Tanpa tepuk tangan penonton




Bandung, 29-4-15






_____________________


Lia Amalia Sulaksmi, penyair wanita menetap di Bandung, Jawa Barat

Selasa, 14 April 2015

(Puisi) - Kutundukkan Kepalaku Kepada Sang Penenun dan Pemintal Tubuhku








Nenek moyangku seorang pemintal dan tukang tenun kain, turun-temurun memainkan kelentukkan tangan, kaki dan mata lelahnya, memilih warna-warni atau mencari pohon-pohon atau akar dan daun yang apabila sihir petunjuk ilhamnya menyatakan bahwa daun ini dan akar itu apabila diampur akan menghasilkan warna anu.Sejak dahulu kala keturunan nenek moyang pemintal dan penenun menyebar ke seluruh bumi, mereka memiliki kesamaan ilmu, baik dalam corak, alat, benang dan warna. Satu guru mereka yang lahir di lembah subur Mesopotamia, di tengah-tengah benua mereka belajar satu ilmu dari seorang nenek moyang keturunan mahir.

Mata mereka melihat sekeliling alam dan meniru corak alam, binatang, tumbuhan bahkan di langit atas mereka membuat tiruan alam di kain tenun mereka dan mereka membuat apa saja dengan kain tenun ini, membuat busana adat mulai dari pembungkus kaki sampai kepala, membuat kain pelana kuda, membuat taplak meja, alas tempat tidur ataupun kemah dan karpet-karpet tempat duduk orang-orang, raja-raja, dan pangeran beserta keluarga besarnya.

Di semua bumi berpenduduk segala bangsa menenun, memintal, kadangkala mereka mewujudkannya dalam sebuah ritual yang sakral, membuat tenun khusus bagi upacara-upacara, bahkan saat sang bayi lahir di bumi entah itu anak laki-laki atau perempuan mereka memiliki kain tenunnya sendiri. Kepala suku dengan coraknya, bangsawan dengan coraknya dan dukun dengan coraknya.

Semua dikenal karena busana tenunnya yang merupakan identitas atau jabatan mereka, itulah keturunan para penenun dan pemintal mewariskan kepada keturunan mereka dengan segala pesan, nasihat, mantra dan doa-doa panjang mereka

Lihat seringkali busana tenun memiliki sebuah gengsi, kedudukan, pangkat atau jabatan dikombinasikan dengan corak dan warna-warni penuh arti, setiap orang suku bangsa bangga dengan hasil tenunnya sebagai warisan leluhur yang merupakan budaya, adat istiadat yang lestari.

Sampai suatu saat seorang yang memiliki arti hidup, seorang pecinta mengoyakkan jubah tenunnya dan membuangnya di tanah dan kepalanya ditaruh abu dan debu dan berduka cita dengan semua yang apa ia kenakan dengan segala kebanggaan, itu semua sia-sia tanpa martabat, tanpa juru selamat dan tanpa Allah yang hidup, semua sia-sia.

Aku menundukkan kepala dengan segala kerendahan hati bahwa semua itu tidak pantas aku kenakan, biarkan hidupku telanjang dan masuk angin, aku tahu Oh penenun hati dan pikiran, aku menundukkan kepalaku hanya kepadamu bahwa ini semua sia-sia tanpa Engkau ada disampingku senantiasa.




Jaga Blengko, 3 April 2015
Jack Phenomenon

Minggu, 12 April 2015

(Serba-Serbi) - Ada Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer di Blora



Ada Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer di Blora
IST/HELENA LEA MANHARTSBERGER
Pengasuh Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA), Soesilo Toer, yang juga merupakan adik bungsu Pramoedya




TRIBUNJOGJA.COM, BLORA - Seorang penulis paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia dan penuh kontroversial dilahirkan di Blora. Lebih dari 50 karya sastra yang ditulisnya telah diterjemahkan lebih dari 41 bahasa asing. Satu di antara karyanya berjudul ‘Cerita dari Blora’ (1952) dan menjadi meraih penghargaan sebagai karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953. 

Adalah Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan besar yang hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam penjara, mulai zaman kolonial Belanda, Jepang hingga rezim Orde Baru.
Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006. Setelah tragedi 1965, ia ditahan rezim Soeharto karena ideologi sosialis yang dianutnya. Buku-bukunya pun dilarang untuk beredar. Pramoedya ditahan di Nusakambangan tanpa menjalani proses pengadilan, selanjutnya dengan status tahanan politik, ia dipindahkan ke Pulau Buru, dan menghabiskan masa hidupnya selama 14 tahun.

Kini di rumahnya yang terletak di Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora didirikan Perpustakaan PATABA yang merupakan akronim dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa. Di depannya terdapat papan dengan tulisan tegas: BACALAH, BUKAN BAKARLAH!! Rumah tersebut kini menjadi kediaman Soesilo Toer, adik bungsu Pramoedya yang juga menjadi pengasuh perpustakaan.
Kurang lebih sebanyak 5.000 buku, mulai sastra, filsafat, hingga buku lainnya yang menjadi koleksi perpustakaan PATABA, buku-buku tersebut juga terdiri dari berbagai bahasa. Menurut Soesilo, koleksi tersebut sebagian adalah miliknya, milik Pramodya Ananta Toer, dan Koesalah Soebagya Toer, yang juga saudara kandungnya. 

Pengunjung perpustakaan PATABA tidak hanya masyarakat setempat, banyak juga mereka yang sengaja datang dari luar kota, bahkan dari mancanegara yang ingin membaca dan melakukan studi literatur. Bagi para pengunjung yang datang dari luar kota, Soes selalu memberi kesempatan untuk menginap di rumah tersebut. Bahkan dengan kesederhanaannya, ia juga memberi makanan dan minuman kepada para pengunjung perpustakaan.

Jika memasuki bagian depan rumah, kita bisa melihat berbagai foto Pramoedya Ananta Toer dan keluarga. Foto-foto tersebut terdiri dari ketika masa kecil, masa muda, hingga foto masa tua sang maestro. Selain itu juga terdapat foto tokoh-tokoh bangsa seperti, Soekarno, Tan Malaka, dan R.A Kartini.

Seperti kakaknya, Soesilo adalah seorang penulis sekaligus intelektual, ia menyelesaikan studi Master di Universitas Patrice Lumumba, serta PhD (Doktoral) di Institut Plekhanov Uni Soviet, kini Rusia. Tahun 1973, ketika kembali ke Indonesia, Soesilo terpaksa dipenjara oleh rezim yang berkuasa karena perbedaan pandangan politik.

Zaman sudah berlalu, rezim sudah berganti, namun pemerintah setempat tetap saja tidak mengakui perpustakaan tersebut, bahkan menjulukinya sebagai perpustakaan liar. Meski begitu lelaki kelahiran Jetis, Blora, 17 Februari 1937 ini akan terus mengelolanya dengan sepenuh hati. Bacalah, Bukan Bakarlah!! (*) 


Penulis: rap
Editor: wid

Laporan Reporter Tribun Jogja, Riezky Andhika Pradana



 
____________________

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/2013/03/17/ada-perpustakaan-pramoedya-ananta-toer-di-blora

(Serba-Serbi) - Taman buku Solo, lokasi berburu buku zaman Belanda dan Jepang


Taman buku Solo, lokasi berburu buku zaman Belanda dan Jepang





Merdeka.com - Jika anda penggemar buku-buku lawas atau naskah kuno, tak ada salahnya anda mencoba berkunjung ke Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Di salah satu sudut pintu masuk keraton, terdapat deretan kios buku bernama Taman Buku dan Majalah. Dari 20 kios yang beroperasi, ada sedikitnya 3 kios yang menjajakan buku-buku kuno terbitan zaman penjajahan Belanda hingga Jepang.

Tak hanya buku tentang pengetahuan umum, sejarah, akuntansi tetapi juga karya-karya sastra dari sastrawan nomor wahid di Indonesia. Di taman buku itu terdapat beberapa kios buku yang menjual buku-buku bekas lain. Harga yang ditawarkan di kios bervariasi dari Rp 5 ribu hingga jutaan rupiah.

Buku-buku bekas dijual di taman ini harganya jauh di bawah harga pasaran buku baru. Harga buku bekas di Alun-alun Utara sekitar 20 hingga 25 persen dari harga buku baru. Jadi jangan heran, jika buku sastra tebal di toko buku dijual seharga Rp 100 ribu lebih, di sini hanya dijual seharga Rp 25 ribu, atau bahkan lebih murah.

Kris Harinto (37) atau akrab disapa Entis, salah satu pemilik kios mengemukakan, dia memang menggeluti jual beli buku kuno sejak 14 tahun lalu. Di kiosnya tersedia ratusan buku, naskah, atau artikel, serta kertas dari era penjajahan Belanda dan Jepang.

"Koleksi buku saya ini semua rata-rata sebelum tahun 1960 mas. Tak mudah memang menemukan buku kuno di Indonesia saat ini. Saya juga belinya dari kolektor, atau cari ke kota lain. Tapi kadang ada juga yang datang ke sini menjual buku kuno," kata Entis saat ditemui merdeka.com, Sabtu (11/4).

Setelah memperoleh buku-buku ini, dia kemudian menjualnya kembali kepada pedagang buku kuno dan para kolektor yang datang dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Tak hanya dari dalam negeri, pembeli buku kuno juga berasal dari Brunei Darusalam, Singapura, dan Malaysia.

"Kalau masalah harga itu relatif mas, ada yang Rp 5 ribu, puluhan ribu, ratusan ribu atau bisa sampai jutaan kalau bukunya bagus, antik atau susah dicari," imbuhnya.

Dia mengaku, dari penjualan buku bisa meraup pendapatan cukup untuk menghidupi istri dan satu anaknya. Selain buku-buku kuno, beragam jenis buku dan majalah, baik baru maupun bekas juga dijual Entis di kiosnya. Saat merdeka.com menanyakan koleksinya, Entis memperlihatkan sebuah buku peta atau atlas kuno buatan tahun 1828 dan sebuah surat kabar Sura Karta buatan sebelum kemerdekaan.

"Atlas ini sudah saya beli mas, harganya Rp 200 ribu, nanti saya jual lagi di Yogya," ujar Totok (31) salah satu pembeli asal Yogyakarta.

Menurut Totok, di toko buku kuno Solo, dia sering mendapatkan barang-barang langka, yang dicari. Dari buku atlas yang dibelinya, misalnya, kualitas cetakan dan kertasnya jauh lebih bagus dari kualitas kertas cetakan sekarang. Sedangkan kualitas buku dan penulis zaman dulu juga jauh lebih berbobot.

"Kalau menurut saya bagusan yang lama, kualitas kertas dan isinya lebih bagus, sejarahnya otentik, berkualitas yang pasti. Kalau buku atau artikel zaman sekarang itu kurang bermutu, banyak yang cuma nyontek, katanya.

Bagas Febrantoro, warga Kartasura mengaku sering mengunjungi kios buku kuno. Sejumlah buku bacaan dan sejarah telah dikoleksi. Selain murah harganya, kualitas buku juga tak kalah dengan yang dijual di toko.

"Saya beli buku Karen Amstrong di sini hanya Rp 60 ribu, kalau di toko lainnya bisa Rp 100 ribu. Saya juga beli buku-buku Serat Centini, Nyai Gowok, Marketing Bullshit, Babad Alas Jawi dan lain-lain. Harganya sangat murah, cocok untuk kalangan mahasiswa atau pelajar," ucapnya.

Lebih lanjut Entis mengatakan, pengunjung di taman buku ini dapat menawar buku dan majalah yang dijajakan dengan harga terjangkau dibandingkan dengan harga buku atau pun majalah di toko-toko buku besar. Menurut Entis, berdirinya Taman Buku Alun-alun Keraton bermula oleh pedagang buku yang membuka lapak di tengah alun-alun sebelah utara Keraton Kasunanan Surakarta. Saat itu pedagang dipersilakan pindah ke seberang alun-alun karena alun-alun terlarang untuk kegiatan jual beli oleh pihak keraton.

"Karena tempat yang tidak layak untuk berjualan, tahun 2001 keraton mempersilakan kami untuk menempati bangunan yang ada di sebelah utara alun-alun. Sejak itulah Taman Buku Alun-Alun Keraton resmi berdiri," pungkasnya.
 
 
[efd]
 
 
 
 
____________________

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/taman-buku-solo-lokasi-berburu-buku-zaman-belanda-dan-jepang.html







(Cerita Penjuru Dunia) - Raja Mati Karena Tuak



Raja Singhasari diserang dan mati di tempat minum tuak. Ditafsirkan dia sedang melakukan ritus agama yang dianutnya.

Oleh: Yudi Anugrah Nugroho



Penjual tuak di Hindia Belanda, sekira 1930.
Foto: KITLV.



TUAK tidak hanya minuman bagi beragam kalangan dalam upacara penetapan sima, prosesi sumpah dan kutukan, dan hiburan. Ia juga salah satu jenis minuman yang disuguhkan kepada raja. Bahkan, raja Singhasari, Kretanegara, mati ketika dia minum tuak.

Kitab Pararaton, gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya serta disalin pada 1613, menggambarkan akhir hidup Kretanagara yang diserang Jayakatwang, raja Gelang-Gelang, bawahan kerajaan Kediri. Dia kemenakan raja Kediri, Seminingrat, jadi saudara sepupu Kretanegara. Baru setelah mengalahkan Kretanegara, dia menduduki ibukota Daha dan memerintah Singhasari sebagai negara bawahan.

Kitab Pararaton menyebut, Jayakatwang menyerang Kretanegara (pada 1291) saat “Sira Bathara Siwa Budhha pijer anadhah sajeng atau Batara Siwabuda (Kretanagara masih meminum minuman keras).” Pada bagian selanjutnya disebutkan bahwa kematian Kretanagara di tempat minum tuak (Sambi atutur kamoktanira bhathara sang lumah ring panadhahan sajeng).

Menurut Ery Soedewo, arkeolog Balai Arkeologi Medan, peristiwa kematian Kretanagara dalam kondisi mabuk bersama para brahmana sebagaimana tersua dalam Pararaton dan prasasti Gajah Mada, sebenarnya adalah gambaran praktik ritus Budha Tantrayana yang dianut oleh Kretanagara.

“Jadi bukan kegemaran Kretanagara terhadap minuman keras khususnya tuak (sajeng),” tulis Ery Soedewo, “Produk Local Genius Nusantara Bernama Tuak,” dalam Jejak Pangan dalam Arkeologi.

Budha Tantrayana yang dianut oleh Kretanagara tujuan akhirnya adalah sunyaparamananda, yaitu tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagian tertinggi (paramananda), yang hakikatnya ialah kasunyatan (sunya).

Untuk mencapai itu, menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugraho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia II, “salah satunya dengan meminum minuman keras (madya), orang yang melaksanakannya akan dapat mencapai tingkatan sunyaparamananda semasa dia hidup dengan ditahbiskan sebagai jina.”




___________________

http://www.historia.id/kuliner/raja-mati-karena-tuak

Sabtu, 11 April 2015

(Puisi) - Celana







Kepada celana
yang telah berjasa menutup aurat
di mana saja


Aku ingat celana jeans belelku
ke mana-mana aku pakai
biar berhari-hari

Levi's strauss kesukaanku
dengan bokong seksiku
dilirik para gadis-gadis manis

Aku hanya suka satu hal
yaitu kantong kecil yang sempit
tempat uang receh terselip

Konon kantong sempit itu
tempat yang paling berharga tersimpan
yaitu intan permata

Seperti aku teringat adik manisku
gadis Layla dan celana jeansnya
dia sungguh manis




____________________



Jaga Blengko, 11-4-15
Jack Phenomenon