Selasa, 03 Juni 2014

(Cerita Penjuru Dunia) - Ngeri-Ngeri Sedap Terasi




Kendati bau menyengat, terasi tetap nikmat.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI



HENRY O. Forbes, naturalis Skotlandia, menjelajahi Nusantara antara 1878-1883. Suatu hari, pada Minggu pagi, dia terlambat bangun di pondokannya di daerah Genteng, Lebak (sekarang, Bojong Genteng, Cijaku, Lebak, Banten). Dia terusik oleh bau busuk yang menyengat.


Mulanya dia mengira daging unggasnya mulai membusuk. Namun, setelah diperiksa, daging itu baik-baik saja. Dia lalu memeriksa sekeliling pondokan, mungkin ada bangkai hewan. Akhirnya, dia menemukan sumber bau busuk itu di dapur: sebuah benda padat terbungkus rapat daun pisang.

“Ya ampun, apakah ini?” tanya Forbes kepada pelayannya, sambil menyentuh benda itu hati-hati.

“Oh! Tuan, itu trassi!”

“Trassi? Demi Tuhan, apa itu trassi?”

“Enak untuk dimakan, Tuan, terutama direbus.”

“Apakah saya sudah memakannya selama ini?”

“Tentu saja, Tuan. Itu enak sekali.”

“Kamu orang bodoh! Apakah kamu ingin meracuni saya dan membunuh dirimu sendiri?”

“Biar saya terkena gondok, Tuan, tetapi makanan itu memang enak sekali!”


Forbes memuat percakapan tersebut dalam A Naturalist’s Wandering in the Eastern Archipelago from 1878 to 1883, masuk dalam antologi Jawa Tempo Doeloe suntingan James R. Rush.


Pelancong Skotlandia lainnya, John Crawfurd, juga mencatat mengenai pengolahan dan penggunaan ikan yang menurutnya aneh tapi umum dilakukan. “Pengolahan ini, dalam bahasa Melayu blachang dan dalam bahasa Jawa disebut trasi, adalah setumpuk ikan kecil, terutama udang, yang telah difermentasi, dan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Olahan berbau busuk ini, yang dapat membuat mual bagi orang asing, adalah saus umum di pulau Hindia, lebih umum daripada kecap dari Jepang. Penggunaannya meluas ke setiap negara tropis dari China sampai Bengal (India) ” tulisnya dalam History of the Indian Archipelago, Vol. I (1820).


Namun Crawfurd menunjuk William Dampier, penjelajah dan penulis asal Inggris, sebagai orang yang menjelaskan pengolahan terasi dengan “akurasi yang sempurna”. Dalam A New Voyage Round the World (1688), Dampier menguraikan balachaun adalah komposisi yang berbau kuat namun hidangan yang disukai penduduk asli negeri ini. 


Cara membuatnya: campuran udang dan ikan kecil ditambah garam dan air ditumbuk dalam bejana, dan cairan yang keluar jangan dibuang karena masih bisa digunakan. Ikan hasil tumbukan itu disebut balachaun. Sedangkan cairannya disebut nuke-mum, berwarna coklat pucat dan berasa sangat gurih, serta digunakan sebagai saus yang baik untuk unggas, tidak hanya oleh penduduk asli, tetapi juga oleh banyak orang Eropa, yang menganggapnya sama dengan kecap.
“Orang-orang miskin makan balachaun dengan nasi,” tulis Dampier.


Di Cirebon, nuke-mum kemungkinan besar adalah blendrang, perasan air rebon (udang) atau cai rebon. Makanan dari bahan ini disebut petis blendrang. Dari kata cai rebon inilah menjadi Cirebon.


Berdasarkan Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya sebuah dukuh bernama Muara Amparan Jati yang berada di Dukuh Pasambangan, lebih kurang 5 km di sebelah utara Kota Cirebon. Selain membabat belukar untuk dijadikan kebun dan ladang, penduduknya juga mendirikan industri rumahan membuat terasi dan blendrang dengan alat lumpang dan alu batu besar. Lama-kelamaan kegiatan ini terdengar oleh penduduk sekitarnya dari Pasambangan, Rajagaluh dan Palimanan. “Mereka berduyun-duyun datang membeli terasi dan cai rebon/petis blendrang. Sejak itulah dukuh itu disebut orang Dukuh Cirebon, pada tahun 1447,” tulis P.S. Sulendraningrat dalam Sejarah Cirebon.


Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 3, catatan mengenai terasi tersua dalam Prasasti Karang Bogem tahun 1387 yang dikeluarkan penguasa yang tak disebutkan namanya, tetapi kemungkinan penguasa Lasem. Prasasti ini berhubungan dengan pendirian sebuah “lungguh” di suatu tempat yang disebut Karang Bogem di tepi laut. Dikatakan bahwa tanah itu mencakup satu jung sawah dan setengah jung tanah yang sudah dibuka, tetapi juga tambak-tambak yang ikannya dipakai untuk membuat terasi.


“Dalam teks prasasti tertulis acan, bentuk yang sekarang ditemukan kembali dalam kata blacan yang juga berarti terasi,” tulis Lombard.


Lombard juga mengutip buku F. de Haan berjudul Priangan, De Preanger-regentschappen onder het Nederlansch Bestuur tot 1811, jilid I. F. De Haan menyebut adanya sebuah tanah milik raja kecil (kroondomein) di Pamotan di pantai selatan yang tugasnya membuat terasi untuk keraton (Mataram, red). Bagi Lombard, ini “mengingatkan tanah milik yang disebut pada abad ke-14 dalam Prasasti Karang Bogem.”


Tak semua orang suka terasi, termasuk Forbes. Meski dibujuk, dia tetap membuang terasi ke hutan. Dia mengancam akan menghukum pembantunya jika menemukan lagi terasi di pondokannya. Setelah itu, dia mengetahui bahwa terasi menjadi bumbu penyedap di setiap masakan, lokal maupun Eropa, yang dimakannya sejak datang ke Hindia.


“Sulit bagi saya menerima kenyataan bahwa secara tidak sengaja saya sudah menyantap benda tersebut setiap hari tanpa merasa jijik sedikit pun,” kata Forbes.




___________________

Sumber : http://www.historia.co.id/artikel/budaya/1391/Majalah-Historia/Ngeri-ngeri_Sedap_Terasi

(Serba-Serbi) - Merayakan Pehcun Bersama Warga Cina Benteng



Wafatnya seorang sastrawan Tiongkok lebih dari 2000 tahun silam itu diperingati di seantero jagad. Bagaimana warga Cina Benteng mengenang leluhurnya?

 

 

pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 
Perahu Pehcun di Sungai Cisadane, satu malam sebelum perayaan Pehcun di pecinan
Tangerang. (Agni Malagina)


Tepian Sungai Cisadane di Tangerang, sehamparan kawasan tempat bermukim warga Cina Benteng. Tanggal 2 Juni 2014  bertepatan dengan Perayaan Pehcun: hari kelima bulan kelima penanggalan Imlek, sudut Kota Tangerang tampak sibuk sejak malam sebelumnya. Perayaan ini biasanya identik dengan “bacang” dan “perahu naga”. Di Indonesia, tidak semua pecinan merayakan Pehcun dengan kedua ikon tersebut.

Kata “Pehcun” merupakan dialek Amoi (Minan) yang berarti "(men)dayung perahu ba chuan" ( 把船). Dalam Bahasa Mandarin hari raya ini disebut Duanwujie (端午节).

Perayaan ini pada mulanya dimaksudkan untuk memperingati meninggalnya seorang sastrawan Tiongkok bernama Qu Yuan (340-278 SM) dari negara Chu di zaman Negara-Negara Berperang Zhanguo Shidai (475-221 SM).

Konon Qu Yuan yang juga seorang pejabat di kerajaan Chu mati bunuh diri menceburkan diri ke sungai Milo pada tanggal 5 bulan 5, karena pemikiran kritisnya dianggap membahayakan negara, ia diasingkan jauh dari ibu kota negara.

Rakyat yang sangat menyayangi Qu Yuan berusaha mencari mayatnya dengan menggunakan perahu panjang yang biasanya dapat diduduki oleh 60 orang pendayung. Karena kuatir mayat Qu Yuan dimakan ikan, maka dibuatlah makanan yang dibungkus daun bambu, berbentuk limas, lalu diberikan kepada ikan dengan tujuan supaya ikan-ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan. Makanan tersebut dikenal dengan (ba/babi) cang zong.


Perahu naga di negeri asalnya biasanya memiliki ukuran panjang hampir 40 meter. Bagian ujung depan kapal dihiasi ukiran kepala naga dan bagian belakang kapal dihiasi ornamen ekor naga.


pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 
Warga Cina Benteng memandikan perahu keramat jelang perayaan Pehcun
di Tangerang (Agni Malagina)

Lambat-laun, kegiatan mendayung perahu naga pun menjadi sebuah kegiatan rutin dan tak jarang diperlombakan. Ornamen naga yang mengihiasi perahu tersebut merupakan simbol bahwa naga dapat membawa keberuntungan bagi masyarakat dengan menurunkan hujan yang berguna untuk tumbuhan.

Hal serupa pun terjadi di Tangerang. Dayung perahu naga telah ada sejak tahun 1930-an dan terus berkembang menjadi perlombaan semarak yang menjadi ikon perayaan Pehcun di Tangerang. Sampai 1960-an, perlombaan perahu naga masih diselenggarakan di Sungai Cisadane yang terletak di dekat Klenteng Bun Tek Bio.

Uniknya perayaan Pehcun di Tangerang selalu dimulai dengan ritual memandikan perahu keramat Pehcun yang terletak di Klenteng Keramat Pehcun seberang Klenteng Bun Tek Bio. Upacara tersebut biasanya dilakukan tengah malam menjelang hari perayaan Pehcun.

Setelah upacara pemandian tersebut, perahu-perahu kecil yang akan digunakan untuk lomba dayung perahu naga tak luput dari tebaran berkah keselamatan. Malam hari warga menikmati sajian makanan malam serta musik gambang kromong. Gambang Kromong merupakan musik tradisi di Tangerang yang di dalamnya pun merupakan sinergi antara alat musik tradisional Indonesia dan alat musik tradisional Cina seperti tehyan, langgamnya pun tak jarang terpengaruh oleh nada-naga khas alunan musik tradisional Tiongkok. 


pehcun,cisadane,tangerang,cina benteng 


Salah satu keajaiban perayaan Pehcun di Tangerang: Menyaksikan telur-telur yang
berdiri seimbang. (Agni Malagina)

Pada hari perayaan Pehcun, terkenal pula upacara sembahyang Pehcun yang dipimpin pemuka agama di tepi Sungai Cisadane. Usai upacara, Pehcun makin semarak dengan kegiatan mendirikan telur. Warga meyakini, titik matahari sedang berada dalam titik tertingginya sehingga telur bulat pun dapat berdiri. Dalam kepercayaan pengobatan tradisional herbal Tiongkok, hari ini pun dianggap sebagai hari terbatik untuk memetik tumbuhan bahan obat tradisional.


Bacang merupakan makanan khas kuliner Tiongkok. Sejatinya bacang memang harus disajikan pada saat perayaan Pehcun. Bacang yang awalnya terbuat dari beras ketan diisi daging babi tumis manis pun saat ini telah mengalami modifikasi menu. Isian bacang tak lagi daging bagi, namun sudah bervariasi dari telur asin sampai daging ayam.


Kudapan ini pun tak lagi hanya disajikan pada saat upacara Pehcun, tetapi juga menjadi jajanan yang dapat dinikmati setiap hari. Kita dapat memperoleh jenis kuliner legit gurih ini di pelbagai tempat seperti area pecinan Glodok, Tangerang dan beberapa tempat lainnya. Jika kita tertarik untuk melihat perlombaan perahu naga di Tangerang, datanglah ke Tangerang pada tanggl 7-8 Juni 2014. Nikmatilah bacang sembari menonton lomba perahu naga!



(Agni Malagina, Sinolog FIB Universitas Indonesia/MYT)




____________________

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/06/merayakan-pehcun-bersama-warga-cina-benteng



(Serba-Serbi) - Haji "Mahiwal" Hasan Mustapa




Ilustrasi: MRP

















Ulama dan pujangga termasyhur tanah Sunda. Terkenal dengan dangding-nya yang mengandung mistisisme Islam.

OLEH: ANNISA MARDIANI

 
 
HAJI Hasan Mustapa kerap disebut sebagai haji mahiwal atau kontroversial. Dia dianggap sebagai penganut ajaran wahdatul wujud lantaran karya-karyanya yang terkenal berkaitan dengan hubungan menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti). Sebagai ulama, dia menggunakan dangding atau guguritan untuk mengekspresikan pemikiran dan renungan tentang ajaran Islam, tasawuf, kebudayaan Sunda, dan kejadian yang dialami sehari-hari.

Hasan Mustapa lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang, Garut, Jawa Barat. Ketika berusia sembilan tahun dia bersama ayahnya, Mas Sastramanggala, pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Hingga dewasa dia menghabiskan hari-harinya di pesantren di Tatar Sunda, Jawa, ataupun Madura. Hasan Mustapa kembali lagi ke Tanah Suci dan sekira delapan tahun belajar dan mengajar di sana. Ketika terjadi perselisihan paham antarulama di Garut, Hasan Mustapa dipanggil pulang untuk menyelesaikan persoalan.

Pada 1882 Hasan Mustapa mulai memberikan pengajaran agama di mesjid agung Garut. Tujuh tahun setelahnya, dia berkeliling Jawa dan Madura membantu pekerjaan Snouck Hurgronje yang dia kenal semasa di Arab Saudi. Atas usul Hurgronje, Hasan Mustapa diangkat menjadi hoofd penghoeloe (kepala penghulu) Aceh, dan dua tahun kemudian pindah menjadi hoofd penghoeloe di Bandung sampai pensiun dari jabatannya pada 1910-an.

Hasan Mustapa yang meninggal pada 13 Januari 1930, tidak hanya dikenal sebagai ulama, tapi juga sebagai sastrawan yang termasyhur dengan dangding-nya. Dangding atau guguritan adalah jenis puisi klasik yang dikenal dalam kesustraan Sunda sebagai tulisan berpola dan melodis. Penggunaan istilah dangding pun dipilih karena pengucapannya yang terdengar melodis. Karya sastra ini biasanya juga disebut sebagai nyanyian puitis. Tak sekadar tulisan, naskah dangding pun ditembangkan.

Susastra Sunda mengenal pupuh, yakni irama lelaguan yang memiliki ciri khas masing-masing jenisnya dan memiliki aturan. Lirik lelaguan inilah yang dikenal sebagai dangding. Ia terikat aturan baku. Guru wilangan adalah aturan jumlah suku kata setiap larik dan jumlah larik dalam setiap bait. Sedangkan guru lagu adalah aturan bunyi rima akhir yang harus sesuai dengan jenis pupuh-nya.

Nyanyian puitis atau dangding ini terbagi ke dalam 17 jenis pupuh, yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, durma, gambuh, gurisa, jurudemung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom dan wirangrong. Setiap pupuh memiliki aturan dan karakteristik suasana masing-masing. Melalui dangding inilah Hasan Mustapa menyampaikan pemikirannya. Dia menulis dangding dengan menggunakan huruf pegon, yakni huruf Arab dengan bahasa Sunda atau Jawa.

Pujangga sekelas Hasan Mustapa, yang mungkin sudah tidak memiliki kesulitan lagi dalam  hal pembuatan puisi dengan keterikatan aturan, dalam tempo dua hingga tiga tahun mampu menghasilkan dangding lebih dari 10 ribu bait. Mistisime Islam kental terasa dalam dangding atau guguritan karyanya yang banyak memperlihatkan renungannya tentang tasawuf atau ketuhanan. Karena pandangannya tentang hubungan masnusia dengan Tuhan yang dia ibaratkan seperti rebung dengan bambu, dia dinilai sebagai Haji “mahiwal” atau kontroversial penganut wahdatul wujud.

"Setiap kali membaca dangding-dangding Haji Hasan Mustapa, saya merasa seperti mendekati arus sungai besar. Betapapun dalam diri saya ada dorongan untuk menyentuh arus yang deras itu, tapi pada saat yang sama saya merasa takut hanyut karena saya merasa belum mampu atau sanggup mengarunginya," kata Hawe Setiawan dalam kuliah umum “Islam dan Mistisisme Nusantara: Dangding Mistis Haji Hasan Mustapa,” di Salihara, Jakarta, 4 Agustus lalu.

Dangding karya Haji Hasan Mustapa, diantaranya Puyuh Ngungkung dina Kurung, Hariring nu Hudang Gering, Dumuk Suluk Tilas Tepus, Sinom Pamaké Nonoman, Amis Tiis Pentil Majapait, Kinanti Kulu-kulu, Sinom Barangtaning Rasa, Sinom Wawarian, Asmarandana nu Kami, dan Dangdanggula Sirna Rasa.

Karya-karyanya terkenal sampai sekarang. Pada 1994 mereka pernah melakukan perunjukan bertajuk Nembangkeun Karya Akbar Haji Hasan Mustapa atau "Melantunkan Karya Akbar Hasan Mustapa", yakni acara yang menyajikan pertunjukan tembang-tembang Sunda dengan lirik dangding dari Hasan Mustapa. Atas karya-karyanya, pada 1977 Haji Hasan Mustapa menerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia sebagai Sastrawan Daerah Sunda.




___________________

Sumber : http://historia.co.id/artikel/persona/1054/Majalah-Historia/Haji_Mahiwal_Hasan_Mustapa

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding {Martha Sinaga/Penuls/Jurnalis)






 



Sonny H. Sayangbati....Sepuluh jari kukatupkan untuk berucap terimakasih, atas sebuah nilai yang kuterima melalui buku indahmu yang kau kirim Sahabat.........Tentu kupercayai lembaran demi lembaran buku ini akan mewarisi nutrisi untuk-ku...

Lantas, mata hatiku tertuju pada sebuah puisimu di halaman 19 yang berjudul:

"Sebuah Nilai"

......jikapun kosong
tak mengapa....hanya angka terbilang
Angka hanyalah bilangan manusia,
amal itu bilangan Tuhan....

Ehm...susunan kata singkat yang menebar dalam lapisan makna sebuah nilai. Ya nilai!. Dan itu mengingatkanku pada awal puisi Nu'ayamah yang diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaya....
Demikian penggalan puisi itu,.
....Bertanya aku pada junjunganku
"Adakah di alam semesta ini junjungan selain dari pada-Mu?

Kembali seorang penyair mempertanyakan soal nilai sebuah makna. Dan pertanyaan akan nilai itu terus mengalir sejak lahirnya puisi di Mesir 2500 tahun sebelum masehi, yang mereka tulis di atas papyrus. Dari papyrus inilah peradaban manusia sampai pada tingkat tertentu, memanfaatkan "sda" sebagai media penulisan kesustraannya. Demikian juga yang terjadi di dunia sastera di Cina. Kita longok penggalan puisi antara lain diterjemahkan oleh Alif Danya Munsyi....

Jika kau menjadi besar
setelah dulu kau kecil
memiliki banyak harta
setelah dulu kau miskin dst...

Semua bicara nilai dan perbandingan. Sungguh sobatku Sonny, nilai dan makna kehidupan, keselarasan. hati, jiwa dan roh saling mengkait dalam kumpulan tulisanmu selanjutnya menyemburkan arti pada panjangnya perjalanan hari.

Sebuah "pribadi" kuat itu kutemukan melalui larik-larikmu. Dalam berbagi kau tak berkutat dengan bahasa puitik-mu. Tentu atas dasar kuat alasan yang kau tuju.

Yang pasti kau telah menabur sebuah kumpulan "cerita" hati-rasa dan jiwa....teruslah menabur kebajikan melalui lembaran sastera alam pikir dan hatimu nan selaras....Have a nice poem....Tha Sinaga.

amal itu bilangan Tuhan
 
 
 
 
___________________

Sumber : Martha Sinaga (Penyair, Penulis, Jurnalis, Sastrawan)

(Resensi/Review/Esai) - Tulisan Di Dinding [Yatim Ahmad/Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times]







SASTERA DI BAWAH KHATULISTIWA

 

MATAHARI pukul 2 petang bagai sengatan tebuan ketika aku menjemput Sonny H. Sayangbati di pejabat New Sabah Times, lantas kami ke kereta dan aku memasang penghawa dingin, ia bagai taufan sejuk yang nikmat untuk mengenyahkan bahang panas.

Lalu aku membawanya ke Kota Kinabalu, ibu negeri Sabah, Negeri di Bawah Bayu, untuk menyelesaikan urusan pembayaran ansuran kereta sebelum aku membawanya di sebuah restoran berhawa dingin pula. Memang aku amat teruja kehadiran ini.

"Masa semakin lanjut. Dunia terperosok dengan keinginan yang purba, dibentuk Aang Penghulu Dunia. Tanpa sedar, segala lapis ilmu- yang kelihatan seperti permata mutu manikam - disanjung dan dipuja, seperti pemuja ilmu asal-usul, ilmu evolusi, dan ilmu persaingan," katanya*

Aku tertarik, dan Sonny terus sahaja bicara, kecuali aku mengalih perhatian. Kemudian, dia berkata lagi: "Sahabat palsu di mana-mana seperti serigala menerkam. Bahkan serigala pun tak tahu bahwa ia adalah binatang,"

Akhirnya, Sonny mengakhiri ucapan pendahluluan untuk pertama kali pertemuan ini dengan berkata: "Ya! Lebih baik aku menulis di dinding karena lebin merdeka. Dinding tampat manusia berlindung dari bencana yang datang. Siapa tahu, saat bencana datang dia membacanya? Akan tetapi ia sungguh terlambat,"

Sonnny yang saya kenal sejak tiga tahun lalu, jika tidak silap ketika ketua admin PBKS (Puisikan Bait Kata Suara), sdr Muhammad Rois Rinaldi dan Noor Aisya menjemput dan melantik saya sebagai antara admin group berkenaan. Lalu dari situ, adakalanya kami bercerita di ruang sembang peribadi (inbox) hinggakan ia semacam peta untuk melakar persaudaraan, dan saling berkongsi informasi mengenai perkembangan sastera antara dua negara, saya warga Malaysia dan Sonny Indonesia.

Ada dua rakan Sonny bersama kami, seorang ialah Elisa Korang, dia berkata "Bukan sebuah kebetulan jiak saya berteman baik dengan sang penulis, Sonny H Sayanbati. Kami kawan semasa kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. Namun Bukan karena pertemanan baik mana saya mau membantu menerbitkan karyanya di PEDAS Publishing,"**

Saya semakin berasa seronok. Manakala, seorang lagi - Veronica B Vanny pula berkata: "Bagaikan diajak menaiki sampan kecil melayari sebuah danau tenangm sementara sepoi angin dan dingeng pak tukang perahu yang bijak membuai dan menyentak antara kantuk dan jaga. Itulah yang terasa ketika saya membaca puis-puis Sonny H Sayangbati,"***

Nah! semakin menarik bukan. Agaknya ketika dibicarakan karyanya, Sonny tentu bahagia, tak mengapa bangga, kerana dia memang antara terbaik penulis dna penyair alam maya, malah sasterawan yang megeluti pelbagai tugasan editorial sastera di negaranya.

Restoran pengahwa dingin itu seperti terapung apabila Sonny deklamasikan 100 sajaknya bermula 'Berjanjillah' hingga 'Separuh Jiwaku Tertidur'. Dengan memakaikemeja biru, Sonnny memang hebat, mungkin jika dia ada kumis, lebih digunting rapi berbaidng jangut dan kumis saya yang agak berselerak. Tapi Sonnny mungkin tiada kumis, dan itu dia lebih kelihatan tanpan amat, ya..begitulah kira-kiranya.

Dan dia juga menyuakan foto orang tuanya, D K Sayangbati dan W W Sayangbati-Dengah. Foto hitam putih, yang kerana jasa ibubapanya. Saya kira Sonny sudah bukan milik kita lagi, dia sudah milik seni sepenuhnya, yang kita miliki Sonny sekarang ialah antara pencetus sastera pascamodenisme di bawah kolong langit Khatulistiwa ini.

Saya mahu saja mengapresiasikan sajaknya di sini, tetapi nantilah, saya baru balik dari bandar dan membawa Sonny pulang pula. Kepada rakan sastera sama ada di Malaysia atau Indonesia, yang kenal kami, jangan cemberut pertemuan dua sahabat ini. Dan kepada shabat sastera alam maya Sonnny di Kota Kinabalu ini, saya juga tak mengizinkan anda membawa dia keluar makan. Tak perlu minta izin atau tidak, saya tak benarkan!

Jika mahu, kalian boleh meminjam buku Sonny yang saya terima awal petang tadi, dan menikmati didepan saya, dan selepas membacanya kembalikan waktu itu juga sebab Sonny yang ini dengan kemeja birunya tidak untuk disahabatkan dengan anda, maksud saya dipinjamkan.

Terima kasih kepada sahabat saya Sonnny yang mengirim 'Kumpulan Puisi dan Sketsa Tulisan di Dinding'. Saya menerima panggilan dari pejabat New Sabah Times, di mana saya adalah kolumnis sastera di sana.

Anda tahu, NST adalah antara pelopor penyiaran karya dari luar Sabah selain sastera budaya Utusan Borneo, kelolaan sdr Abd Naddin Shaiddin II. Untuk itu, saya akan berjumpa dan mengopi dengan Bung Naddin kelak untuk membicarakan buku yang menarik ini.

Mungkin selepas ini saya minta Comic Comot supaya inbox saya, ada buku kedua juga dititipkan untuk comic ya.

O ya, saya menandakan buku ini dengan lima bintang. Rakan sastera di mana sahaja berada, milikilah buku ini, dengan memesan kepada sdr Sonnny dan ia menjadi antara koleksi sastera yang amat berharga.

* - petikan Kata Penghantar Sonny

**- Petikan kata penghantar Elisa

***- petikan kata penghantar Veronica




____________________

Kolomnis Sastra/Redaktur New Sabah Times Yatim Ahmad