Minggu, 26 Oktober 2014

(Seluk Beluk Sastra) - Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra







Pada tahun 1876, sebuah festival diselenggarakan di Bayreuth atas prakarsa King Ludwig II, Bavaria, untuk menggelar karya-karya komposisi Richard Wagner. Seorang filsuf tak dikenal pada waktu itu diundang untuk menghadiri festival ini.

Filsuf itu hadir di festival Bayreuth karena, selain sebagai sahabat dekat sang komposer, dia memang penggemar berat karya-karya Richard Wagner. Namun, apa yang disaksikannya di Festival Bayreuth itu justru membuat dia jatuh pingsan di tengah keramaian.

Apa yang terjadi dalam festival itu sungguh mengguncang sistem pemikiran sang filsuf sehingga membuat dia menelaah kembali secara kritis apa yang disaksikannya di festival itu.

Kegundahan intelektualitasnya membuahkan dua karya pemikiran filsafat yang sangat terkenal, yakni Human, All-too- Human dan Ecce Homo. Dua karya yang mengecam habis-habisan kemerosotan kebudayaan dan kebobrokan moralitas kelas borjuis. Hubungan filsuf ini dengan panutannya, Richard Wagner, sejak saat itu meretak. Filsuf ini bernama Nietzsche.

Hari ini kita paham cikal bakal kegundahan Nietzsche pada Wagner dan Festival Bayreuth berlandasan pada kemuakkannya pada orang-orang borjuis yang dianggap terlalu mengagung-agungkan seorang pencipta karya seni. Juga frustrasi sekaligus kekecewaannya pada Richard Wagner yang, di matanya terlihat sebagai seorang seniman sejati, semestinya tidak membiarkan dirinya dielu-elu bagaikan seorang mahadewa.

Dua abad kemudian kita perlu mengutak-atik kembali pemikiran Nietzsche. Di abad ke-21 ini hanya para rocker dan bintang layar lebar Hollywood yang menikmati layanan istimewa seperti yang disesalkan oleh Nietzsche itu. Pemikir, ilmuwan, komposer, bahkan rupawan paling terkenal sekalipun saat ini tidak bisa lagi mengimbangi kejayaan yang pernah dinikmati oleh Sartre, Einstein, Wagner atau- pun Picasso pada masanya. Saya yakin hanya sejumput manusia yang kenal baik nama-nama ini: WB Sebald, Garreth Lisi, Alain Badiou, dan Gerhard Richter.

WB Sebald adalah penulis sastra yang dianggap salah satu penulis terbesar saat ini. Garreth Lisi dengan makalahnya, A Very Simple Theory of Everything, dianggap fisikawan yang telah menemukan sebuah solusi elegan untuk menyatukan teori relativitas dan teori partikel yang telah mengganggu para ilmuwan sejak masa Einstein.

Alain Badiou adalah seorang filsuf yang dianggap berhasil mengembalikan filsafat ke jalur baru, sejak filsafat diluluhlantakkan oleh para pemikir pascamodern. Gerhard Richter adalah rupawan Jerman yang dianggap rupawan paling hebat di masa ini.

Hari ini mereka hanya dikenal sebagai dewa di kelompok masing-masing. Bagi orang awam, mereka hanya nama-nama tidak berarti sama sekali. Pada saat ini, hampir mustahil, seorang pemikir bisa menggapai ketenaran yang begitu berpengaruh seperti Sartre ataupun mereka yang nama-nama saya sebutkan di atas.

Wacana yang menyerpih

Di era serba fragmentaris ini, yang digambarkan oleh Nietzsche sebagai abad ”Tuhan yang telah mati”, sangatlah sulit bagi seorang seniman, ilmuwan atau- pun pemikir besar untuk mendominasi wacana publik. Suara orang-orang istimewa ini sudah kehilangan geregetnya. Walaupun internet memungkinkan kita menyebarluaskan sebuah wacana ke seluruh dunia dalam sekejap, ia juga berhasil memecahbelahkan pusat perhatian dunia sehingga dampak sebuah wacana menjadi serpihan-serpihan tak berarti.

Di dunia cerai-berai seperti sekarang ini, komik, seni rupa, seni performa, apa saja yang mudah dicerna dan tidak membuat jidat mengerut menjadi penguasa di bidangnya. Alasannya sangat sederhana, mereka mempunyai daya tarik massal yang tinggi. Semakin berpengaruh massa itu, semakin sederhana tuntutan manusia pada sebuah karya seni.

Manusia modern tidak lagi memiliki waktu untuk menafsir sebuah karya seni secara saksama. Semuanya harus supra cepat dan tidak bertele-tele.

Maka kapasitas berpikir dan daya ingat pun menjadi semakin dangkal dan manusia pun kehilangan toleransi dan kesabaran. Dalam list bestseller New York Times sekarang nama-nama seperti John Grisham dan Daniel Steele mendominasi.

Di zaman sekarang, asal kasar, melawan konvensi dan tebal muka, karya-karya tersebut akan diserap langsung oleh masyarakat.

Dalam keadaan seperti ini, maka tidak heran dan perlu kita syukuri keagresifan negara-negara berkembang dalam mempromosikan kebudayaan dan pencipta seni ataupun pemikirnya. Mereka dianggap sebagai aset-aset nasional yang perlu didukung karena mereka menonjolkan kebudayaan dan memperkenalkan keunikan peradaban masing-masing negara, yang pada ujungnya merupakan sebuah tindakan yang bersifat politis dan pragmatis karena ia meningkatkan turisme dan pemasukan devisa. Apa yang ditakutkan oleh Nietzsche, dua abad kemudian menjadi sebuah hal yang perlu kita dukung secara mutlak.

Di negara-negara yang lebih maju, di mana bergelimang kekayaan pribadi, banyak filantropis yang bermunculan. Kepedulian mereka tidak hanya di tingkat kepantasan seorang individu mengembalikan ke negaranya apa yang telah mereka keruk darinya. Alasan mereka kini jauh lebih pribadi dan mendalam: bagi sebagian filantropis urusannya bukan lagi altruisme, tetapi sebuah kecintaan mendalam pada bidang-bidang kesenian yang mereka dukung. Beberapa nama belakangan bermunculan menjadi pahlawan filantropis: Bill Gates, Oprah Winfrey, dan Maurice Saatchi.

Agresivitas budaya

Tidak heran bila kemudian kita menyaksikan pertumbuhan yang begitu dahsyat di berbagai bidang kesenian dan kebudayaan di negara-negara yang begitu agresif membelanya. Mengikuti jejak negara tetangganya, Jepang, Korea secara agresif mempromosikan kebudayaannya di negara kita.

Negara-negara Eropa sudah bertahun-tahun mempromosikan kebudayaan dan keseniannya di negara kita. Negara-negara Amerika Latin seperti Cile dan Brasil juga tidak mau kalah dalam mempromosikan keunikan kebudayaan mereka. Melalui prakarsa yayasan Pablo Neruda, misalnya, Cile pernah memberikan Pramoedya Ananta Toer sebuah penghargaan. Brasil saat ini sedang mempromosikan Capoera dan kulinernya kepada masyarakat kita.

Di negeri ini, sebuah aksi agresif yang mendayagunakan produk budaya sebagai senjata utama penegakan karakter dan integritas sebuah bangsa tidak tampak dalam setiap kebijakan publik maupun jargon para calon pemimpin yang sibuk untuk dipilih belakangan ini.

Tak ada semacam strategi kebudayaan yang kuat, visioner, dan progresif. Kesenian sebagai produk budaya terpenting menjadi komoditas alientif dalam retorika politik-ekonomi kita yang riuh. Terlebih kesusastraan, sebagai satu puncak kesenian, mendapatkan apresiasi yang hampir nol di kalangan elite kita.

Belum lagi posisinya yang tak hanya terpojok karena desakan teknologi digital seperti video games dan perangkat informasi-komunikasi, sastra pun menjadi bidang yang dianggap kurang menjanjikan oleh orang muda saat ini. Penulis-penulis sastra serius harus berjuang mati-matian untuk bisa mencukupi keperluan sehari-hari hanya untuk sekadar bertahan hidup dan setia pada profesi. Dan terlalu minim kebijakan publik yang mau menyentuh hal itu. Kemiskinan sastra terjadi sudah secara struktural; tertolong karena kegigihan para aktivis/pelakunya saja.

Oleh karenanya, di tengah ribut kita pada upaya promosional dengan program binaan atau penyelenggaraan berbagai olimpiade sains, betapa bermartabatnya bila juga diikuti oleh sebuah ide bagi penyelenggaraan sebuah olimpiade sastra.
Yang melibatkan segala lapisan masyarakat luas, yang tak hanya menggalakkan apresiasi dan penciptaan sastra, tetapi juga kian meneguhkan karakter kebudayaan kita yang dihargai dunia sejak beberapa milenia lalu. Dalam gelapnya, sastra memerlukan bintang-bintang yang menyelamatkan pelayarannya.







Oleh: Richard Oh, Penulis novel, penggagas penghargaan sastra Kathulistiwa Award

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/11/01204397/dari.nietzsche.ke.olimpiade.sastra




_____________________

Sumber : http://www.duniaesai.com/index.php?option=com_content&view=article&id=332:dari-nietzsche-ke-olimpiade-sastra&catid=47:sastra&Itemid=93

(Seluk Beluk Sastra) - Narsisme Kritik(us) Kritik Sastra Indonesia







 

Okta Adetya *
http://preteers.wordpress.com



Kritik sastra dewasa ini menemui titik fleksibilitas, artinya kegiatan kritik sastra mampu mempu mengekor perubahan dalam masyarakat. Lampau, kritik sastra identik dengan terbitnya sebuah buku kritik. Kemudian seiring mencuatnya geliat media massa, muncul kritik sastra dalam koran Minggu, majalah, atau media lain. Era digital tak pelak meniupkan ruh baru, terkait perkembangan pesat internet yang memunculan kritik sastra cyber. Meski demikian, nyatanya kritikus sastra kehilangan taring, sehingga dirasa masih sangat tidak memuaskan. Hal ini terjadi, kemungkinan besar ada korelasinya dengan ruang media. Sebuah buku berkaitan dnegan kritik sastra pasti akan mampu mengulas lebih banyak dan lebih mendalam mengenai karya sastra yang dikritik, dibandingkan beberapa kolom dalam media massa. Ketajaman dan kedalaman kritikus pun seakan terlibas oleh ruang. Sehingga kritik yang mereka lontarkan, tak lebih dari sekadar penceritaan kembali sebuah karya sastra.

Dalam perkembangan sastra, kritik sastra menjadi aspek yang cukup menentukan dan penting. Kritik sastra itu ibarat jembatan antara pembaca dan penulis. Artinya, sebuah kritik akan menentukan, apakah sebuah karya sastra akan diminati atau tidak, apakah sebuah karya sastra akan menjadi monumen di eranya atau tidak. Untuk itulah, keberadaan kritik sastra mampu menenggelamkan pengarang atau bahkan melambungkan nama pengarang tersebut.

Dunia sastra Indonesia pernah memiliki kritikus sastra yang handal. Beliau adalah HB Jassin. Pengamat sastra berpendapat, bahwa kritik yang beliau lemparkan cerdas dan berkualitas, mampu melihat karya sastra secara menyeluruh tidak hanya permukaan saja. Akan tetapi, hal menyedihkan terjadi, kala HB Jassin memproklamirkan diri untuk pensiun dari dunia kritik. Sesudah masa itu, kegiatan kritik sastra di Indonesia mengalami stagnansi bahkan berada pada kondisi yang kritis.

Sebenarnya tidak hanya HB Jassin saja yang memandekkan kegiatan berkritik. Pada masa itu, para pegiat sastra di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Indonesia) yang termasuk kritikus gaek, juga mulai mempensiunkan diri dalam berkecimpung di dunia kritik, sebut saja Boen Sri Oemarjati, MS Hutagalung, Lukman Ali, dan Saleh Saad. Sayangnya, mereka tidak melakukan regenerasi kritikus, sehingga keberadan kritikus yang mumpuni pada masa sesudah itu semacam mengalami pemutusan rantai generasi.

Menurut kritikus sastra Amerika Serikat MH Abrams, “kritik” adalah istilah yang dipakai untuk studi yang berkaitan dengan pendefinisian, pengelompokan, penganalisisan, penginterpretasian dan pengevaluasian karya sastra. Dalam dunia sastra terdapat dua jenis besar “kritik sastra”, yaitu kritik teoritis dan kritik praktis. Kritik teoritis berfungsi untuk menetapkan, dengan dasar prinsip-prinsip umum, seperangkat istilah, perbedaan dan kategori untuk diterapkan pada identifikasi dan analisis sastra, termasuk juga menetapkan kriteria (standar, atau norma-norma) untuk mengevaluasi karya sastra atau sastrawan. Sementara kritik praktis, atau kritik terapan, merupakan pembicaraan atas karya sastra, atau sastrawan, tertentu di mana prinsip-prinsip teori yang mendasari analisis, interpretasi dan evaluasi karya tersebut biasanya dibiarkan tidak nampak menyolok, tersirat saja, kecuali kalau memang diperlukan. Dan mereka yang melakukan “kritik” sastra menurut kedua pengertian di atas disebut sebagai “kritikus” sastra.

Kritikus dan karya sastra merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Untuk mampu mengkritik dengan baik, maka kritikus harus memiliki kemampuan dan kompetensi yang cukup baik dalam dunia sastra. Kritikus perlu memiliki pengetahuan yang komprehensif atas jenis sastra. Selain ini sikap profesional dan kritis, menjadi hal vital yang harus dimiliki oleh seorang kritikus sastra Indonesia. Minimal, seorang kritikus memiliki kepintaran yang sejajar dengan orang yang karyanya dia kritik. Pengarang berbincang melalui karya berdasarkan imajinasinya, sedangkan kritikus membincang karya melalui keluasan ilmu pengetahuan dan teori yang dimilikinya. Maka, seharusnya kedua pihak ini mampu membangun sinergisme. Seorang kritikus juga harus tahu betul medium yang dimasuki. Ini penting dilakukan, karena setiap generasi memiliki karakteristiknya masing-masing. Ketika kritikus sastra sudah paham akan karakteristik pada masing-masing generasi ini, maka sedikit banyak itu akan berpengaruh terhadap kualitas kritik yang mereka hasilkan.

B Teew, salah satu kritikus berkebangsaan Belanda, menyampaikan dalam esainya yang berjudul Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi menyebutkan rendahnya kualitas kritik puisi modern Indonesia oleh sekelompok dosen, yang dinilainya tidak memuaskan. Puisi yang dimaksud adalah sajak “Salju” karya Subagio Sastrowardoyo dan sajak ‘Coctail Party’ karya Toeti Heraty. Teew berpendapat, bagaimana mungkin sekelompok dosen yang sudah berkubang dan berkecimpung di dunia teori dan akademisi, hanya mampu menghasilkan kritik yang sedemikian.

Lantas, kita juga sering mendengar suara-suara yang melantangkan bahwa sastra modern Indonesia berada dalam kondisi kritis. Salah satu penyebab utama kekritisan ini adalah adanya stagnansi dan tema yang monoton. Adapun upaya penyembuhan yang bisa dilakukan, adalah dengan berkiblat pada perkembangan sastra Eropa atau Amerika. The west is the best, sebagaimana yang dikatakan Jim Marison dari The Doors. Akan tetapi, beberapa kritikus menganggap bahwasannya pendapat tersebut terasa dilebih-lebihkan, mengingat produktivitas pengarang Indonesia yang cukup tinggi. Sastra Indonesia sudah diwarnai berbagai macam aliran, yang kemudian melahirkan penulis-penulis besar semacam Chairil Anwar, Renda, sampai Pramodya Ananta Toer. Berkaitan dnegan tema sosiologis yang banyak diangkat, hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa perkembangan sastra di Indonesia stagnan. Sebenarnya, sastra sudah berkembang cukup baik, justru perkembangan kritikusnya yang sekarang sedang mengalami fase kritis.

Dalam beberapa dekade balakangan atau masa-masa kritik sastra media mulai berkembang, ada upaya menjustifikasi, bahwa mereka yang menulis tentang sastra dapat disebut kritikus. Tak peduli apa esensi dari tulisan yang dia buat. Orang-orang yang selama ini mengaku sebagai kritikus sastra pun cenderung kehilangan taring. Mereka tak cukup keberanian untuk mengulas karya-karya besar, tulisan yang mereka hasilkan pun cunderung memiliki pangsa tersendiri, yaitu para penikmat sastra pemula. Hal ini semakin diperparah dengan sistem akademis kita yang hanya menyodorkan seperangkat teori. Lebih parah lagi, teori-teori tersebut terkadang keluar dari realita teks itu sendiri. Tentu menjadi tamparan yang cukup keras dan pedas, ketika kita mengkorelasikan dengan apa yang sudah disampaikan oleh B Teew di muka.

Membincang para pegiat sastra yang menasbihkan diri mereka kritikus sastra, kualitas kritikus sastra di Indonesia cukup memprihatinkan. Setidaknya hal itulah yang disampaikan Saut Situmorang dalam tulisanya yang berjudul Dicari: Kritik(us) Sastra Indonesia. Dia memaparkan bahwa banyak kritikus yang tidak bisa menulis, akan tetapi selalu berkomentar miring dan tajam, menghakimi, mencaci maki, bahkan menjadikan pengarang obyek bulan-bulanan. Seakan-akan mereka adalah jagoan, raja yang memiliki kapasitas dan samudera pengetahuan yang luas, sehingga sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang kadang terkesan absurd dan arogan. Sorang kritikus, kendati memberikan penilaian yang individualistik tetap harus obyektif dalam menilai.

Saut Situmorang banyak menguliti para kritkus, seperti Korrie Rayun Lampan yang terkesan latah dan dangkal dalam penyusunan buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Korrie dinilai tidak memberikan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Kritikus lain yang memperoleh komentar pedas dari Saut adalah Nirwan Dewanto yang dinilainya terlalu mentah dalam mengkritik. Dia juga memberikan satu kritikan yang cukup pedas terhadap kritikus sekaligus dosen asal Jakarta, yaitu Maman S Mahayana, yang dinilainya terlalu agresif dalam menyerang pengarang. Dia bahkan menudiang para kritikus sebagai seorang narsistik yang tidak lebih hebat dari pengarang itu sendiri.

Seberapa jauh mereka berkompeten untuk menguliti sebuah karya. Jangan-jangan, segala bentuk polah tingkah mereka hanya semacam legitimasi menyerang pengarang melalui kekuasaan media. Para kritikus akan lebih baik lagi, kalau meningkatkan kapasitas, sehingga kualitas tulisan yang mereka buat dpercaya oleh masyarakat. Karena rendahnya kualitas, akan memicu ketidakpercayaan, sebagaimana para penonton sepakbola yang seakan-akan ingin mencekik komentator abal-abal, namun berbicara seolah dia mampu mengandangkan bola ke gawang seratus kali dalam satu pertandingan. Eksistensi kritikus ditentukan bukan dari berapa banyak hasil kritikan yang mampu dia lahirkan, melainkan seberapa berat bobot kritikan yang dia lahirkan tersebut. Karya sastra bisa terus lahir tanpa kritikus, namun kritikus yang menulis namun dianggap angin lalu, tentu itu sangat menyedihkan.

Sebagaimana kritik terhadap cyber sastra yang mencetak buku berjudul Graffiti Gratitude dirasa sangat mengada-ada. Buku ini lahir pada awal Mei 2011 dari rahim Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Awal terbitnya buku ini, membangunkan para kritikus, yang kemudian secara membabi buta menyerang. Tuduhan bahwa sastra cyber tidak dapat dikategorikan sebagai ‘sastra’, pembukuan terhadap cyber sastra adalah pengkhianatan dan dosa atas hakekat bentuk itu sendiri, sampai upaya mempertanyakan mutu dan kualitas dari puisi-puisi tersebut. Upaya ini dikenal dengan pengadilan sastra, yang kala itu menjadi topik serangan favorit bagi kritikus-kritikus sastra di Indonesia.

Terlepas dari segala bentuk persoalan dan sengkarut keberadaan kritikus sastra di Indonesia, negeri ini pernah memiliki kritikus-kritikus sastra yang berkualitas. Merea diantaranya Jacob Sumardjo, Gunawan Mohamad, Emha Ainun Najib, Dami Ndandu Toba, serta tak lupa, Bapak sastra Indonesia, HB Jassin.

 
June 16, 2013
 
*) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

(Seluk Beluk Sastra) - Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya







Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /
Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis). Oleh karena itu, sekadar upaya penyederhanaan konseptual, istilah “sastra Indonesia” dalam konteks ini hanya akan merujuk pada karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia; sedangkan istilah “mutakhir” lebih dimaksudkan untuk menunjuk perkembangan sastra Indonesia sepanjang lebih-kurang sepuluh tahun terakhir, sejak memasuki tahun 2000 hingga sekarang (dekade pertama abad ke-21).[1]

Akan tetapi, dengan pembatasan semacam itu tidaklah berarti bahwa perkembangan sastra Indonesia pada masa-masa sebelumnya praktis akan kehilangan relevansinya. Bahkan, untuk memulai diskusi ini saya akan banyak menyinggung perkembangan sastra Indonesia di penghujung abad ke-20 melewat. Sebab, bagaimanapun, perjalanan sejarah adalah sebuah mata rantai yang sambung-sinambung dan senantiasa bersifat dialektis. Sastra Indonesia terkini tidak akan pernah ada tanpa melalui proses sejarah yang panjang sejak lahirnya karya-karya sastra Nusantara klasik yang hidup dan berkembang dalam tradisi lisan di abad-abad silam. Sastra Indonesia terkini adalah anak-anak yang dibesarkan oleh tradisi sastra sebelumnya. Sastra Indonesia abad ke-21 adalah warisan langsung dari tradisi sastra Indonesia abad ke-20 yang lalu.

Selain itu, mengingat betapa luas dan beragamnya pemahaman atas konsep sastra, di sini juga perlu diberikan batasan yang lebih jelas mengenai genre sastra yang hendak dijadikan pokok masalahnya. Maka, dengan pertimbangan praktis saja, dalam pembicaraan ini saya hanya akan menyinggung perkembangan dua genre sastra kreatif, yakni puisi (sajak) dan fiksi (cerita rekaan). Sebab, pada kenyataannya, kedua ragam inilah yang selama ini paling pesat perkembangannya dalam lingkungan pembaca sastra Indonesia modern sebagaimana telah ditunjukkan oleh tingginya tingkat frekuensi pembicaraan tentangnya di banyak media dan penerbitan di negeri ini hingga sekarang. Sementara, kendati dari tahun ke tahun karya-karya drama juga tetap ditulis orang, tetapi lantaran proses kreatif penulisannya yang pada umumnya terbatas hanya untuk kepentingan pementasan (teater), hal ini sungguh menyulitkan cara kerja seorang pengamat atau kritikus sastra untuk dapat melacaknya secara relatif lengkap.

Kalaulah acuan kita terbatas pada karya-karya drama yang diterbitkan dalam bentuk buku, misalnya, hingga sekarang hanya sedikit buku drama yang telah diterbitkan dan beredar di pasaran. Bahkan, jika kemudian kita ingin menjadikan faktor ketokohan para dramawan (baca: penulis naskah drama) sebagai patokan tentunya juga hanya sedikit nama yang bisa disebutkan —umumnya terbatas pada nama-nama yang sudah sangat populer dalam kancah drama dan teater di tanah air selama ini (antara lain Arifin C. Noer, N. Riantiarno, W.S. Rendra, Putu Wijaya, Emha Ainun Nadjib, atau Remy Silado). Padahal, pada kenyataannya pula, hampir di setiap daerah di Indonesia ada saja kelompok-kelompok teater yang aktif dan bahkan secara ajek melakukan pementasan drama —baik mementaskan naskah sendiri maupun bertotak dari naskah orang lain.

/ 2 /

Jika pembicaraan sastra Indonesia mutakhir ini kita mulai dari genre puisi, tak dapat disangkal bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an hingga ke penghujung tahun 1990-an yang lalu peta estetika perpuisian Indonesia modern tampak lebih didominasi oleh sosok kepenyairan Afrizal Malna. Dalam konteks ini tentu bukan maksud saya untuk membesar-besarkan nama Afrizal, tetapi pada kenyataannya selama rentang waktu tersebut memang ada kecenderungan bahwa estetika perpuisian yang dibawanya telah menjadi semacam acuan kolektif (kalau bukan menjadi “kiblat” utama), khususnya di kalangan penyair muda (apalagi masih berkategori pemula) yang hingga beberapa waktu kemudian masih saja menjadi para epigon dan tetap berada di bawah bayang-bayang trend “Afrizalian” —demikian gejala perpuisian Indonesia kontemporer ini sering disebutkan, baik dengan konotasi pujian maupun bernada ejekan.

Diakui atau tidak, sepanjang dekade 90-an, sosok kepenyairan Afrizal Malna yang sisa-sisa pengaruhnya bahkan masih terasa sampai sekarang memang telah menjadi sebuah fenomena baru dalam jagat sastra di tanah air. Pembaruan estetika perpuisian yang dibawanya barangkali dapat disetarakan dengan dobrakan-dobrakan estetik yang dulu pernah dilakukan Amir Hamzah (1930-an), Chairil Anwar (1940-an), atau Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono (1970-an). Sajak-sajaknya —yang gelap maupun yang terang, yang pedih maupun yang riang— bukan saja dianggap telah memberikan kesegaran dan wawasan estetik baru (yang sekaligus telah menempatkan dirinya sebagai pemimpin literer perpuisian Indonesia pada masanya), melainkan juga telah berhasil mengangkat dan meramu dunia benda menjadi sesuatu yang berjiwa dengan penuh vitalitas.[2] Gaya pengucapannya yang khas merepresentasikan kegamangan antroposentrisme manusia urban di tengah gebalau peradaban postmodern itu secara konsisten diusungnya hingga sekarang, sebagaimana tampak dalam beberapa kumpulan sajaknya; mulai dari Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1999), sampai Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002).[3] Lantaran kebaruan bahasa dan pengucapan estetiknya itulah hingga Korrie Layun Rampan pernah menyimpulkan bahwa puncak pencapaian estetik dalam mainstream perpuisian Indonesia terkini (yang diproklamirkannya sebagai Angkatan 2000 itu) secara monolit jatuh pada sajak-sajak Afrizal Malna.[4]

Pada paro kedua dekade 90-an yang lalu, seorang penyair muda yang dapat dianggap sebagai tipikal epigon gaya kepenyairan Afrizal Malna (baca: Afrizalian) adalah T. Wijaya —sebagaimana tampak dalam dua kumpulan puisinya, Krisis di Kamar Mandi (1995) dan Dari Pesan Nyonya (1996). Kecuali penyair kelahiran Palembang (25 Desember 1970) tersebut, tentu saja masih ada sederet nama lain yang secara langsung maupun tidak telah ikut terhanyut dalam kecenderungan (trend) serupa. Namun demikian, kendati gaya Afrizalian itu cukup dominan mewarnai estetika perpuisian Indonesia mutakhir, tidaklah berarti semua penyair muda telah secara latah menjadi epigon-epigon Afrizal pula.

Sejumlah penyair lain, baik yang sudah eksis sejak dasawarsa 80-an —antara lain mereka yang telah “dilegitimasi” melalui Forum Puisi Indonesia ’87 (1987)— maupun yang baru berkiprah sejak dekade 90-an atau awal tahun 2000-an —antara lain mereka yang telah “dibaptis” melalui perhelatan akbar Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Cakrawala Sastra Indonesia (2005)— sebagian besar tampaknya justru sudah mampu memperlihatkan jatidiri kepenyairannya masing-masing. Dari kalangan yang lebih senior dapat disebutkan, misalnya, nama-nama Isbedy Setiawan ZS, Ahmad Nurullah, Ahmadun Y. Herfanda, Radhar Panca Dahana, Sitok Srengenge, Remmy Novaris DM, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Mathori A. Elwa, Ahmad Subhanuddin Alwy, Gus tf, Beni Setia, Wahyu Prasetya, Agus R. Sarjono, Nirwan Dewanto, Saut Situmorang, Jamal D. Rahman, Tjahjono Widarmanto, Dorothea Rosa Herliany, Abidah el-Khalieqy, Ulfatin Ch., juga Ajamuddin Tifani dan Eza Thabry Husano (sebelum keduanya meninggal), Burhanuddin Soebely, Micky Hidayat, Maman S. Tawie, Tarman Effendi Tarsyad, dan Arsyad Indradi —untuk menyebut beberapa di antaranya. Lalu, dari generasi selanjutnya (berdasarkan awal kiprah kepenyairannya) dapat disebutkan nama-nama Cecep Syamsul Hari, Joko Pinurbo, Abdul Wachid BS, Dimas Arika Mihardja, Arif B. Prasetyo, Iyut Fitra, Ari Setya Ardhi, Adri Sandra, Aslan Abidin, Amien Wangsitalaja, Wowok Hesti Prabowo, HU Mardiluhung, Endang Supriadi, Kurnia Efendi, Putu Fajar Arcana, Warih Wisatsana, Tan Lioe Ie, Yusrizal KW, Kusprihyanto Namma, Panji Utama, ES. Wibowo, Moh. Wan Anwar (sebelum meninggal), Raudhal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, Hasan Aspahani, Ahda Imran, Ali Syamsudin Arsi, Oka Rusmini, Nenden Lilis A., Nur Wahida Idris, Arini Hidajati, Pranita Dewi, Hudan Nur, dan sederet nama lagi —juga sekadar menyebut nama beberapa saja.[5]

Bertolak dari sederet nama di atas, tentu saja dengan memperhitungkan kecenderungan umum dan karakteristik karya mereka masing-masing, maka untuk memetakan secara hitam-putih kecenderungan estetik atau gaya perpuisian dalam ekologi kepenyairan Indonesia terkini jelas merupakan sesuatu yang sangat muskil (kalau bukan mustahil). Dalam konteks pemetaan teoretis-historis, sekali lagi dengan mempertimbangkan kian tingginya kompleksitas kecenderungan estetik tersebut, keinginan untuk bertindak objektif (apalagi bertendensi sebagai seorang perfeksionis) dalam kondisi chaos demikian pada akhirnya akan dapat menjebak kita ke dalam perangkap labirin sehingga hanya akan menghasilkan simpulan-simpulan prematur atau bahkan terasa kedodoran. Sebab, pada kenyataannya, kecenderungan estetik dalam karya-karya mereka sudah demikian variatifnya, lengkap dengan segala corak dan warnanya. Di situ ada sajak-sajak bergaya liris, prosais, imagis, religius, sufistik, balada, kocak, penuh kritik sosial, dan entah apalagi namanya setelah kita temukan karya-karya yang mungkin bersifat eksperimental.[6]

Upaya pemetaan estetika perpuisian Indonesia mutakhir ini lebih-lebih akan menjadi semakin rumit jika memperhitungkan pula —memang begitulah seharusnya— karya-karya para penyair yang lebih senior lagi (sebut saja para penyair gaek) yang ternyata masih tetap eksis berkarya dalam sepuluh tahun terakhir; semisal Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, D. Zawawi Imron, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar (sebelum meninggal), A. Mustofa Bisri, Abdul Hadi WM, Mochtar Pabottingi, dan sejumlah nama lagi. Dengan mempertimbangkan banyak sisi, betapa tingkat hiterogenitas kecenderungan estetik perpuisian Indonesia terkini tampak menjadi semakin kompleks saja dan pada akhirnya memang mustahil untuk dapat dipetakan secara objektif dan komprehensif. Oleh karena itu, persoalannya sekarang bukan lagi pada keharusan upaya pemetaan teoretis-determinatifnya, melainkan lebih pada usaha-usaha ekstensifikatif maupun intensifikatif dalam rangka peningkatan apresiasi sastra di tengah masyarakat Indonesia yang tidak melek sastra.

/ 3 /

Ketika perbincangan selanjutnya kita fokuskan pada ragam fiksinya, pada kenyataannya kita pun akan menemui fenomena yang tidak jauh berbeda dengan perkembangan yang telah dicapai dalam dunia perpuisiannya. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, betapa kita sudah dihadapkan pada suasana yang sangat riuh oleh munculnya begitu banyak karya fiksi (khususnya dalam bentuk novel dan cerpen) yang ditandai dengan semakin tingginya tingkat kebebasan berekspresi, dengan segala kekhasan dan keragamannya, juga dengan segala risiko sosiokultural maupun sosiopsikologisnya yang mungkin ada —tentu saja kalau kita memang meyakini bahwa kehadiran sebuah karya sastra akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap dinamika sosial dalam suatu lingkungan masyarakat pada zamannya masing-masing.

Fiksi Indonesia mutakhir juga menyiratkan sebuah dunia yang kompleks, sebagaimana sebuah taman dengan areal yang luas serta ditumbuhi beragam jenis dan warna bunga dari spesis yang berbeda. Kompleksitas itu bukan saja tampak pada keragaman tema-tema yang ditawarkan, melainkan juga dalam gaya bahasa, teknik bercerita, dan corak pengungkapannya. Kemudian, sebagaimana juga terjadi dalam dunia perpuisian, karya-karya fiksi Indonesia mutakhir pun ternyata tidak melulu dihasilkan oleh para penulis muda atawa pendatang baru (new comers). Sebab, pada kenyataannya, cukup banyak novel dan kumpulan cerpen yang diterbitkan dalam beberapa tahun belakangan (apalagi jika rentang waktunya diperluas hingga ke tahun-tahun 1990-an) justru terlahir dari tangan pengarang-pengarang senior semisal Y.B. Mangunwijaya, Remy Sylado, Abrar Yusra, Suparto Brata, Putu Oka Sukanta, Hamsad Rangkuti, Umar Kayam, Budi Darma, Danarto, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Sapardi Djoko damono, Ahmad Tohari, Korrie Layun Rampan, Ediruslan Pe Amanreza, Harris Effendi Tahar, N.H. Dini, atau Titis Basino P.I. Selain mereka, kita juga masih bisa melihat produktivitas Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Jujur Prananto, Yanusa Nugroho, Bre Redana, Gus tf Sakai, Agus Noor, Triyanto Triwikromo, Afrizal Malna, Esbedy Setyawan ZS, Martin Aleida, Herleno Soleman, Ratna Indraswari Ibrahim, dan lain-lain.

Selanjutnya, setidaknya sejak akhir dekade 90-an atau awal tahun 2000-an, muncul pula wajah-wajah baru yang lebih didominasi oleh para pengarang perempuan muda semisal Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, Fira Basuki, Dee, Ani Sekarningsih, Clara Ng., Linda Christanty, Dewi Sartika, Lan Fang, Yetti A. KA., Ratih Kumala, di samping Naning Pranoto, Abidah el-Khalieqy, Oka Rusmini, Nenden Lilis Aisyah, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Kecuali mereka, tentu saja kita tidak boleh melupakan pengarang-pengarang berbakat lainnya seperti Joni Ariadinata, Andrea Hirata, Indra Tranggono, Agus Vrisaba, Puthut E.A., Yusrizal K.W., Marhalim Zaini, Eka Kurniawan, Zen Hae, Raudal Tanjung Banua, Sunlie Thomas Alexander, Wayan Sunarta, Sandi Fily, Hajriansyah, dan Harie Insani Putra yang rata-rata kelahiran antara tahun 1960-an hingga 1980-an. Namun begitu, pada kenyataannya tidak semua penulis fiksi Indonesia mutakhir berhasil menerbitkan karya-karya mereka dalam bentuk buku (karya tunggal), khususnya untuk genre cerpen. Hanya segelintir pengarang yang beruntung dapat menerbitkan buku mereka, baik dengan prosedur penerbitan formal-konvensional maupun secara swakelola (self-publishing).

Sepanjang dekade pertama tahun 2000-an ini, beberapa fenomena menarik yang dapat saya catatkan dari perkembangan fiksi Indonesia mutakhir, antara lain munculnya suatu fenomena yang dengan konotasi tertentu sering disebut “sastrawangi”. Kemunculan gejala baru yang kontroversial ini agaknya dipicu oleh terbitnya karya-karya fiksi beraroma seksual dari tangan segelintir pengarang perempuan muda (dengan konotasi cantik, seksi, berpendidikan tinggi, dan bergaya hidup metropolis). Kemunculan gejala ini terutama ditandai dengan terbitnya novel Saman (Ayu Utami, 1998), kemudian disusul Larung (Ayu Utami, 2001), Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (Dinar Rahayu, 2002), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng.), Dadaisme (Dewi Sartika, 2004), Nayla (Djenar Maesa Ayu, 2005), juga kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! (Djenar Maesa Ayu, 2002), Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) (Djenar Maesa Ayu, 2004), dan Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek (Djenar Maesa Ayu, 2006).

Karya-karya tersebut sempat menimbulkan pro-kontra di kalangan pembaca maupun para pengamat dan kritikus sastra kontemporer di tanah air, setidaknya sepanjang tahun 2002—2005. Sebab, kecuali dari satu sisi dipandang telah memberikan kesegaran baru dalam estetika sastra (fiksi) Indonesia (baik dari segi teknik bercerita maupun sentuhan stilistiknya), di sisi lain kontroversi itu terutama disulut oleh keberanian para pengarangnya dalam “dobrakan radikal” mereka mengungkapkan ketabuan dan keliaran seksual secara gamblang, tanpa tedeng aling-aling, dan terasa sangat vulgar sehingga cenderung menjurus pada pornografi.[7]

Kendati persoalan seks dalam sastra Indonesia bukanlah sesuatu yang baru, tetapi dibandingkan dengan para pengarang pendahulunya (khususnya N.H. Dini dengan dua novelnya, Namaku Hiroko dan Pada Sebuah Kapal), kelompok penulis sastrawangi ini tampak lebih berani dalam hal “menelanjangi” tubuh mereka sendiri, tak terkecuali “melumat-lumat” kebugilan tubuh lawan jenisnya. Mereka, agaknya sekadar ingin berbeda dan mencari sensasi, dengan sengaja mengeksploitasi kata-kata yang menurut ukuran moral seharusnya tidak diungkapkan secara vulgar —antara lain (maaf): penis, zakar, kontol, klentit, atau vagina. Di satu pihak, oleh beberapa pengamat yang mendewa-dewakan nilai seninya —l’art pour l’art (baca: sastra untuk sastra)— karya-karya tersebut dipandang sebagai suatu kemajuan dalam perkembangan estetika sastra Indonesia atau seni-budaya pada umumnya. Namun, di lain pihak, bagi kaum moralis (agamis) karya-karya demikian dinilai sebagai karya antimoral dan bahkan kurang-ajar karena telah melanggar wilayah sakral manusia yang seyogianya ditabukan. Sebab, dengan segala ketelanjangannya itu, karya-karya jenis ini dinilai dapat meruntuhkan tatanan moral bangsa, terutama di kalangan generasi muda.[8]

Kecuali trend sastrawangi yang lumayan menghebohkan itu, fenomena lainnya yang tampak mulai merasuki dunia fiksi Indonesia terkini adalah masuknya ikon-ikon teknologi informasi mutakhir semacam internet dan telepon genggam yang menjadi bagian integral dalam membangun makna sebuah karya sastra. Terlepas dari soal pro-kontra ihwal muatan seksualitasnya yang cenderung antimoral itu, pada beberapa halaman penutup novel Saman, misalnya, Ayu Utami dengan lincahnya mengeksplorasi dialog antartokoh (antara Saman dan Yasmin) dengan memanfaatkan surat elektronik (e-mail, salah satu fasilitas internet) sebagai media komunikasi. Sementara, pemanfaatan handphone dengan fasilitas short message system (sms)-nya antara lain telah dieksplorasi Djenar Maesa Ayu dalam cerpen bertajuk “SMS”.

Dalam kajian sosiologi sastra, munculnya gejala semacam ini dipandang sebagai salah satu penanda atau merupakan representasi kemajuan peradaban yang telah dicapai manusia pada masa penciptaannya; bahwa karya-karya sastra pada dasarnya dapat diposisikan sebagai artifak kebudayaan yang relatif mampu mencatat atau merefleksikan kondisi zamannya sehingga pada akhirnya ia dapat berfungsi sebagai sejarah alternatif, di samping fungsi karya sejarah dalam arti sebenarnya. Dengan begitu, dalam konteks ini, teori sosiologi sastra yang memandang sastra sebagai cermin masyarakat (sebagaimana yang dikemukakan Ian Watt, misalnya) tampak menjadi kian jelas relevansinya.

Kemudian, hampir bersamaan dengan munculnya fenomena sastrawangi, satu gejala lagi yang dipandang telah memberi warna tersendiri dalam perjalanan sastra Indonesia mutakhir adalah munculnya karya-karya ”fiksi religius” (baca juga: fiksi Islami). Kecenderungan baru genre fiksi yang dikononkan sebagai karya-karya sastra ”pembangun jiwa” ini pada awalnya digagas dan dimotori oleh Helvy Tiana Rosa (kemudian bersama Asma Nadia dan kawan-kawan) melalui Forum Lingkar Pena (FLP) yang pernah dirintis dan diasuhnya. Munculnya gejala ini, pada tataran tertentu, boleh jadi merupakan upaya penyeimbang (balancer) atau sebagai budaya tanding atas dominasi karya-karya bercorak seksual ala sastrawangi yang cukup menghebohkan lantaran “kegenitan estetik”-nya itu. Melalui lembaga yang merupakan sebuah jaringan (network) besar itulah —karena kini telah memiliki banyak cabang di berbagai daerah di Indonesia— para pengarang muda banyak bermunculan dari komunitas ini, bahkan sudah melahirkan puluhan novel maupun kumpulan cerpen (remaja) Islami.

Dalam karya-karya mereka, unsur dakwah agama (baca: Islam) dan upaya penyadaran moral memang sangat menonjol (kalau bukan sebagai tujuan utama), tanpa harus terjerumus ke dalam propaganda yang terlampau tendensius. Kelompok pengarang fiksi religius ini pada umumnya lebih banyak mengeksplorasi persoalan kehidupan remaja yang secara psikologis masih dalam kondisi labil, tetapi nyaris selalu digambarkan sukses dalam menghadapi problem yang mereka alami. Dalam kaitan ini, agama dihadirkan sebagai pembuka jalan dan sekaligus sebagai pemecahan masalah. Sementara itu, dalam hal usaha penerbitan karya, mereka telah melakukan kerja sama (secara simbiosis-mutualis) dengan beberapa penerbit yang secara ideologis tentunya juga memiliki visi yang sama dengan kelompok penulis sastra Islami ini (semisal DAR Mizan, Syaamil, Naviri, dan Inisiasi Press).

Sejak genre sastra Islami digagas dan dipopulerkan oleh FLP, pada tahun-tahun berikutnya tampak semakin marak bermunculan karya-karya sastra serupa (novel dan cerpen Islami) dari tangan para pengarang di luar lingkaran FLP sendiri. Bahkan, di penghujung dasawarsa pertama tahun 2000-an yang baru saja berlalu, sastra Islami boleh dikata merupakan sebuah trend baru dalam estetika sastra (fiksi) Indonesia mutakhir. Fenomena ini terutama ditandai dengan terbitnya novel Ayat-ayat Cinta (2006) karya Habiburrahman El-Shirazy yang mengalami booming dan sukses luar biasa, lebih-lebih setelah novel ini diangkat ke dalam bentuk film layar lebar. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa kesuksesan keduanya (novel maupun film tersebut) tentu saja bersifat kausal, timbal-balik, dan saling melengkapi.

Kesuksesan Habiburrahman melalui novel Ayat-ayat Cinta-nya ini kemudian segera diikuti oleh sejumlah penulis muda lainnya, baik dari kelompok FLP maupun dari kalangan penulis di luarnya. Sederet nama baru bermunculan, sebagian di antaranya telah tercatat dalam sejarah sastra Indonesia terkini. Namun, kendati berbeda dengan kasus epigonisme gaya Afrizalian (khas estetika kepenyairan Afrizal Malna) dalam jagat puisi Indonesia mutakhir, di sini juga tampak adanya tendensi pengekoran terhadap kesuksesan dan popularitas Habiburrahman dengan Ayat-ayat Cinta-nya. Gejala ini terutama sangat kentara jika kita lihat dari aspek temanya yang cenderung seragam, teknik berceritanya yang hampir selalu mengeksplorasi emosi kesedihan, juga keterikatan kosa kata tertentu pada judul-judul buku yang mereka terbitkan —lihat saja judul-judul buku yang mereka gunakan, pada umumnya selalu memakai kata “cinta” sebagai ikonnya.

Sederet karya (baca: novel) yang —dengan pengamatan sepintas lalu saja sudah dapat diduga— mengikuti trend tersebut (baca: dengan kecenderungan sastra Islami, terutama berkaitan dengan popularitas dan kesuksesan Ayat-ayat Cinta), antara lain Persembahan Cinta Sari Surga (Nurrahman Effendi), Menggapai Sang Cinta (In’am Ibnu Shalih), Jejak Cinta Sang Kiai (Imam Sibawaih El-Hasani), Kisah Cinta Insan dan Kamil (Kinoysan), Kafilah Cinta (Syakaro Ahmad el-Alyyi), Sujudilah Cintamu! (Zhaenal Fanani), Sujud Cinta di Masjid Nabawi (Putri Indah Wulandari), Para Mujahid Cinta (Najieb Kailani), Kelan Cinta Shafiyya (Fitria Pratiwi)), Habib Palsu Tersandung Cinta (Ubay Baequni), Kerudung Cinta dari Langit ke Tujuh (Wahyu Sujana), Ketika Tuhan Jatuh Cinta (Wahyu Sujana), Napas Cinta Para Ahli Doa (Wahyu Sujada), dan Jazirah Cinta (Randu Alamsyah). —bahkan, tampak ada kecenderungan bahwa Habiburrahman sendiri kemudian ingin mengulang kesuksesan yang pernah diraihnya melalui novel Ayat-ayat Cinta-nya dengan menerbitkan beberapa karyanya yang lain: Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 (2007), Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta (2010), dan Cinta Suci Zahrana (2010). Kalaupun mereka tidak menggunakan kata “cinta” sebagai bagian judul buku, minimal mereka mengeksplorasi cinta dalam kemasan religius. Dengan demikian, bertolak dari ciri-ciri umum kecenderungan estetiknya, gejala ini boleh dikata sebagai penanda munculnya genre ”fiksi cinta Islami” (kalau bukan trend ”sastra poligami”).[9]

Kecuali ketiga fenomena di atas, perlu saya catatkan pula bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini agaknya telah muncul suatu kesadaran primordial di kalangan pengarang dan pengamat sastra Indonesia melalui gerakan “kembali ke akar tradisi” dengan mengangkat lokalitas sebagai spirit cipta sastra. Kendati harus kita akui bahwa lokalitas (baca: warna lokal) bukanlah suatu persoalan baru dalam sastra Indonesia, semangat ini setidaknya kembali bergema dan kian bergaung luas sejak berlangsungnya perhelatan sastra nasional bernama Kongres Cerpen Indonesia IV di Pekanbaru, Riau (26—30 November 2005) yang memang secara khusus mengusung tema “Ayo, Estetika Lokal!”. Semangat inilah yang hingga terakhir ini terus diusung dan diupayakan aktualisasinya dalam proses kreatif penulisan karya sastra di tanah air.[10]

Pada periode ini, lahirnya novel Laskar Pelangi (2006) dari tangan Andrea Hirata seakan mengukuhkan pernyataan tentang munculnya sebuah kesadaran kolektif pada para penulis fiksi di tanah air akan pentingnya lokalitas untuk menuju sastra Indonesia yang benar-benar berkarakter Indonesia, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sederet pengarang fiksi Indonesia sebelumnya dengan lokalitasnya masing-masing —antara lain: Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Saparto Brata (Jawa), Korrie Layun Rampan (Dayak, Kalimantan), Wisran Hadi, Chairul Harun, Darman Moenir, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, Gus tf Sakai, Marhalim Zaini (Melayu, Minangkabau), Gerson Poyk, Putu Wijaya, Putu Arya Tirtawirya, Putu Oka Sukanta, dan Oka Rusmini (Lombok, Bali).

/ 5 /

Dalam konteks yang lebih umum, perkembangan sastra Indonesia mutakhir juga ditandai dengan maraknya komunitas-komunitas sastra yang bermunculan di berbagai kota (daerah) di tanah air sejak paro kedua dekade 90-an melewat. Kecuali eksistensi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang sudah dikenal luas sejak puluhan tahun silam, beberapa kelompok yang selama ini pernah giat melakukan berbagai perhelatan sastra —termasuk mengupayakan penerbitan buku-buku sastra secara swakelola— antara lain Komunitas Sastra Indonesia (Jakarta), Forum Sastra Bandung (Bandung), Forum Lingkar Pena (Bandung), Yayasan Indonesia (Jakarta), Yayasan Taraju (Padang), Yayasan CAK (reinkarnasi dari Sanggar Minum Kopi, Bali), Komunitas Rumahlebah (Yogyakarta), Akademi Kebudayaan Yogyakarta (Yogyakarta), dan Paradox Literary Centre (Magelang). Selain itu, khusus dalam bidang cerpen, pada Kongres Cerpen Indonesia V di Banjarmasin (2007) telah dibentuk Komunitas Cerpen Indonesia (KCI) sebagai wahana pertemuan dan dialog antarpengarang (cerpenis) maupun dengan para pemerhati (kritikus) cerpen dari seluruh pelosok tanah air.

Kecuali kian merebaknya komunitas sastra-budaya, dalam sepuluh tahun terakhir ini media massa dan penerbitan sastra pun tampak semakin marak berkembang. Beberapa media penerbitan berkala dan berskala nasional yang cukup respek memberi ruang publikasi untuk karya-karya sastra kreatif di antaranya (koran) Kompas, Media Indonesia, Republika, Jawa Pos, Koran Tempo, Koran Sindo, (majalah bergensi) Horison, Basis, Matra, (majalah alternatif) Kolong, Panggung, Cak, Menyimak, Titik Tolak, Gong, On/Off, Paradox, dan Kindai —di samping beberapa jurnal yang distribusinya lebih terbatas seperti Jurnal Kalam, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Rumahlebah: Ruangpuisi, Jurnal Srinthil, Jurnal Perempuan, dan Jurnal Kandil (sangat disayangkan, beberapa di antaranya kini sudah tinggal nama).[11] Belum lagi jika pembicaraan kita melibatkan majalah dan jurnal terkait di berbagai perguruan tinggi di tanah air yang terutama memuat ragam karya ilmiah berupa kritik sastra.

Di samping pesatnya perkembangan media penerbitan berkala (media massa cetak pada khususnya), penerbit-penerbit buku (kecil maupun besar, profesional maupun amatir, komersial maupun nirlaba) yang punya kepedulian tinggi terhadap dunia sastra juga mulai menjamur bak cendawan di musim hujan. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, sejumlah lembaga penerbitan buku sastra yang cukup prestesius dapat disebut antara lain Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Grassindo, Bentang Budaya, IndonesiaTera, Buku Kompas, Gama Media, Hasta Mitra, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, Pustaka Pelajar, Pustaka Firdaus, Pustaka Sufi, Pustaka Sastra LKiS, Mahatari, Jendela, Jalasutra, Naviri, Akar Indonesia, Frama Publishing, dan beberapa lagi yang kurang populer (beberapa di antaranya juga sudah tinggal nama, termasuk Balai Pustaka).

Kenyataan di atas jelas menunjukkan suatu kemajuan yang sangat berarti dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Kemajuan (dalam bidang penerbitan) itu, paling tidak, dapat kita amati dari jumlah buku-buku sastra yang sudah diterbitkan sepanjang dasawarsa pertama abad ini. Kalau kita cermati (terutama dengan melacak buku-buku yang telah beredar di pasaran), sejak awal tahun 2000 hingga sekarang saja agaknya sudah beratus-ratus (kalau bukan ribuan) judul buku sastra yang telah diterbitkan —apalagi jika yang dimaksudkan dengan istilah ”buku sastra” itu bukan hanya mengacu pada genre sastra kreatifnya saja (puisi, cerpen, novel), melainkan juga mencakup bentuk esai dan kritik sastra. Perhitungan ini tentu hanya berpatokan pada jumlah judul buku yang ada, bukan merujuk pada jumlah cetak eksemplar buku-buku berkategori national best-seller (seperti karya-karya Habiburrahman El-Shirazy atau Andrea Hirata).

Perkembangan sastra Indonesia mutakhir yang semakin kondusif seperti sekarang tentu saja juga didukung oleh semakin maraknya berbagai even sayembara penulisan (oleh beberapa media massa maupun lembaga tertentu) dan pemberian penghargaan (juga oleh beberapa media maupun lembaga, baik dari dalam maupun luar negeri) pada karya-karya yang dinilai lebih unggul bobot literer sastranya. Sekecil apa pun peran dan daya jangkau sebuah sayembara penulisan, harus kita akui bahwa kehadirannya tetap memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas dan kreativitas para penulis di negeri ini untuk berkarya. Demikian halnya kehadiran bentuk-bentuk penghargaan yang diberikan kepada para penulis terpilih juga telah memberikan spirit dan warna tersendiri dalam jagat kepengarangan di tanah air. Beberapa bentuk penghargaan yang pernah ada, di antaranya: SEA-Write Award, Khatulistiwa Literary Award, Sih Award, Hadiah Sastra Lontar, Anugerah Sastra Horison, Penghargaan Mastera, Hadiah Sastra Pusat Bahasa, dan beberapa bentuk penghargaan lain yang ada di berbagai daerah. Dalam kaitan ini, sayembara penulisan maupun penghargaan sastra, keduanya merupakan pompa pendorong motivasi kepengarangan yang sangat efektif dalam rangka menjaga kesinambungan tradisi penulisan sastra Indonesia.

/ 6 /

Selain beberapa fenomena di atas, setidaknya sejak paro kedua dekade 90-an yang lalu, sastra Indonesia modern sesungguhnya telah memasuki sebuah babak baru yang disebut “era sastra digital” (sistem publikasi karya sastra secara online melalui berbagai situs internet). Di samping dalam bentuk website pribadi, mulai populernya era baru ini terutama setelah diluncurkannya Cybersastra.com atau Cybersastra.net yang setidaknya sudah mulai beroperasi sejak 28 April 1999 —konon di bawah pengelolaan Masyarakat Sastra Internet (MSI) yang dikomandoi Nanang Suryadi dan berpusat di kota Malang, Jawa Timur. Sebagai media alternatif baru, ruang publikasi sastra online ini bersifat sangat akomodatif, egaliter, bebas, dan juga kurang selektif —bahkan, konon tanpa melalui proses seleksi sebagaimana yang dilakukan oleh redaktur sebuah media massa cetak konvensional— karena urusan pemilihan dan penentuan karya yang akan dipublikasikan memang sepenuhnya merupakan hak prerogatif para penulisnya.

Dengan karakteristiknya yang demikian, berbagai ragam karya sastra (puisi, fiksi, drama, serta esai dan kritik sastra, bahkan juga genre sastra lama) dapat ditampung di sini, termasuk yang secara kualitatif sering dituding pihak tertentu sebagai karya-karya “sampah”. Hal ini karena para penulis pemula yang baru belajar menulis satu-dua puisi pun “tidak dilarang” untuk memasuki dan memublikasikan karya-karya percobaan mereka di media sastra online bernama Cybersastra.net ini. Namun demikian, seberapapun kelemahan yang ada padanya, kehadiran media alternatif “sastra internet” atau “sastra digital” ini dalam jagat sastra di tanah air sungguh patut dihargai dan layak dicatat dalam bentangan sejarah sastra Indonesia.[12]

Mengenai tudingan negatif terhadap fenomena sastra internet ini, Medy Loekito (salah seorang pegiat sastra internet lainnya) pernah mengemukakan suatu bantahan bernada apologis. Pertama, menurut penyair asal Jakarta ini, internet merupakan saluran yang efektif bagi ”penyemaian” atau ”terapi” terhadap frustasi penyair (baca: para penulis pada umumnya —JTS) yang sudah tidak sabar menunggu dalam ketidakpastian penerbitan karyanya di media cetak. Kedua, internet merupakan saluran alternatif bagi para penyair dalam menghadapi sikap tidak adil media massa yang mengutamakan nama-nama ”besar” dan bahkan melenyapkan ”lahan” bagi penyair yang belum terkenal. Ketiga, internet juga merupakan ”jembatan bagi peradaban multiculture”. Artinya, di dalam situs sastra Malaysia bisa kita temukan nama Nanang Suryadi (dari Indonesia), sedangkan di situs sastra Indonesia (semisal Cybersastra.net) dapat kita temukan nama Ramli A. Rahim (dari Malaysia) atau Djauhar (dari Singapura).[13]

Meskipun hingga sekarang keberadaan sastra internet ini masih menyimpan kontroversi tertentu, terutama menyangkut bobot literer karya-karya yang dipublikasikan, tetapi secara de facto dalam perkembangannya hingga dewasa ini justru memperlihatkan kemajuan yang cukup signifikan. Dalam lima tahun terakhir, kehadiran sastra internet ini tampaknya semakin mendapat tempat dan sambutan positif dari kalangan praktisi maupun pemerhati sastra di tanah air. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi mutakhir yang terus berkembang pesat, sastra internet kini sudah semakin meluas dan kian memasyarakat. Sekarang, kecuali keberadaan Cybersastra.net (yang belakangan sudah mulai menurun popularitasnya), sastra internet juga merebak dalam bentuk blog, facebook, dan twitter (milik pribadi maupun atas nama komunitas tertentu). Hampir semua penulis yang sudah melek-teknologi-internet, secara dan sebagai pribadi, kini sudah memiliki media-media alternatif paling mutakhir ini (minimal dengan memanfaatkan fasilitas facebook) sebagai wadah untuk menampung dan memublikasikan karya-karya mereka (terkadang juga karya teman sejawat dan/atau anggota komunitasnya).[14]

Baru-baru ini (terhitung sejak 2 April 2011), Cecep Syamsul Hari (CSH —penyair asal Bandung, tepatnya Cimahi) telah meluncurkan sebuah majalah ruang-maya bertajuk Sastra Digital (Publikasi Online Sastra Indonesia) yang juga memuat beragam karya sastra kreatif (khususnya puisi dan cerpen) maupun esai dan kritik sastra. Akan tetapi, berbeda dengan media sastra internet lainnya yang pernah ada di Indonesia, karya-karya yang dimuat dalam Sastra Digital merupakan karya pilihan (berdasarkan proses seleksi) redakturnya (yang sejauh ini masih dibidani sendiri oleh CSH). Bahkan, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang dimuat, secara swadana sang pengelola tak segan-segan merogoh kantong pribadinya untuk menyediakan honorarium sekadarnya bagi para penulis yang karyanya terpilih dan dipublikasikan di media asuhannya tersebut.[15]

Namun, secara catatan tambahan, oleh karena sistem seleksi yang dilakukan redaksi tak mungkin dapat mengelak dari kemungkinan masuknya unsur subjektivitas pribadi (apalagi proses seleksi itu masih dilakukan sendiri oleh seorang redaktur yang sekaligus bertindak sebagai pemilik dan pengelolanya), media alternatif baru ini pun tentunya kelak akan dapat terjebak pada pengulangan model ”perilaku lama” versi media-media konvensional (khususnya media massa cetak) yang sistem seleksinya selama ini dinilai tidak adil dan cenderung lebih berpihak pada nama-nama besar saja. Namun, sekali lagi, bagaimanapun upaya semacam ini merupakan sebuah terobosan yang pantas dihargai dan disambut dengan sikap positif —tentu saja, dengan catatan, sambil terus menunggu format manajemen yang lebih ideal sehingga dapat memenuhi harapan lebih banyak pihak dan kepentingan lagi.

/ 7 /

Terbukanya gerbang kebebasan ekspresi dan resepsi sastra dalam sepuluh tahun terakhir ini dapat dipandang sebagai era kebangkitan kembali (semacam renaissance) sastra Indonesia modern setelah selama lebih dari tiga dasawarsa seakan terus terkungkung di bawah kendali politik kenegaraan model rezim Orde Baru —melalui otoritas para penguasanya yang militeristik, sering bertindak represif, dan cenderung memperlakukan sastra sebagai suatu gejala budaya yang destruktif. Selama masa Orde Baru, sastra secara apriori diasumsikan sebagai sebuah energi besar yang menyimpan “lahar panas” sehingga suatu ketika pada saatnya dapat meletus dan membawa perubahan besar pula dalam dinamika sosial-politik (khususnya dalam konteks stabilitas nasional). Atas dasar tersebut, pada akhirnya keberadaan sastra (berikut sepak-terjang para sastrawannya) harus dikontrol secara superketat (kalau perlu dengan memanfaatkan jasa intelegen).

Setelah tumbangnya rezim Orde Baru di penghujung abad yang lalu (1998), masa-masa stigmatis berwajah “fobisastra” semacam itu kini telah mencair secara drastis seiring dengan embusan angin segar yang dibawa oleh rezim Orde Reformasi. Sekarang, kita sudah berada di sebuah dunia baru, di alaf baru, dengan semangat dan paradigma baru pula. Kehidupan sastra, juga kebudayaan Indonesia pada umumnya, kini sudah dapat bernapas bebas dan bergerak secara sangat leluasa. Tak ada kekang, tak ada tali kendali lagi. Akan tetapi, ditinjau dari kacamata moralitas, tampaknya juga perlu kita sadari bahwa ternyata kebebasan ekspresi dan resepsi sastra itu memang tidak selalu menguntungkan. Ternyata pula, kebebasan itu tidaklah identik dengan kemajuan dan tidak pula selalu bermakna positif bagi peradaban suatu bangsa.

Semakin menguatnya arus keterbukaan berpikir dan berekspresi yang telah terbangun dalam sepuluh tahun terakhir (sejak lahirnya Orde Reformasi) pada kenyataannya memang membawa dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan dunia sastra dan kebudayaan umumnya di tanah air. Munculnya trend karya-karya sastrawangi yang beredar bebas di pasaran, misalnya, diasumsikan telah turut memberi andil pada kian merosotnya moral bangsa dewasa ini —terutama dalam konteks perilaku seks bebas (free sex) dan pelecehan seksual (sexual harassment). Kendati, tentu saja, hal itu bukan satu-satunya faktor penyebab.

Perkembangan sastra Indonesia yang demikian pesat dalam beberapa tahun terakhir pada akhirnya juga menimbulkan risiko sampingan di bidang teori, sejarah, kritik, dan pendidikan sastra. Sebab, para pengamat (termasuk teoretisi, sejarawan, kritikus, dan guru sastra), siapa pun dia dan dari mana pun asalnya, pastilah akan merasa sangat kesulitan untuk dapat memantau perkembangan sastra kita dewasa ini secara objektif dan komprehensif. Barangkali, untuk lebih praktisnya, guna mengatasi kesulitan tersebut mau tidak mau perhatian mereka terpaksa hanya akan terfokus pada bentuk buku dan sejumlah media massa tertentu yang beredar secara nasional serta dipandang representatif sebagai barometer perkembangan sastra Indonesia mutakhir.

Sekarang, gejala apa lagi yang bakal muncul dalam peta sejarah sastra Indonesia mutakhir? Apakah dalam sepuluh tahun ke depan ia akan melahirkan suatu kecenderungan estetik yang baru lagi? Entahlah. Agak muskil, juga terlalu dini, untuk dapat memprediksikannya dengan pasti. Namun, oleh karena sastra merupakan dunia yang mungkin (oleh Budi Darma pernah disebutnya sebagai dunia jungkir-balik), gejala apa pun yang muncul kemudian selalu akan bersifat dialektis dan menjadi sesuatu yang niscaya. Panta Rei! Segalanya akan terus mengalir, mengalir, dan terus mengalir, sebagaimana mengalirnya air sungai yang pernah dianalogikan Heraklietos berabad-abad silam dalam salah satu diktum filsafatnya. Jadi, bagaimana masa depan sastra Indonesia nanti? Quo Vadis? Kita tunggu saja!

Pelaihari, 16 Oktober 2011

Catatan Kaki:
[1] Diskusi singkat tentang pengertian “sastra Indonesia” dapat dibaca, misalnya, dalam buku Sapardi Djoko Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 131—133. Namun, untuk kepentingan pembahasan ini saya lebih cenderung mengikuti rumusan Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung: Binacipta, 1991), hlm. 10.

[2] Pembicaraan mengenai estetika kepenyairan Afrizal Malna yang dipandang sebagai ikon pembaruan dalam perpuisian Indonesia di tahun 1980—1990-an telah banyak dilakukan orang, baik dalam bentuk esai-esai singkat di media massa maupun ulasan yang agak panjang berupa kertas kerja untuk forum-forum diskusi sastra. Ulasan yang cukup representatif dapat dibaca, misalnya, dalam tulisan Agus R. Sarjono, “Afrizal Malna: Puisi Dada dan Kecemasan” (Horison, Desember 1992).

[3] Kumpulan sajak awalnya yang sampai sekarang tidak diterbitkan berjudul Catatan yang Bertindak dan Mitos-mitos Kecemasan (naskah ini hanya dibukukan secara sederhana dalam bentuk fotokopi), kendati beberapa sajak di antaranya telah ikut dimuat dalam penerbitan buku pertama (1984) dan buku keduanya (1990) sebagaimana tersebut di atas.

[4] Lihat esai pengantar Korrie Layun Rampan (Ed.) untuk bukunya, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Jakarta: PT Grasindo, 2000), hlm. xxxviii.

[5] Harap mafhum, tentu tidak semua nama penyair dapat saya sebutkan di sini. Urutan penyebutan nama-nama di atas juga tidak merepresentasikan tingkatan kualitas karya maupun para penyairnya, tetapi sekadar menderetkan nama-nama yang cukup dikenal dalam kancah perpuisian Indonesia mutakhir. Hal yang sama juga berlaku untuk penyebutan nama-nama penulis fiksi pada uraian selanjutnya.

[6] Upaya-upaya pemetaan dan ulasan tentang berbagai kecenderungan estetik dalam perpuisian Indonesia terkini sesungguhnya juga telah banyak dilakukan oleh para kritikus dan pengamat sastra. Baca, misalnya, beberapa esai Afrizal Malna yang terhimpun dalam buku Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca-yang-Tak-Bersih (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000); Agus R. Sarjono, Sastra dalam Empat Orba (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001); dan Korrie Layun Rampan, op. cit.

[7] Untuk novel Saman, misalnya, di cover belakang buku Ayu Utami tersebut Sapardi Djoko Damono memberi komentar yang sangat apresiatif, bahkan cenderung berlebihan: “Dahsyat… memamerkan teknik komposisi yang —sepanjang pengetahuan saya— belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di luar negeri.” Adapun penemuan teknik penceritaan baru —yang dikatakan sangat eksperimental dan khas inovasi Djenar— untuk beberapa cerpen Djenar Maesa Ayu telah dicobatunjukkan oleh Richard Oh dalam esai pengantarnya untuk kumpulan cerpen Djenar yang kedua. Lihat Richard Oh., “Jangan Main-main dengan Djenar,” dalam Djenar Maesa Ayu, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. Xiii—xxvii. Namun, Katrin Bandel kemudian telah menunjukkan kelemahan karya-karya Djenar —khususnya novel Nayla— melalui sebuah esainya, “Nayla: Potret Sang Pengarang sebagai Selebritis,” Horison (Tahun XXXX, No.1/2006), hlm. 6—15 yang kemudian dimuat dalam bukunya, Sastra, Perempuan, Seks (Yogyakarta & Bandung: Jalasutra, 2006), hlm. 143—163.

[8] Sekaitan dengan masalah trend sastrawangi dan dampak moralitasnya, menarik sekali untuk disimak ulasan kritis Medy Loekito, ”Perempuan dan Sastra Seksual” dalam Ahmadun Yosi Herfanda dkk. (Ed.), Sastra Kota: Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003 (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003), hlm. 130—156.

[9] Seorang ustadz saat berceramah di kampung saya pernah mensinyalir karya-karya Habiburrahman El-Shirazy (terutama menunjuk novel Ayat-ayat Cinta) —yang mungkin hanya dipantaunya melalui film— sebagai propaganda poligami. Sehingga, menurut simpulannya, dengan mengangkat poligami sebagai pesan utama seolah-olah Islam itu identik dengan praktek poligami.

[10] Lokalitas sebagai suatu kecenderungan estetik dalam tradisi sastra Indonesia mutakhir pernah saya bahas secara khusus dalam sebuah esai bertajuk “Kebanggaan Sastra sebagai Kebanggaan Daerah: Sumber Kreativitas dan Inovasi Penciptaan” (makalah Seminar Internasional: Dialog Borneo-Kalimantan XI pada 13—15 Juli 2011 di Samarinda, Kalimantan Timur); dimuat dalam Korrie Layun Rampan (Ed.), Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia (Yogyakarta: DBK—Araska, 2011), hlm. 83—104.

[11] Banyak sekali media alternatif lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini, baik berupa majalah maupun sekadar buletin yang diterbitkan secara swakelola dan bersifat nirlaba oleh komunitas tertentu. Akan tetapi, perkembangan nasib mereka hampir sama, nyaris selalu terbentur masalah klise: pendanaan dan pemasaran. Media alternatif ini pada umumnya hanya sempat terbit satu kali atau beberapa nomor penerbitan saja, setelah itu mati (seperti kata Chairil Anwar: sekali berarti, sudah itu mati).

[12] Pelacakan dan kajian awal (tetapi cukup memadai) tentang fenomena sastra-internet ini dapat dibaca dalam salah satu tulisan Faruk H.T. melalui bukunya, Beyond Imagination: Sastra Mutakhir dan Ideologi (Yogyakarta: Gama Media, 2001), hlm. 215—263; pernah disinggung sekilas oleh Ahmadun Yosi Herfanda melalui esai bertajuk “Kapitalisasi Sistem Produksi” dalam Ahmadun Y. Herfanda dkk. (Ed.), op. cit., hlm. 21—37; dan untuk pelacakan lebih lanjut silakan klik di http://www.Cybersastra.net dan beberapa situs atau laman terkait.

[13] Bandingkan dengan Faruk H.T., ibid., hlm. 220.

[14] Terkait dengan masalah seleksi karya yang akan dimuat, keadilan para redaktur media massa cetak konvensional (koran, tabloid, majalah, jurnal) yang seringkali dipertanyakan pada kenyataannya juga berlaku pada para redaktur media sastra internet ini. Jadi, subjektivitas pribadi sang pengelola blog (blogger) tetap memegang peranan penting. Untuk pembuktian empiris, silakan lacak beberapa blog sastra yang terutama berbasis komunitas (meski dikelola oleh perseorangan).

[15] Pada awalnya, publikasi karya diterbitkan mingguan dengan karya menampilkan karya terpilih (puisi, cerpen, dan esai/kritik sastra). Belakangan, dengan format baru dan penambahan rubrik ”kuntum” (untuk karya-karya pelajar), durasi penerbitan telah diubah menjadi berkala bulanan. Untuk lebih jelasnya, silakan kunjungi di http://www.sastradigital.gmail.com.

Catatan untuk Kolega:
Makalah ini akan dipresentasikan dalam Seminar Nasional bertema “Sastra Mutakhir di Indonesia” yang akan digelar pada hari Sabtu (29 Oktober 2011) di Aula Rektorat Unlam (Lt. 3) pukul 08.00 s.d. selesai. Bagi yang berminat ikutan, silakan hubungi Dr. M. Rafiek, M.Pd. / Rusma Nortyani, M.Pd. di Prodi PBSID FKIP Unlam Banjarmasin.

Biografi Singkat:
Jamal T. Suryanata dilahirkan pada 1 September 1966 di Kandangan (HSS), Kalimantan Selatan. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Program Pascasarjana FKIP Unlam Banjarmasin dengan tesis berjudul “Cerpen Banjar 1980—2000: Tinjauan Struktur, Isi, dan Konteks Sosialnya” (2004). Mulai aktif menulis sejak awal 1990, berupa puisi, cerpen, novel anak, serta kritik dan esai sastra-budaya dan pendidikan. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Radar Banjarmasin, Media Kalimantan, Bali Post, Koran Tempo, Kompas, Swadesi, Wanyi, Suara Guru, Ceria Remaja, Al-Zaytun, Matabaca, On-Pff, Gong, Matra, Basis, Horison, Dewan Sastera, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Rumahlebah: Ruangpuisi, Jurnal Widyaparwa, Jurnal Kebudayaan Kandil, Jurnal Sastra Kindai, dan Sastra Digital. Karya-karyanya juga dipublikasikan melalui blog pribadinya: ”palidangan” (http://jamalts.blogspot.com) an ”lasmin papadaan” (http://jamalsuryanata.blogspot.com).

Prestasi kepengarangan yang pernah diraihnya antara lain sebagai Juara II Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1992), Juara III Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1994), Juara II Lomba Cipta Puisi Batu Beramal 2 Se-Indonesia versi Studio Seni Sastra Kota Batu, Malang (1995), Juara I Sayembara Mengarang Esai tentang Pengajaran Sastra Tingkat Nasional (1998), Juara I Lomba Menulis Cerpen dalam Bahasa Banjar Se-Kalsel (2007), Juara I Sayembara Penulisan Esai tentang Perkembangan Publikasi Sastra di Kalimantan Selatan 2000—2008 Se-Kalsel (2008), dan beberapa kali menenangkan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1993, 1996, 1997, 1998, 2001).

Kegiatan sastra-budaya yang pernah diikutinya antara lain Festival Puisi Kalimantan (1992), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Program Penulisan Majelis Sastera Asia Tenggara: Esai (1999), Dialog Borneo-Kalimantan VII (2003), Ubud Writer’s and Reader’s Festival (2004), Cakrawala Sastra Indonesia (2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (2005), Festival Kesenian Yogyakarta (2007), Kongres Cerpen Indonesia V (2007), Temu Sastrawan Indonesia III (2010), Dialog Borneo-Kalimantan XI (2011). Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya ikut disertakan dalam beberapa buku antologi bersama seperti Festival Puisi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Batu Beramal 2 (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Antologi Puisi Serayu (1995), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Wasi (2000), La Ventre de Kandangan (2004), Dian Sastro for President! (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Perkawinan Batu (2005), Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Sastra Banjar Kontekstual (2006), Tongue in Your Ear: Indonesian Poetry Festival (2007), Kalimantan dalam Puisi Indonesia (2011), Kalimantan dalam Prosa Indonesia (2011), dan Sumbangan Borneo-Kalimantan Terhadap Sastra Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia (2011). Sajaknya ”Datanglah Sang Cahaya” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan dimuat dalam buku Antologia de Poeticas: Antologi Puisi Indonesia-Portugal-Malaysia (2008).

Selain menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Banjar. Buku-bukunya yang sudah diterbitkan berjudul Untuk Sebuah Pengabdian (Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Adicita Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Adicita Karya Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh: Sakindit Kisdap Banjar (Radar Banjarmasin Press, 2005), Penyesalan Sang Pemburu (Pabelan Cerdas Nusantara, 2005), Bulan di Pucuk Cemara (Gama Media dan LPKPK, 2006), Debur Ombak Guruh Gelombang (Tahura Media, 2009), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (Tahura Media, 2009), Guruku Tidak Kencing Berlari (Tahura Media, 2010), dan Tragika Sang Pecinta: Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani (Akar Indonesia, 2010).

Berkat prestasi dan dedikasinya dalam bidang sastra, pada tahun 2006 ia dinobatkan sebagai salah seorang seniman peraih Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (untuk bidang sastra) dan tahun 2007 terpilih sebagai penerima Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (untuk bidang penulisan cerpen [].

 
 
 
Dijumput dari: http://tuasmedia-2.blogspot.com/2011/10/sastra-indonesia-mutakhir-jejak.html

Sabtu, 25 Oktober 2014

(Puisi Tamu) - Keberangkatan

Koleksi Album Teratai Abadi






"Sebelum keberangkatan itu kulalui, 
aku ingin sekali melihat kamu di sini, 
bertelingkah tentang siapa yang lebih setia, 
atau siapa yang akan lebih nestapa, 
bila maut tersenyum di hadapan kita.
Seperti dahulu, 
angin nakal menjatuhkan rambut di dahimu, 
bibir gementar meluncurkan kalimat rahsia 
dan suara-suara asing di luar daerah kedekatan ini, 
tidak menjejaskan kita untuk saling berbagi mesra. 

Kau, 
bersama kebiasaanmu yang hangat, 
merenung aku dengan segenggam janji yang perlahan, 
berubah menjadi pencuri, 
mencuri ketenangan berkali-kali, 
setelah kau pergi.

Bagaimana aku mampu berangkat, 
dari penaklukan ini? 
Seluruhnya adalah tentang kamu. 
Di beranda, sepi yang berkumpul, 
dan tanpa tahu pamit memeluk aku 
untuk terus kekal terpaku. 

Kau yang selalu hidup, 
begitu angkuh berada di langit-langit, 
menutup mentari yang seharusnya menyuluh ubunku dengan kilaunya, 
mendekamkan aku pada perjalanan waktu.
Kau tahu, suaramu tidak pernah meninggalkan teras kita.
Membunuh aku tanpa henti.
Membunuh aku tanpa berhenti."


Kuala Lumpur, 25 Okt' 14




____________________

Nama Pena : Teratai Abadi, penyair wanita Malaysia

(Seluk Beluk Sastra) - Kritik dari Para Komentator Sastra







Budi P. Hatees
Mimbar Umum, 20 April 2013



ACAP saya baca tulisan dari para akademisi sastra di Kota Medan yang dihasratkan sebagai kritik sastra. Mereka bicara, terutama, tentang cerpen-cerpen yang muncul secara kontinyu di ruang-ruang sastra media massa. Namun, setiap kali membacanya, mendadak saya merasa disedot ke dalam ruang kelas (kuliah) saat pelajaran sastra berlangsung.

Di sana ada akademisi itu, sibuk menceritakan kembali isi karya sastra, menerangjelaskan motif para karakter, mengurai unsur dalam dan unsur luar, kemudian meminjam sejumlah teori sastra. Tapi, saya justru jadi bingung, untuk apa akademisi itu di sana jika tujuannya hanya mengulang kembali apa yang ada dalam teks sastra? Tanpa kehadirannya, tidaklah sulit mengulang-ulang apa yang ada dalam teks karya sastra itu, tinggal membaca paragraf demi paragraf.

Tulisan yang dihasratkan sebagai kritik sastra itu justru mengingatkan saya pada karya-karya Laila S. Chudori. Sastrawan cum jurnalis yang bekerja di Majalah Tempo ini, selalu menulis tentang film-film baru dari Holliwood yang masuk ke negeri ini. Dia menguraikan kembali isi film itu, menerangjelaskan makna setiap fragmen di dalamnya, lalu menarik sebuah simpul tentang bagaimana hasil kerja sutradara, permainan acting para pemain, dan kualitas naskah skenario yang ditulis. Terakhir, dia akan membandingkan karya sinematografi itu dengan karya sebelumnya, kemudian membuat simpul tentang bagus tidaknya karya tersebut untuk dinikmati para penonton.

Apa yang dilakukan Laila S. Chudori acap merangsang saya untuk secepatnya pergi ke gedung-gedung Sineplex, memburu untuk menonton film-film baru itu. Sering saya puas karena hasil apresiasi Laila S. Chudori atas film itu brilian, tapi tak jarang saya kecewa. Pujian-pujiannya, terkesan, terlalu berlebihan. Tapi, saya pikir, mungkin karena tulisan itu—sebagaimana saya juga acap melakukan hal serupa sebagai bentuk kerja sama dengan jaringan pelaku bisnis bioskop di negeri ini—dibuat untuk mendukung bisnis pelaku usaha jaringan bioskop.

Meskipun begitu, tulisan Laila S. Chudori lebih jelas sikap dan pilihannya dibandingkan sikap dan pilihan para akademisi ketika menulis tentang cerpen-cerpen yang muncul di ruang sastra media-media di Kota Medan. Para akademisi itu menulis tentang cerpen-cerpen yang sudah dipublikasikan, dan karenanya sudah dibaca oleh public. Sementara Laila S. Chudori menulis tentang film yang belum ditonton. Sebab itu, apa pun yang ditulis Laila S. Chudori tentang film, dia tidak akan terperosok jauh ke dalam sikap redanden yang begitu kuat melatarbelakangi tulisan-tulisan para akademisi sastra.

Makanya, para akademisi sastra di Kota Medan—dengan tulisan-tulisan yang dihasratkan sebagai kritik sastra itu—justru menegaskan satu penyakit yang sudah umum ditemukan dalam dunia kesusastraan kita. Penyakit yang ditemukan pertama kali oleh A. Teuw ketika akademisi dari Leiden, Belanda, ini menyatakan ketidakpuasannya atas hasil kritik para akademisi sastra terhadap sejumlah sajak penyair Indonesia.

Tak usahalah saya sebut siapa yang menulis kritik terhadap sajak Toety Heraty Noerhady dan Subagio Sastrowardoyo itu, cukup saya singgung betapa publik sastra di negeri ini pasti sangat akrab dengan sajak-sajak kedua penyair itu. Sajak-sajak Toety Heraty Noerhady ada dalam buku Mimpi dan Pretensi, dikenal sangat kuat akan nilai-nilai filosofi hidup, sama halnya dengan Subagio Sastrowardoyo yang sajaknya bisa ditemukan dalam banyak buku. Yang jelas, A. Teuw tak bermaksud mengejek para akademisi sastra, sekalipun saya (mungkin juga Anda) segera mempertanyakan bagaimana mungkin kemampuan para akademisi sastra dalam mengkritisi karya sastra menjadi kurang memuaskan?

Persoalannya sama seperti yang saya singgung di awal tulisan ini. Para akademisi sastra menulis tulisan yang dihasratkan sebagai kritik sastra, tetapi isinya melulu soal mengulang-ulang isi karya sastra yang dibaca. Dan, tentu, seperti acap diteriakkan Saut Situmorang—kritikus sastra dari Yogjakarta—yang berkesimpulan: “Sebagian besar dari tulisan “kritik sastra” itu sebenarnya lebih pantas dimasukkan dalam kategori tulisan “apresiasi” atau “komentar” sastra saja”.

Saya teringat pada komentator pertandingan sepak bola di televisi. Mereka, ketika bermain sepak bola saja ngos-ngosan, tapi punya kemampuan luar biasa untuk menilai bagaimana seharusnya seorang pemain sepak bola memberi umpan dan bekerja sama di lapangan. Mereka menganalisis saat pertandingan berlangsung, dan sering, mereka lebih hebat dari seorang pelatih sekaliber Mourinho.

Komentator sepak bola itu, bukan pemain sepak bola yang andal, dan sangat mungkin tak akan mampu menceploskan bola ke gawang seorang kiper profesional. Tapi, ulah para komentator ini menyebabkan, public menganggap sepak bola itu sesuatu yang mudah. Tinggal menyepak bola, menceploskan bola ke gawang lawan. Ulah komentator sastra juga menyebabkan karya sastra menjadi sesuatu yang remeh, dan setiap orang kemudian menganggap bahwa menulis karya sastra itu adalah pekerjaan yang gampang. Makanya, apa yang menimpa rumah tangga sastra kita sejak lama, sampai hari ini tetap tak bisa dicarikan solusinya.

Saya teringat Wiratmo Soekito ketika menulis “Kegagalan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini”, Harian Kami edisi 30 Oktober 1968. Dia menulis: “Keadaan hidup sastra dewasa ini sangat memberi kesan kepada kita, bahwa kekuatan politik masih tetap digunakan untuk menentukan kritik sastra. Apabila hal ini dilakukan oleh publik sastra adalah keliru untuk melemparkan kesalahan kepada mereka, karena yang menjadi persoalan pokok ialah wibawa kritik sastra dalam masyarakat.”
Pada akhir Oktober 1968, Wiratmo Sukito menyalahkan para kritikus sastra. Goenawan Mohamad dalam esainya ” Tentang Kewibawaan Kritik” (ada dalam buku Kesusastraan dan Kekuasaan, 1993), menolak menyalahkan kritikus sastra. “Kewibawaan kritik sastra kita di masyarakat sekarang ini tidak ada,” tulis Gunawan Mohammad, “karena ia belum pernah ada.”

Dan, memang, itulah persoalan utama dunia sastra kita; kritik sastra tak berwibawa. Tapi, kritik sastra tidak akan mungkin berwibawa kalau isinya melulu tentang apresiasi dan komentar, hal-hal yang sudah dipahami oleh publik. Para akademisi sastra, mereka yang berkutat dengan sekian banyak teori, yang melakukan kerja analisis dengan sekian banyak metoda, seharusnya mampu menawarkan gagasan-gagasan brilian untuk menerangjelaskan kandungan dalam karya sastra kepada public.

Saya tak berharap kerja akademisi sastra dengan posisi legislator yang acap melakukan beatifikasi atau penobatan, seperti yang selama ini menjadi pilihan HB Jassin. Tapi, masyarakat sastra kita, juga para sastrawannya, adalah orang-orang yang terlalu berharap agar kritikus sastra bisa tampil sebagai lembaga pemberi sertifikasi. Seorang penulis karya sastra akan merasa kurang percaya diri sebelum ada sastrawan yang mengkritisi karyanya, lalu berlomba-lomba meminta endorsmenuntuk menyebut karyanya sebagai karya yang bagus dan luar biasa.

Sastra, karenanya, tidak dinilai berdasarkan derajat sastra, tetapi berdasarkan anasir-anasir politis. Buku sastra diterbitkan, lalu diberiendorsmen dari sastrawan terkenal, dan dihasratkan hal itu akan membuat buku tersebut laris sebagai produk kapitalis. Komentator sastra pun akan memberi pengantar yang luar biasa, melebih-lebihkan, dan membangga-banggakan sesuatu yang sesungguhnya penuh kekurangan dan tak pantas dibanggakan.

Maka, beginilah jadinya, dunia sastra kita seperti jalan di tempat. Kita member sanjungan yang luar biasa terhadap novel yang laris manis tetapi tak punya ruh sastra. Tak heran bila penulis novel Laskar Pelangi, kemudian mendaulat dirinya sendiri sebagai sastrawan internasional sembari meledek para kritikus sastra di negeri ini sebagai nonsense.

Budi Hatees, esais, tinggal di Kota Sipirok
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/04/kritik-dari-para-komentator-sastra.html