Jurnal Kirbat Sastra : - e-mail : sonny14sayangbati@gmail.com - sms (6221) 8161458020
Sabtu, 22 November 2014
Jumat, 21 November 2014
(Puisi-Puisi Terkenal dan Legendaris) - Puisi Nyanyian Angsa – WS Rendra
Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).
Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)
_____________________
Sumber : http://penyair.wordpress.com/2009/08/07/puisi-nyanyian-angsa-ws-rendra/
Kamis, 20 November 2014
(Puisi) - Tak Sempat Bertemu
Sumber Gambar : Puji Budi Purwanto (Indonesia Art News) - Bolpoin diatas kertas
40x60 cm
40x60 cm
Semenjak waktu dan hujan berlalu berganti musim, dia tak lagi duduk di bangku taman tiap senja menjelang, aku bertanya-tanya dengan orang-orang sekeliling taman yang biasa mampir menghirup udara taman yang tetap saja polusi itu, 'entahlah kami tak melihat lagi sejak bulan Oktober berlalu', sahut mereka sambil melanjutkan menikmati senja di alun-alun kota
Kami sering duduk bersama saling bertukar pikiran dari berbagai sudut pandang, kami memiliki minat yang sama dalam berbagai hal pandangan hidup, itulah seninya orang suka ngobrol, tak kalah dengan obrolan di warung kopi yang bisa berkelompok bicara, tapi kami lebih suka bicara berdua saja, dan memiliki kunjungan ke taman pada jam yang sama.
Sepertinya kami memiliki tempat tinggal yang tidak berjauhan, hanya saja kami selalu berpisah di pintu gerbang taman, aku berjalan ke kiri dan dia berjalan bertolak belakang ke kanan. Dan begitu saja berpisah tanpa basa-basi lagi, karena kami mengerti waktunya untuk pulang bersama keluarga masing-masing.
Di lain waktu seperti biasanya kala senja mulai merunduk dan langit merah jingga berubah menjadi hitam, aku menuju tempat duduk di tengah taman itu, terlihat kosong, dan berminggu-minggu, nahkan berbulan-bulan hanya ada aku dan orang lain saja yang duduk di tempat itu, tak terdengar khabar beritanya.
Sampai suatu saat, ketika seseorang memberitahukan kepadaku mengenai khabar temanku itu, katanya: 'Ada salam hangat untuk bapak' bahwa dia melanjutkan perkataannya 'tak sempat memberitahukan karena tergesa-gesa pindah ke kota hujan', dan aku terkejut dia bilang 'terima kasih banyak telah memberitahukan mengenai "JALAN ITU".
Jaga Blengko, 20-11-14
Jak Phenomenon
Selasa, 18 November 2014
(Serba-Serbi) - Inggris Berniat Kembalikan Naskah Kuno, tetapi Indonesia Menolak
KOMPAS.com/Ika Fitriana
Pater Brian Ramsey Carey, sejarawan asal Inggris yang mendedikasikan
diri untuk meneliti sejarah perang Jawa (1825-1930), termasuk sisi
detail kehidupan Pangeran Diponegoro.
MAGELANG, KOMPAS.com —
Sejarawan asal Inggris, Peter BR Carey, mengungkapkan, banyak naskah
kuno yang memuat sejarah Indonesia masih tersebar di berbagai negara.
Jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan tersimpan di berbagai museum di
dunia.
Di Inggris saja, kata Carey, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford. Naskah-naskah itu bisa dilacak kembali di sebuah buku berjudul Indonesian Manuscript in British Collections. Buku tersebut baru saja diterbitkan kembali di Jakarta, belum lama ini.
"Salah satu naskah tertua adalah naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada akhir abad XVI," ungkap Carey seusai menjadi pembicara dalam seminar Borobudur Writers and Cultural Festival 2014, di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (13/11/2014).
Menurut Carey, Pemerintah Inggris pernah ingin mengembalikan semua naskah kuno tersebut kepada Pemerintah Indonesia. Namun, niat baik itu justru ditolak oleh Pemerintah Indonesia sekitar 25 tahun yang lalu.
"Saat itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih dijabat oleh Fuad Hasan. Pemerintah Indonesia hanya berpesan dan meminta agar Pemerintah Inggris menjaga naskah-naskah kuno itu dengan baik," tutur Carey.
Selain di Inggris, sambung Carey, naskah kuno juga banyak tersebar di Belanda. Sebut saja naskah "I la Galigo", sebuah epik mitologi dari Sulawesi Selatan yang saat ini disimpan di Universitas Leiden, Belanda.
Selain itu, ada naskah salinan dari "Babad Diponegoro" yang ditulis dalam bahasa Jawa. Adapun manuskrip "Babad Diponegoro" dalam huruf Arab dengan tulisan tangan Pangeran Diponegoro saat ini disimpan di Belanda.
Carey yang juga Profesor Emeritus Oxford University itu melanjutkan, beberapa naskah kuno juga belum dimiliki oleh Pemerintah Indonesia secara resmi karena masih berada di tangan keluarga atau ahli waris. Naskah-naskah itu antara lain tentang Kiai Modjo, yang disimpan oleh pihak keluarganya di Tondano, Minahasa, serta naskah dari Bupati Purworejo pertama di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, yang diberi nama "Buku Kedungombo".
"Sebetulnya, tidak hanya naskah kuno, ada pula prasasti dari Indonesia yang masih tersimpan di luar negeri, seperti Prasasti Sangguran di Skotlandia, dan Prasasti Pucangan di Kalkuta, India," papar pria kelahiran Rangoon, Myanmar, itu.
Di Inggris saja, kata Carey, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford. Naskah-naskah itu bisa dilacak kembali di sebuah buku berjudul Indonesian Manuscript in British Collections. Buku tersebut baru saja diterbitkan kembali di Jakarta, belum lama ini.
"Salah satu naskah tertua adalah naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada akhir abad XVI," ungkap Carey seusai menjadi pembicara dalam seminar Borobudur Writers and Cultural Festival 2014, di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (13/11/2014).
Menurut Carey, Pemerintah Inggris pernah ingin mengembalikan semua naskah kuno tersebut kepada Pemerintah Indonesia. Namun, niat baik itu justru ditolak oleh Pemerintah Indonesia sekitar 25 tahun yang lalu.
"Saat itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih dijabat oleh Fuad Hasan. Pemerintah Indonesia hanya berpesan dan meminta agar Pemerintah Inggris menjaga naskah-naskah kuno itu dengan baik," tutur Carey.
Selain di Inggris, sambung Carey, naskah kuno juga banyak tersebar di Belanda. Sebut saja naskah "I la Galigo", sebuah epik mitologi dari Sulawesi Selatan yang saat ini disimpan di Universitas Leiden, Belanda.
Selain itu, ada naskah salinan dari "Babad Diponegoro" yang ditulis dalam bahasa Jawa. Adapun manuskrip "Babad Diponegoro" dalam huruf Arab dengan tulisan tangan Pangeran Diponegoro saat ini disimpan di Belanda.
Carey yang juga Profesor Emeritus Oxford University itu melanjutkan, beberapa naskah kuno juga belum dimiliki oleh Pemerintah Indonesia secara resmi karena masih berada di tangan keluarga atau ahli waris. Naskah-naskah itu antara lain tentang Kiai Modjo, yang disimpan oleh pihak keluarganya di Tondano, Minahasa, serta naskah dari Bupati Purworejo pertama di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, yang diberi nama "Buku Kedungombo".
"Sebetulnya, tidak hanya naskah kuno, ada pula prasasti dari Indonesia yang masih tersimpan di luar negeri, seperti Prasasti Sangguran di Skotlandia, dan Prasasti Pucangan di Kalkuta, India," papar pria kelahiran Rangoon, Myanmar, itu.
____________________
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2014/11/13/23014201/Inggris.Berniat.Kembalikan.Naskah.Kuno.tetapi.Indonesia.Menolak
Senin, 17 November 2014
(Artikel Ringan) - Serupa 'Alif', Engkaulah Sang Segala Rasa

Sumber Gambar : Google Images
ENGKAULAH SANG SEGALA RASA
: Sonny H. Sayangbati
Membaca hatimu serupa alif
Diam-diam meyemai Rindu
Frieska, bdg 2014
Membaca
puisi-puisi Frieska Rara Berlian (FRB) memang terasa sekali nuansa
religinya, seringkali penyair FRB ini menulis puisi dengan tema ini,
nampak sekali sisi dalam hidupnya yang religius. Dan seperti saya
ungkapkan bahwa tema-tema puisi religi dan cinta (romantik) ini
menguasai perpuisian dari zaman dahulu hingga sekarang. Kedua tema
tersebut memang yang paling dicari dalam diri manusia, walaupun
tema-tema lain juga seringkali menghias perpuisian seperti tema : kritik
sosial, alam semesta, bahkan ada yang dinamakan dengan sastra hijau
itu.
Yang dimaksud dengan 'religi; adalah: "kepercayaan kepada Tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia ..." (Kamus KBBI Online), sedangkan arti religius itu: "bersifat religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut-paut dengan religi ..." (KBBI Online). Kenapa saya mengatakan puisi FRB bernuansa religi, nuansa sendiri berarti: "tentang makna, perasaan, atau nilai". (KBBI Online). Mudah sekali menebaknya dari beberapa kata yang dia pilih seperti dari judulnya (ENGKAULAH SANG SEGALA RASA), pemakaian kata: "(Alif) dan (RINDU).
KATA ALIF
Kata
Alif ini diambil dari bahasa Arab, dan inilah salah satu penanda yang
kuat kalau puisi FRB ini puisi 'religi'. Kata Alif merupakan huruf awal
atau yang pertama dalam aksara bahasa Arab. Huruf 'Alif' mengandung
beberapa makna jika ditarik nilai sebuah filosofinya, misalnya saya
kutip dari (http://jiwa2kegelapan.wordpress.com/2012/01/18/rahasia-huruf-bismi-alif/):
Alif terbentuk dari Ulfah (kedekatan) dan ta’lif ( pembentukan). Dengan huruf inilah ALLAH menta’lif (menyatukan) seluruh ciptaanNya dalam landasan tauhid dan ma’rifah dengan kecintaan penghayatan iman dan tauhid.
Sehingga Alif ini membuka makna dan pengertian tertentu dengan banyak bentuk rupa dan warna yang ada pada huruf-huruf yang lain. Maka jadilah Alif sebagai “Kiswah” (pakaian) bagi huruf lainnya.
Di
antara kata dalam puisi FRB memang saya tertarik dengan kata Alif
tersebut, sebab menurut hemat saya kata ini memiliki kekuatan arti atau
arti filosofi yang mendalam. Makna 'alif' seperti halnya dalam
pengertian (perspektif) Alkitabiyah, sama artinya dengan 'Alpha' yang
diartikan sebagai 'awal' atau 'permulaan'. Jika ada 'awal' pasti juga
ada istilah 'terakhir' (Omega).
'Alif'/ ا sebagai
'pakaian' memang tepat sekali arti filosofi ini, sebagai jati diri
sehingga bisa dikenali, bisa diidentifikasikan, sebagai permulaan atau
yang awal sebelum huruf-huruf yang lain terlahir atau terkemudian, atau
disambung lagi dengan arti/huruf selanjutnya sampai pada huruf yang
terakhir 'ya'
“Ketahuilah, barangsiapa di berikan pengetahuan tentang Alif dan mengamalkannya, maka telah diberi pengetahuan tentang rahasia tauhid Wahdaniyah (keesaan) dan naik menuju rahasia Ahadiah (kewujudan)”
Membaca Hatimu Serupa Alif
Siapa
yang bisa mengetahui hati orang atau mengerti arti hati/keinginan hati
seorang wanita ataupun pria, siapa ? Sanggupkan manusia membaca pikiran
atau hati seseorang itu secara benar dan akurat ? Secara teori tidak
akan mungkin manusia membaca pikiran atau mengerti sebuah keingainan
hati seseorang, namun dalam pengertian apa seseorang bisa paham hati
orang lain ?
“tak ada semesta tempat rinduku berlari selain hatimu, ning
rentang cintamu seluas cakrawala, di manapun aku berada, rinduku menjejak di bawahnya”
― firman nofeki (Goodreads)
Ada
suatu sudut pandang lain yang bisa membaca hati seseorang, yaitu
apabila dia memiliki 'cinta', hanya ini yang bisa Anda lakukan untuk
membaca sebuah hati. Seorang dokter bedah profesional mungkin dia paling
tahu mengenai hati manusia, bahkan dia bisa tahu fungsi setiap jaringan
di dalam hati yang kemungkinan besar si dokter sering membedahnya.
Namun apa mungkin seorang ahli bedah profesional bisa membaca keinginan
hati, seperti dia membaca sebuah 'kotak hitam' (blackbox) sebuah pesawat
terbang yang jatuh karena kecelakaan ?
“Lalu seakan semuanya lapang, kosong, tak ada siapa pun di sana, kecuali aku dan Dia. Dalam jarak yang tak terkatakan dekatnya, sedemikian dekat. Perlahan kehangatan, kekuatan hati, dan jiwa kudekap.”
― Dian Nafi, Miss Backpacker Naik Haji [Goodreads]
Disamping
kekuatan cinta, seseorang bisa membaca hati atau maksud, kehendak
ilahi, apabila dirinya memang sengaja datang mendekat padaNya, biarkan
hatimu mencarinya dan Dia akan mendekatkan hatiNya dan hatimu kepada
sebuah keinginan (Alif).
Diam-Diam Menyemai RINDU
"Diam-diam
menyemai RINDU, sebenarnya saya mengusulkan diksi yang menurut saya
lebih tepat daripada memakai kata pengulangan 'diam-diam'. Saya
mengusulkan seperti ini: "Diam menetap
menyemai RINDU". Menurut hemat saya lebih memiliki kata yang cocok
dengan istilah 'hati' tersebut, sebab cinta dalam hati itu telah
menemukan rumahnya dan menetap dalam hati, sehingga menyemai RINDU.
Bukankah kata menetap itu bisa berarti telah menemukan yang sejati,
sehingga tidak beralih tempat atau hati yang lain.
Engkaulah Sang Segala Rasa
Pada
akhirnya tema juga yang menentukan ke mana sebuah puisi itu diarahkan,
walaupun kita tahu bahwa dalam puisi religi, seringkali memiliki makna
ganda, misalnya kata kekasih dalam puisi-puisi Rumi bisa diartikan
kekasih dalam pengertian sepasang manusia yang saling jatuh cinta, dan
kekasih yang diartikan sebagai Maha Pencipta.
Penyair FRB
membuat judul yang tidak multi tafsir, judulnya sudah dikunci kepada
arti yang paling hakiki, yaitu Sang Khalik atau Tuhan Yang Maha Esa yang
memiliki segala rasa. Penggunaan kata 'Sang' itu saja sudah berarti yang 'Maha', identik dengan Tuhan.
“Letakan hati, simpan, lantas terbang tinggi.”
― Ivan Vanalsa [Goodreads]
Sumber Foto : Album Foto Facebook Frieska Rara Berlian
Jaga Blengko, 16-11-14
Jack Phenomenon
Langganan:
Postingan (Atom)



